Anda di halaman 1dari 78

Mumps

Infeksi paramyxovirus
menyerang kelenjar Parotis di
antara telinga dan leher
pembengkakan leher bagian
atas
Gambaran klinis
Gejala demam, anoreksia, sakit
kepala, muntah dan nyeri otot.
Suhu tubuh biasanya naik
sampai 38,5 0C sampai 39,50C
Pembengkakan kelenjar parotis
Ditularkan melalui kontak
langsung, percikan ludah,
bahan muntah, mungkin
dengan urin.

Mumps pembengkakkan pada parotid kiri
ETIOLOGI

Disebabkan oleh paramyxovirus
Ditularkan melalui percikan ludah penderita
Dibandingkan campak atau cacar air, tidak terlalu menular
Kebanyakan menyerang anak-anak yang berumur 2-12 tahun
Yang terkena biasanya kelenjar parotis
Pembengkakan di depan dan belakang telinga sampai angulus
mandibularis dan kelenjar submandibularis
Pada orang dewasa, infeksi ini bisa menyerang testis (buah zakar),
sistem saraf pusat, pankreas, prostat, payudara dan organ lainnya.
Masa inkubasi adalah 12-24 hari.

Patofisiologi:
Virus masuk

Proliferasi di parotis atau
epitel traktus respiratorius

Viremia

Virus berdiam di jaringan
kelenjar atau saraf yang
paling sering terkena ialah
glandula parotis.


Kiri: Bengkak karena mumps
Kanan: Bengkak karena abses mandibular
Diagnosis
Gejala infeksi parotitis epidemika pada pemeriksaan fisis,
Kontak dengan penderita penyakit gondong 2-3 minggu
sebelumnya.
Pemeriksaan laboratorium air kencing (urin) dan darah
Pemeriksaan
Klinis palpasi
Lab jumlah leukosit
Serologi
Laboratorium urin dan darah
KOMPLIKASI

Orkitis : peradangan pada salah satu atau kedua testis
Ovoritis : peradangan pada salah satu atau kedua indung telur
Ensefalitis atau meningitis : peradangan otak atau selaput otak
Pankreatitis : peradangan pankreas, bisa terjadi pada akhir
minggu pertama
Peradangan ginjal bisa menyebabkan penderita mengeluarkan
air kemih yang kental dalam jumlah yang banyak
Peradangan sendi bisa menyebabkan nyeri pada satu atau
beberapa sendi.

Diagnosis
Gejala klinis
Suhu badan
Palpasi sekitar
outline kel. Parotis
Pemeriksaan
intraoral
ada peradangan di
muara dukstus
Stensen
Pemeriksaan lab.
Di lesi parotis
epidemika ada
edema interstisial.
Pemeriksaan
serologi
Pengobatan
Analgesik ringan
Obat kumur
Kortikosteroid
Convalescent gammaglobulin mencegah orkitis
Pencegahan
Imunisasi MMR pada anak-anak

PENCEGAHAN

Vaksinasi gondongan merupakan bagian dari
imunisasi rutin pada masa kanak-kanak

Vaksin gondongan biasanya terdapat dalam
bentuk kombinasi dengan campak dan rubella
(MMR), yang disuntikkan melalui otot paha
atau lengan atas


Herpangina

Inflamasi akut pada pharynx
karena virus coxsackievirus A16,
Enterovirus 71, coxsackievirus A
dan B
Penyebaran rute fecal-oral, atau
melalui rute saluran pernapasan,
atau melalui fomites
Masa inkubasi 4-14 hari
Gambaran klinis dan Manifestasi
oral:
Vesikuler kecil atau lesi
ulseratif pada struktur
oropharyngeal posterior
Lesi terbentuk di dalam
mulut (palatum lunak,
tonsil, uvula, lidah


Gambar Herpangina

Gejala-gejala:
Demam
Sakit kepala
Hilangnya nafsu makan
Sakit tenggorokan (sakit saat
menelan)
Ulcers di mulut dan tenggorokan,
dan luka yang serupa pada kaki,
tangan, dan bokong
Diagnosis:
Lesi putih-abu-abu keputihan
dasar dan tepi merah dan sangat
menyakitkan. Umumnya, hanya
ada beberapa luka
Serum antibodi untuk
coxsackievirus dapat diukur
setelah timbul gejala klinis

