Anda di halaman 1dari 20

SEMINAR

PERBANKAN SYARIAH
PERANAN BAGI HASIL BANK
SYARIAH TERHADAP UMKM
Disusun oleh :
Galih Nurangga Purnama
Agung Trisna Adi
Rikardo Elsam
Ridwan Shaleh
Rendi Gundara

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI EKUITAS


•A p a y a n g d i m a k s u d d e n g a n B a n k
syariah?
•A p a y a n g d i m a k s u d d e n g a n B a g i h a s i l
dan akad apa saja yang digunakan
pada bank syariah?
•A p a y a n g d i s e b u t U M K M d a n a p a s a j a
kriterianya?
•B a g a i m a n a p e n g e m b a n g a n U M K M
melalui bank syariah?
•B a g a i m a n a p e r a n a n b a n k s y a r i a h
terhadap UMKM?
•M e n g e t a h u i a p a y a n g d i m a k s u d d e n g a n
Bank syariah.
•M e n g e t a h u i a p a y a n g d i m a k s u d d e n g a n b a g i
hasil dan berbagai macam kriteria serta
akadnya.
•M e n g e t a h u i a p a y a n g d i m a k s u d d e n g a n
UMKM dan kriteria yang termasuk
kedalamnya.
•M e n g e t a h u i s e j a u h m a n a p e n g e m b a n g a n
UMKM melalui bank syariah
•M e n g e t a h u i s e j a u h m a n a p e r a n a n b a n k
syariah terhadap UMKM.
Bank adalah salah satu bentuk lembaga keuangan yang menjadi
perantara antara orang yang memiliki dana berlebih dengan yang
membutuhkan dana

Definisi Bank Syariah Berdasarkan Undang-undang


Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan adalah badan usaha yang dalam
operasionalnya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dana, dan menyalurkannya dalam bentuk pembiayaan
dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak di mana
sebagai imbalan bagi para penyimpan adalah bagi hasil
Kegiatan operasional bank syariah menggunakan
prinsip bagi hasil (profit and loss sharing). Bank syariah tidak
menggunakan bunga sebagai alat untuk memperoleh pendapatan maupun
membebankan bunga atas penggunaan dana dan pinjaman karena bunga
merupakan riba yang diharamkan.

Perbankan Syari'ah memperkenalkan sistem pada masyarakat dengan


istilah Revenue Sharing , yaitu sistem bagi hasil yang
dihitung dari total pendapatan pengelolaan dana tanpa dikurangi
dengan biaya pengelolaan dana
prinsip bagi hasil
Secara umum
dalam perbankan syariah
dapat dilakukan dalam empat akad utama, yaitu

al musyarakah
al mudharabah
al muzara’ah
al musaqah
Al Musyarakah adalah akad kerjasama antara
dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di
mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana
( atau amal / expertise ) dengan kesepakatan bahwa
keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama
sesuai dengan kesepakatan
( Muhammad Syafi ’ i Antonio : 2000 ) .

Al musyarakah ada dua jenis yaitu


musyarakah kepemilikan
dan m u s y a r a k a h a k a d ( k o n t r a k )
AL MUSYARAKAH
AL MUSYARAKAH
Skema Musyarakah : Contoh Aplikasi Perbankan

Akad Musyarakah
(1) (1)

75% 25%
(3a) Rugi (3a)

75% Modal 25% Modal


Bank (2) Proyek (2)
PT. ‘X’
Syariah / Usaha Keahlian

20% (Nisbah) 80% (Nisbah)


(3) Laba (3)

Pengembalian Mdl. Usaha Escrow 75% X (80% Laba)


(4) Account (3)
Secara teknis al mudharabah adalah akad
kerjasama usaha antara dua pihak di mana pihak
pertama
( Shahibul maal ) menyediakan seluruh ( 100 % ) modal ,
sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola

Berikut ini adalah dua jenis mudharabah


yaitu :

Mudharabah Muthlaqah

Mudharabah Muqayyadah
AL MUDHARABAH
AL MUDHARABAH
Skema Mudharabah : Contoh Aplikasi Perbankan
Akad
(1) Mudharabah (1)

100% 0%
(3b)
Rugi (3b)

Bank 100% Modal Usaha/Proye Keahlian


Nasabah
Syariah (2) k (2)

Peng.Mdl.Ush.Rp.15 Juta/Bln.(3)

50% (Nisbah) Laba 50% (Nisbah)


(3a) (3a)
Pengertian Al Muzara’ah
Al muzara’ah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan
dengan penggarap di mana pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada
si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan bagian tertentu
(presentase) dari hasil panen.
Al muzara’ah seringkali diidentikan dengan mukhabarah. Di antara keduanya
terdapat sedikit perbedaan sebagai berikut :
Muzara’ah : benih daari pemilik lahan
Mukhabarah : benih dari penggarap
Pengertian Al Musaqah
Al musaqah adalah bentuk yang lebih sederhana dari muzara’ah di mana si
penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan.
Sebagai imbalan, si penggarap berhak atas nisbah tertentu dari hasil
panen.
Usaha Mikro adalah
usaha produktif milik orang
perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi
kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
ini. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang
berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau
badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha
menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha
Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini

  321No . URAIAN
 USAHA
USAHA MIKRO
KECIL
MENENGAH  KRITERIA
 Maks
ASSET
> 50
500
. 50
Juta
Juta
Juta-  Maks
OMZET
> 2300., 5300
Miliar
Juta
-500
10 Juta
Miliar -Juta 2 , 5 Miliar
50 Miliar
Contoh usaha mikro :

•U s a h a t a n i p e m i l i k d a n p e n g g a r a p p e r o r a n g a n ,
peternak, nelayan dan pembudidaya;

