Anda di halaman 1dari 45

BIOTEKN

OLOGI
KELOMPOK 2
FLORENTINA R. PASARIBU (RSA1C412014)
SETIA NINGRUM (RSA1C412015)
GITA
DESTRIANA (RSA1C4120

PENGGUNAAN LIMBAH
TANDAN KOSONG KELAPA
SAWIT

Sbg pupuk organik

- Tandan Kosong Kelapa Sawit


(TKKS) banyak digunakan
sebagai bahan baku
pembuatan pupuk organik
karena dapat diperoleh dalam
jumlah besar dan murah.
- Tandan kosong kelapa sawit
(TKKS) diolah dengan EM-4
(effective Microorganism)
yang
- berisi mikroorganisme yang
dapat membantu penguraian
dan pembusukan untuk
mempercepat pengomposan

2. Pupuk Kalium (Abu


Janjangan)
Tandan kosong kelapa sawit
sebagai limbah padat dapat
dibakar dan menghasilkan
abu tandan. Abu tersebut
ternyata mengandung 30 40% K2O, 7% P2O5, 9%
CaO dan 3% MgO. Selain
itu juga mengandung unsur
hara mikro yaitu 1.200 ppm
Fe, 1.000 ppm Mn, 400 ppm
Zn, dan 100 ppm Cu.
Kelangkaan pupuk
KCL yang kerap kali
dihadapi oleh perkebunan
dapat diatasi dengan
menggantinya
menggunakan abu tandan.
Biaya produksinya pun lebih
rendah dibandingkan
dengan harga pupuk KCL.

3. Untuk dijadikan pulp


Tandan kosong kelapa sawit
untuk dijadikan bahan baku
kertas yaitu dengan cara
mengurai serat-serat menjadi
bubuk lalu di degradasi dan
hasil degradasi tersebut
menghasilkan lignin sebesar
21%, kemudian proses
selanjutnya adalah di cetak
seperti alnya pembuatan
kertas pada umumnya,
sehingga pembuatan kertas
dari bubur kayu akan dapat
digantikan menjadi
pembuatan kertas dengan
bahan baku serat tandan
kosong kelapa sawit sehingga
kayu yang saat ini semakin
langka dapat tergantikan.

4. Papan partikel
- tandan kelapa sawit
memiliki kadar selulosa
tinggi, yaitu 67,88%
holoselulosa dan 38,76%
alfa selulosa dengan kadar
serat 72,67%.
- memiliki kelebihan
dibandingkan papan lapis,
yakni mampu meredam
suara

MEMBUAT PAPAN PARTIKEL DENGAN


TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT
- Gunakan mesin perajang untuk memotong serat sawit menjadi kecil-kecil.
- Rajangan tandan kelapa sawit yang keluar dari mesin itu masih
mengandung kadar air 73%, minyak 9%, dan kotoran sehingga perlu
dipres
- TKKS perlu dijemur untuk menurunkan kadar air hingga 10%.
- pembuatan papan membutuhkan perekat, seperti 8% lateks, 10% lem
kanji, atau 12% polivinil akrilik. Perekat disemrotkan ke partikel serat
tandan kelapa
- Partikel serat tandan kelapa sawit yang telah diberi perekat dibuat
lembaran papan dengan ukuran 20 cm x 20 cm dan dikempa dingin
dengan kekuatan 20 kg/cm2 selama 15 menit
- Lembaran lembaran papan dikempa panas 103oC selama 15 menit
dengan tekanan kempa 90 kg/cm2
- papan didiamkan 24 jam dalam ruangan pada suhu kamar.
- papan partikel yang dihasilkan memiliki kadar air 8,0-8,8%. papan partikel
TKKS termasuk berkerapatan tinggi antara 0,86-0,98 g/cm3

