Anda di halaman 1dari 34

Apa yang akan anda lakukan

dengan limbah ampas tebu?




1. PROSES PEMBUATAN KOMPOSIT PENGELOHAN SERAT AMPAS
TEBU :

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam industri telah
mendorong peningkatan dalam permintaan terhadap material
komposit. Perkembangan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam industri mulai menyulitkan bahan konvensional seperti
logam untuk memenuhi keperluan aplikasi baru. Industri
pembuatan pesawat terbang, perkapalan, mobil dan industri
pengangkutan merupakan contoh industri yang sekarang
mengaplikasikan bahan-bahan yang memiliki sifat berdensitas
rendah, tahan karat, kuat, tahan terhadap keausan dan fatigue
serta ekonomis sebagai bahan baku industrinya. Hal ini mendorong
pengembangan teknologi pembuatan material komposit
berkembang lebih pesat untuk menjawab permintaan pasar,
khususnya permintaan industri fabrikasi.

METODOLOGI PERCOBAAN
Tahap I : Persiapan
Bahan Penelitian

Bahan-bahan yang
dipakai dalam
penelitian ini adalah :
serat ampas tebu
(baggase), resin
polyester, katalis, dan
wax.






Peralatan

Peralatan yang
digunakan meliputi :
alat cetak, penjepit
kayu, timbangan digital,
gelas ukur, mixer,
gerinda, gergaji dan
kuas cat.
PROSEDUR PERKERJAAN
Tahap II : PROSES PEMBUATAN KOMPOSIT
Pengolahan Serat Ampas Tebu:
1. Tanaman tebu merupakan jenis Saccharum
officinarum yang merupakan tanaman tebu
untuk industri gula yang banyak dibudidayakan
oleh para petani di Indonesia.
2. Tanaman tebu ini akan siap dipanen kira-kira
telah berumur 1 tahun, setelah memiliki
ketinggian 1,5-3 meter dan berdiameter 1,8-5
cm
3. Dalam industri pengolahan batang tebu
menjadi gula, air perasan tebu dipisahkan serat
ampas tebu. Pemisahan ini menggunakan
bantuan mesin. Air perasan nantinya akan
diolah gula sebagai produk industri, sedangkan
serat ampas tebu menjadi limbah industri yang
biasanya akan diolah dan dimanfaatkan oleh
industri lain menjadi pupuk, pulp kertas,
penguat asbes semen, bahan bakar boiler dan
lain sebagainya


4. Serat ampas tebu dari sisa limbah industri
gula direndam 1 hari lalu dicuci bersih untuk
menghilangkan rasa manis dari serat, kemudian
disisir dengan sikat kawat untuk menghilangkan
gabus yang menempel dengan serat. Setelah itu
dikeringkan dengan diangin-anginkan selama 7
hari.
5. Serat ampas tebu yang telah dikering
dilakukan penyisiran lagi untuk menghilangkan
gabus
6. Serat dalam pelepah tebu diambil satu
persatu secara manual dengan
menggunakan tangan untuk mendapatkan
benang-benang serat tebu
7. Benang-benang serat yang telah terkumpul
bervariasi baik diameter maupun kualitas
keuletannya, oleh karena itu benang-benang
serat diikat dengan jumlah antara 8-12 benang
yang memilki diameter 2,5 mm dengan tujuan
agar diperoleh serat yang memiliki diameter dan
tingkat keuletan yang homogen.
8. Proses selanjutnya melakukan penganyaman
serat secara manual dengan menggunakan
tangan untuk memperoleh serat ampas tebu
dalam bentuk lembaran-lembaran. Metode
bentuk susunan serat yang digunakan yaitu;
woven roving dengan susunan anyaman tipe 1-
1. Jumlahnya sesuai dengan kebutuhan
penelitian.




Pembuatan Komposit Berpenguat Serat Ampas Tebu
Proses pembuatan komposit dilakukan sebagai berikut :
a) Menyiapkan bahan-bahan yang akan diperlukan
dalam pengerjaan pembuatan material komposit.
Bahan-bahan yang dibutuhkan, antara lain;
lembaran-lembaran serat ampas tebu hasil
penganyaman.

