Anda di halaman 1dari 75

Oleh :

Najamuddin Nawawi
KULIAH GENESA ENDAPAN BAHAN GALIAN
GENESA ENDAPAN (DEPOSIT)
BAHAN GALIAN/MINERALISASI
I. PENDAHULUAN
- Dibutuhkan dan dicari dalam mendukung kegiatan
industri.
- Mengerti dan memahami asal muasal/genesa (proses
terakumulasinya suatu deposit mineral).
- Petunjuk dalam kegiatan eksplorasi, agar terarah dan
evaluasi prospek dan ekonomis suatu bahan galian.
- Petunjuk dalam kegiatan tatacara eksploitasi dan
pengolahan



Genesa endapan bahan galian adalah genesa bahan galian
yang difokuskan pada logam atau bijih (ore), atau dapat
juga diartikan proses pembentukan bijih, biasa juga disebut
mineralisasi logam (primer dan sekunder).
Beberapa pengertian dari bahan galian :
1. UU no 11/1967, tentang pokok-pokok pertambangan,
diartikan sebagai unsur-unsur kimia, mineral, bijih dan segala
macam batuan, termasuk batu mulia yang merupakan
endapan alam;
2. PP no. 27/1980, penggolongan bahan galian atas 3 (tiga) :
1. Golongan A, gol bahan galian strategis, yaitu strategis
terhadap pertahanan dan keamanan negara, serta
perekonomian negara (migas, unsur radio aktif, batubara, dll)
2. Golongan B, golongan bahan galian vital, yaitu dapat
menjamin hajat hidup orang banyak atau yang dianggap
dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara luas (besi,
mangan, kromit, bauksit, tembaga, timah, seng, emas,
platina, air raksa, dll);
3. Golongan C, golongan bahan galian yang tidak termasuk
golongan A dan B (pasir, batu, talk, magnesit, batugamping,
pasir kuarsa, dll).
3. UU no.4/2009, tentang pertambangan, mineral dan
batubara.
- Defenisi mineral, senyawa anorganik yang terbentuk di
alam, memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan
kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan,
baik dalam bentuk lepas atau padu.
- Penggolongan bahan galian atas 5 (lima), yaitu :
Radioaktif, batubara, logam, bukan logam dan golongan
batuan

II. MATERI BAHASAN
1. Pembentukan endapan bahan galian/mineralisasi
magmatik : magmatik awal (orthomagmatik), dan
magmatik akhir (pegmatik/pneumatolitik)
2. Pembentukan endapan bahan galian hidrotermal
(porfiri, mesotermal dan epitermal)
3. Pembentukan endapan residu, dan
4. Pembentukan endapan bahan galian yang
berhubungan dengan aktifitas endapan aluvial
III. HUBUNGAN KONSEP/KAIDAH GEOLOGI
DENGAN PROSES PEMBENTUKAN ENDAPAN
BAHAN GALIAN
1. Berhubungan dengan unsur tektonik atau
keberadaannya dapat diterangkan dengan teori tektonik
lempeng
2. Penyebaran atau keterdapatannya dipermukaan bumi
tidak merata
3. Pembentukan endapan bahan galian berhubungan
dengan :
A. Magma, larutan pijar/panas yang bersifat mobil dan
terbentuk secara alamiah pada mantel bumi bagian atas
atau pada kerak bumi; temperatur sangat panas dari