5. Sebagai makanan ternak


Limbah tandan kosong kelapa sawit
dapat dijadikan sebagai pakan ternak,
tetapi harus melalui proses
pengolahan terlebih dahulu
Pengolahan :
- limbah tandan kosong kelapa sawit
ditumpuk pada suatu drum dan
basahi limbah tersebut diamkan
selama 3-4 hari
- serangga akan berdatangan dan
bertelur, selama proses
penumpukan setelah 2-3 hari telur
tersebut akan menjadi belatung
- lakukan panen belatung dan
keringkan belatung tersebut
sehingga menjadi tepung belatung.
Tepung belatung tersebut dapat
dijadikan bahan baku pembuatan
pakan ternak perikanan, pakan
tersebut sangatlah bagus karena
kandungan protein didalam tepung
tersebut sekitar 40%.

- Tandan kosong kelapa sawit


juga dapat dijadikan
sebagai bahan dasar
pembuatan bioetanol.
Kebutuhan energy yang
semakin meningkat
menyebabkan terus
menipisnya cadangan
minyak bumi, sehinnga
perlu dilakukan alternatif
lain untuk menggantikan
minyak bumi
- Tetapi saat ini bioetanol dari
bahan dasar tandan kosong
kelapa sawit memiliki nilai
oktan yang masih sangat
rendah sehingga harus
dilakukan pengembangan
dari kualitas bahan baku
berupa tandan kosong
kelapa sawit dan cara
pengolahan yang baik agar
oktan dari bioetanol
tersebut dapat ditingkatkan.

7. Produksi Xylose
Tandan buah kosong kelapa
sawit dapat dijadikan sumber
yang potensial untuk produksi
xylosa.
Biomassa tandan kosong
mengandung sellulosa,
hemisellulosa dan lignin.
Diperkirakan 24% dari total
biomassa tandan kosong
tersusun atas xylan, polimer
gula yang tediri dari gula
pentose yaitu xylose. Xylosa
dapat dimanfaatkan sebagai
bahan dasar pembuatan
senyawa lain melalui proses
kimia dan bioteknologi,salah
satunya adalah xylitol.

PEMBUATAN XYLOSE DARI TANDAN


KOSONG BUAH KELAPA SAWIT
Pembuatan xylose dengan
cara hirolisis asam
Langkah :
- tandan kosong kelapa sawit
direndam dengan
H2SO4dengan
konsentrasi,suhu dan waktu
tertentu
- Setelah reaksi
selesai,padatan yang
dihasilkan dipisahkan dari
liquid dengan cara filtrasi
- kondisi optimum yang
menghasilkan yield xylose
terbanyak adalah pada
suhu 119C, waktu hidrolisis
60 menit,dengan
konsentrasi asam sulfat 2%

8. Pembuatan Beton
Tandan kosong kelapa sawit
dapat diolah menjadi material
beton. Beton serat yang
dihasilkan dari serat tandan
kosong kellapa sawit
digunakan sebagai bahan
bangunan yang relatif ringan,
elastis dan mampu meredam
suara.

PEMBUATAN BETON DARI TANDAN


KOSONG KELAPA SAWIT MENURUT GURNING, 2013
- Tandan Kosong Kelapa Sawit mula-mula dibilas dengan larutan
10% NaOH selama 12 jam, dikeringkan dan dipotong-potong
sepanjang 50 mm.
- Variasi serat dibuat 0, 2, 4, 6, 8, 10% (volum), dicampur semen
350 gram, pasir halus dan kasar masing-masing sebanyak 700
gram serta air sebanyak 500 ml.
- Pengamatan Weight Loss (WL) dilakukan mulai pada saat proses
aging (selama 28 hari), pengujian sifat fisis dan mekanik,
morfologi serta kemampuan terhadap peredaman suara.
- Hasil pengamatan menunjukkan bahwa beton serat
menghasilkan kondisi optimum adalah pada 6% (volum) serat
Tandan Kosong Kelapa Sawit.
- Karakteristik beton serat pada kondisi optimum menghasilkan
nilai Weight Loss (WL) = 8,5 %, Bulk Density () = 2,4 g/cm3,
Water Absorption (WA) = 13 %, Modulus of Rupture (MOR) =
2,95 MPa, Compressive Strength (CS) = 4,85 MPa, dan Modulus
of elasticity (MOE) = 3,33 GPa.