Matrik,
Dalam penelitian ini jenis material polymer yang dipilih
sebagai bahan matriks adalah jenis Unsaturated
Polyester Resin dengan merk dagang YUKALAC 157
BQTN-EX dengan data teknis sebagai berikut;
Massa Jenis : 1,19 gr/cm3
Modulus Young : 1,18.103 N/mm2
Angka Poison : 0,33
Kekuatan Tarik : 12,07 N/mm2

Dalam resin ini, mengandung komposisi campuran resin
polyester tak jenuh murni dan bahan pelarut sterin
dengan perbandingan 1:3. Selain itu di tambah katalis
berupa MEKPO (Metil Etil Keton Peroksida) sebagai zat
curing, mempersingkat waktu curing.
Wax,
Wax berfungsi memudahkan melepas komposit dari
cetakan.

Peralatan yang digunakan yang menunjang dalam
pengerjaan pembuatan material komposit digunakan,
antara lain;

Alat Cetakan;
Direncanakan berbahan kaca dengan ketebalan 10 mm,
berdimensi 300 x 300 x 7 mm untuk cetakan spesimen
kuat tarik dan dimensi 300 x 300 x 13 mm untuk cetakan
spesimen kuat impak, terdiri atas tiga bagian yaitu;
bagian tepi, bagian alas dan bagian tutup cetakan..

Timbangan;
Untuk mengukur berat serat dan matriks, timbangan
yang digunakan adalah timbangan digital agar tingkat
ketelitian ukuran lebih baik.

Gelas Ukur;
Untuk mengukur volume resin yang akan dituang di
cetakan.

Mixer:
Untuk mengaduk antara resin dengan katalis agar
campuran katalis dengan resin menyatu.
Kuas (1).

Kuas
Untuk meratakan resin yang dituang ke dalam cetakan di atas serat.

Penjepit kayu;
Untuk menjepit tutup cetakan supaya permukaan rata dan mengatur ketebalan lamina yang
diinginkan.

Sarung Tangan;
Untuk melindungi tangan agar tidak bersentuhan langsung dengan campuran resin.

Gergaji;
Digunakan untuk memotong spesimen sesuai bentuk standar ASTM.

Gerinda;
Untuk memotong dan menghaluskan spesimen sesuai standar ASTM.

c) Menghitung ketebalan lamina

d) Menghitung fraksi berat dan volume bahan. Setelah diketahui fraksi berat dan volume untuk
serat untuk satu cetakan (300 x 300 x 7 mm dan 300 x 300 x 13). Maka lembaran-lembaran serat
dapat dibagi sesuai dengan dimensi panjang dan lebar cetakan.

2. Pemanfaatan Limbah Ampas Tebu Untuk
Pembuatan Kertas Dekorasi Dengan Metode
Organosolv

Kertas yang sering kita gunakan biasanya terbuat dari kayu
yang diolah dengan teknologi modern sehingga sampai ke
tangan kita. Penggunaan kertas di dunia saat ini telah
mencapai angka yang sangat tinggi. Simajuntak (1994)
mengemukakan 90% pulp dan kertas yang dihasilkan
menggunakan bahan baku kayu sebagai sumber bahan
berserat selulosa. Dapat diprediksikan bahwa akan terjadi
eksploitasi hutan secara besar-besaran yang dapat
mengakibatkan terganggunya kestabilan lingkungan
sehingga perlu mendapat perhatian khusus. Untuk
mengatasi hal ini pemerintah harus mencari alternatif
penggunaan kayu hutan sebagai bahan baku pembuat pulp
dan kertas. Bahan alternatif yang dapat digunakan antara
lain jerami padi, enceng gondok, dan ampas tebu
METODE PENELITIAN