625 (magma felsik) - > 1200 derajat celsius (magma
mafik), komposisi magma tidak homogen, sebagian
kaya/dominan unsur ferromagnesian dan sebagian kaya
unsur silika, sodium, potasium, volatile, zenolith reaktif
atau substansi lainnya.
B. Komposisi magma juga akan terus berubah, karena
adanya reaksi kimia selama proses asimilasi dan
difrensiasi dalam magma berlangsung. Magma tidak
bersifat statis dan bukan merupakan suatu sistim
tertutup.
- Asimilasi magma adalah proses larutnya batuan
samping (country rock) kedalam magma sebagai akibat
pergerakan magma.
Penyebab terjadinya pergerakan magma adalah :
1. Tekanan grafitasi batuan sekitarnya terhadap dapur
magma
2. Tekanan lateral karena gerakan tektonik
3. Perubahan volume pada waktu magma mengkristal
dimana gas gas keluar
4. Stoping (batuan samping yang jatuh ke dalam magma
akibat pergerakan/desakan magma ke batuan samping)
- Difrensiasi magma adalah proses yang penyebabnya
magma terpisah menjadi 2 bagian atau lebih yang
berbeda komposisi
- Difrensiasi magma meliputi : 1. Liquid immiscibility,
pembentukan 2 liquit yang tidak bercampur dalam suatu
tempat (spt minyak dan air), 2. Kristalisasi fraksional,
pemisahan kristal yang terbentuk lebih dulu dari larutan
karena gaya gravity settling, mekanika filter pressing
atau pengaruh arus konveksi dalam dapur magma,
3. Transport material dalam larutan (magma) oleh
pemisahan gas dari magma terletak pada bagian atas
dapur magma, dan 4. Dilusi termal, gradient temperatur
menyebabkan perbedaan mineral yang terbentuk.
Lingdren, 1911, membuat suatu klasifikasi yang
didasarkan pada genetik/asal muasal suatu
endapan/deposit bijih/ore (deposit yang meliputi mineral
bijih, mineral gang dan batuan samping, dimana dapat
diekstraksi satu atau lebih jenis logam). Dengan fokus
hasil penelitian terhadap kumpulan mineral yang
dilakukan, baik di lapangan maupun dilaboratorium.
Fokus penelitian adalah kondisi tekanan (P) dan
temperatur (T) pembentukan dari masing masing
mineral.
Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut, disimpulkan
bahwa kebanyakan deposit/endapan mineral terbentuk
dari :
(I) Proses fisika-kimia dalam intrusi dan ekstrusi batuan
beku, larutan atau dalam gas, yang terkumpul dalam
jumlah besar, dan
(II) Proses konsentrasi secara mekanik
Oleh karena klasifikasi tersebut didasarkan terhadap T dan
P dan kadang hanya didasarkan pada pengamatan
dilaboratorium, maka beberapa deposit belum dapat
dimasukkan kedalam klasifikasi tersebut, dan harus
dipisahkan dengan istilah lain, seperti deposits of
native copper dan deposits resulting from oxidation
and supergen sulfide enrichment serta regionally
metamorphosed sulfide deposits.
KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN
NIGGLI (1925), didasarkan terhadap pemisahan proses
magmatik menjadi plutonik dan vulkanik

LINDGREN (1929), didasarkan terhadap hasil pengamatan
lapangan dan laboratorium terhadap deposit, yaitu tekanan (P)
dan temperatur (T)

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT
SCHNEIDERHOEN (1941)

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT
PETRASCHECK
KLASIFIKASI ENDAPANN BAHAN GALIAN MENURUT Mead L.
Jensen dan Alan M. Bateman (1981)

KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT NIGGLI
I. Plutonik (Intrusif)
A. Ortomagmatik
1) Intan, platina khrom
2) Titan besi nikel tembaga
B. Pneumatolitik Pegmatitik
1) Logam logam berat alkali tanah fosfor titan
2) Si alkali fluorin Br Sn Mo tungsten
3) Assosiasi tourmalin kuarsa
C. Hidrotermal
a) Besi tembaga emas arsenik
b) Timbal seng perak
c) Nikel kobalt arsenik perak
d) Karbonat oksida sulfat - fluorida
KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT NIGGLI
II. Volkanik (extrusif)
a) Sn Ag Bi
b) Logam logam berat
c) Emas perak
d) Sb Hg
e) Tembaga (native copper)
f) Endapan subaquatic volcanik dan biokimia
KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT LINDGREN (1929)
I. Endapan yang terbentuk melalui proses konsentrasi kimia (suhu dan
tekanan bervariasi)
a) Dalam magma, oleh proses diferensiasi
1) Endapan magma (segresi magma, magmatik cair) T 700
o
1500
o
C ; P
sangat tinggi.
2) Endapan endapan pegmatit ; T sedang sedang tinggi; P sangat tinggi.
b) Dalam badan batuan
1) Konsentrasi karena ada penambahan dari luar (epigenetik)
a. Asal bahan tergantung dari erupsi batuan beku
i. Oleh hembusan langsung bekuan (magma)
a. Dari efusif; sublimat, fumarol; T 100
o
600
o
C; P atmosfer
sedang
b. Dari intrusif; igneous metamorphic deposits; T 500
o
800
o
C; P
sangat tinggi
ii. Oleh penambahan air panas yang terisi bahan magma
a. Endapan
2
Hypotermal; T 300
o
500
o
C; P sangat tinggi
b. Endapan
2
Mesotermal; T 200
o
300
o
C; P sangat tinggi
c. Endapan
2
Epitermal; T 50
o
200
o
C; P sangat tinggi
d. Endapan
2
Teletermal; T rendah; P rendah
e. Endapan
2
Xenotermal; T tinggi-rendah; P sedang - atmosfer
KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT LINDGREN (1929)
b. Asal bahan tidak tergantung aktivitas magma, sirkulasi air meteorik pada
kedalaman sedang; T 0
o
100
o
C; P sedang
2) Konsentrasi bahan dalam badan itu sendiri
a. Konsentrasi oleh metamorfisma dinamik & regional; T s/d 400
o
C; P tinggi
b. Konsentrasi oleh air tanah dalam; T 0
o
100
o
C; P sedang
c. Konsentrasi oleh lapukan batuan dan pelapukan residu dekat
permukaan; T 0
o
100
o
C; P sedang atmosfer

c) Dalam masa air permukaan
1. Oleh interaksi larutan; T 0
o
70
o
C; P sedang
1. Reaksi anorganik
2. Reaksi organik
II. Oleh penguapan pelarut

II. Endapan2 yang dihasilkan melalui proses konsentrasi mekanis, T dan P sedang
KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT SCHNEIDERHOEN (1941)
I. Endapan
2
intrusif dan magmatik cair

II. Endapan
2
pneumatolitik
A. Urat
2
pegmatitik
B. Urat
2
pneumatolitik dan impregnasi
C. Ubahan
2
pneumatolitik kontak

III. Endapan2 hidrotermal
A. Asosiasi emas dan perak
1. Kompak hipabisal (cebakan dalam)
a. Urat
2
emas kuarsa katatermal (sampai hipotermal)
b. Endapan
2
impregnasi mengandung emas pada batuan silikat
c. Endapan
2
ubahan (replacement) mengandung emas pada batuan karbonat
d. Endapan
2
emas timbal selenium - mesotermal
2. Kompak subvulkanik (dekat permukaan)
a. Urat
2
emas kuarsa dan urat
2
perak emas propilitik epitermal
b. Urat
2
emas telurida epitermal
c. Urat
2
emas selenium epitermal
d. Endapan
2
emas alunitik
e. Endapan
2
perak epitermal
KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT SCHNEIDERHOEN (1941)
B. Asosiasi pirit dan tembaga
C. Asosiasi timbal perak seng
D. Asosiasi perak kobalt nikel bismut uranium
E. Asosiasi timah perak tungsten bismut
F. Asosiasi antimon raksa arsen selenium
G. Asosiasi nir sulfida
H. Asosiasi nir metalik

4. Endapan2 ekshalasi
KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT PETRASCHECK
I. Endapan bijih magmatogen
1. Endapan magmatik cair (intra magmatik)
2. Endapan pegmatitik (peri magmatik)
3. Endapan pneumatolitik (peri magmatik)
4. Endapan hidrotermal (apo magmatik)
5. Endapan vulkano sedimenter (mis. kuroko)

II. Endapan hasil pelapukan
1. Endapan hasil pelapukan mekanis (mis. Eluvial Pt)
2. Endapan hasil pelapukan kimiawi (mis. laterit)
3. Endapan hasil larutan pelapukan (mis. Ni - hidrosilikat)

