Anda di halaman 1dari 78

SPESIFIKASI JALAN

KULIAH
SERTIFIKASI
JALAN DAN JEMBATAN

MATERI KULIAH SPESIFIKASI
2010
TUJUAN PEMBEKALAN
MEMANTAPKAN PEMAHAMAN DAN PENGERTIAN

ATAS KANDUNGAN SPESIFIKASI, BAIK YANG

TERSURAT MAUPUN YANG TERSIRAT,

SEHINGGA DAPAT MENGHINDARI KESALAHAN

DALAM PENYIAPAN PENAWARAN DALAM

PELELANGAN (AHS, AKA, DLL), DAN

PELAKSANAAN KONSTRUKSI.

A. JENIS SPESIFIKASI & PENGERTIAN

B. STRUKTUR SPESIFIKASI YANG BAKU

C. ULASAN TENTANG :
DISKRIPSI; PENGUKURAN HASIL KERJA; CARA
PEMBAYARAN; METODA PELAKSANAAN DAN
PERALATAN;

D. PENGENDALIAN MUTU (QC);

E. DIVISI-DIVISI YANG PENTING
(Mobilisasi, Drainase, Pek. Tanah, Perkerasan
Berbutir, Perkerasan Aspal, Perkerasan Beton Semen,
Pengembalian Kondisi dan Pemeliharaan Rutin).
CAKUPAN MATERI PEMBEKALAN
PENGERTIAN SPESIFIKASI (TEKNIK)
SPESIFIKASI adalah bagian dari Dokumen Lelang
yang menjelaskan persyaratan teknik Pekerjaan yang
dilelangkan.

Persyaratan Teknik tersebut mencakup :
- Persyaratan Bahan Baku
- Persyaratan Bahan Olahan
- Cara Pelaksanaan Pekerjaan, termasuk persyaratan
teknik peralatan yang dipergunakan.
- Persyaratan teknik produk akhir Pekerjaan yang
harus dicapai.

FILOSOFI SPESIFIKASI
SPESIFIKASI UMUM (General Specifications)

mencakup semua persyaratan teknik yang berlaku
umum untuk seluruh paket proyek yang ada.


SPESIFIKASI KHUSUS (Special Specifications)

mencakup persyaratan-persyaratan teknik yang
berlaku hanya untuk paket-paket proyek atau jenis-
jenis pekerjaan tertentu saja.
MAKSUD SPESIFIKASI :

Sebagai pedoman bagi Peserta Pelelangan dalam
mengajukan Penawaran.

Sebagai pedoman bagi Pelaksana / Kontraktor dalam
melaksanakan Pekerjaan.

Sebagai pedoman bagi Pengawas dalam mengawasi
pelaksanaan Pekerjaan oleh Kontraktor.

Sebagai pedoman bagi Pinpro yang mewakili Pemilik
Pekerjaan, dalam mempertanggungjawabkan proyek
secara keseluruhan.


TUJUAN SPESIFIKASI :

Tercapainya produk akhir Pekerjaan yang memenuhi
keinginan Pemilik Pekerjaan (Owner).
KEINGINAN PEMILIK PEKERJAAN :


Dinyatakan dalam :

Gambar Rencana (bentuk, ukuran, elevasi, lokasi)
Spesifikasi (persyaratan-persyaratan teknik)


Mutu hasil Pekerjaan disebut baik, apabila :
Produk Akhir = Keinginan Pemilik
(persis sesuai dengan yang tertera dalam Gambar
dan Spesifikasi)

DOKUMEN PELELANGAN
Buku I : INSTRUKSI KEPADA PESERTA
LELANG
Buku II : SYARAT-SYARAT UMUM
Buku III : SPESIFIKASI
Buku IV : GAMBAR
Buku V : DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA
Buku VI : ADDENDA (kalau ada)

JENIS-JENIS SPESIFIKASI

End Result Specification / Performance
Specification (Spesifikasi Produk Akhir), yaitu jenis
Spesifikasi dimana yang dipersyaratkan adalah dimensi dan
kualitas produk akhir yang harus dicapai, tanpa mempersoalkan
metode kerja untuk mencapai hasil akhir tsb.

Process Specification (Spesifikasi Proses Kerja), yaitu
jenis Spesifikasi dimana yang diatur adalah semua ketentuan
yang harus dilaksanakan selama proses pelaksanaan Pekerjaan.
Dengan mengatur semua proses pelaksanaan Pekerjaan,
diharapkan hasil kerja akan diperoleh sesuai dengan yang
diinginkan.

Multi Step and Method Specification (Spesifikasi
Bertahap), yaitu jenis Spesifikasi yang mengatur semua
langkah: material, metode kerja dan hasil kerja yang
diharapkan.
SAAT INI JENIS SPESIFIKASI YANG
MANA
YANG BANYAK DIPAKAI DI INDONESIA ?
1. SPESIFIKASI BERTAHAP (SEMUA DIATUR)
LEBIH BANYAK DIPAKAI; SPESIFIKASI HASIL AKHIR
(END RESULT SPEC.) MASIH SANGAT TERBATAS.

2. DALAM HAL DISIPLIN INDUSTRI KONSTRUKSI
MASIH SEPERTI SEKARANG, SPESIFIKASI BERTAHAP
DIANGGAP LEBIH TEPAT.

3. SEMUA DIATUR SAJA, HASIL INDUSTRI KONSTRUKSI
MASIH BELUM MEMADAI, APALAGI KALAU TIDAK
DIATUR; TERSERAH PARA PELAKUNYA !!.

