Anda di halaman 1dari 27

ASKARIAL SH MH

DOSEN TETAP FISIPOL JURUSAN KRIMINOLOGI


Hukum dagang merupakan terjemahan dari istilah
Handelsrecht (bahasa Belanda) yang juga sering
diterjemahkan menjadi hukum perniagaan. Dua
istilah tersebut digunakan oleh negara-negara
yang mengikuti sistem civil law. Ada istilah lain
lagi untuk menterjemahkan Handelsrecht tersebut,
yaitu hukum komersial atau commercial law.
A. Istilah Hukum Dagang
Istilah dagang merupakan istilah ekonomis; bukan
istilah hukum. Istilah ini mempunyai pengertian ialah
segala perbuatan perantara yang meliputi perbuatan
membelikan atau menjualkan barang untuk
memudahkan hubungan antara produsen dan
konsumen serta untuk memajukan pembelian dan
penjualan itu sendiri. Pada prinsipnya, perdagangan
adalah perbuatan perantaraan kepada produsen dan
konsumen yang jenis-jenisnya sebagai berikut :

1. Pekerjaan seorang perantara ialah sebagai makelar,
komisioner dan agen.
2. Pembentukan persekutuan perniagaan atau badan-
badan usaha seperti firma, CV dan PT untuk
memajukan perdagangan.
3. Pengangkutan untuk kepentingan perniagaan, baik di
darat, laut, maupun udara
4. Penyelenggaraan asuransi atau pertanggungan agar
pedagang dapat menutup resiko, misalnya atas
pengangkutan barang dengan asuransi.
5. Perantaraan melalui perbankan sebagai salah satu
sumber pembiayaan.
6. Penggunaan surat-surat berharga untuk melakukan
pembayaran agar mudah da aman.

B. Sumber Hukum Dagang
Hukum dagang Indonesia bersumber pada peraturan tertulis
dan peraturan tidak tertulis. Peraturan tertulis untuk hukum
dagang dikodifikasikan dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Dagang/KUHD dan Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana/KUH Perdata. Hukum dagang juga diatur di luar
kodifikasi, yaitu dalam Undang-Undang Pasar Modal;
ketentuan-ketentuan tentang surat berharga; dan ketentuan-
ketentuan tentang koperasi. Ia juga diatur dalam peraturan
tidak tertulis yang berhubungan dengan perdagangan, yaitu
dalam hukum kebiasaan.
C. Sejarah Hukum Dagang
Hukum dagang yang dikodifikasikan dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Dagang berlaku sejak 1 Mei 1848 dan hingga
hari ini merupakan hukum positif Indonesia. Sebagaimana hukum
perdata, hukum dagang berasal dari negeri Belanda yang
diberlakukan di Indonesia karena Indonesia dijajah oleh Belanda.
Semula, hukum dagang berlaku hanya untuk golongan Eropa
saja dan kemudian baru untuk golongan Timur Asing.
Belakangan, hukum ini berlaku untuk orang Indonesia. Sejak
tahun 1993, beberapa hal yang diatur dalam KUHD diperbarui
dengan peraturan setingkat undang-undang.
Pembaruan ini dilakukan untuk menjawab tuntutan kebutuhan
masa kini, seperti kebutuhan pengaturan tentang bursa
(ketentuan barunya dalam UU No. 8 Tahun 1995 tentang
Pasar Modal), tentang perseroan terbatas (ketentuan barunya
terdapat dalam UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan
Terbatas), dan masih banyak lagi ketentuan-ketentuan baru
lainnya.
Adapun hal-hal yang di atur dalam KUHD adalah sebagai
berikut :
1. Perniagaan pada umumnya.
2. Pembukuan.
3. Beberapa macam perseeroan/badan usaha.
4. Bursa.
5. Komisioner, Dll
D. Hubungan Hukum Dagang dengan Hukum
Perdata
Hukum dagang lahir setelah hukum perdata. Pada awalnya, masalah-
masalah perdagangan diatur dalam KUH Perdata. Dikarenakan KUH
Perdata tidak lagi dapat menampung perkembangan kebutuhan hidup
manusia, maka muncullah hukum dagang yang dikodifikasikan dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Oleh karena itu, hubungan
antara hukum dagang dengan hukum perdata demikian erat, khususnya
dalam hal hukum dagang melakukan pengaturan secara khusus
terhadap masalah-masalah perdagangan atau perniagaan. Dikarenakan
hukum dagang merupakan pengaturan khusus, maka hukum perdata
adalah pengaturan umum yang lahir lebih dulu serta mengatur hal-hal
yang tidak diatur oleh hukum dagang. Hubungan antara hukum yang
khusus dengan hukum yang umum seperti itu dalam ilmu hukum
tunduk pada prinsip lex spesialis derogat lex generalis. Artinya,
hukum khusus (hukum dagang) mengenyampingkan hukum umum
(hukum perdata).
E. Perkumpulan
Secara umum, perkumpulan merupakan kumpulan atau
gabungan dari beberapa subjek yang mempunyai
kepentingan, kehendak, dan tujuan yang sama. Terdapat 2
golongan perkumpulan, yaitu sebagai berikut :

