Anda di halaman 1dari 12

KANKER NASOFARING

ELINA INDRASWARI
H1A012016
Kanker nasofaring adalah tumor ganas
yang berasal dari sel epitel nasofaring.
Tumor ini bermula dari fossa Rosenmuller
dan dapat menyebar ke dalam atau ke
luar nasofaring serta bermetastasis ke
kelenjar limfe di leher.

ETIOLOGI
Ada 3 faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya kanker
nasofaring, yaitu infeksi virus Epstein Barr (EBV), faktor genetik,
dan faktor lingkungan.
EBV merupakan virus DNA yang telah diyakini sebagai agen
penyebab beberapa penyakit keganasan. Virus tersebut dapat
menetap di dalam tubuh tanpa menimbulkan suatu gejala klinis.
Kasus herediter dari pasien kanker nasofaring telah banyak
ditemukan, contohnya perubahan genetik pada ras Cina.
Perubahan genetik tersebut menyebabkan proliferasi sel-sel
kanker secara tidak terkontrol. Perubahan ini sebagian besar
akibat dari mutasi, putusnya kromosom, dan kehilangan sel-sel
somatic.
Untuk faktor lingkungan, kemungkinan yang dapat menjadi
pemicu adalah debu, asap rokok, uap zat kimia, ikan yang
diasinkan, asap kayu bakar, dan obat-obatan tradisional.
EPIDEMIOLOGI
Kanker nasofaring banyak terjadi pada anak-anak
dan remaja di Asia Timur, Asia Tenggara, dan
Afrika Utara dengan kejadian 8-25 di setiap
100.000 anak. Menurut observasi, laki-laki lebih
banyak mengalami kanker nasofaring daripada
perempuan. Tidak hanya terjadi pada anak-anak,
orang tua yang berumur 50-60 tahun juga dapat
mengalami kanker ini.
PATOFISIOLOGI
Deteksi antigen nuklear EBV dan viral DNA
pada kanker nasofaring telah
menunjukkan bahwa EBV dapat
menginfeksi sel epitel dan berhubungan
dengan transformasi maligna.
Penggandaan EBV dapat ditemukan pada
sel lesi preinvasif yang memperlihatkan
bahwa hal tersebut berhubungan dengan
proses transformasi untuk menjadi kanker.
MANIFESTASI KLINIS
Pembesaran kelenjar limfe yang tidak
nyeri
Perdarahan pada hidung
Infeksi telinga
Sakit kepala
Pembengkakan leher
Pilek
Tampak massa pada fossa Rosenmller
DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Nasofaringoskopi
Biopsi nasofaring
Foto rontgen
USG
STADIUM KANKER NASOFARING
Nasofaring (T)
T1 : Tumor terbatas pada nasofaring
T2 : Tumor meluas ke jaringan lunak orofaring dan/atau
fossa nasal
T2a : Tumor tanpa ekstensi parafaringeal
T2b : Tumor dengan ekstensi parafaringeal
T3 : Tumor menginvasi struktur tulang dan/atau sinus
paranasal
T4 : Tumor dengan ekstensi intrakranial, keterlibatan saraf
kranial, fossa infratemporal, hipofaring, dan orbit
Regional nodus limfe (N)
N1 : Metastasis unilateral KGB dengan ukuran 6 cm di atas
fossa supraklavikular
N2 : Metastasis bilateral KGB dengan ukuran 6 cm di atas
fossa supraklavikular
N3 : Metastasis KGB dengan ukuran > 6 cm di atas fossa
supraklavikular
CONT
Metastasis (M)
M0 : Tidak ada metastasis jauh
M1 : Ada metastasis jauh
Stadium
Stadium 0 : T in situ N0 M0
Stadium 1 : T1 N0 M0
Stadium IIA : T2a N0 M0
Stadium IIB : T2b N0 M0 atau T1, T2a, T2b N1 M0
Stadium III : T3 N0, N1 M0 atau T1, T2a, T2b, T3 N2 M0
Stadium IVA : T4 N0, N1, N2 M0
Stadium IVB : Setiap T N3 M0
Stadium IVC : Setiap T Setiap N M1
TATALAKSANA
Radioterapi
Kemoterapi (kombinasi mitomycin C dan 5-fluorouracil
oral)
Kanker nasofaring stadium I : pemberian terapi radiasi
dosis tinggi pada tempat tumor primer dan terapi radiasi
profilaksis.
Stadium II : diberikan kemoterapi dan radioterapi
dengan dosis tinggi pada tempat tumor primer serta
radioterapi profilaksis.
Stadium III : diberikan kemoterapi, radioterapi dosis
tinggi, dan dipertimbangkan untuk diseksi tumor pada
leher.
Stadium IV : hampir sama dengan tatalaksana pada
stadium III ditambah dengan terapi kemoradiasi.
PROGNOSIS
Prognosis kanker nasofaring secara umum
bergantung pada pertumbuhan lokal dan
metastasenya. Kanker skuamosa berkeratinasi
cenderung lebih agresif daripada non keratinasi.
Prognosis buruk jika dijumpai limfadenopati,
stadium lanjut, dan tipe histologik kanker
skuamosa berkeratinasi. Prognosis dapat lebih
buruk jika stadium sudah lebih lanjut, usia lebih
dari 40 tahun, laki-laki, dan ras Cina