4. ADA YANG BERPENDAPAT: BAHWA SPESIFIKASI
BERTAHAP MENGHAMBAT INOVASI ??.

INGAT MASIH ADA PCM ( Pre Construction Meeting)
BEBERAPA YANG MENARIK
DARI SPESIFIKASI BERTAHAP
1. CIRI-CIRI KHAS SPESIFIKASI (BERTAHAP).

2. HAL-HAL YANG MENARIK DAN PERLU DICERMATI :
a. STRUKTUR UMUM SPESIFIKASI
b. DISKRIPSI
c. CARA MENGUKUR VOLUME HASIL KERJA
d. CARA PEMBAYARAN
e. KEGIATAN YANG TIDAK DIBAYAR
f. STATUS QUALITY CONTROL
g. dll
CIRI-CIRI KHAS SPESIFIKASI
BERTAHAP



1. PERATURANNYA MENGANDUNG NUANSA :
* SIMPLIFIKASI (PERIKSA CARA PENGUKURAN
HASIL KERJA);
* MENGURANGI KEMUNGKINAN TERJADINYA
PERTENGKARAN DI LAPANGAN;

2. MESKIPUN DALAM BEBERAPA HAL MERUGI-
KAN KONTRAKTOR; TETAP DAPAT DIKATA-
KAN ADIL; KARENA CALON KONTRAKTOR
MENGETAHUI SEMUA KONDISI TERSEBUT
MELALUI DOKUMEN TENDER YANG DIBELI-
NYA, SEBELUM MENYUSUN PENAWARAN.


STRUKTUR SPESIFIKASI TEKNIK
YANG BAKU


1. UMUM (URAIAN): TEBAL; BENDA UJI;
TOLERANSI; RUJUKAN; BATASAN CUACA; DLL.

2. MATERIAL: SPESIFIKASI; SUMBER PASOKAN; DLL.

3. PERALATAN DAN METODA PELAKSANAAN

4. PEMBUATAN & PRODUKSI CAMPURAN

5. PENGENDALIAN & PENGUJIAN MUTU DI LAPANGAN.

6. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN



YANG PENTING DARI
DISKRIPSI ATAU URAIAN
1. YANG TERSURAT << YANG TERSIRAT
ATAU YANG HARUS DIKERJAKAN >> DARI YANG
TERSURAT DALAM JUDUL.

2. MISALNYA :
JUDUL GALIAN (PERLU BULLDOZER)
LINGKUP PENGGALIAN; PEMBUANGAN (MEMUAT;
MENGANGKUT; MEMBUANG, MERATAKAN DAN ME-
MADATKAN) >> JUDUL (PERLU BULLDOZER; LOADER;
DUMP TRUCK; GRADER; ALAT PEMADAT)

YANG HARUS DIKERJAKAN LEBIH BANYAK DARI
YANG TERSURAT DALAM JUDUL PEKERJAAN.

ALAT YANG DIPERLUKAN LEBIH BANYAK DARI
ALAT YANG TERSURAT DARI JUDUL PEKERJAAN.
YANG PENTING DARI
CARA MENGUKUR HASIL KERJA /
VOLUME PEKERJAAN
MENGANDUNG SIMPLIFIKASI & MEMINIMASI
PERTENGKARAN DI LAPANGAN

a. PERIKSA CAPTION GALIAN KONSTRUKSI

b. INGAT AVERAGE END AREA PADA PERHITUNGAN
VOLUME PEKERJAAN CUT & FILL (EARTH WORK)
ILUSTRASI NUANSA* SPESIFIKASI
B A A
C
GALIAN KONSTRUKSI
1. A + B = GALIAN KONSTRUKSI
2. C = GALIAN NON KONSTRUKSI
3. A = GALIAN KONTRUKSI YANG TIDAK DIBAYAR
4. B = GALIAN KONSTRUKSI YANG DIBAYAR
C
*SIMPLIFIKASI &
MENGHINDARI
PERTENGKARAN
DI LAPANGAN !!


TITIK POTONG
TERRENDAH.
C
DAMPAK DARI CARA MENGUKUR HASIL KERJA
PADA DAFTAR KUANTITAS DAN HARGA (VOL V)
1. ASUMSI :
VOLUME YANG TERCANTUM DALAM BUKU V DIHARAPKAN
AKAN MERUPAKAN VOLUME YANG AKAN DIBAYAR.

2. VOLUME YANG AKAN DIBAYAR ADALAH VOLUME YANG
TELAH DIHITUNG DENGAN CARA SEBAGAIMANA
DIJELASKAN PADA BUTIR CARA MENGHITUNG
VOLUME HASIL KERJA DALAM SPESIFIKASI.

3. DENGAN DEMIKIAN, PADA UMUMNYA:
VOLUME PADA BUKU V < VOLUME YANG HARUS DIKERJA-
KAN MENURUT SPESIFIKASI.

MENGHITUNG HARGA SATUAN, DAN KEBUTUHAN ALAT
BERDASARKAN VOLUME PADA BUKU V; PERLU DIKOREKSI.
YANG PENTING TENTANG
METODA PELAKSANAAN & PERALATAN


1. MEMUAT SEGALA PERATURAN / KETENTUAN TENTANG
CARA / METODE DAN URUTAN PELAKSANAAN PEKERJA-
AN PADA SETIAP TAHAPAN: DARI PERSIAPAN,
PERCOBAAN SAMPAI PELAKSANAAN AKHIR.