•I n d u s t r i makanan dan minuman, industri
meubelair pengolahan kayu dan rotan,industri
pandai besi pembuat alat-alat;

•U s a h a p e r d a g a n g a n s e p e r t i k a k i l i m a s e r t a
pedagang di pasar dll.;

•P e t e r n a k a n a y a m , i t i k d a n p e r i k a n a n ;

•U s a h a j a s a - j a s a s e p e r t i p e r b e n g k e l a n , s a l o n
kecantikan, ojek dan penjahit (konveksi).
Dalam kaitan strategi peningkatan pembiayaan kepada sektor
UMKM ke depan, maka perlu mencakup empat aspek pokok yaitu:

(i) Strategi untuk penguatan iklim investasi dan iklim usaha


yang kondusif bagi sektor UMKM,
(ii) Strategi untuk penguatan kemampuan kewirausahaan dan
kegiatan usaha sektor UMKM,
(iii) Strategi penguatan sektor keuangan khususnya perbankan
dalam pembiayaan kepada sektor UMKM, dan
(iv) Strategi untuk pengembangan berbagai perangkat
penunjang (infrastuktur) bagi peningkatan pembiayaan sektor
UMKM.

Pembiayaan dengan pola bagi


hasil yang ditawarkan oleh
bank syariah sangat cocok
untuk pengembangan dan
pemberdayaan UMKM
Dilihat dari sini maka hal dasar yang membedakan
antara sistem kredit konvensional dan sistem kredit
bank syariah adalah terletak pada sistem pengembalian
modal (pembagian keuntungan ataupun kerugian).
Dalam sistem konvensional didasarkan pada modal
yang dipinjam, jadi untung atau rugi tidak
diperhitungkan. Sedangkan bagi bank syariah
keuntungan didasarkan pada keuntungan atau kerugian
yang didapat (actual profit / revenue) tidak pada modal
y a n g d i s e t o r.

Bagi UMKM hal ini tentu saja akan menguntungkan


bagi mereka, karena bila di akhir nanti terjadi rugi
maka yang menangung adalah dua pihak, yaitu antara
pihak penyandang dana dan UMKM sendiri. Hal ini akan
membuat UMKM mencoba untuk berusaha lagi karena
modal yang digunakan untuk menangung kerugian tidak
terlalu besar. Beda dengan bank konvensional, maka
kerugian yang ditangung adalah sebesar modal dan
ditambah dari presentase bunga yang disepakati.
Pada awalnya target pangsa pasar bank
syariah di plot sebesar 5 persen tahun 2008,
namun hingga November 2008 pangsa pasar baru
mencapai 2,08 persen dari total asset Rp. 47
triliun. Bank Indonesia kemudian merivisi
target 5 persen tersebut untuk dicapai pada
tahun 2010. Bagaimana caranya?

Target pangsa pasar 5 persen bank syariah


tahun 2010 menurut penulis akan dapat dicapai
apabila bank syariah bersungguh dan fokus
menggarap pangsa pasar UMKM, yang pada
kenyataannya pada saat ini kue besar UMKM
sudah menjadi rebutan Bank Umum (Info Bank
Desember 2008).
Kemitraan Bank Syariah dan UMKM
Perbankan syariah harusnya serius menjadikan UMKM sebagai
pangsa pasar potensial mereka, dan hal ini pasti akan
disambut positif oleh pelaku UMKM

Oleh karenanya bank syariah lebih akomodatif 


dalam memberikan pembiayaan bagi industri
kreatif yang tergolong sebagai usaha mikro,
kecil dan menengah (UMKM).
Bagaimana bank syariah mengatasi problem bank
konvensional dalam menyalurkan pembiayaan pada
industri kreatif dapat dijabarkan sebagai berikut :
v Pengunaan jaminan dalam pembiayaan
v
v Bunga pada bank konvensional yang
tinggi
v
v Manajemen likuditas bank
v
v Rendahnya akses pada bank
KESIMPULAN

Di masa perekonomian nasional sedang lesu, terbukti dengan jumlah pengangguran


dan kemiskinan yang tinggi. Industri kreatif menjadi alternatif yang strategi bagi peningkatan
kesejahteraan bangsa, terlebih dukungan keberagamana budaya yang menghasilkan kreasi,
desain, motif, gaya dan corak yang berbeda memperkaya khazanah kreativitas di tanah air.
Dukungan pemerintah dengan memberikan kebijakan yang kondusif diperlukan dalam
rangka mendukung perkembangan UMKM. Peran pemerintah sangat strategi terutama melalui
pemberian pengurangan insentif pajak, membangun kawasan pengembangan industri kreatif,
menyediakan sarana dan prasarana penunjang industri kreatif dan UMKM lainnya, seperti air,
jalan, listrik, telpon dan teknologi, memfasilitas terbentuk jaringan antara UMKM seperti industri
kreatif dalam atau luar negeri dan mempermudah industri kreatif dalam memperoleh hak paten.
Umkm membutuhkan pembiayaan dari bank untuk menjaga kesinambungan
produksinya. Bank konvensional yang mengunakan bunga yang dibayarkan setiap bulan
bersama cicililan pokok, serta penarik jaminan ketika memberikan pembiayaan kurang sesuai
untuk mengembangkan industri kreatif yang bercirikan; independen, mengunakan bahan yang
tersedia, mudah ditiru, persaingan ketat, minim pendanaan, dan rendahnya perlindungan hukum.
Bila sistem bank konvesnional digunakan maka akan memberikan beban bagi produktivitas
pelaku umkm. Bank syariah mengunakan sistem tanpa bunga, menawarkan prinsip tanpa
jaminan pada pengunaan produk bagi hasil, mudharabah dan musyarakah.