Anda di halaman 1dari 95

Klasifikasi dan konservasi tanah

KLASIFIKASI TANAH
Tanah bermacam-macam
Mengapa klasifikasi tanah diperlukan ?
Tanah di permukaan bumi ini sangat beragam
(warna, tekstur, struktur dll).
Untuk membedakan tanah-tanah tersebut
diperlukan klasifikasi tanah.
Tujuan Klasifikasi Tanah
1. Mengorganisasi tanah
2. Mengetahui hubungan individu tanah
3. Memudahkan mengingat sifat-sifat
tanah
4. Mengelompokkan tanah untuk :
- menaksir sifat
- penelitian
- mengetahui lahan2 yg baik
Klasifikasi Alami
Didasarkan atas sifat
tanah yg dimiliki
tanpa
menghubungkan dg
tujuan penggunaan
tanah tersebut.
Klasifikasi Teknis
Didasarkan pada sifat-
sifat tanah yang
mempengaruhi
kemampuan tanah
untuk penggunaan-
penggunaan
tertentu.
Selanjutnya...........

....dalam pengertian sehari-hari, Klasifikasi
Tanah Alami dikenal dengan.........


KLASIFIKASI
TANAH
Sistem Klasifikasi Tanah yang
ideal mampu mengelompokkan tanah
dalam satu kelas yang....
1. Isogenus
Tanah yg mpy genesis sama
2. Isomorf
Tanah yg mpy kenampakan yg sama
3. Isofungsi
Tanah yg mpy fungsi sama dlm lingk.
4. Isotropik
Tanah yg mpy lokasi yg sama
Macam Sistem Klasifikasi Tanah
1. Pusat Penelitian Tanah Bogor
2. FAO/UNESCO (1974)
3. USDA = Soil Taxonomy (USDA, 1975; Soil
Survey Satff, 1999; 2003).
Sistem Klasifikasi Tanah
Pusat Penelitian Tanah Bogor
Sistem Klasifikasi Tanah yang
digunakan oleh Pusat Penelitian Tanah
Bogor adalah sistem yang dikembangkan
oleh Dudal-Soepraptohardjo (1957), sistem
tersebut sebenarnya mirip dengan sistem
yang berkembang di AS oleh Baldwin,
Kellogdan Thorp (1938) : Thorn dan Smith
(1949) dengan beberapa modifikasi.
Perkembangan selanjutnya...
Sistem menurut Dudal-
Soepraptohardjo (1957), terus
disempurnakan sesuai dengan Sistem
AS yg baru(Soil Taxonomy, 1975)
dan dari USDA terutama dalam :
Definisi jenis-jenis tanah (great group)
Macam tanah (subgroup)
Sistem Dudol-Soepraptohardjo
(1957-1961)
Modifikasi 1978/1982
(PPT)
FAO/UENESCO
(1974)
USDA Soil Taxonomy
(1975 1990)
1.Tanah Aluvial


2.Andosol

3.Brown Forest Soil

4.Grumusol

5.Latosol



6.Litosol

7.Mediteran

8.Organosol

9.Podsol

10.PodsolikMerah Kuning

11.Podsolik Coklat

12.Podsolik Coklat kelabu

13.Regosol

14.Renzina
Tanah aluvial


Andosol

Kambisol

Grumusol

-Kambisol
-Latosol
-Lateritik

Litosol

Mediteran

Organosol

Podsol

Podsolik

Kambisol

Podsolik

Regosol

Renzina
Fluvisol


Andosol

Cambisol

Vertisol

-Cambisol
-Nitosol
-Ferralsol

Litosol

Luvisol

Histosol

Podsol

Acrisol

Cambisol

Acrisol

Regosol

Renzina
-Entisol
-Inceptisol

Andisol

Inceptisol

Vertisol

-Inceptisol
-Ultisol
-Oxisol

Entisol (lithic Subgrup)