PEMBUATAN BETON DARI TANDAN


KOSONG KELAPA SAWIT CONT
- Morfologi beton serat yang diamati
dengan mikroskop optik
memperlihatkan adanya rongga-rongga
yang berukuran lebih kecil dari 30 m
dan partikel pembentuk beton berkisar
antara 5 30 m dengan distribusi
serat Tandan Kosong Kelapa Sawit
cukup merata yang berukuran lebih
kecil dari 75 m.
- Kemampuan daya redam suara beton
serat pada daerah rentang frekuensi
100 5000 Hz menghasilkan intensitas
sound level sekitar 58 90 dB,
peredaman suara 19,82 % dan
koefisien absorbsi ( rata-rata) sebesar
0,026.
- Beton serat dengan penambahan serat
tandan kelapa sawit sebanyak 6 %
(volum) termasuk klasifikasi beton
ringan normal dan memenuhi syarat
sebagai material bangunan peredam
suara.

9. Pembuatan papan serat


semen
Produk papan serat semen
Pencetakan
dari limbah tandan kosong
kelapa sawit cukup dapat
menguntungkan sebab
ketersediaan bahan baku
yang cukup melimpah,
relatif murah dan
Pemeliharaa
terkonsentrasi
n dan
Pengadaan
Limbah tandan
kosong kelapa
sawit
Penguraian
TKKS sampai
menjadi serat
lepas

pengujian

Pencampura
n bahan
(semen,
serat dan
air)

Perlakuan
pendahulua
n,
pengeringan
serat
Pemotongan serat dengan
ukuran tertentu

10. Pembuatan media untuk


pertumbuhan jamur dan
tanaman
- Limbah tandan kosong
kelapa sawit (TKKS) yang
jumlahnya mencapai 23%
dari tandan buah segar,
mengandung unsur hara
makro dan mikro yang
penting bagi pertumbuhan
tanaman. Pada saat ini
limbah tersebut belum
dimanfaatkan secara
optimal . Limbah ini dapat
diolah sehingga dapat
digunakan untuk
pembuatan kompos dengan
kualitas yang baik.
- Pengolahan limbah tandan
kosong dilakukan dengan
menggunakan mikroba
seperti jamur dan bakteri
Inokulum (dari kiri:
fungi, bakteri, fungi)

PEMBUATAN KOMPOS DENGAN PENGEMBANGAN


DAN PENGUJIAN:
Mikroba yang digunakan untuk pengem-bangan inokulum terdiri atas
campuran 3 (tiga) jenis bakteri dan 3 (tiga) jenis jamur yang merupakan
isolat dari tandan kosong kelapa sawit yang sudah lapuk.
kemudian difermentasikan selama 3 (tiga) hari secara aerobik.
Setelah fermentasi selesai, broth disaring Jurnal Rekayasa Proses, Vol. 4,
No. 2, 2010 37
dengan menggunakan glass-wool untuk memisahkan miselia dan spora,
miselia akan tertahan pada glass-wool. Konsentrasi spora dalam suspensi
yang lolos dari glass-wool diatur sampai 1 x 108 untuk masing-masing
jamur.
Bakteri ditumbuhkan/difermentasikan pada media Nutrient Broth (NB)
selama 1 (satu) hari, kemudian konsentrasi broth diatur sampai 1 x 108
untuk masing-masing bakteri.
Masing-masing mikroba yang sudah ditentukan konsentrasinya dicampur
menjadi satu dengan perbandingan tertentu
TKKS yang sudah dicacah dimasukkan ke dalam wadah plastik, kemudian
diinokulasi dengan inokulum yang telah disiapkan dengan dosis 0 ml/ton
(sebagai kontrol), 500 ml/ton dan 1.000 ml/ton TKKS. Suhu pengomposan
diamati setiap hari dan kelembaban diatur agar selalu sekitar 60%,
kemudian dibiarkan sampai pengomposan selesai.

