Anda di halaman 1dari 22

ASET / AKTIVA

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK


ASET
Berdasarkan FASB dalam SFAC No.6
Aset are probable future economic benefits obtained or
controlled by a particular entity as a result of past
transactions or events.
(Aset adalah manfaat ekonomik masa datang yang
cukup pasti yang diperoleh atau dikuasai/dikendalikan
oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian
masa lalu).
IASC mendefiniskan sebagai berikut :
An asset is a resource controlled by the enterprise as a
result of past event from wich future economic benefit are
expeced to flow to enterprise.
(Aset adalah sumber daya dikendalikan oleh
perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dari
mana manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan
mengalir ke perusahaan).




AASB) mendefinisikan aset sebagai berikut :
Asset are service potential or future economic benefit
controlled by the reportimg entity as a result of past
transaction or the past events.
(Aset adalah layanan potensial atau manfaat ekonomi masa
depan dikendalikan oleh entitas pelapor sebagai akibat dari
transaksi masa lalu atau peristiwa masa lalu).
Berdasarkan APB
APB mendefinisikan aset sebagai sumber ekonomik karena
adanya unsur kelangkaan sehingga suatu entitas harus
mengendalikannya dari akses pihak lain melalui transaksi
ekonomik.
Dengan berbagai jenis perbedaan di atas, maka pada dasarnya
dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga karakteristik utama
yang harus dipenuhi agar suatu objek atau pos dapat disebut
aset yaitu :
1. manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti
2. Dikuasai atau dikendalikan oleh entitas
3. Timbul akibat transaksi masa lalu


Persediaan
Pengertian Presediaan
Menurut PSAK No 14 dan IAS 2 pengertian persediaan
adalah: suatu aset di klasifikasikan sebagai persediaan
tegantung pada nature bisnis perusahaan masing
masing.
PSAK 14 (revisi 2008) mendefinisikan persediaan adalah
aset:
a) Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa;
b) Dalam proses produksi untuk penjualan tersebut; atau
c) Dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk
digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
IAS 2 mendifinisikan persediaan (inventoris)
merupakan aset yang :
a) Dimiliki untuk dijual di dalam rangkaian bisnis normal
(misal barang jadi); atau
b) Digunakan untuk memproduksi barang djual (misal
bahan baku dan barang dalam proses); atau
c) Dikonsumsi di dalam proses produksi atau di dalam
penyerahan jasa.


Pengukuran Persediaan
Menurut PSAK No.14
Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai
realisasi neto, mana yang lebih rendah.
Yang termasuk kedalam Biaya Persediaan antara lain :
a) Biaya pembelian: meliputi harga beli, bea impor, pajak
lainnya, biaya pengangkutan, biya penanganan, dan
biaya lain yang secara langsung dapat di distribusikan
pada perolehan barang jadi bahan dan jasa.
b) Biaya konfersi merupakan biaya yang timbul untuk
memproduksi bahan baku menjadi barang jadi atau
barang dalam produksi.
c) Biaya lain yang dapat dibebankan sebagai biaya
persediaan adalah biaya yang timbul agar persediaan
tersebut berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Biaya
seperti penelitian dan pengembangan, biaya
administrasi dan penjualan, biaya pemrosesan, biaya
penyimpanan tidak dapat di bebankan sebagai biaya
persediaan.



Penyajian / Pencatatan Persediaan
System yang dapat di gunakan yaitu system periodic
dan system perpetual.
System periodic merupakan system pencatatan
persediaan di mana kuantitas persediaan ditentukan
secara periodic yaitu hanya pada saat perhitungan
fisik yang di lakukan secara stock opname.
Sysem perpetual merupakan system pencatatan
persediaan dimana pencatatan yang up to date
terhadap barang persediaan selalu dilakukan setiap
terjadi perubahan nilai persediaan.

Aset Tetap
Berdasarkan PSAK 16
Aset tetap adalah aset berwujud yang:
1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau
penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan
kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif;
dan
2. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu
periode.
Berdasarkan definisi di atas terdapat beberapa hal
penting terkait asset tetap yaitu:
Asset tetap adalah asset berwujud, yaitu
mempunyai bentuk fisik (tanah,bangunan)
Asset tetap mempunyai tujuan penggunaan khusus
Asset tetap termasuk kedalam asset tidak lancar
karena diharapkan untuk digunakan lebih dari satu
periode.



