Anda di halaman 1dari 26

Oleh :

Andhika Dwianto 1102010019



Pembimbing :
Dr. Elly Amalia, Sp.M

Bagian Kepaniteraan Mata
Selulitis Orbita
Anatomi

Anatomi Rongga Orbita
Volume orbita dewasa kira kira 30 mL
Bola mata menempati 1/5 bagian rongga
Lemak dan otot menempati bagian terbesar nya
Batas Anterior Rongga orbita adalah Septum Orbita
Orbita berhubungan dengan
Atas : Sinus Frontalis
Bawah : Sinus Maksilaris
Medial : Sinus Ethmoidalis dan Sphenoidalis
Anatomi Rongga orbita dan sinus
Vaskularisasi Orbita
Arteri Utama : Arteri Oftalmika yang bercabang
menjadi

Arteri retina sentralis
Arteri lakrimalis
Cabang cabang muskularis
Arteri siliaris posterior brevis
Arteri siliaris posterior longa
Arteri siliaris anterior
Arteri palpebralis
Arteri Supraorbitalis
Arteri Supratrochealis
Gambar percabangan Arteri Oftalmikus
Anatomi Palpebra
Fungsi
Melindungi bola mata
Sekresi kelenjar yang membentuk film air mata di depan
kornea
Bagian depan di tutupi kulit
Bagian belakang di tutupi selaput lendir tarsus atau
Konjungtiva Tarsal
Gambar bagian bagian palpebra
Selulitis Orbita

Definisi
Peradangan supuratif jaringan ikat jarang
intraorbita di belakang septum orbita.
Jarang merupakan penyakit primer rongga orbita.
Dapat mengakibatkan Kebutaan.
Pada anak-anak, selulitis orbitalis biasanya
berasal dari infeksi sinus.
Epidemiologi
Peningkatan insiden biasanya di musim dingin karena
berhubungan dengan peningkatan insiden sinusitis di
cuaca dingin.
Mortalitas/Morbiditas
Sebelum ketersediaan antibiotik : Angka kematian 17%
dan 20% dari yang selamat mengalami kebutaan
Setelah ketersediaan antibiotik : Angka kematian turun di
11%
Ras
Jenis Kelamin
Usia
Lebih sering terjadi pada anak anak khususnya di kisaran
usia 7-12 tahun
Etiologi
Biasanya karena flora normal kulit
Infeksi biasa nya berawal dari trauma kelopak mata,
gigitan hewan serangga, Konjungtivitis, Kalazion serta
sinus paranasal yang penyebarannya melalui pembuluh
darah ( Bakterimia )
Pada anak anak biasanya karena Sinusitis Ethmoidalis
Ada beberapa bakteri penyebab yang paling sering
menyebabkan Selulitis, yaitu :
Haemophilus influenza
Sudah agak jarang menyebabkan selulitis karena
banyaknya vaksin terhadap bakteri ini.




Staphylococcus aureus
Bakteri normal yang ada di kulit manusia terutama hidung
dan kulit


Streptococcus pneumoniae
Flora normal tractus respirasi bagian atas yang sering
menyebabkan sinusitis
Paling sering menyebabkan selulitis pada anak anak <3th




Streptococcus pyogenes
5-15% di saluran pernapasan setiap individu
Selulitis karena bakteri ini biasanya bersifat lokal bukan
melalui penyebaran
Patofisiologi
Perluasan sinusitis melalui tulang tulang ethmoid yang
tipis

Penyebaran terjadi dari orbita media melalui lamina
parycea
Manifestasi Klinis
Beberapa gejala klinis Selulitis Orbita
Palpebra bengkak, nyeri dan kemerahan
Penurunan visus
Nyeri saat menggerakan bola mata
Diplopia
Nyeri kepala
Konjungtiva merah dan bengkak
Gejala Sinusitis ( Rhinorrhea, peningkatan tekanan sinus )
Proptosis
Ptosis
Peningkatan TIO

