Anda di halaman 1dari 24

Paradigma Sosiologi

Ada tiga paradigma sosiologi yang


sangat popular yang dikemukakan
oleh George Rizert.
Teori-teori tersebut :

Teori Fungsionalisme yang bernaung di
dalam paradigma fakta social.
Teori Interaksionisme Simbolik bernaung
dibawah paradigma definisi social
Teori Pertukaran Social(Exchange Teori)
dari paradigma perilaku social.

Teori Struktural Fungsional

Teori Struktural Fungsional adalah salah satu
teori sosiologi yang terhimpun di dalam
paradigma fakta social. Tokoh utama paradigma
fakta social ini adalah Emile Durkheim. Dua
buah karya tulis Emile Durkheim yang amat
terkenal yang berjudul The Rules of
Sosiological Method (1895) dan Suicide
(1897) menjadi exemplar atau model dari
paradigma ini.
Ritzer mengatakan The are two basic
types of social fact structures and social
institutions. To Durkheim, both types of
social facts are external, general to
individual and coercive on him
(Ritzer,1980;39).
ada dua tipe fakta social yaitu struktur
social dan pranata-pranata social. Bagi
Durkheim, kedua fakta social tersebut
bersifat eksternal, umum, dan memaksa
individu-individu anggota masyarakat
Secara lebih terperinci,
fakta social itu antara lain dapat berwujud;
kelompok, misalnya saja kelompok politik,
kelompok ekonomi, kelompok olah raga
dan sebagainya. Dapat juga berupa
kesatuan masyarakat tertentu (societies),
bisa berupa system social, posisi social,
peranan-peranan social, norma-norma,
nilai-nilai, adat istiadat, keluarga,
pemerintahan, dan masih banyak yang
lain.
fakta social itu mengandung cirri-ciri
utama yaitu general, external, dan
coercion
Bersifat umum (general)
Bersifat umum itu keberlakunya tidak
hanya untuk perseorangan, melainkan
berlaku umum bagi komunitasnya.
contoh misalnya
Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia itu
bersifat umum (general) karena berlaku
tidak hanya untuk perseorangan,
melainkan juga berlaku untuk anda, untuk
rekan-rekan anda, untuk keluarga anda,
untuk tetangga anda dan berlaku bagi
komunitas penyangga Bahasa Indonesia
dan sterusnya.
Bahasa Indonesia itu Bersifat
memaksa (courcion)
juga bersifat memaksa (coercion). Apa
mksudnya?. Bahasa itu memaksa setiap
orang untuk memberi arti sebagaimana
arti yang telah disepakati oleh komunitas
pengguna bahasa tersebut. Setiap orang
tidak memberikan arti semau sendiri.
.Kalau seseorang mempersilahkn anda
untuk duduk di kursi ruang tamunya, tentu
anda mengerti maksudnya, dan anda
segera duduk, seperti juga orang lain jika
ditawari untuk duduk. Anda tidak boleh
mengartikan duduk itu sebagai lari, atau
melepas pakaian dan sebagainya. Jadi
jelas bahwa anda harus memberi arti
duduk itu seperti arti duduk sebagaimana
telah disepakati secara umum.