Perawatan
Acetaminophen (Tylenol) atau Ibuprofen (Motrin)
Peningkatan asupan cairan
Makan makanan diet non-iritasi, hindari makanan
pedas dan asam
Anestesi topikal untuk mulut benzocaine atau
xylocaine

Lymphonodular Pharyngitis Acute

Inflamasi akut yang disebabkan
oleh virus Coxsackie A10
Gambaran klinis dan
manifestasi oral
Demam, sakit kepala ringan
Anoreksia
Sakit tenggorokan
Muncul lesil nonvosicular pada
Uvula
Soft palate
Tonsillar pilar anterior
Posterior faring
Lesi lebih dari satu
Diskrit papula berwarna putih
kekuningan dikelilingi oleh zona
sempit erythema
Lesi tidak vesikuler dan tidak
memborok

Lesi nonvosicular (papula) pada
uvula dan soft palate
Ciri histologis
Papul atau nodulnya
mengandung agregat
hyperplastic lymphoid.
Tes laboratorium
IHE isolasi virus dan
pemeriksaan serologi
Pengobatan
Tidak ada perawatan
spesifik selain pencegahan
penyakit.
Terapi antibiotik tidak
berpengaruh pada
kesembuhan.

Hand, Foot, and Mouth Diseases

Virus penyebab
Coxsakie A-16 (COX A-
16)
Enterovirus 71 (EV 71)
Gejala klinik:
Herpangin
Meningitis aseptik
Ensefalitis
Edema pleura

Gambaran patologis:
Biopsy telapak tangan dan kaki penderita
Edema yang moderat dari epidermis interseluler
sehingga ada gambaran spongiosis
Gambaran mikroskopik electron
Kerusakan sedang sampai berat dari keratinosit di kulit
dan mukosa mulut
Sel tampak nekrosis dengan inti yang tidak bersatu
tetapi mengelompok atau menyebar sendiri-sendiri

Diagnosis melalui gejala klinis
Mulut terasa sakit
Terdapat multiple vesicular, dan
lesi ulseratif lokal >> dibandingkan
yang terlihat di herpangina.
Lokasi utama lesi oral terdapat di
palatum keras, lidah, dan mukosa
bukal.
Jarang terlihat keterlibatan bibir,
gingiva, pharing, dan tonsil.
Lidah dapat berwarna kemerahan
dan terjadi edema.
Paling sering terjadi pada anak-
anak
Manifestasi klinik hampir sama
dengan herpangina, tetapi
vesikular exanthem muncul pada
mukosa buccal, mukosa labial,
lidah, dan palatum



Manifestasi oral:
Anoreksia
Malaise
Nyeri tenggorokan
Lesi: vesikel ulkus krusta
Asimptomatik
Lesi menghilang tanpa bekas
Pengobatan:
Tidak ada pengobatan spesifik untuk HFMD
Antivirus Pleconaril
Immunoglobulin intra vena
Isolasi penderita
Self limiting dalam 7 hari, bila tanpa komplikasi.

Epstein Barr-Virus
Virus dari famili herpes dan merupakan salah
satu virus yang paling umum pada manusia.
Banyak orang terinfeksi dengan Virus Epstein-
Barr yang sering asimtomatik tetapi umumnya
menyebabkan mononukleosis
Disebut juga virus herpes manusia 4
Sel target virus EB adalah limposit B
Etiologi
Terjadi kebanyakan pada anak-anak dan
dewasa muda
Penularan melalui saliva yang terinfeksi dan
memulai infeksi di orofaring
Kadang-kadang terjadi pembengkakan pada
kelenjar getah bening, limfa, dan hati
Bisa menyebabkan oral hairy leukoplakia pada
penderita AIDS
Diagnosis
Demam
Sakit tenggorokan
Pharyghitis
Bengkak pada kelenjar getah bening