11. Pembuatan bahan bakar


minyak
Limbah tandan kosong kelapa
sawit danampas tebuuntuk
dijadikan bahan bakar minyak
sebagaibahan bakar alternatif
pengganti energi fosil. Dari
ampas keduanya sudah bisa
dihasilkan gasoline dan
kerosene, sumber bahan bakar
cair untuk premium, minyak
tanah dan avtur

PEMANFAATAN AMPAS TEBU


Ampas tebu atau lazimnya disebut
bagas, adalah hasil samping dari
proses ekstraksi (pemerahan) cairan
tebu. Dari satu pabrik dihasilkan
ampas tebu sekitar 35 40% dari
berat tebu yang digiling. Ampas
tebu sebagian besar mengandung
ligno-cellulose. Panjang seratnya
antara 1,7 sampai 2 mm dengan
diameter sekitar 20 mikro, sehingga
ampas tebu ini dapat memenuhi
persyaratan untuk diolah menjadi
papan-papan buatan. Bagase
mengandung air 48 - 52%, gula ratarata 3,3% dan serat rata-rata 47,7%.
Serat bagase tidak dapat larut dalam
air dan sebagian besar terdiri dari
selulosa, pentosan dan lignin

1. Ampas Tebu dapat


digunakan sebagai bahan
pengganti kayu bakar untuk
memasak (Biobriket)
Biobriket merupakan
sumber alternatif yang berupa
bahan bakar padat, bahannya
berasal dari biomassa. Dengan
pemanfaatan menjadi
biobriket maka produk
biobriket yang dihasilkan
dapat digunakan sebagai
bahan energi alternatif
pengganti briket batu bara
diketahui berasal dari sumber
alam yang tidak dapat
diperbaharui

2. Ampas Tebu dapat dijadikan


sebagai bahan baku
pembuatan kerajinan tangan
yg bernilai tnggi seperti lampu
lampion, asbak, tempat
pulpen

3. Ampas tebu dapat


dimanfaatkan untuk
pembuatan papan planel.

Ampas tebu apat digunakan


sebagai bahan baku pengganti
kayu untuk pembuatan kertas ,
tissue
4.

Pembuatan kertas, tissue


dilakukandengan :
- Persiapan bagase

Proses pembuatan pulp dimulai dengan


mencuci ampas tebu dan dijemur
sampai kering, kemudian dihilangkan
empulurnya dengan menumbuk ampas
tebu sampai tinggal serat-seratnya
(depithing), ditampi kemudian diambil
1000 g per satu kali masak.
- Pemasakan pulp
Pemasakan dilakukan dengan pelarut
asam asetat dan air (proses acetosolv).
Sebanyak 1000 g ampas tebu
dimasukkan ke dalam rotary digester
(alat pemasak, gb. 4). Pemasakan
menggunakan perbedaan konsentrasi
asetat yang berbeda (100%,80%, dan
60%) dan nisbah larutan pemasak
dengan bobot serpih bagase 8:1 dan
12:1