Diagnosis Banding
Pseudotumor Eksoftalmus Tiroid Selulitis Orbita
Lateralisasi Unilateral Bilateral Unilateral
Usia 21-50 th Dekade 4 dan 5 Anak dan dewasa muda
Onset Akut, sub akut, kronis Kronis Akut
Presentasi
Klinis
Proptosis, ptosis,
kemosis dengan nyeri
Proptosis Pembengkakan dan nyeri
periorbita
Penemuan
Lab
Peningkatan LED Abnormal tes
fungsi tiroid
Leukositosis
Gejala
sistemik
Malaise Gejala tiroid Demam
Respon
Steroid
Dosis Kecil Dosis Tinggi Respon terhadap
antibiotik
Diagnosis banding kondisi inflamasi orbita
Diagnosis banding dengan Selulitis Preseptal
Penemuan Klinis Selulitis Preseptal Selulitis Orbita
Kemampuan
Penglihatan
Normal Mungkin Menurun
Nyeri atau pergerakan
mata
- +
Nyeri Orbita - +
Proptosis - +
Kemosis Jarang atau ringan Sering
Reaksi Pupil Normal Mungkin Abnormal
Motilitas Normal Menurun
Sensasi Kornea Normal Mungkin Menurun
Oftalmoskop Normal Mungkin Abnormal
Demam/Malaise Ringan Sering Berat
Leukosit Normal s/ Meningkat Meningkat
TIO Biasanya normal Mungkin Meningkat
Pemeriksaan penunjang
Leukositosis lebih dari 15.000
Pemeriksaan kultur darah
Usap secret hidung
Papsmear untuk gram stain
CT Scan
MRI
Tatalaksana
Harus langsung di mulai sebelum organisme penyebab
di ketahui
Antibiotic IV setelah hasil biakkan hidung, konjungtiva
dan darah
Kasus yang tidak berespon antibiotic mungkin
membutuhkan drainase sinus paranasal melalui
pembedahan.
Pada kerusakan periodontal diobati dengan
debrideman, kuretase subginggiva dan obat cuci mulut
Hidrogen peroksida 3 %.

Untuk Terapi perawatan :
Kompres hangat
Antibiotik IV 7-10 hari dilanjutkan Antibiotik oral 14-21 hari
Pasien rawat jalan biasa di berikan antibiotic oral selama
5-7 hari, jika di sertai sinusitis kronik atau osteomyelitis
ditambahkan pemberiannya selama 3 minggu
Infant :
Ceftriakson 50 mg/kgbb IV 12-24 jam ( tidak boleh > 4gr /
hari )

Anak anak :
Nafcilin atau oxacilin 12,5 mg/kgbb IV setiap 6 jam dan
Cefuroxime 25-33 mg/kgbb setiap 8 jam ( tidak boleh >4,5
gr/hari )
Alternatialergi terhadap penicillin atau sefalosporin :
Kloramfenikol 12,5-25 mg/kgbb IV setiap 6 jam ( Monitor
Hematologik )

Dewasa :
Ampicilin/Sulbaktam IV 1,5 gr setiap 6 jam, Cefuroxime 1,5
gr IV setiap 8 jam, Cefoxitin 2 gr IV Setiap 8 Jam,
Cefotetan 2 gr IV setiap 12 Jam
Pengobatan secara oral untuk periodental dengan
menggunakan penisilin V dosis 25.000 sampai 50.000
unit/KgBB/24 jam dibagi 4 dosis.


Beberapa jenis antibiotik yang dapat digunakan dalam
terapi selulitis orbita yaitu
11
:
a. Vankomisin (Vancocin)
b. Klindamisin (Cleocin)
c. Sefotaksim (Claforan)
d. Nafcillin (Unipen)
e. Ceftazidime (Fortaz, Ceptaz)
f. Kloramfenikol (Chloromycetin)
g. Tikarsilin (Ticar)
h. Cefazolin (Ancef, Kefzol, Zolicef)
Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi diantaranya : abses
orbita, abses subperiosteal, trombosis sinus
kavernosus, gangguan pendengaran, septikemia,
meningitis dan kerusakan saraf optic dan gangguan
penglihatan

Prognosis
Ad Vitam = Dubia ad bonam
Ad Functionam = Dubia ad malam
Ad Sanationam = Dubia ad malam
Ad Cosmeticam = Dubia ad malam
Daftar Pustaka
Asbury, Taylor. Rundaneva, Paul. Vaughan, Daniel P. Oftalmologi Umum.
Jakarta : Widya Medika. Hal. 1-5, 265-266.
Ilyas, S. Ilmu Penyakit Mata Edisi 3. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta.2004. Hal. 1-13, 101-102.
Kanski J. Clinical Ophtalmology a Systemic Approach. Philadelphia :
Butterworth Heinemann Elsevier. Page : 175-176.
Lang, Gerhard K .Ophtalmology a Pocket Textbook Atlas. 2006 . New york
: Thieme. Hal. 425-427.
Putz, R & Pabst, R. Atlas Anatomy Manusia Sobotta. Jakarta : EGC.
Suhardjo, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata Edisi 1. Bagian Ilmu Penyakit
Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta, 2007.
Hal. 53-54
Anonim. Selulitis Orbita. Akses November 2011, 4. Available from
http://www.repository.usu.ac.id
Anonim. Orbital Cellulitis. Akses November 2011, 4. Available from
http://www.cellulitis.org
Barry, Seltz L. Microbiology and Antibiotic Management of Orbital
Cellulitis. Pediatric Official Journal of The Academy of Pediatric. 2011.
Esther, Hong S MD. Orbital Cellulitis in a Child. Akses November 2011, 4.
Page 1-8
Harrington, John. Orbital Cellulitis. Akses November 2011, 4. Available
from http://www.emedicine.medscape.com.