Dipastikan dengan tes darah
Human Papilloma Virus
Human papillomaviruses (HPVs) adalah
kumpulan lebih dari 100 virus
Menyerang kulit dan membran mukosa manusia dan
hewan.
Beberapa jenis virus papiloma dapat
menyebabkan kutil, papilloma, atau tumor jinak
sementara lainnya dapat menyebabkan infeksi yang
menyebabkan munculnya lesi. Semua HPV
ditransmisikan melalui hubungan kulit ke kulit
Dari 100 jenis HPV, lebih dari 30 jenis dapat ditularkan
dari satu orang ke orang lain melalui kontak seksual
Terbagi menjadi low risk dan high risk
Low Risk: 60 jenis yang menyebabkan kutil-kutil
kulit yang tidak berbahaya.
High Risk: HPV tipe mukosal, yaitu hanya
menyerang selaput-selaput lendir seperti yang
terdapat pada mulut, kerongkongan, ujung penis,
vagina, leher rahim, dan dubur
Etiologi
Disebabkan oleh virus HPV
Menular terutama melalui hubungan seks
Pada orang dewasa umur 15-30 tahun

Pencegahan
Hindari seks bebas
Vaksinisasi
Sialadenitis

Kelenjar saliva mayor:
kelenjar parotis,
submandibular, dan
sublingual.
Inflamasi atau randang
kelenjar saliva infeksi
virus atau bakteri.
Pelebaran dan obstruksi
kelenjar saliva
Kelenjar saliva mayor
Acute Bacterial Sialadenitis
Infeksi akut kelenjar parotid
Organisme yang paling
berperan S.aureus
Diagnosis
Pelebaran dan pembesaran pada
kelenjar saliva
Infeksi bilateral.
Glandula membersar infeksi
pus
Fistula salivary
Palpasi sakit
Kulit sekitar glandula terdapat
eritema.
CT, ultrasonography, atau MRI
keberadaan abses dan area cystic
Pembesaran kelenjar saliva
Pengobatan
Antibiotik
Antistaphylococcal
semisynthetic jika pasien
penicillin resistant
staphylococci.
Alergi penicillin
clindamicin
Dicloxacilin, vancomycin.
Alamiah Lemon, pijat
glandula
Pasien rawat inap
antibiotik melalui intravenous
route
Stimulasi saliva
Chronic Bacterial Sialadenitis
Invasi bakteri system duktus + obstruksi
Paling sering Kelenjar submandibular
Muara duktus inflamasi
Diagnosis
Mulut berasa asam dan busuk
Patologis duktus mengalami ektasia, epitel pada
mukosa duktus mengalami metaplasia, sel-sel duktus
menjadi fibrotic, dan terjadi infiltrasi sel-sel radang
kronis.
Abses

Perawatan
Sialagogues (agen yang merangsang aliran saliva
lebih banyak)
Pemijatan
Antibiotik
Menyentuh duktus dengan larutan protein
Kasus intractable pembuangan glandula

Chronic Sclerosing Sialadenitis
Inflamasi kronis kelenjar saliva penggantian
sel-sel acini oleh sel limfosit dan sel plasma
Tidak ada perubahan bentuk duktus
Duktus mengalami obtruksi ataupun tekanan
Diagnosis
Berhubungan dengan sialothiasis dan extravasasi
mukosa.
Kelenjar obstruksi membesar dan mengeras
Neoplasma pada kelenjar saliva mayor dapat
mengobstruksi kelenjar saliva minor
Terapi radiasi melewati dosis mengancurkan sel acini
fungsi kelenjar hilang CSS xerostomia cervical caries,
oral mucositis, oral candidiasis
Perawatan
Sialoadenoctomy
Gel fluoride dan meticulous oral hygiene
Electrostimulatory.
Pilocarpine
Sialothiasis
Infeksi bakterial akut
Disebabkan batu sialoliths
gangguan keseimbangan
kalsium obstruksi
Rasa sakit saat mengunyah
Diagnosis
Radiografik
Pengobatan dan perawatan
Cairan lemon
Antibiotik perhatikan
penyakit sistemik
Surgical climination


Sialoliths
Lymphoepithelial Sialadenitis
Inflamasi autoimun kronis kelenjar parotis
Sel limfosit T mengganti sel acini sel duktus
hiperplasia epimyoepithelial islands
LES perkembangan Sjrgen Syndrome
Infiltrasi limfoid kista salivarius pada
penderita HIV
Infiltrasi limfoid pembesaran kelenjar saliva
HIV/AIDS

Golongan non-oncogenic
human retrovirus yang
mencakup golongan
lentivirus tipe III.
Ditularkan melalui kontak
seksual maupun hubungan
ibu anak
Kadang ditemukan di
saliva kadar rendah
bukan transmisi utama
Target utama Sistem
imunitas dan saraf pusat
Gejala klinis
Window stage
Seroconversion stage
Asymptomatic stage
Symptomatic stage
AIDS

