Anda di halaman 1dari 23

SYARAT PENGETAHUAN ILMIAH

Menurut I.R. Poedjawiyatna:


1. Berobyek:
a.Obyek materiil: sesuatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran
atau penyelidikan
b.Obyek format : sudut pandang/tinjauan ( view point )
2. Bermetode:
cara/jalan untuk memperoleh pengetahuan.
3. Bersistem :
Arti sitem: suatu keadaan atau barang sesuatu tertentu yang
bagian-bagiannya saling berhubungan secara fungsional
dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

4. Bersifat Unifersal.
Kebenaran IP. Harus berlaku disembarang tempat, ruang dan waktu.
PERTANYAAN ILMIAH
1. Pertanyaan bagaimana pengetahuan deskriptif
2. Pertanyaan mengapa pengetahuan kausal
3. Pertanyaan kemana pengetahuan normatif
4. Pertanyaan apa pengetahuan esensial




KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI:
1. DASAR NEGARA
Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di RI.
2. PANDANGAN HIDUP BANGSA
Pancasila dapat mempersatukan dan memberi petunjuk dalm mencapai kesejahteraan lahir,
batin dalam masyarakat kita yang beraneka ragam sifatnya.
3. JIWA DAN KEPRIBADIAN BANGSA
Pancasila memberi corak yang khas kepada bangsa Indonesia sehingga membedakan bangsa
Indonesia dengan bangsa lain.
4. IDEOLOGI BANGSA
Pancasila sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, keyakinan dan nilai bangsa Indonesia
yang secara normatif perlu diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
( Soerjanto Poespowardojo )
5. PERJANJIAN LUHUR BANGSA
Pancasila disetujui oleh wakil-wakil rakyat Indonesia menjelang dan sesudah proklamasi
kemerdekaan RI.
NOTONAGORO
Pancasila sebagai asas persatuan, asas kesatuan, damai dan kerja sama.
SYARAT SEBAGAI ASA PERSATUAN DAN KESATUAN
Pancasila harus memiliki persatuan dan kesatuan di dalam dirinya sendiri
KESATUAN DAN PERSATUAN PANCASILA
1. Pancasila harus dipandang sebagai satu dasar bukan lima dasar. Sila-sila Pancasila merupakan unsur
pembentuk dasar negara. Dan berhubungan secara kausal-organis.
2. Rumusan yang syah dari Pancasila hanya tercantum dalam pembukaan UUD. 1945.
3. Pancasila harus memiliki kesatuan pandangan tentang manusia yaitu :
manusia berhakikat mono-dualis.
4. Pancasila memiliki persatuan dan kesatuan dalam Tri-prakara.
5. Sila-sila Pancasila saling mengkualifikasi dan tersusun secara hicrarkhis Piramidal.






HAKIKAT MANUSIA MONO-DUALIS/KEDUA TUNGGALAN
- Susunan kodrat manusia jiwa
raga
- Sifat kodrat manusia makhluk individu
makhluk sosial
- Kedudukan kodrat pribadi bebas
makhluk tuhan
BERPANCASILA DALAM TRI-PRAKARA
-1. Unsur-unsur Pancasila sebelum menjadi Dasar Negara sudah dimiliki bangsa
Indonesia dalam adat-istiadat dan kebudayaan ( Pancasila adat-kebaisaan )
-2. Unsur-unsur Pancasila sudah terdapat dalam agama-agama yang ada di
Indonesia ( Pancasila Religius )
-3. Pancasila dirumuskan menjadi Dasar Negara ( Pancasila Kenegaraan )
ASAL MULA PANCASILA
1. Causa Materialis adat-istiadat,kebudayaan dan agama-agama di Indonesia
( asal mula bahan )
2. Causa Formalis dibentuk dalam persidangan BPUPKI dan PPKI
( asal mula bentuk )
3. Causa Efisien karya BPUPKI dan PPKI
( asal mula karya )
4. Causa Finalis Pancasila sebagai Dasar Negara
( asal mula tujuan )

PENGERTIAN PANCASILA
Secara etimologis/asal kata panca= lima
sila =dasar
Tetapi Pancasila harus dipandang sebagai satu dasar dan bukan lima
dasar.
Alasan :
1. Pancasila adalah nama dasar negara RI.
2. Jika dipandang sebagai lima dasar memungkinkan:
a. Memilih satu dasar saja /beberapa dasar
b. Mengutamakan sila yang satu dengan yang lain
c. Mempertentangkan sila yang satu dengan sila yang lain
3. Sila-sila Pancasila merupakan unsur pembentuk dasar negara
yang bersifat mutlak hilang salah satu unsur/sila berarti
bukan Pancasila lagi sila-sila Pancasila berhubungan secara
kausal organis.


HUBUNGAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI DENAGAN PEMBUKAAN UUD 1945
SISTEMATIKA PEMBUKAAN UUD 1945





KEGIATAN ALINEA WAKTU
1. Pangkal tolak /
alasan untuk
merdeka
I
Sebelum
kemerdekaan
2. Proses
perjuangan
untuk merdeka
II
Menjelang
kemerdekaan
3. Menyatakan
kemerdekaan
III
Saat proklamasi
4. Mengisi
kemerdekaan
IV
Sesudah
kemerdekaan
HUKUM KODRAT, ETIS DAN HUKUM TUHAN DALAM PEMBUKAAN UUD. 1945
Alinea I : - Kalimat Kemerdekaan ialah hak segala bangsa mencerminkan
pengakuan adanya hak kodrat dan hak hukum kodrat.
- Kalimat Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak
sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan pengakuan
hukum etis/moral.
Alinea III : - Kalimat Atas berkat rahmat Allah YME mencerminkan
pengakuan adanya hukum Tuhan.
- Kalimat . dengan didorong oleh keinginan luhur
pengakuan hukum etis/moral.
KEDUDUKAN PEMBUKAAN UUD. 1945 DALAM TERTIB HUKUM DI INDONESIA
1. Menjadi dasar dan memberikan faktor-faktor mutlak adanya tertib hukum
Indonesia.
2. Pembukaan UUD.1945 sebagai ketentuan hukum yang tertinggi sebagai asas
bagi : - Hukum dasar tertulis
- Hukum dasar tidak tertulis/konvensi
- Peraturan hukum lebih rendah
3. Sebagai Pokok Kaidah Fundamental Negara ( staatsfundamentalnorm )

Notonagoro :
Pembukaan UUD. 1945 sebagai Pokok Kaidah Fundamental Negara ( PKFN )
secara hukum mempunyai kedudukan yang tetap, kuat, tidak berubah bagi
negara yang dibentuk ( Pembukaan UUD. 1945 secara hukum tidak dapat
diubah )

Sebagai PKFN maka Pembukaan UUD. 1945:
1. Mempunyai kedudukan lebih tinggi dan terpisah dari pada
batang tubuh UUD. 1945.
2. Menentukan adanya UUD Negara dan merupakan sumber
Hukum Dasar.
3. Mengandung pokok-pokok pikiran yang harus dijelmakan
ke dalam pasal-pasal UUD. 1945.






Pancasila secara formal tercantum dalam Pembukaan UUD. 1945, maka
Pancasila :
1. Pembukaan UUD. 1945 sebagai PKFN di dalamnya terdapat
Pancasila
secara hukum tidak dapat diubah.
2. Pancasila mempunyai kedudukan yang tetap, kuat tidak berubah dalam
kelangsungan negara Proklamasi 17 Agustus 1945.
3. Pancasila sebagaimana Pembukaan UUD. 1945, sebagai
ketentuan hukum yang tertinggi.
4. Pokok pikiran dalam Pembukaan UUD. 1945 sebagai penjelmaan
Pancasila harus dijelmakan ke dalam pasal-pasal UUD. 1945.
( UUD menciptakan pokok-pokok pikiran ini dalam pasal-pasalnya
Penjelasan UUD. 1945 )
PEMBUKAAN UUD. 1945 SEBAGAI DASAR DAN MEMBERI FAKTOR MUTLAK
ADANYA TERTIB HUKUM DI INDONESIA
Tertib hukum ( rechtsorde, legalorde ) yaitu kebulatan dan keseluruhan
peraturan hukum.
Adanya tertib hukum di Indonesia syarat-syaratnya telah dipenuhi oleh
Pembukaan UUD. 1945 yaitu :
1. Adanya kesatuan subyek ( penguasa ) Pemerintah RI
2. Adanya kesatuan asas kerokhanian Pancasila
3. Adanya kesatuan daerah Seluruh tumpah darah Indonesia
4. Adanya kesatuan waktu Sejak Indonesia mmerdeka dan
seterusnya selama kelangsungan
negara RI
5. Adanya tujuan Tujuan negara dalam alinea 4
Pembukaan UUD. 1945
6. Adanya cita-cita Tercantum dalam 4 pokok pikiran