III. Endapan sedimenter
1. Endapan sedimenter mekanis (mis. Aluvial Au, Sn)
2. Endpaan sedimenter kimiawi dan sin diagenetik
a) Endapan hasil larutan pelapukan yang terkonsentras di daerah kering (mis.
Endapan Cu Red Bed)
b) Endapan hasil larutan pelapukan larutan garam yang termigrasi (mis. Endapan
Pb Zn Mississippi)
KLASIFIKASI ENDAPAN BAHAN GALIAN MENURUT PETRASCHECK
c) Endapan oolitik marine (mis. Fe Oolitik, Mn oolitik)
d) Endapan sulfida sedimenter (mls, Kupfershiefer)
e) Endapan akibat pengaruh pemisahan bakteri (mls. bog iron ore, end danau)

IV. Endapan Metamorfosa
1. Endapan metamorfosa kontak
2. Endapan metamorfosa regional

V. Endapan metamorfogen
1. Endapan metamorfosa hidatogen
2. Endapan metamorfosa magmatogen
3. Endapan granitisasi (mis. End. Sulfida berbentuk skelet)

VI. Endapan regenerasi
1. Endapan hidrotermal sekunder (mis. End Pb/Zn di batuan gamping, Kara)
2. Endapan regenerasi palingen (mls. End. Sn Ag Sb di Bolivia)
Mead L. jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi sebagai
berikut :
TEORI PROSES TIPE DEPOSIT
Terbentuk Oleh Proses Internal
Kristalisasi magmatik
Magmatic crystallization
Presipitasi minerak bijih sebagai
unsur utama atau unsur minor
batuan beku dalam membentuk
disseminated gratis atau
segregation.
1. Disseminated di kimberlit
2. Mineral REE di
carbonalites
3. Semua deposit granit,
basal, dunit, nefelin senit
Segresi magmatik
Magmatic segregation
Pemisahan minerak biji oleh
kristalisasi traksinasi dan proses
yang berhubungan selama
difrensiasi magma

Liquation. Pemisahan liquid
(liquid immiscibility),
pemisahan sulfida dari magma,
larutan sulfida-oksida atau
oksida yang terakumulasi
bawah silikat atau diinjeksikan
ke batuan samping atau pada
sejumlah kasus dierupsikan ke
permukaan
1. Layer Kromit di Great
Dyke Zimbabwe Dan
bushveld Complex RSA


1. Tubuh bijih tembaga nikel
Sudbury, Canada;
Pechenga, USSR dan
Yilgam Blocl, Westerm
Australia
2. Deposit titanium Allard
Lake, Quebec, Canada
Mead L. jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi sebagai
berikut :
TEORI PROSES TIPE DEPOSIT
Terbentuk Oleh Proses Internal
Hidrotermal
hydrothermal
Pengendapan dari hot
aquaeous solution, yang bisa
berasal dari magmatik,
metamorfik, atau sumber
lainnya
1. Vein dan stockwork
timah-tungsten-tembaga
Cornwall, UK
2. Deposit tembaga porfiri
panguna, PNG dan
Bingham, USA
Sekresi Lateral
Lateral secretion
Difusi material pembentuk bijih
atau gangue dari batuan
samping kedalam patahan atau
struktur lainnya
1. Deposit tembaga
yellowknife, Canada
2. Deposit emas Mother
Lode, USA
Mead L. jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi sebagai
berikut :
TEORI PROSES TIPE DEPOSIT
Terbentuk Oleh Proses Internal
Proses Metamorfik
Metamorphic Processes
Metamorfisme kontak atau
regional yang menghasilkan
deposit mineral industri.

Deposit pirometasomatik
(skarn) terbentuk oleh proses
replasemen batuan samping
disekitar intrusi.