1. Perkumpulan dalam arti sempit merupakan kumpulan yang
tidak termasuk dalam hukum dagang; tidak merupakan
bentuk asal dari persekutuan; tidak mempunyai tujuan yang
sifatnya ekonomis; serta tidak menjalankan perusahaan.
Perkumpulan dalam arti sempit disebut juga perhimpunan,
persatuan, atau kesatuan.
2. Perkumpulan dalam Arti Luas
Perkumpulan dalam arti luas merupakan perkumpulan
yang ada di bidang hukum dagang dan merupakan bentuk
asal dari persekutuan (maatschap/ kongsi, firma, CV, PT),
bertujuan ekonomis, dan untuk menjalankan perusahaaan.

Dari uraian tersebut, dapat diperoleh unsur-unsur
terjadinya perkumpulan, yaitu :
Adanya kepentingan bersama;
Adanya kehendak bersama;
Adanya tujuan bersama; dan
Adanya kerjasama.
Hanya saja, ada satu faktor atau unsur yang membedakan antara
persekutuan dalam arti sempit dan perkumpulan dalam arti luas,
yaitu tujuannya bersifat ekonomis atau mencari keuntungan. Unsur
ini tidak terdapat dalam perkumpulan dalam arti sempit.
Menurut HMN Purwosutjipto, perkumpulan dalam arti luas meliputi
hal-hal sebagai berikut :
a. Perkumpulan yang tidak berbadan hukum
Persekutuan perdata atau maatschap atau kongsi.
Persekutuan komanditer (commanditair Venootschap/ CV)
Persekutuan firma

b. Perkumpulan yang berbadan hukum
Perseroan Terbatas (PT).
Koperasi.
Perkumpulan saling menanggung.
3. Macam-macam Persekutuan
a. Persekutuan kongsi atau maatschap
Persekutuan ini diatur dalam Pasal 1618 KUH Perdata. Kongsi
merupakan persekutuan dua orang atau lebih yang mengikat diri dan
memasukkan (inberng) sesuatu (modal), dengan maksud untuk
memperoleh keuntungan dengan usaha bersama. Hasil dari sesuatu
yang dimasukkan tidak hanya keuntungan, tetapi juga kemamfaatan.
Dalam pasal 1618 KUH Perdata ditentukan bahwa modal yang
dimasukkan masing-masing dapat berupa barang, tenaga, dan uang.
Hubungan hukum yang ada di antara pihak-pihaknya bersift
kontraktual.
Suatu persekutuan tentu akan melakukan hubungan hukum demi
kepentingan persekutuan. Untuk jenis perkumpulan ini, pendiriah
yang melakukan perbuatan hukum dengan pihak ketiga. Artinya,
hubungan hu,um dapat dilakukan oleh masing-masing para pendiri
dengan pertanggungjawaban dibebankan pada pihak yang melakukan
perbuatan hukum tersebut. Agar para pendiri terikat satu sama lain
dengan perbuatan-perbuatan hukum yang dilakukan tiap anggota
persekutuan, maka harus ada surat kuasa yang mengikat di antara
para pendiri tersebut, sehingga semua anggota persekutuan saling
terikat dan bertanggung jawab atas semua perbuatan yang dilakukan
oleh anggota persekutuan lain.
Perjanjian untuk membuat perkumpulan ini bisa dibuat dalam bentuk
akta otentik, tetapi bisa juga dengan akta di bawah tangan saja.
Berakhirnya maatschap berdasarkan Pasal 1646 KUH Perdata adalah
bila :