Bahan dan alat:
Bahan yang digunakan antara lain
ampas tebu yang diperoleh dari PG. Tasikmadu,
Karanganyar, kertas bekas , etanol 70% dibeli di
BhrataChem, H2SO4, PVA (poli vinil alkohol) dan
PVAc. Alat yang digunakan adalah Tensile
strenght untuk uji kuat tarik.
PROSEDUR PERKERJAAN
Proses deligniikasi dilakukan dengan metode organosolv menggunakan pelarut organik
yaitu etanol.Ampas tebu kering dimasukkan ke dalam labu alas bulat. Ke dalamnya
ditambahkan etanol 40% (larutan pemasak) dan asam asetat pekat (sebagai katalis).
Perbandingan antara larutan pemasak dengan ampas tebu adalah 10:1, 15:1, 20:1,
dan 25:1 (v/b). Volume katalis yang digunakan pada setiap perbandingan adalah sama
yaitu 5 ml. Larutan dimasak pada suhu 120 oC selama 4 jam. Pulp ampas tebu hasil
deligniikasi selanjutnya dicuci untuk menghilangkan sisa etanol. Pulp kertas dibuat
dengan cara merendam kertas bekas selama 24 jam. Pulp ampas tebu dan pulp kertas
masing masing digiling. Pada penggilingan pulp kertas bekas ditambahkan perekat
PVAc 5 % dari berat kertas.
Proses pencetakan lembaran dimulai dengan
melakukan pengenceran pulp kertas bekas dan
pulp ampas tebu. Kedua pulp dicampur dengan
perbandingan 1:1. Pewarnaan dilakukan sebelum
proses pengenceran dimana pewarnaan
dikondisikan beberapa jam agar warna yang
diberikan dapat diserap dengan baik oleh pulp.
Dengan menggunakan alat pencetak kertas , kertas
dicetak dan dipres pada kaca. Proses pengeringan
dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari
HASIL
Proses delignivikasi ampas tebu, dengan perbandingan etanol dengan
ampas tebu 10:1, 15:1, 20:1, dan 25:1 (v/b). Dari hasil tersebut
diperoleh bahwa semakin besar jumlah etanol (larutan pemasak)
ampas tebu yang diperoleh semakin halus dan lunak. Hal ini
disebabkan karena semakin banyak larutan pemasak, semakin banyak
lignin yang rusak dan terpisah dari selulosa. Selain itu, sangat
dimungkinkan terjadinya pemutusan rantai polimer selulosa sehingga
ampas tebu yang terbentuk semakin halus dan lunak dengan
pertambahan jumah etanol.
3. Bahan pembuat kertas
Selama ini sisa ampas batang tebu di Indonesia hanya
dijadikan bahan bakar pabrik gula. Tapi sekarang ada
teknologi menjadikan ampas tebu tadi sebagai bahan baku
membuat kertas waterproof yang setelah tidak berguna
dapat hancur melalui proses pembusukan.

Penemuan ini terjadi di Australia. Melalui proses bio-
engineering, selulosa pada ampas tebu disulap menjadi
kertas dan karton waterproof. Kalau sudah tidak terpakai,
tidak perlu dimasukkan ke incinerator, tapi cukup dibawa ke
tempat pembuangan sampah biasa nanti akan hancur
dengan sendirinya dimakan bakteri. Atau sampahnya
didaur ulang kembali menjadi kertas dan karton
waterproof.