Konsentrasi awal atau furlher
elemen bijih oleh proses
metamorfisme, seperti
granitisasi, proses alterasi, dll.
1. Deposit Andalusit,
Transvaal, RSA.
2. Deposit garnet, NY, USA

1. Deposit tembaga Mackay,
USA dan Craigmont,
Canada.
2. Deposit talk, Luzenac,
France


1. Beberapa vein emas dan
deposit disseminated
nikel dalam tubuh
ultramafik
Mead L. jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi sebagai
berikut :
TEORI PROSES TIPE DEPOSIT
Terbentuk Oleh Proses eksternal
Akumulasi mekanik Konsentrasi gravitasi, mineral
resisten ke dalam endapan
placer.
1. Timah placer malaysia
2. Emas placer Yukon,
Canada
3. Deposit kaolin georgia,
USA
Presipitasi sedimenter
Sedimentary precipitates

Presipitasi particular elements
dalam suitable sedimentary
environment, dengan atau
tanpa intervensi
organismebiologis
1. Banded Iron Formations
Of The Precambrian
Shields.
2. Deposit Mangan Chiatri,
Ussr
3. Deposit Evaporit
Zechstein, Eropa.
4. Deposit Posfat Florida
Proses Residual Pencucian (leaching) elemen
yang mudah larut dari batuan
dan meninggalkan elemen yang
tidak larut sebagai material sisa
1. Nikel laterit new
caledonia.
2. Bauksit Hungaria, Prancis,
Jamaika dan Arkansas
Mead L. jensen dan Alan M. Bateman (1981) mengembangkan klasifikasi sebagai
berikut :
TEORI PROSES TIPE DEPOSIT
Terbentuk Oleh Proses eksternal
Pengayaan sekunder atau
supergen
Secondary or supergene
enrichment
Pencucian (leaching) elemen
beberapa dari bagian atas suatu
deposit mineral dan kemudian
dipresipitasikan pada
kedalaman untuk membentuk
konsentrasi yang tinggi
1. Beberapa bonanza emas
dan perak.
2. Bagian atas sejumlah
deposit tembaga porfiri
Volcanic exhalarit
(=sedimentary exhalatil)
Exhalations larut hidrotermal di
permukaan, biasanya di bawah
laut dan umumnya
menghasilkan tubuh bijih
stratiform
1. Deposit Logam Dasar
Maggan, Jerman ;
2. Deposit Kuroko, Jepang;
Black Smoker Deposits Of
Modern Oceans
3. Merkuri Almaden,
Spanyol
4. Deposit Solfatara (Kaolin
+ Alunit), Sisilia.
FLUIDA HIDROTERMAL
(larutan hidrotermal)
Sisa magma semakin banyak mengandung air meteorik (juvenil). Air
magmatik mengandung volatil dan larutan mineral yang memiliki titik
beku yang cukup rendah dan merupakan mother liquors dari larutan
hidrotermal. Bowen dan ahli geologi lainnya menyatakan bahwa
larutan hidrotermal adalah residu dari injeksi pegmatit setelah
unsur-unsur pegmatit mengkristal.