2. MEMBERIKAN INFORMASI JENIS DAN KOMPOSISI
PERALATAN YANG DISARANKAN.

SEKALI LAGI: SEMUANYA DIATUR SECARA RINCI

CARA PEMBAYARAN
1. MENGGUNAKAN NOMOR MATA PEMBAYARAN DAN
SATUAN PEMBAYARAN TERTENTU (Standar):
Rp/m; Rp/m2; Rp/m3; Rp/kg; Rp/ton;
Rp/buah; LUMP SUM; dll.

2. ADA BEBERAPA PEKERJAAN YANG
TIDAK DIBAYAR SECARA TERPISAH/TERSENDIRI
(TIDAK MEMPUNYAI MATA PEMBAYARAN).

3. BUTIR 2. DIANGGAP:
TERMASUK PADA BAGIAN PEKERJAAN UTAMA-
NYA atau TERSEBAR KE DALAM PAY-ITEMS YANG
LAIN; atau CONTINGENCIES kalau ada; atau
KOEFISIEN YANG LAIN.
BEBERAPA CONTOH
KEGIATAN YANG TIDAK DIBAYAR




1. YANG TIDAK DIBAYAR BIASANYA MERUPAKAN :
PEKERJAAN PENDUKUNG; VOLUMENYA TIDAK BESAR;
BESARAN VOLUMENYA MERUPAKAN PROSENTASE
DARI VOLUME PEKERJAAN YANG DIDUKUNG; dan
atau ALASAN PRAKTIS LAINNYA.


2. BEBERAPA CONTOH PEKERJAAN YANG TIDAK PUNYA
MATA PEMBAYARAN atau TIDAK DIBAYAR :

Lantai Kerja; Percobaan (Pemadatan; Campuran);
Pengendalian Mutu; Bahan Aditiv Semen;
Pengaturan Lalu Lintas; d.l.l.



RUANG LINGKUP SPESIFIKASI
JALAN DAN JEMBATAN
Secara garis besar Spesifikasi Jalan dan Jembatan
dibagi menjadi 10 Divisi:
(Versi Direktorat Jenderal Bina Marga, Buku III,
Spesifikasi Umum)

Divisi 1 : Umum
Divisi 2 : Drainase
Divisi 3 : Pekerjaan Tanah
Divisi 4 : Pelebaran Perkerasan dan Bahu Jalan
Divisi 5 : Perkerasan Berbutir
Divisi 6 : Perkerasan Aspal
Divisi 7 : Struktur
Divisi 8 : Pengembalian Komdisi dan Pekerjaan Minor
Divisi 9 : Pekerjaan Harian
Divisi 10 : Pekerjaan Pemeliharaan Rutin.

TIGA JENIS UTAMA KEGIATAN KONSTRUKSI PADA
PEKERJAAN PENINGKATAN JALAN
1. ROUTINE MAINTENANCE (PEMELIHARAAN RUTIN):
KEGIATAN PERBAIKAN KERUSAKAN RINGAN DAN LOKAL
PADA BAGIAN SEGMEN JALAN YANG BERKONDISI
MANTAP AGAR SEGMEN JALAN TERSEBUT TETAP DALAM
KONDISI MANTAP. HARUS DIKERJAKAN SECEPATNYA
DILAKSANAKAN SECARA TERUS MENERUS

2. REINSTATEMENT (PENGEMBALIAN KONDISI):
KEGIATAN PERBAIKAN KERUSAKAN PADA BAGIAN SEGMEN
JALAN YANG AKAN DITINGKATKAN AGAR DAPAT DILALUI
LALU LINTAS. PERSIAPAN SEBELUM DITINGKATKAN.

3. IMPROVEMENT (PERBAIKAN/PENINGKATAN):
KEGIATAN PERKUATAN / PENINGKATAN STRUKTUR PADA
SEGMEN YANG TELAH SELESAI DI-REINSTATEMENT.
BERUPA PELAPISAN ULANG/OVERLAY/RESURFACING
DENGAN UMUR RENCANA.

MASALAH BEKAITAN DENGAN
KEGIATAN UTAMA

1. KURANG DISADARI PERAN/FUNGSI DARI KEGIATAN ROU-
TINE MAINTENANCE DAN REINSTATEMENT SEHINGGA
DILAKSANAKAN DENGAN TIDAK BENAR PENYEBAB KERU-
SAKAN DINI.

2. PENDORONG LAIN DARI PENYIMPANGAN :
DIANGGAP TERMASUK PEKERJAAN MINOR, NJLIMET, NILAI
PEMBAYARANNYA KECIL

3. KEMUNGKINAN PENYIMPANGAN DAN AKIBATNYA :
ROUTINE MAINTENANCE YANG TIDAK BENAR SALAH SATU
PENYEBAB KERUSAKAN (BUKAN BEBAN LALU-LINTAS SAJA).
REINSTATEMENT YANG TIDAK BENAR BERAKIBAT IMPROVE-
MENT AKAN TERLETAK DI ATAS DASAR YANG TIDAK KOKOH,
DAN AKHIRNYA BERPENGARUH TIDAK BAIK PADA PRODUK
IMPROVEMENT TERSEBUT.
DPP - HPJI
CONTOH PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI
(REINSTATEMENT)
YANG DILAKSANAKAN KURANG BAIK
Permukaan jalan yang rusak dibongkar dengan jack hammer setelah batas-
batasnya dipotong dengan pavement cutter.
Kalau dasar galian lapis pertama masih menunjukkan retak-retak atau tidak
kokoh, perlu digali lebih dalam.
Penyemprotan Tack Coat perlu dilakukan merata ke seluruh bidang, termasuk
bidang tegak. Tack Coat yang baik adalah dari Aspal Emulsi.
Hindari Tack Coat yang berlebihan / tergenangan, karena akan berpotensi
menimbulkan bleeding.
Bagian perkerasan yang tidak kokoh harus dibongkar kembali.
SKEDUL UTAMA KEGIATAN KONSTRUKSI
MASA KONTRAK
========================================================
MASA PEMEL. RUTI N :
I NTENSI VE REGULAR
========================================