Alfisol/inceptisol

Histosol

Spodosol

Ultisol

Inceptisol

Ultisol

Entisol/Inceptisol

Rendoll
Sistem Klasifikasi Tanah USDA (1975, 1999, 2003)
ORDO (ORDER)
SUBORDO (SUB-ORDER)
GRUP (GREAT GROUP)
SUB-GRUP (SUBGROUP)
FAMILY
SERI
Nama Ordo
Akhiran Untuk
Kategori Lain
Arti Asal Kata
Alfisol ALF Dari Al-Fe
Andisol AND Ando, tanah hitam
Aridisol ID Aridus, sangat kering
Entisol ENT Dari Recent
Gelisol EL Gelare, membeku
Histosol IST Histos, jaringan
Inceptisol EPT Inceptum, permulaan
Mollisol OLL Mollis, lunak
Oxisol OX Oxide, oksida
Spodosol OD Spodos, abu
Ultisol ULT Ultimus, akhir
Vertisol ERT Verto, berubah
ORDO
Ordo tanah dibedakan berdasarkan ada
tidaknya horison penciri serta jenis (sifat)
dari horison penciri tersebut.
Contoh :
Horison penciri : argilik,KB >35 % = ordo Alfisol
Horison penciri : argilik,KB <35% = ordo Ultisol
SUBORDO
Subordo tanah dibedakan perbedaan
genetik tanah, misal : ada tidaknya
sifat2 tanah yg berhub.dg : air,
kelembaban, bi, vegetasi.
Khusus Histosol, sub ordo dibedakan
tk.pelapukan b.o. nya (febris, hemis,
safris)

Contoh :
Subordo : Udult
berasal dari Udus/udic = tanah yg
pernah lembab, singkatannya Ud.
Ud ditambah dg ordo Ultisol (disingkat
Ult), sehingga sub ordo = Udult

GRUP (GREAT GROUP)
Dibedakan berdasarkan perbedaan (1)jenis,
(2) tk.perkembg, (3) susunan horiz, (4)
KB, (5) kelembaban, (6) ada tidaknya
lapisan2 penciri lain : plinthite, fragipan,
duripan
Contoh : Grup Fragiudult
Lapisan tsbt memiliki lapisan padas
Fragipan mk disingkat fragi. Shg kata
fragi ditambah pd Sub ordo Udult , jadi...
Fragiudult.


SUBGRUP
Dibedakan berdsr : (1) sifat inti grup &
diberi nama Typic, (2) sifat2 tanah
peralihan ke grup lain, sub ordo lain
atau ordo lain.
Contoh :
Subgrup : Aquic Fragiudult
tanah tsbt memiliki sifa peralihan ke
sub ordo Aquult, krn kadang2 adanya
pgrh air, shg tmsk sub grup Aquic



Dibedakan berdsr sifat2 yg penting u/
pertanian atau teknik, (1) sebaran butir,
(2) mineral liat, (3) regim temperatur pd
kedlmn 50 cm.
Contoh : Aquic Fragiudult, berliat halus,
kaolonit, isohipertermik.
Penciri famili, susunan butir berliat
halus & jenis liat adl kaolinit, regim
temperatur isohipertemik (> 22 C dg
perbedaan suhu tnh musim panas &
dingin <5C)

Seri Tanah
Seri tanah menunjukkan nama lokasi
tanah tersebut pertama kali ditemukan.
Contoh :
Aquic Fragiudult, berliat halus,
kaolonit, isohipertermik,Sitiung
Sitiung : lokasi pertama kali ditemukan
tanah pada kategori seri tersebut.


1. Epipedon
Horizon bagian permukaan ( horizon A),
mungkin lebih lebih tipis dari horizon A,
tetapi mungkin juga meliputi horizon B.

2. Endopedon
Horizon dibawah permukaan
EPIPEDON
Surface horizons
Influenced strongly by
biochemical and
geochemical processes
Correspond with A, E, and
sometimes upper B
horizons
Important in classifying
soils

