Anda di halaman 1dari 24

OLEH:

EKA NOVRYANTI
C 111 09 011

PEMBIMBING:
DR. ISKANDAR MUSGAMY

SUPERVISOR :
DR ARMYN A. OESMAN SP.OG

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PENDIDIKAN PROFESI
DOKTER BAGIAN OBSTETRI & GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014


Penanganan Khusus Pada Kanker
Endometerium
PENDAHULUAN
Kanker
endometrium atau
kanker korpus
uterus adalah
kanker yang paling
banyak terjadi pada
alat genital interna
pada wanita;
Sebagian besarnya
merupakan
adenokarsinoma
(90%).

Epidemiologi
Indonesia
4,8% dari 670.587 kanker pada perempuan
Kanker payudara 30,9%, serviks 19,8%, dan
ovarium 6,6%
USA
34.000 kasus baru dan 6000 kematian oleh karena
kanker endometrium
Diseluruh
dunia
Setiap tahun 142000 perempuan terdiagnosis
kanker endometrium dan 42.000 meninggal
Faktor Resiko
Anatomi
Vaskularisasi
Etiologi
Adenokarsinoma endometrioid bisa terjadi
karena peningkatan kadar estrogen dari
berbagai sumber, baik eksogen maupun
endogen
Tamoxifen Obesitas
Sindrom
ovarium
polikistik
Nullipara
PATOFISIOLOGI
Fibroblast growth factor receptor 2 (FGFR2) adalah reseptor tirosin kinase yang
terlibat dalam banyak proses biologi.
Mutasi di FGFR2 telah dilaporkan pada sampai dengan 10-12% dari karsinoma
endometrium yang identik dengan yang ditemukan pada gangguan kraniofasial
bawaan.
Lebih dari 80% dari karsinoma endometrium tipe I dan karena stimulasi hormon
estrogen, merupakan tahapan low grade pada gambaran histologi.
Tipe II kanker endometrium yang dianggap estrogen independen, terjadi pada
wanita yang lebih tua, dengan tahapan high grade pada gambaran histologis seperti
sel serosa atau uterus papillar serous carsinoma
Empat rute penyebaran karsinoma endometrium
terjadi di luar rahim:
Langsung/penyebaran lokal setempat untuk sebagian
ekstensi lokal di luar rahim.
Penyebaran melalui limfatik kemudian menyebar ke panggul,
para-aorta, dan, jarang, kelenjar getah bening inguinal.
Penyebaran melalui hematologi yang bisa menyebabkan
metastase ke paru-paru, hati, tulang, dan otak (jarang).
Peritoneal /transtubal tersebar di implan intraperitoneal,
terutama dengan papiler karsinoma serosa uterus (UPSC),
mirip dengan pola yang diamati pada kanker ovarium.
DIAGNOSA
ANAMNESA DAN PEMERIKSAAN FISIS
Wanita perimenopause yang mempunyai riwayat
perdarahan intermenstrual, riwayat perdarahan
yang berlebihan lebih dari tujuh hari atau selang
waktu kurang dari 21 hari antara menstruasi. Pada
keadaan yang berat, pendarahan berkepanjangan
pada pasien yang diketahui beresiko untuk
anovulasi siklus harus segera evaluasi histologis
dari endometrium.
Ukuran, kontur, mobilitas dan posisi rahim harus
dievaluasi.
Biopsi
Endometrium
USG
Transvaginal
CT-Scan MRI Serum Ca125
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
KARSINOMA
ENDOMETRIUM
TIPE 1
80% dari semua kasus
Terdiri dari histologi tumor
endometrioid
Berhubungan dengan hormon dan
secara signifikan terkait dengan
terapi pemberian estrogen dan
obesitas
TIPE 2
20% dari semua kasus
Terdiri dari histologi subtipe yg
jarang seperti papillary serous,
clear cell, mucinous, dan
carcinosarcoma
Tidak berhubungan dengan
hormon
KLASIFIKASI
STAGING

HISTOPATOLOGI
Histologi adenokarsinoma endometrium ditandai oleh kelenjar cribriform (atau
crowding glandular) dengan sedikit, jika ada, stroma jaringan antara kelenjar. Atypia
nuklir, variasi dalam ukuran kelenjar, dan peningkatan mitosis yang umum di
adenocarcinoma.
PENANGANAN KANKER
ENDOMETRIUM
Risiko rendah
TAH-BSO
Risiko menengah
TAH-BSO dengan
limfadenektomi
Risiko tinggi
Radiasi
Kemoterapi
National Comprehensive Cancer Network

L.Gien 2008
Terapi Hormonal
KOMPLIKASI
Limfadenektomi dapat menyebabkan
terjadinya perdarahan. Komplikasi post
operatif terjadi tergantung dari keadaan klinis
pasien sebelum operasi. Seperti pasien yang
memiliki faktor komorbid misalnya hipertensi,
obesitas, diabetes, dan usia tua. Salah satu
komplikasi postoperatif adalah terjadinya
tromboembolisme yang meningkat pada
pasien kanker yang obesitas dan lebih tua.
PROGNOSIS

TERIMA
KASIH