MASA KONSTRUKSI PHO WARTY.P. FHO
========================================================
MOBI LI SASI PENI NGKATAN 3-12 bulan
==========
FASI LI TAS LAB.
==========
SURVAI LAP AWAL OLEH KONTRAKTOR; (Artikel 1.9.2)
====UNTUK
REVI EW DESAI N OLEH DI REKSI PEKERJ AAN
====
REI NSTATEMENT
======

TERGANTUNG
SIFAT PROYEK
MASALAH AKTUAL SKEDUL
1. KURANG DIFAHAMI FILOSOFI SIMPLIFIED DESIGN.

2. KURANG DIFAHAMI ARTI YANG TERKANDUNG DALAM
SIKUEN / URUTAN KEGIATAN

3. MENGARTIKAN LAIN, BAHKAN MEMANFAATKAN LAIN (SE-
NGAJA ATAU TIDAK), KEGIATAN REVIEW DESIGN.

4. MENUNDA-NUNDA KEGIATAN ROUTINE MAINTENANCE,
KHUSUSNYA R.M. INTENSIVE, DENGAN MAKSUD YANG KU-
RANG BAIK (AGAR VOLUMENYA BERTAMBAH).


DESAIN BERTAHAP (PHASED DESIGN) DALAM
PENINGKATAN JALAN
Tahap I : Untuk Tender saja, disebut Simplified Design.
Mata Pembay. Utama (mengenai perkerasan aspal)
didesain teliti (lokasi, volume)
Mata Pembay. Minor didesain dengan pendekatan
statistik / perkiraan.
Tahap II : Untuk pedoman pelaksanaan (Review Desain).
Dilakukan pendetailan / revisi minor thd Desain Tahap I :
Kontraktor melakukan Survey Awal dalam masa
Mobilisasi dengan supervisi Konsultan, untuk
menentukan lokasi-lokasi perbaikan.
Hasil Survai ini dijadikan bahan untuk membuat Review
Desain oleh Direksi.
MOBILISASI (ARTIKEL 1.2.1)
1. PENGERTIAN UMUM :
a. MEMBELI / MENYEWA TANAH UNTUK BASE CAMP
b. MENDATANGKAN; MENYEDIAKAN; MEMBANGUN DAN ME-
MELIHARA :
- STAF/PERSONIL,
- PERALATAN LABORATORIUM LAPANGAN,
- PERALATAN KONSTRUKSI UTAMA,
- KANTOR LAPANGAN BESERTA FASILITASNYA UNTUK KE-
PERLUAN KONTRAKTOR DAN DIREKSI PEKERJAAN.
- BENGKEL,
- GUDANG DLL.

2. DILENGKAPI SKEDUL, GAMBAR, LAYOUT, DAN DI-
MINTAKAN PERSETUJUAN DIREKSI PEKERJAAN.

3. SATUAN PENGUKURAN / PEMBAYARAN: LUMP SUM
(50%/50%; 20%/PERALATAN UTAMA; 30%/DEMOB)

MASALAH MOBILISASI
1. ACAP KALI DIMULAI DENGAN KEGIATAN YANG BERSIFAT
FORMALITAS KEGIATAN TIDAK SEPENUH HATI

2. KURANG MEMAHAMI BAHWA DI DALAM MASA MOBILISA-
SI BANYAK TERDAPAT KEGIATAN-KEGIATAN PENENTU.
SURVAI LAP. AWAL; R.M. INTENSIVE; REINSTATEMENT;
REVIEW DESIGN.

3. PENYIAPAN PROPOSAL MOBILISASI, BAIK PADA MASA
PENAWARAN MAUPUN MASA KONTRAK, KURANG
CERMAT.
DAFTAR PERALATAN LABORATORIUM & LAPANGAN
LAMPIRAN 1.4.A
1. PEMERIKSAAN TANAH : f. KADAR PORI - 3 ITEM
a. PMRKS. KEPADATAN - 13 ITEM g. PENGEBORAN INTI - 5 ITEM
b. CBR LAB. - 11 ITEM h. TERMOMETER BESI - 2 ITEM
c. BERAT JENIS - 3 ITEM I. PERLENGKP. & ALAT - 8 ITEM
d. ATTERBERG - 7 ITEM j. PEMERIKSAAN
e. ANLS SARINGAN - 10 ITEM LENDUTAN - 3 ITEM
f. KEPADATAN LAP. - 7 ITEM
g. KADAR AIR - 2 ITEM
TOTAL : 101 ITEM
2. BITUMINOUS TESTING :
a. PMRKS. ASPAL - 10 ITEM CATATAN : DAFTAR DI ATAS
b.EKSTRAKSI/C - 5 ITEM HANYALAH MERUPAKAN
c. EKSTRAKSI/R - 2 ITEM DAFTAR MINIMUM.
d. B. J. AGRGT KASAR - 3 ITEM TIDAK MENGURANGI TANG-
e. B. J. AGRGT HALUS - 5 ITEM GUNG JAWAB KONTRAKTOR
UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN
YANG DIPERLUKAN SESUAI SPEC.
PEMBAYARAN
FASILITAS & PELAKSANAAN PENGUJIAN
ARTIKEL 1.4.4
1. FASILITAS PENGUJIAN :