jangka waktunya lewat (ditentukan dalam perjanjian untuk
pendirian persekutuan ini);
barang yang menjadi pokok maatschap musnah;
Dikehendaki bersama anggotanya atau serorang anggota;
dinyatakan pailit.
b. Persekutuan Komanditer (PK)
Dalam bahsa Belandanya disebut Commanditaire Vennotschap
(CV). Persekutuan Komanditer yang diatur dalam pasal 19 ayat (1)
KUHD merupakan persekutuan antara dua orang atau lebih yang
memasukkan modal dan hanya bertanggungjawab sebesar modal
yang dimasukkan. Pendiriannya tidak harus dengan akta otentik,
dapat dibuat secara lisan, dan tidak wajib diumumkan pendirinya.
c. Firma
Firma yang diatur dalam Pasal 16-35 KUHD merupakan perseroan di
bawah satu nama. Pendirian firma harus dengan akta otentik,
kemudian didaftarkan di kepaniteraan pengadilan negeri setempat
dan dimuat dalam Berita Negara. Perbuatan hukum untuk
kepentingan firma dilakukan oleh masing-masing anggota firma, di
mana secara langsung masing-masing bertanggung jawab secara
penuh kepada pihak ketiga. Bila ada gugatan di muka pengadilan,
maka gugatan itu berlaku untuk seluruh anggota firma.
d. Perseroan Terbatas
Dalam bahsaa Belanda, Perseroan Terbatas disebut sebagai
Naamlooze Vennotschap (NV). Arti harfiah dari Naamlooze
Vennotschap adalah perseroan tanpa nama. Tanpa nama disini
maksudnya nama anggota perseroan terbatas tidak dipergunakan
untuk nama perseroan. Jadi, PT tidak diberi nama orang, tetapi
diberi nama yang menunjukkan usahanya. Pendirian PT harus
dengan akta otentik/akta notaris (syarat mutlak) dan disahkan oleh
Menteri Hukum dan Perundang-undangan agar menjadi badan
hukum. Ketentuan yang mengatur PT adalah Undang-Undang No. 1
Tahun 1995 sebagai peraturan yang memperbarui pengaturan PT
dalam KUHD. Diterbitkannya ketentuan baru dalam UU No. 1
Tahun 1995 dikarenakan ketentuan lama dalam KUHD tidak lagi
memenuhi kebutuhan perkembangan masa kini.
Istilah perseroan terbatas menunjukkan bahwa para perseronya
atau pemilik saham bertanggung jawab secara terbatas sebesar
modal yang dimasukkan ataupun sebesar saham yang dipunyainya.
Pertanggungjawaban secara terbatas ini telah menjadi prinsip
pokok dalam PT. Namun, sejak lahirnya UU No. 1 Tahun 1995,
pertanggungjawaban terbatas tersebut disingkap sehingga jika
pengurus PT menjalankan perseroan secara tidak bertanggung
jawab sebelum bentuk badan hukum diperoleh, maka
pertanggungjawabannya tidak lagi sebatas sham yang dimiliki,
tetapi sampai dengan harta pribadi,
e. Koperasi
Koperasi merupakan organisasi rakyat yang bersifat sosial,
sebagai usaha bersama atas dasar asas kekeluargaan. Koperasi
bukan merupakan kumpulan modal seperti Perseroan Terbatas.,
melainkan sebagai kumpulan orang. Koperasi bisa beranggotakan
orang-orang atau badan-badan hukum koperasi, dengan tujuan
meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat.
F. Kewajiban Pembukaan (Buku 1 Titel 2 KUHD)
Dalam titel kedua ditentukan bahwa setiap orang yang mempunyai
suatu usaha diharuskan mengadakan pencatatan dari kekayaannya
dan harta benda perusahaannya (Pasal 6 ayat 1 KUHD), serta
berkewajiban membuat neraca keuangan dan menyimpan buku-buku