EPIPEDON
Histik: Bahan organik (BO) tinggi (>75%), tebal 20-40cm.
Mollik: BO >1%, warna gelap dg value dan kroma <3
(lembab) dan value < 5 (kering), tebal >18cm, KB
>50%.
Melanik: mirip Mollik, tetapi miliki sifat tanah andik
Umbrik: seperti molik tetapi KB <50%.
Anthropik: seperti molik, tetapi mengandung >1500 ppm P2O5
larut dalam 1% as sitrat.
Ochrik: warna terang (value dan kroma lembab >3), BO
<1% atau keras-sangat keras dan masif.
Plaggen: horizon buatan, akibat penggunaan pupuk kandang yg
terus menerus, tebal >50cm, berwarna hitam.
Folistik: tanah atas BO, jenuh < 30 hari
Horison Penciri Bawah
Agrik: horizon iluviasi yg terbentuk krn pengaruh
pengolahan tanah shg terjadi akumulasi sejumlah
debu, liat, dan humus.
Albik: horison berwarna pucat (E) dg value lembab >5.
Argillik: horison penimbunan liat; minimal mengandung liat
>1.2 kali lebih banyak daripada kandungan liat di
atasnya.Terdapat selaput liat.
Kalsik: horizon yg mengandung karbonat sekunder
(CaCO
3
atau MgCO
3
) tinggi, tebal >15cm.
Petrokalsik: horizon kalsik yang mengeras.
Kambik: indikasi lemah adanya argillik atau spodik, tapi tidak
memenuhi syarat kedua horizon tersebut.
Horison Penciri Bawah (lanjutan)
Gipsik : banyak mengandung gipsum (CaSO4) sekunder.
Petrogipsik: horizon gipsik yg mengeras.
Natrik : horizon argillik yg banyak mengandung Na
Oksik : horizon bertekstur agak kasar, KTK <16 me/100g liat,
tebal >30cm.
Salik: banyak mengandung garam sekunder mudah larut,
tebal >15cm.
Sombrik : seperti umbrik, gelap, terjadi iluviasi humus tanpa Al,
tidak terletak di bawah horizon albik.
Spodik : horizon iluviasi seskuioksida bebas dan BO.
Sulfurik : horizon yg mengandung sulfat, pH ,3.5, tdpt karatan
jarosit.
Plasik: padas tipis tersementasi senyawa. Fe, Mn dan BO
Kategori Nama Kategori Nama
Phylum Pteridophyta Order Alfisol
Kelas Angiospermae Sub-order Udalf
Sub-kelas Dicotyledoneae Greatgroup Hapludalf
Order Rosales Sub-group Aquic Hapludalf
Family Leguminoseae Family Aquic Hapludalf, berlempung
halus, Campuran, Aktif,
Isohipertermik
Genus Trifolium Seri Lape
Species T. repens (Phase) Berbatu
TAKSONOMI TUMBUHAN vs TAKSONOMI TANAH
Soil Taxonomy"
Degree of Weathering and B Horizon Development
Little Slight Moderate Large Extreme
Entisols Aridisols
Inceptisols Alfisols
Spodosols Ultisols
Mollisols Oxisols
Soils Defined by Special Constituent Materials
Andisols Volcanic Ash
Histosols Peat, Organic Matter
Vertisols Self-Mixing Clay Soils
Gelisols Soils on Permafrost
ALFISOL
The central concept of Alfisols
is that of soils that have an
argillic, a kandic, or a natric
horizon and a base saturation
of 35% or greater.
They typically have an ochric
epipedon, but may have an
umbric epipedon. They may
also have a petrocalcic
horizon, a fragipan or a
duripan.

ANDISOLS
The central concept of Andisols
is that of soils dominated by
short-range-order minerals.
They include weakly weathered
soils with much volcanic glass as
well as more strongly weathered
soils.
Hence the content of volcanic
glass is one of the characteristics
used in defining andic soil
properties

ARIDISOL
Aridisols is that of soils that are
too dry for mesophytic plants to
grow. They have either:
(1) an aridic moisture regime
and an ochric or anthropic
epipedon and one or more of
the following with an upper
boundry within 100 cm of the
soil surface: a calcic, cambic,
gypsic, natric, petrocalcic
petrogypsic, or a salic horizon
or a duripan or an argillic
horizon, or
(2)A salic horizon and
saturation with water within 100
cm of the soil surface for one
month or more in normal years.
ENTISOLS
The central concept of
Entisols is that of soils that
have little or no evidence of
development of pedogenic
horizons.
Many Entisols have an
ochric epipedon and a few
have an anthropic epipedon.
Many are sandy or very
shallow.

GELISOLS
The central concept of Gelisols is
that of soils that have permafrost
within 100 cm of the soil surface
and/or have gelic materials within
100 cm of the soil surface and have
permafrost within 200 cm.
Gelic materials are mineral or
organic soil materials that have
evidence of cryoturbation (frost
churning) and/or ice segeration in
the active layer (seasonal thaw
layer) and/or the upper part of the
permafrost.

HISTOSOLS
The central concept of Histosols
is that of soils that are
dominantly organic. They are
mostly soils that are commonly
called bogs, moors, or peats
and mucks.
A soil is classified as Histosols if
it does not have permafrost and
is dominated by organic soil
materials.