- TIDAK DIBAYAR TERSENDIRI atau TERPISAH
- TERMASUK PADA MATA PEMBAYARAN MOBILISASI


2. PELAKSANAAN PENGUJIAN SESUAI SPESIFIKASI :

- TIDAK DIBAYAR TERSENDIRI atau TERPISAH
- SUDAH HARUS DIMASUKKAN KE DALAM PERHITUNGAN
BIAYA HARGA-HARGA SATUAN MATERIAL YANG
BERSANGKUTAN.
PENGENDALIAN MUTU
(QUALITY CONTROL)
1. TIDAK SELALU TERDAPAT / TERGABUNG PADA SUATU
ARTIKEL KHUSUS (menyulitkan).

2. SPESIFIKASI PENGENDALIAN MUTU YANG BAKU
BERSTRUKTUR 2-3-5.

3. 2 DIMENSI DAN KUALITAS
3 BAHAN BAKU: BAHAN OLAHAN; PRODUK JADI
5 5 HAL : TEST APA;
METODA APA;
FREKWENSI / INTERVAL BERAPA;
SPESIFIKASI BAGAIMANA;
TOLERANSI BAGAIMANA.
HASIL PENGAMATAN TERHADAP SPESIFIKASI QC
YANG ADA PADA SAAT INI
1. BELUM SEMUANYA LENGKAP
DALAM HAL KETENTUAN 2-3-5

2. BEBERAPA MASIH BERKETENTUAN KUALI-
TATIF (SEHARUSNYA KUANTITATIF)

3. BEBERAPA MASIH BERKETENTUAN
BERDASARKAN PETUNJUK DIREKSI

TIDAK LENGKAP = POTENSI MASALAH
(Khususnya Harga Penawaran menjadi tinggi)
STATUS HASIL
PENGENDALIAN MUTU

1. SEBAGAI PERANGKAT UNTUK DAPAT DILAKUKAN
PEMBAYARAN. BAGIAN PEKERJAAN YANG SUDAH
LOLOS QC.

2. SEBAGAI PERANGKAT UNTUK DAPAT DILAKSANA-
KAN BAGIAN PEKERJAAN BERIKUTNYA YG TERKAIT.

3. SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM QUALITY ASSURANCE.

4. MESKIPUN SECARA QC SUDAH DITERIMA; TIDAK
MELEPASKAN TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR
ATAS MUTU HASIL PEKERJAAN SECARA KESELURUHAN.
MASIH ADA PHO; FHO dan PASAL KEGAGALAN BANGUNAN
DALAM UU No. 18/1999 (UUJK).
POSISI & STATUS QC
Q
C
Q
C
Q
C
Q
C
Ag. I Ag.II Ag. Kelas A
Tahap
Produk Jadi
Lapis Pondasi
Agregat
+
Tahap
Bahan Olahan
Tahap
Bahan Baku
CEK PROSES
CEK PROSES CEK PROSES
CEK PROSES
QC = CEK PRODUK
DIMENSI
KUALITAS
CEK PROSES
SISTEM JAMINAN MUTU
(QUALITY ASSURANCE SYSTEM)
Dimensi : Gradasi
Kualitas : Abrasi
Dimensi : Gradasi
Kualitas : CBR
Dimensi : Tebal
Kualitas : CBR
Periksa Check List utk Pek. Jalan dan Jembatan
QC
PEKERJAAN TANAH
(Divisi 3)
GALIAN YANG TIDAK DIUKUR
UNTUK PEMBAYARAN
Galian di luar garis yang ditentukan dalam profil
melintang yang disetujui.
Galian utk pembuatan selokan drainase dan saluran air.
Galian utk pemasangan gorong-gorong pipa.
Galian utk pengembalian kondisi perkerasan lama.
Galian utk pengembalian kondisi bahu jalan.
Galian utk pemeliharaan rutin.
Galian utk pengambilan material dari sumber bahan
(borrow pits).
Galian dan pembuangan selain utk tanah, batu dan
perkerasan lama.

TIMBUNAN
BAHAN
Timbunan Biasa
- Tidak berplastisitas tinggi, A-7-6 (AASHTO M145)
atau CH (Unified Soil Classif. System), kecuali utk
pada dasar timbunan atau pada penimbunan kembali
tanpa diperlukan daya dukung atau kekuatan geser yg
tinggi.
- Utk lapis tanah dasar (subgrade), 30 cm di bawah
permukaan), ada syarat tambahan: CBR 6 % (AASHTO
T193), dan kepadatan 100 % (AASHTO T99).
- Tanah very expansive dengan Nilai Aktif 1,25 tidak
boleh digunakan.
(Nilai Aktif = Indeks Plastisitas dibagi Kadar Lempung).

TIMBUNAN (lanjutan)
Timbunan Pilihan
- Berlaku persyaratan utk Timbunan Biasa,
dengan tambahan persyaratan.
- CBR 10 %, Kepadatan 100 %
- Bila pemadatan dalam keadaan jenuh air
tidak dapat dihindari, PI 6 %.