Kandungan volatil dan larutan mineral yang titik beku yang cukup
rendah, atau mineralizers yang mengandung : (1). Elemen/unsur
bersifat mobil dalam jumlah cukup banyak dalam batuan;
(2) Elemen/unsur, seperti tembaga (Cu), lead (Pb), zink (Zn), perak
(Ag), Emas (Au), stibnit (Sb), besi (Fe), mangan (Mn) dll;
(3) Elemen/unsur Li, Be, B, Rb, dan Cs; dan; (4) Alkali yang dijumpai
dalam jumlah cukup banyak, spt : alkali tanah dan volatil, khususnya
Na, K, Ca, Cl dan CO2. Keseluruhannya memegang peranan
penting .
Keseluruhan memegang peran penting terhadap transportasi
logam pada proses hidrotermal.
Kandungan air magmatik menyebabkan : viskositas magma
berkurang; titik beku mineral semakin rendah dan
memungkinkan pembentukan mineral yg tidak bisa terbentuk
pada kondisi dry melt
Komposisi air magma dapat ditentukan dari (White, 1967) dari
: (1). Tipe magma dan sejarah kristalisasi; (2) Hubungan
temperatur dan tekanan selama dan setelah pemisahan dari
magma; (3) Jenis air lain yg kemungkinan bercampur dengan
air magma pada saat bergerak; dan (4) reaksi dengan batuan
samping.
Air merupakan komponen bersifat mobil paling penting pada
magma, jumlahnya terus bertambah seiring dengan proses
difrensiasi, dan memegang peranan penting terhadap
transportasi komponen bijih (logam). Prosentasenya dalam
magma dari 1 15%, merupakan fungsi dari berbagai
parameter, spt : kandungan air pada magma awal; banyaknya
air yang masuk pada batuan samping; tekanan magma dan
tekanan dinding dapur magma dan temperatur.
Pemahaman sifat fluida (hidrotermal) sangat penting untuk
menjelaskan tentang potensi kimia dan pergerakan fluida
disepanjang zona-zona lemah (patahan, kekar, pori-pori, dll).
Selain faktor tersebut di atas yg berpengaruh terhadap
pembentukan endapan bijih/mineralisasi,maka faktor lain
yang
Adalah : kandungan volatil, densitas fluida, salinitas dan
kandungan senyawa-senyawa kompleks dalam fluida.
Kandungan volatil, jumlahnya sedikit, tetapi berperan dalam
mengurangi viskositas larutan, menurunkan titik melting,
mengumpulkan dan media transportasi logam, dan juga
berperan penting dalam pembentukan deposit/endapan
mineral.
Densitas fluida hidrotermal mempengaruhi : viskositas,
dinamika aliran dan mengontrol kelarutan komponen bijih
(Helgeson, 1964)
Salinitas, berhubungan langsung dengan konsentrasi logam
pada temperatur tinggi, dimana semakin tinggi salinitas
fluida
maka semakin besar konsentrasi logam berat dalam
larutan (Elis, 1970).
Senyawa kompleks yang paling penting dalam fluida adalah
kompleks klorida, karena perannya dalam transportasi dan
pembentukan endapan/deposit bijih (logam). Kompleks ini
dapat membentuk bijih dengan berbagai unsur, seperti : Cu,
Pb, Ag dan Hg




AIR METEORIK, adalah air yg berasal dr atmosfir (hujan,
salju), mengalami perkolasi kebawah permukaan tanah/batuan
dan bereaksi dg lithosfer dalam proses supergen. Dalam proses
tersebut , maka air meteorik akan melarutkan oksigen, nitrogen,
karbon dioksida, dan gas-gas lain, serta berbagai unsur kerak
bumi lainnya (Sodium, Kalsium, Magnesium, Sulfat dan
karbonat) yang sangat penting untuk mengikat dan membentuk
endapan bijih.

AIR LAUT, karakteristik air laut sebagai fluida pembentuk
bijih adalah dalam konteks evaporasi, fosforit, submarine
exhalites, nodul mangan, dan endapan kerak samudera.
Air laut diasumsikan dapat : (1) berperan pasif sebagai
medium dispersi untuk pelarutan ion, molekul, dan
partikel suspensi, dan (2) berperan aktif dalam
melarutkan ion dalam batuan di lantai dasar samudera.
AIR KONAT, adalah air yang terperangkap dalam batuan
sedimen bersamaan dengan pengendapan material
sedimen. Air tersebut banyak diteliti karena berhubungan
dengan eksplorasi dan produksi lapangan minyak, serta
banyak mengandung sodium, klorida, kalsium,
magnesium, bikarbonat, dan kadang juga stronsium,
Barium, dan nitrogen (White, 1968). Pada kondisi aktif, air
konat memiliki daya pelarutan yang sangat tinggi terhadap
unsur-unsur logam.