catatan keuangan tersebut selama 30 tahun dan selama 10 tahun
untuk surat-surat dan tembusannya.
Dengan adanya pembukuan atau catatan-catatan itu, pengusaha
akan mempunyai bukti-bukti terhadap peristiwa-peristiwa hukum
dari usahanya. Hakim berhak menggunkan buku-buku itu sebagai
bukti untuk kepentingan pihak manapun dan hakim dapat
mengharuskan pengusaha untuk membuat ikhtisar dari bagian-
bagian yang bersangkutan dari pembukuan itu (Pasal 7 KUHD).
G. Surat Berharga
Surat berharga diatur dalam KUHD Titel 6 dan 7. Dalam
perkembangannya, surat berharga tidak saja meliputi apa yang diatur
dalam KUHD, tetapi juga di dalam peraturan-peraturan lain di luar
KUHD seperti Undang-Undang Perbankan, Surat Keputusan Direksi
Bank Indonesia tentang commercial paper, tentang Bilyet Giro dan
lain-lain. Surat berharga bisa dikelompokkan menjadi tiga, yaitu
sebagai berikut :
1. Surat Berharga Alat Pembayaran
Surat berharga alat pembayaran ini diatur pada Titel 6 dan 7 KUHD.
Adapun yang dimaksud surat berharga alat pembayaran adalah surat
berharga yang digunakan dalam suatu transaksi sebagai alat
pembayaran (pengertian demikian memang tidak tampak dalam pasal-
pasal pada KUHD, tetapi disimpulkan dari pasal-pasal dalam KUHD).
Adapun jenis-jenis surat berharga alat pebayaran meliputi surat wisel,
surat sanggup/promes, surat cek, kwitansi dan Bilyet giro
2. Surat Berharga Pasar Uang
Surat Berharga Pasar Uang merupakan jenis surat berharga yang
berbeda ciri dengan surat berharga alat pembayaran di atas. Jenis
surat ini meliputi commercial paper, sertifikat deposito, dan sertifikat
bank indonesia (SBI). Jenis surat berharga ini diterbitkan untuk
pengumpulan dana dari masyarakat, dengan cara peerbitnya (suatu
perusahaan) menjual surat berharga jenis ini kepada masyarakat.
3. Surat Berharga Pasar Modal
Fungsi surat berharga ini tidak jauh beda dengan surat berharga
pasar uang. Hanya saja mekanismenya yang berbeda serta
jangka waktu lebih panjang.
Tujuan penerbitannya untuk pengerahan dana dari masyarakat
dengan cara menjual saham dan obligasi yang dilakukan melalui
suatu media yang sistematis yang disebut bursa efek. Sistem
penjualannya secara dealership dan pihak yang terlibat dalam
transaksi jauh lebih banyak dan kompleks dibandingkan dengan
penjualan surat berharga pasar uang.
H. Asuransi
Asuransi merupakan perjanjian antara lembaga asuransi sebagai
penanggung yang mengikatkan diri kepada seseorang yang disebut
tertanggung. Penanggung dalam hal ini menerima premi (pembayaran
sejumlah uang) dari tertanggung yang akan diberikan kepada
tertanggung keak, bila kepentingan yang dipertanggungkan tiba
saatnya, dalam bentuk ganti rugi/ klaim.
Dasar pertanggungan ialah sebagai berikut :
1. Peristiwa (evenement)/ kepentingan yang belum tentu terjadi.
2. Adanya kepentingan.
I. Kepailitan/ failisement
Kepailitan mulanya diatur pada bagian kedua KUHD yang
mengatur baik kepailitan maupun penundaan pembayaran
(surseance van betalling). Ketentuan dalam KKUHD tersebut kini
diubah dan ditambah dengan ketentuan baru, yaitu dengan Undang-
Undang No. 4 Tahun1998 tentang Kepailitan.