Timbunan Pilihan di atas Rawa
- Pasir atau kerikil bersih dengan PI 6 %.
ACTIVITY 1.25
BAHAN TIMBUNAN (1)
PENGHAMPARAN DAN PEMADATAN
Bila tinggi timbunan 1 meter, dasar pondasi timbunan
harus dipadatkan sampai 15 cm bagian permukaan atas
dasar pondasi memenuhi persyaratan timbunan di atasnya.
Timbunan di atas lereng harus dibuat bertangga.
Penghamparan harus dilakukan berlapis setebal 20 cm
gembur, dan dipadatkan pada kadar air antara 3 % di
bawah sampai 1 % di atas kadar air optimum / OMC.
Lapisan tanah pada kedalaman > 30 cm di bawah permukaan
tanah dasar harus dipadatkan sampai 95 % (AASHTO
T99).
Lapisan tanah pada kedalaman 30 cm di bawah permukaan
tanah dasar harus dipadatkan sampai 100 % (AASHTO
T99).
CARA PENGHAMPARAN YANG
SALAH !!!
(alat, material)
Tamping-foot roller untuk memadatkan tanah berlempung
Pemadatan dengan smooth drum roller
CARA PEMADATAN SALAH !!!
PERKERASAN BERBUTIR
(Divisi 5)
Persyaratan Mutu Material Agregat (Batuan):
Sifat-sifat Standar Uji Kelas A Kelas B
Abrasi AASHTO T 96 0 40 % 0 40 %
Indeks Plastisitas AASHTO T 90 0 - 6 0 - 4
Batas Cair AASHTO T 89 0 - 25 0 - 35
Bagian Yang Lunak AASHTO T 112 0 5 % 0 5 %
CBR AASHTO T 193 Min. 90 % Min. 35 %
Penghamparan campuran harus merata, kadar air harus merata dalam
rentang yang disyaratkan.
Tebal padat maksimum 20 cm.

Pemadatan dilakukan dengan alat yang cocok (bila dengan pemadat roda
besi mengakibatkan agregat pecah, dapat digunakan roda karet) sampai
paling sedikit 100 % kepadatan maksimum (AASHTO T108 method D); dan
pada kadar air 3 % di bawah sampai 1 % di atas kadar air optimum.
SPESIFIKASI BARU
CAMPURAN BERASPAL
(Divisi 6)
DPP - HPJI
JENIS CAMPURAN BERASPAL
LATASIR (SAND SHEET) Kelas A dan Kelas B
Ditujukan untuk jalan dengan lalu lintas ringan.
Pemilihan Kelas A atau Kelas B tergantung dari gradasi pasir yg digunakan.

LATASTON (HRS)
Terdiri dari dua macam, yaitu Lataston Lapis Pondasi (HRS-Base) dan Lataston
Lapis Permukaan (HRS-Wearing Course).
Ukuran maks agregat 19 mm.
Kunci perencanaan campuran:
- Gradasi benar-benar senjang
- Sisa rongga udara pada kepadatan membal (refusal density) harus memenuhi
ketentuan spesifikasi.

LASTON (AC)
Terdiri dari tiga macam campuran, yaitu Laston Lapis Aus (AC-WC), Laston
Lapis Pengisi (AC-BC) dan Laston Lapis Pondasi (AC-Base).
Ukuran maks agregat masing-masing campuran 19 mm; 23,4 mm; dan 37,5 mm.
Campuran AC yang menggunakan aspal modifikasi masing-masing disebut AC-WC
Modified, AC-BC Modified dan AC-Base Modified.
TEBAL NOMINAL RANCANGAN CAMPURAN
ASPAL DAN TOLERANSI
JENIS CAMPURAN SIMBOL
TEBAL
NOMINAL
MINIMUM (cm)
TOLERANSI
TEBAL (mm)
Latasir Kelas A SS-A 1,5
2,0
Latasir Kelas B SS-B 2,0
Lataston
Lapis Aus HRS-WC 3,0
3,0
Lapis Pondasi HRS-Base 3,5
Laston
Lapis Aus AC-WC 4,0 3,0
Lapis Antara AC-BC 5,0 4,0
Lapis Pondasi AC-Base 6,0 5,0
PERSYARATAN AGREGAT KASAR
PENGUJIAN STANDAR NILAI
Kekekalan bentuk agregat terhadap larutan
Natrium dan Magnesium Sulfat
SNI 03-3407-1994 Maks 12 %
Abrasi dengan mesin Los Angeles SNI 03-2417-1991 Maks 40 %
Kelekatan agregat terhadap aspal SNI 03-2439-1991 Min 95 %
Angularitas (kedalaman dari permukaan
< 10 cm)
DoTs Pennsylvania
Test Method No. 621
95/90
Angularitas (kedalaman dari permukaan
10 cm)
80/75
Partikel pipih ASTM-4791 Maks 25 %
Partikel lonjong ASTM D-4791 Maks 10 %
Material lolos saringan No. 200 SNI 03-4142-1996 Maks 1 %
*)
*) Catatan :