4. Pembangkit listrik
Kebutuhan energi di pabrik gula dapat dipenuhi oleh sebagian ampas dari
gilingan akhir. Sebagai bahan bakar ketel, jumlah ampas dari stasiun
gilingan adalah sekitar 30% berat tebu dengan kadar air sekitar 50%.
Berdasarkan bahan kering, ampas tebu terdiri dari unsur C (karbon) 47%,
H (hidrogen) 6,5%, O (oksigen) 44% dan Ash (abu) 2,5%. Menurut rumus
Pritzelwitz (Hugot, 1986) tiap kilogram ampas dengan kandungan gula
sekitar 2,5% akan memiliki kalor sebesar 1825 kkal. Nilai bakar tersebut
akan meningkat dengan menurunnya kadar air dan gula dalam ampas.
Dengan penerapan teknologi pengeringan ampas yang memanfaatkan
energi panas dari gas buang cerobong ketel, dimana kadar air ampas turun
menjadi 40% akan dapat meningkatkan nilai bakar per kg ampas hingga
2305 kkal. Sehingga penggunaannya sebagai bahan bakar ketel di pabrik
gula dapat meningkatkan produksi uap sekitar 10%. Dari segi pemanfaatan
energi ampas secara optimal, teknologi pengeringan tersebut telah banyak
diandalkan oleh banyak pabrik gula di luar negeri.
5. Alternatif biobriket
Biobriket merupakan sumber alternatif yang berupa bahan bakar
padat, bahannya berasal dari biomassa, contohnya: ampas tebu,
sekam padi, jerami, dll. Dengan pemanfaatan menjadi biobriket
maka produk biobriket yang dihasilkan dapat digunakan sebagai
bahan energi alternatif pengganti briket batu bara diketahui berasal
dari sumber alam yang tidak dapat diperbaharui, baik pada skala
rumah tangga ataupun industri kecil.
Dengan pemanfaatan ini, maka pemakaian bahan bakar yang
selama ini dari sumber bahan bakar fosil yang bersifat tidak dapat
diperbaharui dapat direduksi. Pemakaian batu bara menimbulkan
masalah utama polusi yang bersifat merugikan, yaitu adanya emisi
unsur belerang ke udara bebas. Permasalahan ini dapat ditekan
dengan penggunaan biobriket. Ampas mudah terbakar karena di
dalamnya terkandung air, gula, serat dan mikroba, sehingga bila
tertumpuk akan terfermentasi dan melepaskan panas (Subroto,
2006).


6. Sebagai pakan ternak
Ampas tebu merupakan Iimbah pabrik gula yang
banyak ditemukan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan
sangat mengganggu apabila tidak dimanfaatkan.
Saat ini belum banyak peternak menggunakan ampas
tebu tersebut untuk bahan pakan ternak, hal ini karena
ampas tebu mentiliki serat kasar dengan kandungan
lignin sangat tinggi (19,7%) dengan kadar protein kasar
rendah (2,8%).
Namun limbah ini sangat potensi sebagai bahan pakan
ternak. Melalui fermentasi menggunakan probiotik,
kualitas dan tingkat kecernaan ampas tebu diperbaiki
sehingga dapat digunakan sebagai bahan pakan.
7. Sebagai pupuk kompos
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Departemen
Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor
menyebutkan bahwa kompos bagase (kompos yang dibuat
dari ampas tebu) yang diaplikasikan pada tanaman tebu
(Saccharum officinarum L) meningkatkan penyerapan
nitrogen secara signifikan setelah tiga bulan pengaplikasian
dibandingkan dengan yang tanpa kompos, namun tidak ada
peningkatan yang berarti terhadap penyerapan fosfor,
kalium, dan sulfur.
Penggunaan kompos bagase dengan pupuk anorganik
secara bersamaan tidak meningkatkan laju pertumbuhan,
tinggi, dan diameter dari batang,
namun diperkirakan dapat meningkatkan rendemen gula
dalam tebu.
8. Sebagai bahan bakar kereta uap
Di daerah Yogyakarta terdapat sebuah pabrik gula yang
menggunakan kereta uap untuk alat transportasi dalam
pabrik tersebut.
Pabrik tersebut memanfaatkan tebu sebagai bahan bakar
kereta uap.
Bagian dari tebu yang digunakan adalah tebu yang sudah
menjadi ampas.
Sisa hasil pengolahannya tersebut dibakar di mesin kereta
uap tersebut.
Pembakaran tebu yang dapat disetarakan kecepatan
pembakarannya dengan batu bara ini menghasilkan uap
yang mampu menggerakan turbin-turbin dalam mesin
sehingga dapat membuat kereta uap bekerja atau berjalan.
9. Sebagai media tanam
Ampas tebu memiliki selulosa dan protein cukup tinggi
yang merupakan sumber nutrisi bagi pertumbuhan
jamur.
Pemanfaatan ampas tebu sebagai bahan organik dapat
berpotensi untuk menjadi pupuk kompos yang dapat
menggantikan pupuk organik dan bermanfaat bagi
pertumbuhan tanaman tembakau Deli.
Proses pengomposan bahan organik dalam jumlah
yang banyak harus didekomposisikan sehingga
melapuk dengan tingkat C/N yang rendah yakni 10
12 (Hasibuan,2004)