Pengakuan Aset Tetap
Biaya perolehan asset tetap harus diakui sebagai asset
jika:
1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan
berkenaan dengan asset tersebut akan mengalir ke
entitas.
2. Biaya perolehan asset dapat diukur secara andal.
Pengukuran pada saat pengakuan
Asset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui
sebagaia sset pada awalnya harus diukur sebesar biaya
perolehan. Biaya perolehan asset tetap meliputi (PSAK
16):
1. Harga perolehannya, termasuk bea impor dan pajak
pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah
dikurangi diskon pembelian dan potongan potongan
lain.
2. Biaya biaya yang dapat didistribusikan secara langsung
untuk membawa asset ke lokasi dan kondisi yang
diinginkan agar asset setiap digunakan sesuai dengan
keinginan dan maksud manajemen.
3. Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan
asset tetap dan restorsi lokasi asset.






Entitas dapat memperoleh asset melalui pertukaran
asset moneter atau kombinasi asset moneter dan
non moneter. Dalam hal ini maka biaya perolehan
dari suatu asset tetap diukur pada nilai wajar kecuali:
1. Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi
komersial
2. Nilai wajar dariasset diterima dan di serahkan tidak
dapat diukur secara andal.


Pertukaran Memiliki Substansi Komersial
Contoh : nilai buku Rp 400 juta, kas Rp 800 juta mesin
Rp 1.000 juta. Nilai wajar tanah diestimasi Rp 1.800
juta. Transaksi tersebut memiliki subtansi komersial.
Mesin akan dicatat Rp 1.000 juta, yaitu nilai wajar
dari asset yang diserahkan Rp 1.800 juta dikurangi
dengan kas yang diterima 800 juta.
Jurnal: mesin Rp 1.000.000.000
Kas Rp 800.000.000
Tanah Rp 400.000.000
Keuntungan pelepasan tananh Rp
1.400.000.000



Pertukaran Tidak Memiliki Substansi Komersial
Contoh : PT A menukar mobil x dengan nilai buku Rp
130 juta (harga perolehan Rp 200 juta dan akm
depresiasi Rp 70 juta) nilai wajar Rp 132,5 juta kas
Rp 1,5 juta dan mobil Y nilai wajar Rp 131 juta. Mobil
jenis Y di catat sebeasar nilai buku x yaitu Rp 130
juta dikurangi kas diterima Rp 1,5 juta yaitu sebesar
Rp 128,5 juta

Jurnal : kas Rp 1.500.000
Mobil Y Rp 128.500.000

Akm depresiasi Rp 70.000.000
Mobil X Rp 200.000.000


Pengukuran Setelah Pengakuan
1. Model Biaya
Dalam model ini setalah diakui sebagai asset
maka suatu asset tetap dicatat sebesar biaya
perolehan dikurang akumulasi penyusutan dan
akm rugi penurunan nilai asset.
2. Model Revaluasi
Setelah diakui sebagai asset, suatu asset tetpa
yamg nilai wajarnya dapat diukur secara andal
harus dicatat pada jumlah revaluasinya, yaitu nilai
wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi
penyusutan dan rugi penurunan nilai yang terjadi
setelah tanggal revaluasi.
Pengukuran berdasarkan IAS 16
IAS 16 memberikan kepada suatu entitas suatu opsi
kebijakan akuntansi yang menggunakan model
harga perolehan atau model revaluasi. Model
manapun yang akan diadopsi oleh suatu entitas,
entitas tersebut harus menerapkan kebijakan
tersebut bagi seluruh kelompok dari property, pabrik
dan peralatan.
1. Model Harga Perolehan
Model ini adalah suatu model yang umum
digunakan.Apabila suatu entitas memilih model
harga perolehan kemudian digunakan untuk
mencatat properti, pabrik dan peralatan; setelah
pengakuannya atas dasar harga perolehannya
dikurangi dengan akumulasi penyusutannya dan
akumulasi rugi karena penurunan nilai aset.

Depresiasi
Entitas harus memulai untuk menyusutkan aset
ketika berada di lokais dan kondisi, serta tersedia
untuk tujuan yang dimaksud.Entitas juga harus
memberhentikan penyusutan aset bilamana aset
tidak diakui, atau direklasifikasikan sebagai yang
dimiliki untuk dijual sesuai dengan IFRS 5.
Penyusutan harus diterapkan kepada jumlah dari
suatu aset yang dapat disusutkan secara sistematis
selama harapan masa manfaatnya.
Metode Penyusutan
Suatu entitas diizinkan unt uk memilih metode
penyusutan. Entitas tersebut dapat menggunakan
metode garis lurus, metode saldo menurun, atau
metode unit produksi. Metode penyusutan
digunakan harus mencerminkan pola imbalan
ekonomis masa depan dari aset yang diharapkan
untuk dikonsumsi oleh entitas.