INCEPTISOLS
The central concept of Inceptisols
is that of soils of humid and
subhumid regions that have
altered horizons that have lost
bases or iron and aluminum but
retain some weatherable minerals.
They do not have an illuvial
horizon enriched with either
silicate clay or with an amorphous
mixture of aluminum and organic
carbon.
The Inceptisols may have many
kinds of diagnostic horizons, but
argillic, natric kandic, spodic and
oxic horizons are excluded.
MOLLISOLS
The central concept of Mollisols
is that of soils that have a dark
colored surface horizon and are
base rich. Nearly all have a
mollic epipedon.
Many also have an argillic or
natric horizon or a calcic horizon.
A few have an albic horizon.
Some also have a duripan or a
petrocalic horizon.

OXISOLS
The central concept of Oxisols is
that of soils of the tropical and
subtropical regions. They have
gentle slopes on surfaces of
great age. They are mixtures of
quartz, kaolin, free oxides, and
organic matter.
For the most part they are
nearly featureless soils without
clearly marked horizons.
Differences in properties with
depth are so gradual that
horizon boundaries are
generally arbitrary.

SPODOSOLS
The central concept of Spodosols
is that of soils in which amorphous
mixtures of organic matter and
aluminum, with or without iron,
have accumulated. In undisrurbed
soils there is normally an overlying
eluvial horizon, generally gray to
light gray in color, that has the
color of more or less uncoated
quartz.
Most Spodosols have little silicate
clay. The particle-size class is
mostly sandy, sandy-skeletal,
coarse-loamy, loamy, loamy-
skeletal, or coarse-silty.

ULTISOLS
The central concept of Ultisols
is that of soils that have a
horizon that contains an
appreciable amount of
translocated silicate clay (an
argillic or kandic horizon) and
few bases (base saturation less
than 35 percent).
Base saturation in most Ultisols
decreases with depth.

VERTISOLS
The central concept of
Vertisols is that of soils that
have a high content of
expending clay and that have
at some time of the year deep
wide cracks.
They shrink when drying and
swell when they become
wetter.
KONSERVASI TANAH
& AIR
Pendahuluan
Pengertian dan tipe Erosi
Faktor Penyebab Erosi
Metoda Pengendalain Erosi
Pengolahan Tanah: Macam dan Pengaruhnya
Pendahuluan
Konservasi tanah dan air penting bagi sustainable agriculture
Tujuan Konservasi tanah :
Mencegah terjadinya kerusakan tanah terutama oleh erosi
Memperbaiki tanah yang rusak
Meningkatkan produktifitas tanah, eg. Tanah rawa, pasang surut,
reklamasi tanah salin dsb.
Pengendalian banjir
Erosi:
fenomena kerusakan tanah terjelek di dunia
Bisa menghilangkan air, hara, dan tanah itu sendiri
Mencemari / mematikan sungai, waduk , danau
Menurunkan produktifitas lahan, meningkatkan lahan kritis
Terjadi pada semua iklim:
Kering: erosi angin
Basah: erosi air
Dinamika Air
SIKLUS AIR
Pengertian dan Proses Erosi
Erosi: proses hilangnya tanah oleh kekuatan angin atau air
Erosi terjadi bila runoff mampu menghanyutkan tanah,
yaitu bila laju CH > laju infiltrasi
Proses terjadinya erosi:

Ek Butir Hujan:
1. Melonggarkan ikatan aggregat (detachment)
2. Menghancurkan aggr (destruction)
3. Memindahkan granul (splash)
Kerusakan bisa diperkecil denga cara:
1. Ek pengikat aggregat tanah diperbesar BO
2. Ek CH diperkecil canopy tanaman & mulsa

Aggr terdispersi memblok pori Infiltrasi !
tergenang tanah tersuspensi runoff erosi

Tipe Erosi
Keterangan
E. Geologi
kehilangan tanah pembentukan tanah
E.
Dipercepat
Splash
(Percikan)
- Terjadi pemindahan partikel tanah tidak jauh dari
asalnya akibat tumbukan butir hujan pada tanah
Sheet
(lembar)
-tanah permukaan hilang secara uniform, Warna tanah jadi
lebih terang, Akar tanaman sudah kelihatan
-Batuan induk muncul diperm
Riil (alur)
terbentuk alur dangkal yang tersebar tidak merata di perm
tanah, bisa hilang dg pengolahan tanah
Gully (parit)
terbentuk parit atau alur yang dalam, biasanya mencapai
subsoil. Volume air terkonsentrasi dalam parit tsb
Tebing sungai
Terjadi biasanya pada sungai yang berbelok, apalagi bila
tak ada vegetasi.
Bawah tanah
Biasanya terjadi pada tanah kedp air yang diatasnya ada
tanah loess eg. Di China dan jerman
Longsor
Terjadi pada daerah berlereng curam yang pada lapisan
bawah perm tanah terdapat lapisan kedap air.
Tipe erosi
Splash Erosion