10. Sebagai bahan pembuat papan
partikel
Telah dibuat paroduk baru papan dari limbah industry gula berupa ampas
tebu/ bagasse dengan menggunakan perekat urea Formaldehyde (UF).
Papan dikempa dengan tekanan 25 kg/cm pada suhu 140 c.
kadar perekat yang digunakan adalah 10% dan 12% dengan penambahan
paraffin cair (wax) divariasikan 0%, 1% dan 2% dari berat kering partikel.
Hasil penelitian ini memang belum dapat menghasilkan papan partikel
yang memiliki sifat fisis dan mekanik yang sepenuhnya memenuhi standar,
namun upaya pemanfaatan ampas tebu/ bagasse memiliki keuntungan
lain.
Pemanfaatan ampas tebu mempunyai dampak terhadap lingkungan
karena menggunakan sumber daya yang terbuang sehingga dapat
menghasilkan material baru dan dapat meminimalkan pemakaian kayu
yang berasal dari hutan dimana ketersediaannya semakin luas.
11. Sebagai silica gel
Pembakaran ampas tebu (bagasse) menghasilkan limbah padat
yang berupa abu.
Sementara dalam abu bagasse diektahui mengandung silika
51% dimana silika ini memiliki fasa amorf.
Kandungan silika dalam abu bagasse yang cukup tinggi
menjadikan abu bagasse berpotensi sebagai bahan baku
pembuatan silika gel yang mempunyai nilai tambah secara
ekonomi.
Pengembangan ini dilakukan untuk membuat sebuah inovasi dari
sesuatu yang tidak terpakai menjadi sesuatu yang berdaya jual.
Pembuatan silika gel dari ampas tebu dilakukan melalui proses
ekstraksi basa ( NaOH ) dan sol-gel. Berdasarkan hasil pengujian
FTIR yang telah dilakukan menunjukkan bahwa silika yang telah
dibuat bisa dikatakan sebagai silica gel. Hasilnya memperlihatkan
adanya gugus Si-O-Si, Si-O, Si-OH.
12. Sebagai campuran semen
Dengan perbandingan 1 semen : 12 ampas tebu, dan ternyata
memberi hasil yang lebih kuat, ringan dan tahan terhadap kondisi
agresif, dan tentu saja membutuhkan biaya yang lebih ekonomis.
Telah dicoba dalam pembuatan panil gypsum, dimana ampas tebu
dipakai sebagai bahan tambah mampu menghasilkan panil gypsum
yang memiliki kuat lentur yang baik

Penambahan serat tebu sebagai bahan pengisi dan fly ash sebagai
subsitusi semen bertujuan agar menghasilkan genteng yang ringan
dan baenilai ekonomis.Serat baggase yang dipergunakan jangan
terlalu pendsek dan jangan terlalu panjang karena akan
menghasilkan genteng beton yang tidak standart.Serat baggase
yang terlalu pendek tidak akan mengikat bahan pengikat dan terlalu
panjang juga kurang efektif karena akan terjadi penggumpalan serat
dan penyebaran serat tidak merata (Sudarmoko. 1993)


13. Sebagai alat penyaring air
Dari prosedur penelitian yang telah dilakukan serta hasil data yang
didapat, maka diperoleh hasil arang dari ampas tebu dapat
menetralkan air dengan hasil rata rata kadar pH nya adalah 7. Hal
ini menunjukkan bahwa air yang dihasilkan mempunyai kadar
netral. Sedangkan air yang disaring dengan saringan tanpa arang
ampas tebu pH nya tidak netral yaitu dengan rata rata 6.66 untuk
air sumur, 6.00 untuk air kolam dan 5.66 untuk air gambut dan air
sungai.
Dari prosedur penelitian yang telah dilakukan serta hasil data yang
didapat, maka diperoleh hasil arang dari ampas tebu dapat
menjernihkan air dengan hasil penyaringan air adalah bening. Hal
ini menunjukkan bahwa air yang dihasilkan jernih. Sebaliknya air
yang disaring dengan saringan tanpa arang ampas tebu warnanya
hanya berubah sedikit. Air kolam menjadi hijau muda sedangkan air
gambut dan air sungai menjadi coklat muda.