2. Model Revaluasi
Menurut IAS 16, setelah pengakuan sebagai suatu
aset, maka suatu pos dari property, pabrik dan
peralatan yang mempunyai nilai wajar yang dapat
diukur secara andal, mungkin dicatat menurut suatu
jumlah yang direvaluasi. Jumlah yang direvaluasi ini
akan menjadi nilai wajar pada tanggal revaluasi
dikurang akumulasi penyusutan berikutnya dan
akumulais kerugian penurunan nilai aset berikutnya.
Menurut IAS 16, bilamana suatu pos property,
pabrik dan peralatan direvaluasi, maka suatu entitas
dapat memperlakukan akumulasi penyusutan pada
tanggal revaluasi dengan salah satu dari dua cara
sebagai berikut :


a) Dinyatakan kembali secara proporsional dengan
perubahan di dalam jumlah tercatat kotor dari aset,
sehingga jumlah tercatat dari aset setelah
revaluasi sama dengan jumalah yang direvaluasi
b) Dieliminasi terhadap jumlah tercatat kotor dari
aset dengan jumlah yang dinyatakan kembali
bersih terhadap jumlah yang direvaluasi dari aset

Penghentian Pengakuan
Jumlah tercatat setiap asset tetap dihentikan
pengakuannya pada saat (PSAK 16):
1. Dilepaskan
2. Tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang
diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya.

Penurunan Nilai
Dalam menentukan apakah suatu asset mengalami
penurunan nilai enitas mengacu pada PSAK
48(revisi 2009) penurunan nilai asset. Menurut
PSAK 48 suatu asset disebut mengalami penurunan
nilai jika nilai tercatatnya lebih besar dibandingakan
nilai terpulihkan. Niali terpulihkan adalah nilai
tertinggi diantara nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjual.
Sedangkan menurut IAS 36 dalam Ankarat, 2012 :
280, Penurunan nilai (impairment) adalah suatu aset
yang diturunkan nilainya bilaman jumlah yang
dicatatkannya melebihi jumlah yang dapat
dipulihkan/diperoleh kembali.


Dalam mempertimbangkan ada tidaknya penurunan
maka entitas harus mempertimbangkan dari sumber
eksternal dan internal.
Informasi dari sumber eksternal adalah:
1. selama periode tersebut nilai pasar asset telah
turun secra signifikan lebuh dari yang duharapkan
sebagai akibat dari berjalannya waktu.
2. Perubahan signifikan dalam hal teknologi, pasar ,
ekonomi atau lingkup hukum tempat entitas
beroperasi atau di pasar tempat asset dikaryakan.
3. Suku bunga pasar atau tempat imabalan pasar dari
investasi telah meningkat selam periode tersebut
dan kenaikan tesebut mungkin akan
mempengaruhi tingkat diskonto yangdigunakan
dalam menghitung nilainpakai asset dan
menurunkan nilai terpulihkan.
4. Jumlah tercatat asset netto entitas melebihi
kapitalisasi pasarnya


Informasi dari sumber internal:
1. Terdapat bukti mengenai keusangan atau
kerusakan asset.
2. Telah terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat
perubahan signifikan yang berdampakmerugikan
sehubungan dengan seberapa jauh atau cara
suatu asset yang digunakan akan digunakan.
3. Terdapat bukti pelaporan internal yang
mengindikasikan bahwakinerja ekonomi asset lebih
buruk atau akan lebih buruk.


Penyajian Penurunan Nilai Aset
Terkait dengan depresiasi penurunan nilai maka
dalam penyajiannya pada laporan keuangan suatu
entitas harus mengungkapkan beberapa hal sebagai
berikut:
Keberadaan dan jumlah pembatasan hak milik dan
asset tetap yang dijaminkan untuk utang.
Jumlah pengeluaran yang diakui sebagai asset
dalam penyelesaian
Jumlah komitmen kontraktual dalam memperoleh
asset tetap.
Junlah kompenasasi pihak ketiga atas asset tetap
yang di masukan ke laba rugi
Jika ada perubahan estimasi terkait dengan masa
manfaat nilai residu atau metode penyusutan.


Pengungkapan Penurunan Nilai Aset
Sesuai dengan PSAK 48 suatu entitas
mengungkapkan informasi penurunan nilai asset
tetap sebagai tambahan informasi yang disyaratkan.
Informasi berikut relevan dengan kebutuhan
pengguna laporan keuangan sehingga entitas juga
dianjurkan melakukan pengungkaoan atas:
Jumlah tercatat asset tetap tidak terpakai sementara
Jumlah tercatat bruto dari setiap asset tetap yang
telah disusutkan
Jumlah tercatat asset yang dihentikan
Jika model biaya digunakan nilai wajar asset tetap
apabila berbeda secara material dari jumlah tercatat.