80/75 menunjukkan bahwa 80 % agregat kasar mempunyai muka bidang
pecah satu atau lebih dan 75 % agregat kasar mempunyai muka bidang
pecah dua atau lebih.
PERSYARATAN AGREGAT HALUS
PENGUJIAN STANDAR NILAI
Nilai setara pasir SNI 03-4428-1997 Min 50 %
Material lolos saringan N0. 200 SNI 03-4428-1997 Maks 8 %
GRADASI AGREGAT GABUNGAN
Ukuran Saringan
% Berat Yang lolos
Latasir (SS) Lataston (HRS) Laston (AC)
ASTM (mm) Kelas A Kelas B WC Base WC BC Base
1 37,5 100
1 25 100 90-100
19 100 100 100 100 100 90-100 Maks 90
12,5 90-100 90-100 90-100 Maks 90
3/8 9,5 90-100 75-85 65-100 Maks 90
No. 8 2,36 75-100 50-72 35-55 28-58 23-39 19-45
No. 16 1,18
No. 30 0,600 35-60 15-35
No. 200 0,075 10-15 8-13 6-12 2-9 4-10 4-8 3-7
DAERAH LARANGAN
No. 4 4,75 - - 39,5
No. 8 2,36 39,1 34,6 26,8-30,8
No. 16 1,18 25,6-31,6 22,3-28,3 18,1-24,1
No.30 0,600 19,1-23,1 16,7-20,7 13,6-17,6
No.50 0,300 15,5 13,7 11,4
BAHAN ASPAL UNTUK CAMPURAN
BERASPAL
Bahan Aspal yang dapat dipergunakan di Indonesia saat ini
terdiri dari :
Aspal Keras Pen 60 (konvensional)
Aspal dimodifikasi dengan Asbuton
Aspal Multigrade
Aspal Polymer



Pengambilan contoh bahan aspal dari setiap truk tanki
harus dilaksanakan pada bagian atas, tengah dan bawah.
Contoh pertama yang diambil harus langsung diuji di
laboratorium lapangan untuk memperoleh nilai Penetrasi
dan Titik Lembek.
PERSYARATAN ASPAL
NO. JENIS PENGUJIAN
METODE
PENGUJIAN
SNI
ASPAL
KERAS
PEN 60
ASPAL
POLYMER
ASPAL
MOD. DG
ASBUTON
ASPAL
MULTI-
GRADE
1. Penetrasi, 0,1 mm 06-2456-1991 60-79 50-80 40-55 50-70
2. Titik Lembek,
0
C 06-2434-1991 48-58 Min 54 Min 55 Min 55
3. Titik Nyala,
0
C 06-2433-1991 Min 200 Min225 Min 225 Min 225
4. Daktilitas, cm 06-2432-1991 Min 100 Min 50 Min 50 Min 100
5. Berta Jenis 06-2441-1991 Min 1,0 Min 1,0 Min 1,0 Min 1,0
6. Kelarutan dlm Trichlor
Ethylene, % berat
06-2438-1991 Min 99 Min 99 Min 90 Min 99
7. Penurunan Berat (TFOT),
% berat
06-2440-1991 Maks 0,8 Maks 1,0 Maks 2,0 Maks 0,8
8. Penetrasi setelah Kehilangan
Berat, % asli
06-2456-1991 Min 54 - Min 55 Min 60
9. Perbedaan Penetrasi setelah
TFOT, % asli
06-2456-1991 - Maks 40 - -
10. Daktilitas setelah TFOT,
% asli
06-2432-1991 Min 50 - Min 50 Min 50
11. Mineral Lolos Saringan No.
100, %
06-1968-1991 - - Min 90 -
12. Perbedaan Titik Lembek setelah
TFOT, % asli
06-2456-1991 - Maks 6,5 - -
PERSYARATAN ASPAL
(lanjutan)
NO. JENIS PENGUJIAN
METODE
PENGUJIAN
SNI
ASPAL
KERAS
PEN 60
ASPAL
POLYMER
ASPAL
MOD. DG
ASBUTON
ASPAL
MULTI-
GRADE
13. Stabilitas penyimpanan pada
163
0
C selama 48 jam
- Perbedaan Titik Lembek,
0
C