Manifestasi oral multiple dan variasi
tanda awal

DIAGNOSIS

Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan
sebagai AIDS
Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan
radang saluran pernafasan atas yang berulang
Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan
selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis
Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus,
trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua
penyakit ini adalah indikator AIDS

Lesi oral dari pasien positive pre-AIDS:
Hairy leukoplakia
Acute pseudomembranous candidiasis
Diffuse herpes simplex gingivostomatitis
Gingivitis/periodontis
Acute nonspecific ulcers
Diffuse varicella-zoster lesions

Lesi oral dari pasien positif AIDS:
Candidiasis
Hairy leukoplakia
Diffuse herpes simplex gingivostomatitis
Diffuse varicella-zoster lesions
Kaposi sarcoma
Non-Hodkin lymphoma
HIV gingivitis/periodontitis
Acute nonspecific ulcers
Chronic ulcers
Cryptococcosis
Histoplasmosis
Cytomegalovirus
Herpes Simplex Infection

Lesi oral yang jarang ditemui pada pasien positif
AIDS:
Atypical tuberculosis
Cocciodiomycosis
Molluscum contagnium infection
Toxoplasmosis
Bacillary angiomatosis
Condyloma acuminatum
Enlarged parotid glands
Xerostomia
Squamous cell carcinoma


Hairy Leukoplakia
Gingivitis HIV
Oral Candidiasis
Condyloma Aquaminatum
Non-Hodkins Lymphoma
Oral Pygmentation
HIV - SGD
Sarcoma Kaposi
Herpes Simplex
Periodontitis HIV
ANUG
Hairy Leukoplakia
Lesi putih lateral lidah dan
mukosa buccal lipatan
hair like
Epitel menebal
Hiperkeratosis
Acanthesis



ANUG
Umum pada pasien HIV.
Gusi sakit spontan, merah
padam, bengkak, berdarah, dan
bau mulut.
Papilla-papila interdental tampak
hilang, berulserasi, tertutup oleh
kulit nekrotik keabuan.
Perawatan
debridement
metronidazole

Gingivitis HIV
Eritema gusi kronis
Petechieae multifocal
kelim-kelim merah
Perdarahan gusi spontan
Keterlibatan PMN
Periodontitis HIV
Hilangnya jaringan
periodontal
Perdarahan gusi spontan
Kawah interdental
Pasien HIV flora mulut
tidak umum lidah
menunjukkan gejala glossitis
Oral Candidiasis
Infeksi mulut utama pada pasien HIV
Manifestasi pertama
Infeksi semua permukaan mukosa mulut
Ketidaknyamanan pada mulut
Terapi antinfungal topical
Candidiasis Pseudomembranous
Plak putih
Mukosa merah
terbakar
Candida albicans
Median Rhomboid
Glossitis
Herpes Simplex
Bibir herpes labialis
Intraoral herpes
intraoral recurrent
Vesikel-vesikel bulat kecil
Ulkus kuning dangkal
dikelilingi lingkaran merah
Vesikel ulkus besar
Pasien AIDS terinfeksi
herpes pada permukaan
khas untuk stomatitis
aphtosa permukaan
lidah dan mukosa pipi
Condyloma Aquaminatum
Kutil kelamin
Tonjolan seperti kembang
kol berwarna merah atau
abu-abu kotot
Multiple
Mukosa mulut
Perawatan eksisi lokal
Sarcoma Kaposi
Awal macula merah
kebiruan
Lesi seperti nodula sakit
Lokasi: lateral palatum
keras, gusi, mukosa buccal
Perawatan
Terapi radiasi
Kemoterapi

Non-Hodkins Lymphoma
Akibat kekebalan abnormal
proliferasi neoplastik
Massa ungu
Difus
Cepat berproliferasi
Palatum-retromolar
HIV-Salivary Gland Disease
Perluasan parotid cervical lymphadenopathy
Perluasan kelenjar saliva
Mengakibatkan xerostomia, candidiasis, mulut kering,
karies, dan bau mulut
Pengobatan
Antiretroviral
Antifungal
Kemoterapi
Antihistamin
Multivitamin
Oral Pygmentation
Mukosa oral, kulit, dan
kuku
Destruksi adrenocortical
Mukosa intraoral berwarna
hitam kecoklatan
Penggabungan makula
Pengobatan
Ketaconazole
Zidovudine
PERAWATAN