- Pencucian pulp
Pulp hasil pemasakn selanjutnya dicuci dengan menggunakan air. Proses ini bertujuan
membebaskan pulp dari larutan pemasak. Pencucian dilakukan hingga pulp tidak
mengandung lagi asam asetat yang ditandai dengan hasil cucian bening
- Disintegrasi
Disintegrasi adalah proses yang bertujuan untuk memisahkan serat. Proses ini dilakukan
dengan disintegrator yang memiliki prinsip kerja seperti blender. Pulp yang telah jenuh
dimasukkan ke dalam disintegrator dengan menggunakan air sebagai media pemisahan serat.
Disintegrasi dilakukan hingga pulp terurai menjadi serat-serat mandiri. Proses ini dilakukan
selama 3-5 menit
- Penyaringan pulp
Pulp disaring dengan menggunakan hidrolic screener. Hidrolic screener bekerja menyaring
pulp yang telah menjadi serat-serat yang mandiri pada kisaran 80 mesh (Gambar 7). Setelah
pulp tersaring, dikeringkan dengan memasukkan pulp teraring ke dalam centrifuge. Pulp hasil
sentrifugasi ditimbang untuk ditentukan rendamannya.
- Penggilingan pulp
Pulp digiling dengan menggunakan niagara beater hollander. Untuk membuat lembaran pulp
dengan gramatur kurang lebih 60 g/m2 atau untuk setiap lembaran dengan diameter21,5 cm
dibutuhkan pulp sebanyak 2,1783 g pulp kering oven.
- Pembuatan lembaran
Lembaran pulp dibentuk pada derajat kehalusan 200-300 derajat freeness. Suspensi pulp
sebanyak 1430 ML dimasukkan ke dalam stock chest (pengaduk), ditambahkan air sampai 10
L untuk10 lembaran pulp

5. Ampas tebu sebagai bahan


pembuatan particle board
. Salah satu upaya yang
dapat dilakukan
untukmeningkatkan nilai
ekonomis limbah
bagas(ampas tebu)tersebut
adalah dengan teknologi
pemanfaatanlimbah bagas
sebagai bahan pembuatan
papan partikel(particle
board).
. Berdasarkan data jumlah
bagas (ampas tebu)
yangdihasilkan di seluruh
pabrik gula maka dapat
diterapkannya teknologi
tepat guna
denganmemanfaatkan
bagas (ampas tebu) sebagai
bahan pembuatan papan
partikel.

6. Pembuatan Komposit
Pengolahan Serat Ampas
Tebu
- Bahan-bahan yang dipakai
dalam penelitian ini adalah :
serat ampas tebu (baggase),
resin polyester, katalis, dan
wax.
- Peralatan yang digunakan
meliputi : alat cetak, penjepit
kayu, timbangan digital, gelas
ukur, mixer, gerinda, gergaji
dan kuas cat.

PROSES PEMBUATAN KOMPOSIT


Pengolahan Serat Ampas Tebu:

1. Tanaman tebu merupakan jenis


Saccharum officinarum yang merupakan
tanaman tebu untuk industri gula yang
banyak dibudidayakan oleh para petani
di Indonesia.

2. Tanaman tebu ini akan siap dipanen


kira-kira telah berumur 1 tahun,
setelah memiliki ketinggian 1,5-3 meter
dan berdiameter 1,8-5 cm
3. Dalam industri pengolahan batang
tebu menjadi gula, air perasan tebu
dipisahkan serat ampas tebu.
Pemisahan ini menggunakan bantuan
mesin. Air perasan nantinya akan diolah
gula sebagai produk industri, sedangkan
serat ampas tebu menjadi limbah
industri yang biasanya akan diolah dan
dimanfaatkan oleh industri lain menjadi
pupuk, pulp kertas, penguat asbes
semen, bahan bakar boiler dan lain
sebagainya

4. Serat ampas tebu dari sisa limbah industri


gula direndam 1 hari lalu dicuci bersih untuk
menghilangkan rasa manis dari serat, kemudian
disisir dengan sikat kawat untuk menghilangkan
gabus yang menempel dengan serat. Setelah itu
dikeringkan dengan diangin-anginkan selama
7 hari.

5. Serat ampas tebu yang telah dikering


dilakukan penyisiran lagi untuk menghilangkan
gabus

6. Serat dalam pelepah tebu diambil satu


persatu secara
manual dengan
menggunakan tangan untuk mendapatkan
benang-benang serat tebu

7. Benang-benang serat yang telah terkumpul


bervariasi baik diameter maupun kualitas
keuletannya, oleh karena itu benang-benang
serat diikat dengan jumlah antara 8-12 benang
yang memilki diameter 2,5 mm dengan tujuan
agar diperoleh serat yang memiliki diameter dan
tingkat keuletan yang homogen.
8. Proses selanjutnya melakukan penganyaman
serat secara manual dengan menggunakan
tangan untuk memperoleh serat ampas tebu
dalam bentuk lembaran-lembaran. Metode
bentuk susunan serat yang digunakan yaitu;
woven roving dengan susunan anyaman tipe 1-1.
Jumlahnya sesuai dengan kebutuhan penelitian.