PEMBUKAAN UUD. 1945 memenuhi syarat sebagai
pokok kaidah fundamental negara
( staatsfundamentalnorm )
1. Dari segi terjadinya:
Ditentukan oleh Pembentuk negara
2. Dari segi isinya:
a. Adanya tujuan negara.
b. Ketentuan diadakannya UUD ( . maka
disusunlah kemerdekaan kebangsaan
Indonesia itu dalam suatu UUD )
c. Bentuk negara Republik yang berkedaulatan
rakyat.
d. Dasar filsafat negara ( asas kerokhanian )
Pancasila.
MAKNA ALINEA-ALINEA PEMBUKAAN UUD-1945
1. Alinea I
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan
oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena
tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
a. Dalil Objektif :
- Penjajahan tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan
- Semua bangsa mempunyai hak asasi untuk merdeka
b. Pernyataan Subyektif :
Aspirasi bangsa Indonesia untuk membebaskan diri penjajahan.
c. Landasan Politik Luar Negeri :
Melawan penjajahan, mendukung kemerdekaan dan menentang
pelanggaran peri kemanusiaan dan peri keadilan.



2. Alinea II
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai ..
dst
a. Perjuangan pergerakan Indonesia, sampai pada tingkat menentukan
b. Momentum yang harus dimanfaatkan untuk kemerdekaan
c. Kemerdekaan harus di isi :
- Mewujutkan negara Indonesia yang merdeka, bersatu berdaulat adil
dan makmur
3. Alinea III
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh
keinginan luhur, .. dst
a. Pengukuhan Proklamasi Kemerdekaan RI
b. Motifasi spiritual yang luhur : kehidupan yang seimbang material-
spiritual : dunia-akhirat
c. Ketaqwaan kepada Tuhan YME
Berkat ridho-Nya bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan





4. Alinea IV
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintah Negara
Indonesia, yang melindungi .. Dst
a. Tujuan perjuangan nasional
1) Melindungi bangsa dan tumpah darah Indonesia
2) Memajukan kesejahteraan umum
3) Mencerdaskan kehidupan bangsa
4) Ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasar : kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial
b. Prinsip Dasar
1) Kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam UUD dalam susunan
Negara RI yang berkedaulatan rakyat
2) Dasar falsafah negara : Pancasila



Pokok-Pokok Pikiran dalam Pembukaan UUD. 1945
1. Negara melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia
dengan berdasar PERSATUAN dan mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
- Negara mengatasi faham golongan dan perseorangan
- Negara menghendaki persatuan melindungi segenap bangsa Indonesia
2. Negara hendak mewujudkan KEADILAN SOSIAL bagi seluruh rakyat
- Manusia Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk
menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat
3. Negara yang BERKEDAULATAN RAKYAT berdasar kerakyatan dan
permusyawaratan perwakilan
- Sistem Negara yang terbentuk dalam UUD harus berdasar kedaulatan
rakyat dan permusyawaratan perwakilan
4. KETUHANAN YME menurut dasar KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN
BERADAB
- Mewajibkan Pemerintah/Penyelenggara Negara untuk memelihara budi
pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang cita-cita moral rakyat yang
luhur

HUB PEMBUKAAN UUD. 1945 DENGAN BATANG TUBUH
1. SUASANA KEBATINAN
Pokok-pokok pikiran dalam pembukaan UUD. 1945 : meliputi suasana
kebatinandengan UUD Negara RI.
2. CITA-CITA HUKUM
Pokok-pokok pikiran dalam pembukaan UUD. 1945 mewujudkan cita-
cita hukum ( rechts-idee ) yang menguasai hukum dasar ( tertulis dan
tidak tertulis )
3. POKOK-POKOK PIKIRAN DICIPTAKAN KE DALAM PASAL-PASAL UUD.
1945
UUD menciptakan pokok-pokok pikiran ini dalam pasal-pasalnya.



Rudolf Stammler ( 1856-1939 )
- Cita hukum ialah konstruksi pikir yang merupakan keharusan bagi
mengarahkan hukum kepada cita-cita yang di inginkan masyarakat.
- Dengan cita hukum kita dapat menguji hukum positif yang berlaku.
- Keadilan adalah usaha atau tindakan mengarahkan hukum positif
kepada cita hukum.
Gustaf Radbruch ( 1878-1949 )
Cita hukum tidak hanya berfungsi sebagai tolak ukur yang bersifat
regulatif yaitu menguji apakah suatu hukum positif, adil atau tidak,
melainkan juga sekaligus sebagai dasar yang bersifat konstitutif, yaitu
yang menentukan bahwa tanpa cita hukum hukum akan kehilangan
maknanya sebagai hukum.