06-2434-1991
- Maks 2 - -
14. Elastic Recovery pada 25
0
C,
%
- Min 30 - -
15. Uji Bintik / Spot Test
(optional)
-Standar Naptha
-Naptha Xylene
-Hepthane Xylene
AASHTO
T102
Negatif - - -
16. Kekentalan pada 135
0
C, cSt 06-6721-2002 - 300-2000 - -
BAHAN ADITIV UNTUK CAMPURAN
SIFAT-SIFAT
ASBUTON
METODE PENGUJIAN
TIPE
5/20
TIPE
20/25
Kadar Aspal, % SNI 03-3640-1994 18 - 22 23 - 27
Ukuran Butir
Maksimum, mm
SNI 03-1968-1990 1,18 1,18
Kadar Air, % SNI 03-2490-1991 Maks 2 Maks 2
Penetrasi Aspal
Asbuton, 0,1 mm
SNI 03-2456-1991 10 19 - 22
Catatan
Asbuton Butir Tipe 5/20 : Kelas penetrasi 5 (0,1 mm), dan kadar bitumen 20 %
Asbuton Butir Tipe 20/25 : Kelas penetrasi 20 (0,1 mm), dan kadar bitumen 25 %
KETENTUAN SIFAT-SIFAT CAMPURAN LATASIR
UNTUK LALU LINTAS < 0,5 JUTA ESA / TAHUN
SIFAT-SIFAT CAMPURAN
LATASIR
KELAS A & B
Penyerapan Aspal, % Maks 2,0
Jumlah Tumbukan per Bidang - 50
Rongga dalam Campuran, %
Min 3,0
Maks 6,0
Rongga dalam Agregat (VMA), % Min 20
Rongga Terisi Aspal, % Min 75
Stabilitas Marshall, kg
Min 200
Maks 850
Pelelehan, mm
Min 2
Maks 3
Marshall Quotient, kg/mm Min 80
Stabilitas Marshall Sisa setelah Perendaman selama
24 jam, 60
o
C
Min 75
KETENTUAN SIFAT-SIFAT CAMPURAN LATASTON
UNTUK LALU LINTAS < 1,0 JUTA ESA / TAHUN
SIFAT-SIFAT CAMPURAN
LATASTON
WC HC
Penyerapan Aspal, % Maks 1,7
Jumlah Tumbukan per Bidang - 75
Rongga dalam Campuran, %
Min 3,0
Maks 6,0
Rongga dalam Agregat (VMA), % Min 18 17
Rongga terisi Aspal, % Min 68
Stabilitas Marshall, kg Min 900
Pelelehan, mm Min 3
Marshall Quotient, kg/mm Min 300
Stabilitas Marshall Sisa setelah Perendaman selama 24 jam,
60
o
C
Min 75
Rongga dalam Campuran pada Kepadatan Membal
(Refusal), %
Min 2
KETENTUAN SIFAT-SIFAT CAMPURAN LASTON
UNTUK LALU LINTAS < 5 JUTA ESA / TAHUN
SIFAT-SIFAT CAMPURAN
LASTON
WC BC Base
Penyerapan Aspal, % Maks 1,2
Jumlah Tumbukan per Bidang - 75 112
Rongga dalam Campuran, %
Min 3,5
Maks 5,5
Rongga dalam Agregat (VMA), % Min 15 14 13
Rongga terisi Aspal, % Min 65 63 60
Stabilitas Marshall, kg
Min 800 1500
Maks - -
Pelelehan, mm Min 3 5
Marshall Quotient, kg/mm
Min 250 300
Stabilitas Marshall Sisa setelah Perendaman
selama 24 jam, 60
o
C
Min 75
Rongga dalam Campuran pada Kepadatan
Membal (Refusal), %
Min 2,5
KETENTUAN SIFAT-SIFAT CAMPURAN LASTON DI-MODIFIKASI
UNTUK LALU LINTAS > 5 JUTA ESA / TAHUN
SIFAT-SIFAT CAMPURAN ASPAL
LASTON (AC)
WC Mod BC Mod Base Mod
Penyerapan Aspal, % Maks 1,7
Jumlah Tumbukan per Bidang - 75 112
Rongga dalam Campuran, %
Min 3,5
Maks 3,5
Rongga dalam Agregat (VMA), % Min 15 14 13
Rongga terisi Aspal, % Min 65 63 60
Stabilitas Marshall, kg

Min 1000 1800
Maks - -
Pelelehan, mm

Min 3 5
Maks - -
Marshall Quotient, kg/mm
Min 300 350
Stabilitas Marshall Sisa setelah Perendaman
selama 24 jam, 60
o
C
Min 75
Rongga dalam Campuran pada Kepadatan
Membal (Refusal), %
Min 2,5
Stabilitas Dinamis, lintasan / mm
Min 2500
VISKOSITAS DAN TEMPERATUR
CAMPURAN BERASPAL
PENGEMBALIAN KONDISI DAN
PEKERJAAN MINOR (Divisi 8)
PENGEMBALIAN KONDISI PERKERASAN LAMA
(Perbaikan lobang2 besar, keriting/gelombang sedalam > 3 cm, retak2
struktural lebar dan tanah dasar melemah).

Harus dilaksanakan sesegera mungkin dalam program pelaksanaan.
Lokasi ditetapkan dalam Survai Awal Kontraktor lalu dicantumkan
dalam Review Desain.

Klasifikasi: Perbaikan lobang > 40x40 cm dengan total volume setelah
penggalian 10 m3 per km; dan pelaburan antara 10 30 % setiap
100 m2 jalan beraspal dan luas tiap pelaburan 40 m2.

Pek. yang lebih besar dari Pengembalian Kondisi harus dibayar
dengan Peningkatan/Perbaikan (Divisi 2, 3, 5, atau 6).

Pek. Yang lebih kecil dari Pengembalian Kondisi harus dibayar dengan
Pemeliharaan Rutin (Divisi 10).

PEMELIHARAAN RUTIN (Divisi 10)
PEMELIHARAAN RUTIN PERKERASAN, BAHU JALAN,
DRAINASE, PERLENGKAPAN JALAN DAN JEMBATAN

Dibayar secara bulanan dari Harga Penawaran LUMP SUM
(bukan berdasarkan kuantitas bahan aktual yang digunakan).

Kontraktor harus dianggap telah melakukan pemeriksaan
lapangan secara teliti sebelum mengajukan Penawaran dan
telah mengetahui dengan jelas kondisi aktual lapangan,
sehingga Harga Penawarannya telah mencakup pekerjaan yang
diperlukan selama Periode kontrak, dengan memperhitungkan
kondisi lalu lintas, perkerasan lama dan cuaca, serta kerusakan
yang mungkin terjadi antara saat penawaran dan saat lapangan
diserahkan.

Kegiatan harus dimulai saat serah-terima lapangan sampai
berakhirnya Periode Kontrak.
Sabar, masih ada
tambahan :
Jalan Beton Semen