ProsesErosi Percikan (Splash Erosion)

Air hujan melonggarkan ikatan
aggregat menghancurkan
aggregat dispersi
membawa/memindahkan
partikel tanah
TIPE EROSI
(Source: USDA NRCS, 2002)
Alahan Panjang
Gully Erosion
Severe soil erosion in a wheat
field near Washington State
University, USA.
Eroded paddock, Australia
Coastal erosion at Happisburgh, Norfolk, England.
Wave cut platform caused by erosion of cliffs by
the sea, at Southerndown in South Wales

Tipe erosi
Erosi Tebing Sungai Longsor
CH
Lapisan kedap
Runoff
Infiltrasi
Faktor Penyebab Erosi
Keilangan tanah akibat erosi dipercepat menurut
USLE (Univ. Soil Loss Eqn):
A = RKLSCP
A = prediksi kehilangan tanah dalam metrik ton/ha/th
R = CH intensitas lebih penting dari jumlah, terutama
intensitas tertinggi selama 30 menit I Ek, R= rainfall erosion
index
K = sifat tanahnya, nilainya: 0-0,6.
K <0.2 normal untuk tanah pasir & tanah pasir
K = 0.2-0.3 KI sedang, stabilitas aggr sedang
K > 0.3 KI rendah, mudah terserosi
2 karakteristik tanah yang paling mempengaruhi erosi:
Stabilitas aggregat
Kapasitas infiltrasi, dipeng oleh:
Tekstur - BO
Jenis dan jlh liat mengembang - kedalaman tanah
..sambungan penyebab erosi
LS : panjang dan kecuraman slope atau lereng (faktor topografi).
Bila slope curam kec runoff >>. Secara teori: bila V double kemampuan
air bawa partikel 64x >>, bawa suspensi 32x>>, dan tenaga erosive 4 x >>. Bila
panjang slope 2x tanah hilang jadi 2.6x >>

C : Cropping system dan management factor. Penutupan tanah oleh
hutan dan padang rumput > legume dan rumput makanan hewan > gandum dan
oat > jagung, kedelai, kentang > tanah bera. Nilai C untuk lokasi tertentu
tergantung pada:
Tanaman yang sedang tumbuh
Fase pertumbuhan tanaman
Penolahan tanah
Management lainnya
Nilai C berkisar dari 0.1 (hutan dengan residu tanaman yajg banyak di permukaan tanah)
sampai ~ 1.0 ( sangat sedikit residu atau hampir bera)

P: faktor penyangga eg. Contouring till, strip cropping, terracesing,
grassed waterways. Nilai P meningkat dengan kelerengan (slope)


Penyebab Erosi (Hudson, 1971)
Erosi
Erosivitas Erodibilitas
Iklim Sifat Fisik Tanah
Pengelolaan tanah
& tanaman (Veget,
Topog, Manusia)
Metoda Pengendalian Erosi
Prinsip:
Meningk
at kan
kap.
infiltrasi
Mengura
ngi kec.
runoff
Meningk
at kan
daya
tanah
tanah
terhadap
daya
perusak
hujan
Metoda
Pengendalian
Erosi
Vegetatif & Biologi
(Ek CH, RO, mulsa,
Akar KI, SA,
ET )
Mekanis

Contoh:
Kimiawi
(penambahan bahan
kimia
untuk memantapkan
aggregat tanah)
Contoh:
Reboisasi, Cover crop
Contour farming, Strip
Cropping, Crop rotation
Mulching
Contoh:
- Emulsi karet

-Pengolahan tanah
menurut contour
-Pembuatan galengan
-Pembuatan teras
-Rorak & penghambat

Pengolahan Tanah Konservasi
Sistem olah tanah
Konservasi: kurang sampai
tanpa pengolahan, shg
mengurangi erosi
3 hal penyebab pengolahan
tanah konservasi:
Herbisida untuk mengontrol gulma
Tingginya harga bahan bakar
Polusi lingkungan perairan akibat
erosi
Tipe
Pengolah
an Tanah
Alat
Pengolah
Tanah
Residu
tanaman
Konvensio
nal
Moldboard
plow
1-5%
Konservasi
(Reduced
till)
Disk dan
Chisel
plow
15-25%
No-till 50-75%
Pengaruh Erosi pada Kesuburan Fisika
Tanah
Penghanyutan partikel
tanah tekstur berubah
Perubahan struktur
tanah
Penurunan
kap.infiltrasi\
Perubahan profil tanah
Metoda Pengawetan
Tanah Dan Air
Prinsip Konservasi Tanah :
a. Menjaga agar tanah tidak terdispersi.
b. Mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran
permukaan.