Penanganan infeksi HIV terkini adalah terapi antiretrovirus yang
sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART
yang menggunakan protease inhibitor.
Kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut "koktail) yang terdiri
dari paling sedikit dua macam bahan antiretrovirus. Kombinasi yang
umum digunakan adalah nucleoside analogue reverse transcriptase
inhibitor (atau NRTI) dengan protease inhibitor, atau dengan non-
nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI
Penerapan HAART dianggap meningkatkan waktu bertahan pasien
selama 4 sampai 12 tahun
Efek samping penerapan HAART, antara lain lipodistrofi,
dislipidaemia, penolakan insulin, peningkatan resiko sistem
kardiovaskular, dan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.
Hepatitis A, B, C

Penyakit inflamasi pada hati yang disebabkan
oleh virus
Karakterisitik:
Sel hepatosit bengka keruh
Sel-sel infiltrasi bulat
Sel nekrosis
Choleatasis
Penyakit kuning
Retensi bowel
Dokter gigi punya risiko besar tertular dari pasien

Hepatitis A
Virus Hepatitis A.
Dalam tinja
Fecal-oral route
Fase prodormal gejala mirip flu
Fase ictal klinis penyakit kuning, mual-
mual, dan muntah
Sembuh antibodi kebal seumur hidup
Tidak kronis dan tidak carrier

PERAWATAN


Akan sembuh sendiri setelah beberapa minggu
Vaksin hepatitis A merupakan perlindungan terbaik
Proteksi jangka pendek terhadap hepatitis A adalah dari
imunoglobulin
Selalu mencuci tangan dengan air dan sabun setelah dari kamar
mandi dan sebelum menyiapkan makanan


Hepatitis B
Lebih parah dari Hepatitis A
Parerental route
Partikel virus saliva, mani, cairan vagina,
dan ASI
Screening test HBsAg dan HbeAg
Fase prodormal gejala nonspesifik
Fase ictal klinis penyakit kuning

PERAWATAN

Interferon alpha atau lamivudine
Perlindungan terbaik adalah vaksin hepatitis B
Jangan berganti-ganti pasangan
Lakukan pemeriksaan darah untuk hepatitis B
pada wanita hamil
Jangan mendonorkan darah bila mempunyai
penyakit hepatitis B



Hepatitis C
Parenteral route
Screening test HBsAg
Sel-sel dapat mengalami nekrosis kronis
PERAWATAN

Tidak ada vaksin untuk Hepatitis C
Mencegah perilaku berbagi jarum atau alat-
alat pribadi seperti sikat gigi, alat cukur dan
gunting kuku dengan orang yang terinfeksi
Hepatitis C
Oral Manifestation
Terkait dengan Sialadenitis dan Sjrgen
Syndrome
Sialadenitis Replikasi HCV-RNA di epithelial
kelenjar saliva
Dental Management pada Pasien
Hepatitis
Pencegahan operatif minimalisir kontak
operator - pasien
Prosedur sterilisasi prosedur ketat
sterilisasi
Prosedur pembersihan antiseptik +
disinfektan
Penggunaan jarum suntik terkena darah /
tertusuk jarum immunoglobulin HBV
Tatalaksana Kedokteran Gigi pada
Pasien Hepatitis
Pasien dengan riwayat hepatitis dapat menerima
perawatan gigi rutin tanpa menghilangkan prosedur
masker + handscoon
Pasien dengan hepatitis tidak mendapatkan perawatan
gigi yang rutin
HBV paling berbahaya
SterilisasiAutoclave
Chemiclave
Permukaan instrumen antiseptik
Disinfektan glutaraldehyde, hypochlorite, dan iodophore
Operator terkena hepatitis A immunoglobulin
intramuscular
Pencegahan hepatitis pada operator HBIG



Pengobatan
Hepatitis kronis, penghentian obat-obatan
pemicu metabolisme hati
Anestesi amida
Ampicillin
Erythromicin
Penicillin
Tetracylcline
Halothane
Pasien Hepatitis B kronis corticosteroids