Bersifat ekternal
Fakta sosisal bersifat eksternal artinya,
eksistensinya atau keberadaannya itu di
luar eksistensi individu seperti anda, saya,
keluarga anda, kawan-kawan anda
merupakan anggota masyarakat
pendukung bahasa Indonesia. Tetapi,
eksistensi bahasa Indonesia itu sama
sekali tidak tergantung dan tidak melekat
pada diri anda, kawan-kawan anda atau
pada diri saya.
Eksistensi bahasa itu di luar eksistensi kita. Apa
buktinya ?. Buktinya adalah, apabila saya mati,
atau keluarga anda mati, eksistensi bahasa
Indonesia itu tetap saja ada. Eksistensi Bahasa
Indonesia tetap walaupun eksistensi kita telah
tidak ada lagi. Hal seperti ini berlaku bagi semua
hal yang tergolong sebagai fakta social, seperti
masyarakat, hokum, adapt istiadat, agama dan
sebagainya, sebagaimana telah disebutkan
sebelumnya.
Ritzer menyebutkan bahwa obyek studi
paradigma fakta social ini adalah, bagaimana
fakta social ini mempengaruhi tindakan-tindakan
manusia (The way facts influence individual
action). Contoh konkretnya adalah, bagaimana
lembaga ekonomi, misalnya perbankan
mempengaruhi perilaku anggota masyarakat.
Bagaimana lmbaga-lembaga agama
mempengaruhi tindakan-tindakan anggota
masyarakat dalam hidup bersama orang-orang
lain di dalam masyarakatnya.
salah satu teori yang terhimpun di dalam
paradigma fakta social ini adalah
fungsionalisme
Paul B. Harton dan Chester L. Hunt dalam
bukunya yang berjudul Sosiology
menjelaskan bahwa perspektif
fungsionalis itu memiliki sejumlah asumsi
yang digunakan untuk memahami
collectiva social (masyarakat).
Asumsi-asumsi tersebut adalah
sebagai berikut:
corak perilaku timbul karena secara
fungsional bermanfaat
pola-pola perilaku timbul untuk memenuhi
kebutuhan dan hilang apabila kebutuhan
berubah;
perubahan social dapat ngganggu
keseimbangan masyarakat yang stabil,
namun tidak lama kemudian akan terjadi
keseimbangan baru.
Contoh,
suatu ketika di Amerika terjadi sesuatu keadaan
dimana keluarga besar sangat dibutuhkan guna
mencukupi kebutuhan tenaga kerja.
Disamping itu juga karena angka kematian ibu
dan anak masih sangat tinggi.
Akan tetapi setelah jumlah penduduk semakin
berkembang dengan pesat dan kepadatan
penduduk demografis, maka penduduk menjadi
gangguan fungsional dan mengancam
kesejahteraan masyarakat.
Pola pengembangan penduduk tersebut
menjadi hilang karena sudah tidak
dibutuhkan lagi.
Suatu nilai atau kejadian pada suatu
waktu atau tempat dapat menjadi
fungsional atau disfungsional pada saat
dan tempat yang berbeda;
Piere L. Van Den Berghe telah merangkum
(7) cirri-ciri umum perspektif fungsionalisme
structural ini sbb:

Masyarakat harus dianalisis secara
keseluruhan, selaku system yang terdiri dari
bagian-bagian yang saling berhubungan.
Hubungan sebab dan akibatnya bersifat jamak
dan timbal balik.
Sistem social senantiasa berada dalam keadaan
keseimbangan dinamis penyesuaian terhadap
kekuatan yang menimpa system menimbulkan
perubahan minimal di dalam system itu.
Lanjutan ..
Integrasi sempurna tidak pernah terwujud,
setiap system mengalami ketegangan dan
penyimpangan, namun cenderung
dinetralisir melalui institusionalisasi.
Perubahan pada dasarnya berlangsung
secara lambat, lebih merupakan proses
penyesuaian ketimbang perubahan
revolusioner.


Lanjutan ..
Perubahan adalah hasil penyesuaian
perubahan atas perubahan yang terjadi di
luar system, pertumbuhan melalui
deferensiasi, dan melalui penemuan-
penemuan internal.
Masyarakat terintegrasi melalui nilai-nilai
bersama (Laurer, Robert; 1989,106).

Pokok-pokok teori fungsionalisme menurut
Ralf Dahrendorf sbb:
setiap masyarakat merupakan suatu struktur
unsure yang relative gigih dan stabil;
mempunyai struktur unsure yang terintegrasi
dengan baik;
setiap unsure dalam masyarakat mempunyai
fungsi, memberikan sumbangan pada
terpeliharanya masyarakat sebagai suatu
system;
Setiap struktur sosial yang berfungsi
didasarkan pada konsesnsus mengenai nilai di
kalangan para angotanya
(Soenarto,1993;239).
Sementara itu, Robert K. Merton, seorang
tokoh sosiologi modern telah melakukan
rincian lebih lanjut dalam analisis
fungsional dengan memperkenalkan
konsep-konsep fungsi, disfungsi, fungsi
laten, dan fungsi manifest (Soenarto,
1993:241).