Berdasar hal tersebut ada 3 pendekatan :
1. Menutup tanah dg tanaman atau sisa tanaman
agar terlindung dari tetesan air hujan.
2. Memperbaiki dan menjaga tanah agar tahan
terhadap penghancuran agregat dan
pengangkutan tanah. Memperbesar penyerapan
air di permukaan tanah, dengan memperbesar
infiltrasi.
3. Mengatur serta mengurangi kecepatan aliran
permukaan agar tidak merusak.

Konservasi tanah dan air dikelom
pokkan menjadi 3 metoda, Yi :
1. Metoda mekanis
2. Metoda vegetatif
3. Metoda kimia
1. Metoda Pengawetan Tanah
Secara Mekanis.
Tujuan :
a. Memperkecil limpasan permukaan sehingga
kekuatannya tidak lagi merusak tanah.
b. Menampung dan menyalurkan limpasan
permukaan pada bangunan saluran tertentu.

Pengawetan tanah scr mekanis :
1) Pengaturan pengolahan tanah (tillage system)
2) Pembuatan bangunan pengendali erosi.
1) Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah : manipulasi mekanis
terhadap tanah untuk menciptakan media
tanah yang cocok untuk pertumbuhan
tanaman.
Untuk memperkecil kerusakan tanah akibat
pengolahan tanah disarankan:
a) Tanah diolah seperlunya.
b) Pengolahan tanah dilakukan pada saat
kandungan air yg tepat (jangka olah).
c) Pengolahan tanah dilakukan menurut atau
sejajar dengan garis tinggi (kontur).
d) Pengolahan tanah dengan pemberian mulsa.

2) Bangunan Pengendali Erosi.
Komponen dasar meliputi :
bangunan perintang aliran permukaan (teras).
Bangunan pengalir air (saluran pada teras)
Jalan air
(gb. 8.1)
a) Teras
Tujuan pembuatan teras :

Untuk mengurangi panjang lereng shg
memper kecil volume aliran
permukaan dan memberi ke sempatan
air untuk meresap ke dalam tanah
(infiltrasi).
Ada 3 macam teras :
a) Teras saluran :
dibuat memotong arah lereng dengan membuat
tanggul dan saluran di atasnya (gb.8.2)
b) Teras bangku :
dibuat memotong lereng dan meratakan tanah
di bagian bawahnya sehingga terjadi deretan
bentuk bangku (terutama tanah yg berlereng 20
30%).

Macam-macam Teras Bangku.

1. Teras bangku datar
2. Teras bangku miring
3. Teras bangku berlawanan lereng/teras tajam
(gb.8.3)
4. Teras bangku dimana pd kaki teras dibuat
saluran irigasi (gb. 8.4)
c) Teras irigasi :
ujung teras dibuat tanggul dengan tujuan agar
air dapat disimpan pada bidang teras terutama
untuk tanaman padi sawah (gb.8.5).