PERGERAKAN NASIONAL DAN
PANCASILA
Kebangkitan Nasional
Awal Abad 20
Pergerakan Nasional
Melepaskan diri dari
penjajah
Negara Nasional
Indonesia

PANCASILA
Pencarian indentitas
nasional
Kebudayaan
Indonesia
Pembentukan Organisasi
sos.pol. dan Keagamaan
Dasar cita-cita
organisasi
Indonesia merdeka
diwarnai dasar-dasar
cita-cita
Nilai sebagai produk
sejarah
Nilai yang lain / nilai
universal
PANCASILA MASA ORLA
ORDE LAMA
UUD 1945 masih dala
wacana / sifat sementara
Sistem Parlementer
demokrasi liberal
Muncul ideologi alternatif
disamping Pancasila
Pancasila diterima sebagai
Dasar Negara tetapi lebih
dipandang sebagai wadah
daripada isi
Pancasila ditafsirkan
menurut aliran dan ideologi
penafsir
Terjadi komplesitas dan perpleksitas
tafsir Pancasila
Penafsiran bebas di
Pancasila
PANCASILA MASA ORBA
ORDE BARU
Menganggap ORLA
menyimpang dari
Pancasila
Bertekad
melaksanakan
Pancasila dan UUD
1945 secara murni
dan konsekuen
Kompleksitas tafsir
Pancasila
Soekarno tokoh
sentral ORLA
ajarannya dilarang
Semula sebagai
penggali Pancasila
dipersoalkan
Problem Pancasila
yang murni / otentik
Usaha memahami Pancasila saat dirumuskannya terkendala
kebijaksanaan politik
Pemahaman / tafsir Pancasila
melalui jalur akademik
P-4 sebagai tafsir operasional
gagal
PANCASILA MASA REFORMASI
REFORMASI
Pancasila
kehilangan gemanya
dan kurang
mendapat
penghargaan
Arah reformasi
dikhawatirkan
menyeleweng
Tidak jelas sumber
nilainya
Perlu menggali nilai
Pancasila dengan
diawali mengkaji
ulang maksud dan
dirumuskannya
PANCASILA DAN KEBUDAYAAN
Reformasi keagamaan
dan pendidikan
Pergerakan Nasional
Terbentuknya Negara
Nasional
PANCASILA
Konsep politik modern
dan Situasi politik dunia
Kebudayaan Baru
Kebudayaan Tradisional
Identitas Nasional
Aspek statik kebudayaan Aspek dinamik
Kebudayaan
Aspek Kebudayaan
Konkret
Topik Diskusi
1. Latar belakang/argumen diadakannya amandemen UUD 1945
2. Garis besar amandemen UUD 1945
3. Perbandingan lembaga negara MPR sebelum dan sesudah amandemen
UUD 1945 beserta argumen perubahannya
4. Perbandingan perubahan lembaga kepresidenan (Syarat, pemilihan dan
pemberhentian) beserta argumennya
5. Perbandingan lembaga kehakiman sebelum dan sesudah amandemen,
serta urgensinya
6. Deskripsi tentang lembaga negara Mahkamah Konstitusi dan Dewan
Perwakilan Daerah
7. Hak warga negara dan hak asasi manusia dalam amandemen UUD 1945
berikan komentar
8. Perbandingan sistem pemerintahan negara sesudah dan sebelum
amandemen berdasar tujuh kunci pokok sistem pemerintahan negara
dalam penjelasan UUD 1945
JENIS-JENIS PENGAMALAN PANCASILA
1. Pengamalan Objektif Pancasila
Yaitu pengamalan/pelaksanaan dalam bentuk realisasi dalam setiap aspek
penyelenggaraan negara dalam bidang legislatif, eksekutif maupun yudikatif
serta semua bidang kenegaraan dan terutama realisasinya dalam bentuk
peraturan perundang-undangan negara Indonesia.
2. Pengamalan Subjektif Pancasila
Yaitu pengamalan dalam pribadi perseorangan, setiap warga negara, individu,
penduduk, penguasa da setiap warga Indonesia.
Pelaksanaan/pengamalan subjektif sangat berkaitan dengan kesadaran,
ketaatan serta kesiapan individu untuk mengamalkan Pancasila
Pengamalan subjektif akan terselenggara dengan baik jika kesadaran wajib
hukum telah berpadu dengan wajib moral
Dengan demikian tidak melaksanakan Pancasila tidak hanya berakibat
hukum tetapi menimbulkan akibat moral
Sikap dan tingkah laku seseorang dalam pengamalan Pancasila secara
subjektif disebut moral Pancasila, karena pengamalan subjektif ini
berkaitan dengan norma-norma moral