FLUIDA METAMORFIK, air konat dan meteorik yang berada
dalam bumi, karena pengaruh panas dan tekanan yang
dihasilkan dari intrusi magma atau metamorfisme regional,
maka akan menjadi sangat reaktif (Shand, 1943). Perubahan
inilah yang kemudian menjadi air meteorik yang diyakini
sangat aktif sebagai pembawa bijih.
KONSENTRASI MAGMATIK
Endapan magmatik dihasilkan dari kristalisasi langsung,
atau konsentrasi oleh proses difrensiasi di dalam dapur
magma.
Beberapa bijih (endapan yg meliputi mineral bijih,
mineral gang dan batuan samping, dapat diekstraksi
satu atau lebih jenis logam) terbentuk karena adanya
efek fisika, seperti gravitasi (contoh pembentukan
khromit pada lantai dapur magma) dan sebagian
terbentuk karena perubahan kimia, spt perubahan pH yg
dihasilkan dari reraksi antara fluida pembawa bijih
dengan batuan induk (host rock).
Turunnya temperatur dan tekanan, atau perubahan
velocity media transport atau pemisahan larutan, juga
dapat menyebabkan terjadi reaksi kimia yang
menghasilkan pengendapan bijih.
Secara umum pembentukan endapan bijih untuk proses
magmatik, maka magma yang terbentuk pada awalnya
masih bersifat mafik, terutama yang terbentuk pada zona
penekukan/subduksi (dibawah kerak kontinen atau pada
kerak samudera).
Magma mafik umumnya mengandung komponen silikat
dan dalam jumlah terbatas mengandung komponen
oksida dan sulfida. Pada kondisi ini unsur/elemen logam
dapat terkonsentrasi dalam berbagai bentuk oleh
mekanisme pembentukan batuan berupa kristalisasi,
fraksinasi dan difrensiasi magma.
Kristalisasi magma mafik akan menghasilkan logam
bernilai ekonomi, spt: kromit, nikel, platinum, cobal, dll.
Setelah kristalisasi atau konsentrasi oleh proses
difrensiasi magma mafik, maka selanjutnya magma sisa
(rest magma) semakin bersifat felsik dan semakin
banyak mengandung komponen sulfida dan oksida.
Proses difrensiasi magma pada tahapan ini memegang
peranan penting thdp pembentukan endapan- endapan
mineral berharga.
Kristalisasi magma felsik akan menghasilkan tin,
zirconium, thorium, dll.
Selanjutnya sebagian magma sisa akan menerobos
batuan samping (country rock) atau injeksi magmatik.
Proses atau peristiwa ini juga dapat menghasilkan
endapan-endapan mineral berharga.
Pasca kristalisasi atau konsentrasi oleh proses
difrensiasi magma mafik dan magma sisa, maka
berangsur kadar air dan konsentrasi volatil didalam
magma sisa bertambah banyak, termasuk CO2, boron,
fluorin, chlorine, sulfur, phosphor dan elemen lainnya.
Dampak proses dan penambahan unsur tersebut di atas,
maka viskotas magma berkurang dan menurunkan titik
beku mineral. Magma sisa pada tahapan ini akan
memasuki tahapan peralihan antara fase igneous
menjadi fase hidrotermal, atau disebut fase aqoeo-
igneous dan disebut sebagai tahapan pegmatik.
Jika kandungan gas dalam magma, yg terdiri dari air
(90%,) CO2, H2S dan S melimpah; dan CO, HCl, HF,
H2, N, Cl, F, B dan lainnya semakin besar, maka
proses magmatik akan memasuki proses
pneumatolitik (proses lepasnya gas dari dalam
magma).
Gas adalah agen/media yang baik untuk memisahkan
dan mengangkut, material berharga dari magma. Proses
pneumatolitik adalah proses yang sangat penting dalam
membentuk metasomatis kontak (Daubree, 1841).
5 (lima) cara pengendapan endapan bijih magmatik
(Guilbert dan Park, 1981) : 1. Sedimentasi magmatik