7. PEMANFAATAN LIMBAH AMPAS TEBU UNTUK


PEMBUATAN KERTAS DEKORASI DENGAN METODE
ORGANOSOLV
KERTAS YANG SERING KITA GUNAKAN BIASANYA TERBUAT DARI KAYU
YANG DIOLAH DENGAN TEKNOLOGI MODERN SEHINGGA SAMPAI KE
TANGAN KITA. PENGGUNAAN KERTAS DI DUNIA SAAT INI TELAH
MENCAPAI ANGKA YANG SANGAT TINGGI. SIMAJUNTAK (1994)
MENGEMUKAKAN 90% PULP DAN KERTAS YANG DIHASILKAN
MENGGUNAKAN BAHAN BAKU KAYU SEBAGAI SUMBER BAHAN
BERSERAT SELULOSA. DAPAT DIPREDIKSIKAN BAHWA AKAN TERJADI
EKSPLOITASI
HUTAN
SECARA
BESAR-BESARAN
YANG
DAPAT
MENGAKIBATKAN
TERGANGGUNYA
KESTABILAN
LINGKUNGAN
SEHINGGA PERLU MENDAPAT PERHATIAN KHUSUS. UNTUK MENGATASI
HAL INI PEMERINTAH HARUS MENCARI ALTERNATIF PENGGUNAAN KAYU
HUTAN SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUAT PULP DAN KERTAS. BAHAN
ALTERNATIF YANG DAPAT DIGUNAKAN ANTARA LAIN JERAMI PADI,
ENCENG GONDOK, DAN AMPAS TEBU

PROSEDUR PEMBUATAN
1. Proses deligniikasi dilakukan dengan metode organosolv menggunakan pelarut
organik yaitu etanol.Ampas tebu kering dimasukkan ke dalam labu alas bulat.
2. Ke dalamnya ditambahkan etanol 40% (larutan pemasak) dan asam asetat
pekat (sebagai katalis).Perbandingan antara larutan pemasak dengan ampas
tebu adalah 10:1, 15:1, 20:1,dan 25:1 (v/b). Volume katalis yang digunakan
pada setiap perbandingan adalah samayaitu
5 ml.
3. Larutan dimasak pada suhu 120 oC selama 4 jam.
4. Pulp ampas tebu hasildeligniikasi selanjutnya dicuci untuk menghilangkan sisa
etanol. Pulp kertas dibuat dengan cara merendam kertas bekas selama 24
jam. Pulp ampas tebu dan pulp kertas masing masing digiling. Pada
penggilingan pulp kertas bekas ditambahkan perekat PVAc 5 % dari berat
kertas.
5. Proses pencetakan lembaran dimulai dengan melakukan pengenceran
kertas bekas dan pulp ampas tebu.

pulp

6. Kedua pulp dicampur dengan perbandingan 1:1. Pewarnaan dilakukan sebelum


proses pengenceran dimana pewarnaan dikondisikan beberapa jam agar
warna yang diberikan dapat diserap dengan baik oleh pulp.
7. Dengan menggunakan alat pencetak kertas , kertas dicetak dan dipres pada
kaca. Proses pengeringan dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari

8. PEMBANGKIT LISTRIK
Kebutuhan energi di pabrik gula dapat dipenuhi oleh sebagian ampas dari
gilingan akhir. Sebagai bahan bakar ketel, jumlah ampas dari stasiun
gilingan adalah sekitar 30% berat tebu dengan kadar air sekitar 50%.
Berdasarkan bahan kering, ampas tebu terdiri dari unsur C (karbon) 47%, H
(hidrogen) 6,5%, O (oksigen) 44% dan Ash (abu) 2,5%. Menurut rumus
Pritzelwitz (Hugot, 1986) tiap kilogram ampas dengan kandungan gula
sekitar 2,5% akan memiliki kalor sebesar 1825 kkal. Nilai bakar tersebut
akan meningkat dengan menurunnya kadar air dan gula dalam ampas.
Dengan penerapan teknologi pengeringan ampas yang memanfaatkan
energi panas dari gas buang cerobong ketel, dimana kadar air ampas turun
menjadi 40% akan dapat meningkatkan nilai bakar per kg ampas hingga
2305 kkal. Sehingga penggunaannya sebagai bahan bakar ketel di pabrik
gula dapat meningkatkan produksi uap sekitar 10%. Dari segi pemanfaatan
energi ampas secara optimal, teknologi pengeringan tersebut telah banyak
diandalkan oleh banyak pabrik gula di luar negeri.

9. SEBAGAI PAKAN TERNAK


Ampas tebu merupakan Iimbah pabrik gula yang banyak
ditemukan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sangat
mengganggu apabila tidak dimanfaatkan.
Saat ini belum banyak peternak menggunakan ampas tebu
tersebut untuk bahan pakan ternak, hal ini karena ampas
tebu mentiliki serat kasar dengan kandungan lignin sangat
tinggi (19,7%) dengan kadar protein kasar rendah (2,8%).
Namun limbah ini sangat potensi sebagai bahan pakan
ternak. Melalui fermentasi menggunakan probiotik, kualitas
dan tingkat kecernaan ampas tebu diperbaiki sehingga dapat
digunakan sebagai bahan pakan.

10. SEBAGAI PUPUK KOMPOS


Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Departemen Agronomi dan
Hortikultura, Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa kompos
bagase (kompos yang dibuat dari ampas tebu) yang diaplikasikan
pada tanaman tebu (Saccharum officinarum L) meningkatkan
penyerapan nitrogen secara signifikan setelah tiga bulan
pengaplikasian dibandingkan dengan yang tanpa kompos, namun
tidak ada peningkatan yang berarti terhadap penyerapan fosfor,
kalium, dan sulfur.
Penggunaan kompos bagase dengan pupuk anorganik secara
bersamaan tidak meningkatkan laju pertumbuhan, tinggi, dan
diameter dari batang,

namun diperkirakan dapat meningkatkan rendemen gula dalam


tebu.

11. SEBAGAI BAHAN BAKAR


KERETA UAP
Di daerah Yogyakarta terdapat sebuah pabrik gula yang
menggunakan kereta uap untuk alat transportasi dalam pabrik
tersebut.
Pabrik tersebut memanfaatkan tebu sebagai bahan bakar kereta uap.
Bagian dari tebu yang digunakan adalah tebu yang sudah menjadi
ampas.
Sisa hasil pengolahannya tersebut dibakar di mesin kereta uap
tersebut.
Pembakaran tebu yang dapat disetarakan kecepatan pembakarannya
dengan batu bara ini menghasilkan uap yang mampu menggerakan
turbin-turbin dalam mesin sehingga dapat membuat kereta uap
bekerja atau berjalan.

12. SEBAGAI MEDIA TANAM


Ampas tebu memiliki selulosa dan protein cukup tinggi yang
merupakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan jamur.
Pemanfaatan ampas tebu sebagai bahan organik dapat
berpotensi untuk menjadi pupuk kompos yang dapat
menggantikan pupuk organik dan bermanfaat bagi
pertumbuhan tanaman tembakau Deli.
Proses pengomposan bahan organik dalam jumlah yang
banyak harus didekomposisikan sehingga melapuk dengan
tingkat C/N yang rendah yakni 10 12 (Hasibuan,2004)

13. SEBAGAI SILICA GEL


Pembakaran ampas tebu (bagasse)
menghasilkan limbah padat yang berupa abu.
Sementara dalam abu bagasse diektahui
mengandung silika 51% dimana silika ini
memiliki fasa amorf.
Kandungan silika dalam abu bagasse yang
cukup tinggi menjadikan abu bagasse berpotensi
sebagai bahan baku pembuatan silika gel yang
mempunyai nilai tambah secara ekonomi.
Pengembangan ini dilakukan untuk membuat
sebuah inovasi dari sesuatu yang tidak terpakai
menjadi sesuatu yang berdaya jual.