Jalan Air.
Jalan air (water ways) dibangun menurut arah
lereng dan merupakan saluran pem buang air
limpasan permukaan dari salur an diversi,
saluran teras dsb. (gb.8.1)
Agar air yang mengalir tidak mengikis
saluran jalan air maka perlu
dilengkapi dengan pasang an batu-
batuan, atau ditanami rumput penguat
(misal: rumput gajah).
Jika jalan air terlalu curam perlu
dibuatkan bangunan terjunan (drop
structure) yang terbuat dari batu atau
bambu dan pada kaki bangunan diberi
pasangan batu (gb.8.7).
I.2.3. Dam Penghambat
Pada daerah dg erosi parit, erosi tebing dan long sor
sering dibuatkan bangunan yg menghambat
kecepatan erosi (Dam Penghambat).
Bangunan tsb dibuat dr batu, bata, bambu ataupun
beton yg dpt menghambat erosi atau menampung
endapan tanah yg terbawa oleh aliran air.
Bangunan tsb adalah :
a. Pengendali jurang ( Gully structure )
b. Pengendali tebing
c. Dam Penahan (dam penahan sedimen)
d. D. Dam Pengendali (Checkdam)
I.2.4. Parit Buntu / Rorak (Silt Pit).
Tujuan pembuatan rorak :
Untuk menangkap air limpasan permukaan dan
sedimen tanah yg terikut aliran.
Rorak dibuat dg menggali lubang sedalam 60
cm, lebar 50 cm dan panjang 4 5 m.
Rorak dibuat memanjang searah garis kontur
dg jarak horizontal antar rorak 10 15 m dan
jarak antar barisan 10 20 m.
I.2.5. Konservasi Air Secara
Mekanis.
a. Sumur Resapan
b. Embung atau balong
c. Waduk
II. Metoda Pengawetan Tanah Dan
Air Secara Vegetatif
Pengendalian erosi dengan pengelolaan tanaman
dapat menekan laju erosi dan meningkatkan
produktivitas tanah, terutama perbaikan
struktur tanah dan tambahan bahan organik
tanah.
Tanaman dapat memperkecil erosi
karena :
a. Melindungi tanah terhadap daya rusak air hujan
dan aliran permukaan.
b. Memperbaiki struktur tanah yang dapat
meningkatkan ketahanan tanah terhadap pukulan
air hujan / aliran permukaan.
c. Memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah sehingga
memperkecil limpasan permukaan.
Yang termasuk metoda pengawetan
tanah secara vegetatif adalah :
1. Penghutanan / penghijauan agroforestry
2. Penanaman dengan tanaman penutup tanah
(Cover Crop)
3. Penanaman dalam strip (Strip Cropping)
4. Pergiliran Tanaman (rotation croping)
5. Pertanaman berganda (multiple cropping)
6. Penggunaan sisa tanaman (Mulsa)
II.2. Penanaman dengan tanaman
penutup tanah (Cover crop)
Tanaman penutup tanah disamping efektif
melindungi pukulan air hujan dan kikisan limpasan
permukaan, juga memperbaiki sifat fisik tanah
diantaranya memperbesar kapasitas infiltrasi tanah
seperti gambar berikut:
Gambar : Pengaruh tanaman penutup tanah (2 tahun)
terhadap infiltrasi (Wilson, Lal dan Okiqbo, 1982).
Tanaman penutup tanah disini diartikan sebagai
ynm yg sengaja ditanam untuk melindungi tanah
dari erosi, dapat menambah bahan organik tanah
dan meningkatkan produktivitas tanah.

Berdasarkan habitusnya tanaman penutup tanah
digolongkan menjadi 3 golongan yaitu :
1. Tanaman penutup tanah rendah, ada 2 macam
yaitu :
a. Tanaman penutup tanah yg ditanam dalam barisan
dengan pola tanam rapat, misalnya Centrocema sp.
yg dipergunakan diperkebun an karet.
Mimosa invisa yg cocok ditanam di tanah mis kin.
b. Tanaman penutup tanah yg digunakan unt
memperkuat tebing saluran air, terras dsb.
Misalnya : rumput benggala (Panicummaximum)
dan rumput gajah (Pennisetum purbureum Sch.)
2. Tanaman penutup tanah sedang : umumnya
ditanam diantara tanaman utama, dalam barisan
pagar atau diluar tanaman utama sebagai sumber
bahan organik. Misalnya : Clibadium surinamense,
Crotalaria sp., Leucaena glauca, Tithonia
tangetiflora.
Tanaman penutup tanah tinggi : umumnya
ditanam diantara tanaman utama, atau untuk
penghutanan kembali. Contoh : Albizzia falcata,
Leucaena glauca, Gliricidea sepium.

II.3. Penanaman Dalam Strip (Strip
Cropping).
Penanaman dalam strip adalah suatu cara
bercocok tanam dengan beberapa tanaman
yang masing-masing ditanam dalam strip
secara berselang-seling searah garis tinggi
(kontur).
Cara ini biasanya digunakan pada lereng
dengan kemiringan 3 8,5% (Morgan,1979).
Di daerah tetentu ada yg sampai 15 %,
dikombinasikan dg penggunaan mulsa.
Pada prinsipnya diusahakan setiap waktu ada
bagian tanah yang tertutup tanaman.
Lebar strip bervariasi antara 15 50 m,
tergantung tingkat kemiringan tanah.
Di Amerika Serikat utk menentukan lebar strip
digunakan rumus :

L = 33 2(S 10)

L = lebar strip (dlm meter)
S = kemiringan tanah (%)