14. Sebagai bahan pembuat tisu
Untuk membuat tisu dari ampas tebu, kita perlu membersihkan ampas
tebu dengan merendamnya dalam air panas.
Kemudian, rendaman itu diaduk sampai bersih dan direndam kembali.
Setelah bersih, keringkan ampas tebu. Setelah selesai tahap persiapan,
kita bisa memulai pembuatan tisu dengan pertama-tama menghilangkan
empulu.
Caranya, dengan menumbuk ampas tebu sampai tinggal seratnya.
Hasil tumbukan ampas tebu itu lalu dimasak menggunakan air dan asam
asetat.
Setelah selesai, cuci lagi ampas tebu dengan air hingga kandungan asam
asetatnya habis. Selanjutnya, pisahkan serat mandiri ampas tebu menjadi
serat serat halus menggunakan proses disintegrasi.
Kemudian, saring dan keringkan serat halus ampas tebu ini. Hasil
penyaringan inilah yang akan dibuat menjadi lembaran kertas tisu. Kita
perlu juga memperhatikan ketebalannya.

15. Sebagai bahan pembuat surfaktan
Ampas tebu dapat digunakan sebagai bahan untuk
pembuatan surfaktan karena memiliki kandungan lignin
yang cukup tinggi yaitu sekitar 19,6 %.
Mekanisme terbentuknya lignosulfonate ini terjadi melalui
dua reaksi, yaitu hidrolisis dan sulfonasi. Hidrolisis
merupakan reaksi pemecahan molekul lignin/lignosulfonat
(polimer) menjadi molekul yang lebih kecil.
Sulfonasi merupakan reaksi antara ion bisulfite dengan
molekul lignin. Gugus sulfonate pada lignosulfonate
merupakan gugus hydrophilic sehingga menyebabkan
lignosulfonat mempunyai struktur amphipatic (surfaktan).
Reaksi yang terjadi pada proses sulfonasi lignin ini termasuk
reaksi ireversibel dan bersifat endotermis.
16. Sebagai bahan pembuat kertas seni
Sampah ampas tebu tersebut dapat diolah menjadi bahan yang
bernilai lebih, yaitu digunakan untuk bahan dasar pembuatan kertas
seni karena tebu adalah jenis pohon yang berserat. Maka bisa
disimpulkan bahwa ampas tebu bisa digunakan sebagai bahan dasar
pembuat kertas karena sifat pohonnya yang berserat.
Yang lebih menarik bahwa kertas seni dapat dimanfaatkan menjadi
berbagai barang kerajinan yang mempunyai nilai tambah yang
sangat mengagumkan. Maka dari itu pemakaian ampas tebu
sebagai bahan pembuat kertas seni bisa memberikan manfaat
antara lain: pemanfaatan sampah industri, sumber pendapatan
baru bagi masyarakat serta penghematan kayu sebagai bahan dasar
kertas dengan tujuan untuk mengurangi pemanasan global dan
pelestarian lingkungan.

17. Sebagai kerajinan tangan
limbah tebu disulap menjadi hasil kerajinan yang
bernilai tinggi, seperti lampion, tempat pulpen,
asbak, handphone, hingga tempat tisu. Bahkan
dari limbah tebu bisa dibuat plafon rumah.

Kerajian tersebut terlihat cantik dan unik, serta
bernilai ekonomi tinggi. "Untuk lampion di jual Rp
70-100 ribu per unit, alat-alat tulis kisaran Rp 30-
50 ribu, plafon Rp 100 ribu per meter,
Daftar pustaka
Lidianti, V. (2012). Pemanfaatan Ampas Tebu Sebagai
Media Pertumbuhan Jamur Merang (volvariella
Volvacea). (Undergraduate thesis, Duta Wacana
Christian University, 2012). Retrieved from
http://sinta.ukdw.ac.id. Diakses 20 September 2014.
Malau, Krisna Margaretta. 2009. Pemanfaatan ampas
tebu sebagai bahan baku pembuatan papan partikel.
Medan: USU.
Hasibuan, B. E. 2004. Pupuk dan Pemupukan. Medan:
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Anda mungkin juga menyukai