Pembuatan silika gel dari ampas tebu dilakukan


melalui proses ekstraksi basa ( NaOH ) dan solgel. Berdasarkan hasil pengujian FTIR yang telah
dilakukan menunjukkan bahwa silika yang telah
dibuat bisa dikatakan sebagai silica gel. Hasilnya
memperlihatkan adanya gugus Si-O-Si, Si-O, SiOH.

14. SEBAGAI CAMPURAN SEMEN


Dengan perbandingan 1 semen : 12 ampas tebu, dan ternyata memberi
hasil yang lebih kuat, ringan dan tahan terhadap kondisi agresif, dan tentu
saja membutuhkan biaya yang lebih ekonomis. Telah dicoba dalam
pembuatan panil gypsum, dimana ampas tebu dipakai sebagai bahan
tambah mampu menghasilkan panil gypsum yang memiliki kuat lentur yang
baik
Penambahan serat tebu sebagai bahan pengisi dan fly ash sebagai subsitusi
semen bertujuan agar menghasilkan genteng yang ringan dan baenilai
ekonomis.Serat baggase yang dipergunakan jangan terlalu pendsek dan
jangan terlalu panjang karena akan menghasilkan genteng beton yang tidak
standart.Serat baggase yang terlalu pendek tidak akan mengikat bahan
pengikat dan terlalu panjang juga kurang efektif karena akan terjadi
penggumpalan serat dan penyebaran serat tidak merata (Sudarmoko. 1993)

15. SEBAGAI ALAT PENYARING


AIR
Dari prosedur penelitian yang telah dilakukan serta hasil data yang
didapat, maka diperoleh hasil arang dari ampas tebu dapat
menetralkan air dengan hasil rata rata kadar pH nya adalah 7. Hal ini
menunjukkan bahwa air yang dihasilkan mempunyai kadar netral.
Sedangkan air yang disaring dengan saringan tanpa arang ampas tebu
pH nya tidak netral yaitu dengan rata rata 6.66 untuk air sumur, 6.00
untuk air kolam dan 5.66 untuk air gambut dan air sungai.
Dari prosedur penelitian yang telah dilakukan serta hasil data yang
didapat, maka diperoleh hasil arang dari ampas tebu dapat
menjernihkan air dengan hasil penyaringan air adalah bening. Hal ini
menunjukkan bahwa air yang dihasilkan jernih. Sebaliknya air yang
disaring dengan saringan tanpa arang ampas tebu warnanya hanya
berubah sedikit. Air kolam menjadi hijau muda sedangkan air gambut
dan air sungai menjadi coklat muda.

16. SEBAGAI BAHAN PEMBUAT


SURFAKTAN
Ampas tebu dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan
surfaktan karena memiliki kandungan lignin yang cukup tinggi
yaitu sekitar 19,6 %.
Mekanisme terbentuknya lignosulfonate ini terjadi melalui dua
reaksi, yaitu hidrolisis dan sulfonasi. Hidrolisis merupakan reaksi
pemecahan molekul lignin/lignosulfonat (polimer) menjadi molekul
yang lebih kecil.
Sulfonasi merupakan reaksi antara ion bisulfite dengan molekul
lignin. Gugus sulfonate pada lignosulfonate merupakan gugus
hydrophilic sehingga menyebabkan lignosulfonat mempunyai
struktur amphipatic (surfaktan). Reaksi yang terjadi pada proses
sulfonasi lignin ini termasuk reaksi ireversibel dan bersifat
endotermis.

Soal 1 = 6
Soal 2 = 16
Pengoreksi = kelompok
Keju ;)