Contoh :
misal kemiringan tanah : 12%, maka
Lebar strip = 33 2(12 10) = 29 m
misal kemiringan tanah 5%, maka
Lebar strip = 33 2(5 10) = 43 m.
II.4. Pergiliran Tanaman (Crop
Rotation)
Pergiliran tanaman adalah system penanaman
berbagai tanaman secara bergilir dalam urutan
waktu tertentu pada suatu bidang tanah.
Pergiliran tanaman juga dapat menekan hama
dan penyakit tanaman dan juga tanaman
pengganggu (gulma).
Tanaman yg cocok digunakan sbg tanaman
antara dalam pergiliran tanaman hendaknya
mempunyai sifat :
- mudah diperbanyak
- tumbuh cepat,
- menghasilkan banyak bahan organik
- sistim perakaran dalam dan percabangan
nya banyak.
- toleran terhadap pemangkasan
- tahan serangan hama/penyakit
- mampu menekan gulma
- tidak mempunyai sifat yg tidak
menyenangkan (berduri, membelit dsb)

Contoh tanaman :
tanaman kacang-kacangan : Crotalaria juncea,
Centrosema pubescen dll.
Rumput gajah (Panisetum purpureum)
rumput bermuda (Cynodon plectostachyum).

II.5. Mulsa
Mulsa adalah sisa-sisa tanaman yg
dikembalikan lagi ke tanah.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mulsa
sangat efektifmenekan laju erosi.


Penelitian Latanzi (1974) :
tanah geluh debuan (silty loam) dg kemiringan 7
% kehilangan tanah tanpa mulsa sebesar 1,87
kg/m
2
/jam, sedangkan yang diberi mulsa hanya
0,31 kg/m
2
/jam.

Penelitian Suwardjo (1981) :
mulsa mampu menurunkan erosi sampai lebih
dari 1/20 kali ( lihat tabel 1. berikut ).
Pengaruh mulsa terhadap erosi (Suwardjo, 1981).





Perlakuan
Erosi dari tanaman (ton/ha)
jagung ubikayu
Tanah terbuka (tanpa tanaman) 260,8 222,8
Tanah diolah tanpa mulsa 129,9 88,9
Tanah diolah + mulsa jerami
(6 ton/ha)
23,4 3,2
Tidak diolah + mulsa sisa tanaman 23,4 4,6
Bekas diolah + mulsa jerami 22,7 16,5

Mulsa dapat diberikan dg cara menyebar di
permukaan tanah atau dibenam pada saat
pengolahan tanah (pengolahan mulsa / mulch
tillage).

Penggunaan mulsa hendaknya menutup sampai
70 75% atau sekitar 5 6 ton jera mi per ha.
Metoda Kimia
Metoda kimia adalah penggunaan preparat
kimia sintetis atau alami (Soil conditioner)
untuk memperbaiki struktur tanah sehingga
agregat tanah stabil.
Contoh :
campuran simethyl dichlorosilane dengan
methyl trichlorosilane (MSC) yang mudah
menguap dimana gas yg terbentuk bercampur
dg air tanah, ini akan menyebabkan agregat
tanah stabil.
Preparat kimia lain :
1. Polyvinyl alcohol (PVA)
2. Polyvinyl acetat (PVa)
3. Polyvinil acid (PAA)
4. Vinyl acetat malcic acid (VAMA)
5. Dimethylaminoethylmetacrylate (DAEMA)
6. Polyacrylamide (PAM)
7. Emulsi bitumen
8. Lateks
9. Humus
Cara Penggunaan :
Preparat dicampur dengan air dengan
perbandingan tertentu, disemprotkan ke
permukaan tanah kemudian diaduk dengan
cangkul atau garu.
Mekanisme pembentukan agregat dengan
menggunakan soil conditioner prinsipnya sama
dengan mekanisme pembentukan agregat tanah
pada umumnya.

Soil conditioner mempunyai pengaruh
yang besar terhadap stabilitas agregat
tanah.

Pengaruhnya berjangka lama, karena
senyawa tersebut tahan terhadap serangan
mikroba tanah.

Permeabilitas meningkat dan erosi
berkurang.
Pustaka :
1. KONSERVASI TANAH DAN AIR, 1989. (Sitanala
Arsyad). IPB Pers.
2. PENGAWETAN TANAH, 1983 (Wani Hadi Utomo).
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
3. PEDOMAN PRAKTIK KONSERVASI TANAH DAN
AIR, 2002. (Tim Peneliti BP2TPDAS IBB).
Departemen Kehutanan, BP2TPDAS IBB Surakarta.
4. SOIL EROSION AND CONSERVATION, 2005
(Morgan R.P.C)
5. SOIL CONSERVATION TECHNICAL
HANDBOOK, 2001. (Dough H. Hicks and Tabitha
Anthony)