atau pengendapan dan akumulasi mineral yang telah
mengkristal (crystal settling). 2. Kristalisasi langsung
pada dinding atau lantai dapur magma. 3. Pemisahan
liquid dan pemadatannya; 4. Konsolidasi batuan beku
yang mengandung assesori mineral ekonomik; dan
5. Kristalisasi magma secara keseluruhan.
PEMBENTUKAN ENDAPAN BIJH SECARA KONSENTRASI
MAGMATIK DIBEDAKAN ATAS MAGMATIK AWAL DAN AKHIR
ENDAPAN MAGMATIK AWAL (ORTHOMAGMATIK),
persyaratan terbentuknya harus ada sumber magma/magma
primer yang umumnya berkomposisi ultra basa basa. Magma
tersebut dapat bersumber dari :1) lapisan bawah kerak samudera,
jika dalam perjalanannya kepermukaan bumi hanya melewati
lapisan kerak samudera, maka akan bersifat ultra basa; 2) lapisan
bawah kerak samudera, jika dalam perjalanannya ke permukaan
bumi melewati lapisan kerak bumi bagian atas (tholoiite) dan kerak
benua, maka magmanya berdsifat basa; dan 3) lapisan atas kerak
samudera, jika dalam perjalannya kepermukaan bumi hanya
melewati kerak benua, magmanya akan bersifat tholeiite.
Magma primer yang berhubungan dengan endapan magmatik
awal, umumnya mineral-mineral yang sulit menguap (olivin,
piroksin dan plagioklas bersifat basa).
Proses pembentukan endapan magmatik awal dan endapan
lainnya adalah berhubungan dengan diffrensiasi dan
kristalisasi magma. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kehadiran
mineral logam dan non logam.
Proses diffrensiasi dan kristalisasi untuk endapan magmatik awal
berlangsung tidak jauh dari sumber magma, yaitu jauh di bawah
permukaan bumi ( > 5000 m).
Niggli, 1933, pengertian endapan magmatik awal/orthomagmatik
adalah sama dengan endapan plutonik atau intrusif.
Endapan logam yang terbentuk oleh proses magmatik awal adalah :
intan (C), platina (Pt), khrom (Cr2O3), titan (Ti) besi (Fe3O4,
Fe2O3) - nikel (Ni) dan tembaga (Cu).
Endapan magmatik awal dibedakan atas : early
magmatik (magmatik awal) dan late magmatik
(magmatik akhir).
Proses yang terjadi pada early magmatik dan
berhubungan dengan pembentukan endapan logam
adalah :
1. Dissemination, kondisi ini terjadi jika tidak terjadi
konsentrasi, sehingga mineral bijih/logam yang akan
terbentuk menyebar pada batuan kimberlit, lamroit dan
batuan karbonatit (intan/C dan korondum/Al2O3, pirope
garnet/[(Ca, Mg, Fe, Mn)3. Al2O3(SiO4)3], diopsit khromi
[CaMg(SiO3)2-Cr2O3], spinel khrom (FeO.Cr2O3),
enstatit (MgSiO3), ilmenit (FeTiO3, magnetit (Fe3O4)
dan rutil (TiO2).
2. Segregation, proses ini akan terbentuk jika terjadi
proses diffrensiasi kristalisasi (normal/grafitasi) dan
accumulation, sehingga mineral/unsur yang akan
terbentuk akan terkonsentrasi/segregasi, spt khromit
(Busveld compleks dan Lydenburg, Afrika selatan).
Bentuk mineralisasi khromitnya adalah statiform atau
tipe Sudbury, yaitu penerobosan konkordan diantara
batuan beku, semacam sill. Lebih dari 98% produksi
khromit dunia dihasilkan dari tipe ini, ketebalan dari
beberpa centimeter 2,0 m, panjang penyebaran 63 km,
kandungannya dari 45% - 50%, terdiri dari 29 lapisan,
bagian bawahnya adalah platina bearing dan bagian
atasnya vanadi ferous magnetit.
Tipe endapan khromit startiform juga di jumpai di Great
Dyke of Zimbabwe, yaitu pada batuan basa ultra basa
yang berumur sangat tua, menyebar sepanjang 532 km,
lebar dari 5,0 km 9,5 km, terdiri dari dari 4 lapisan
dengan ketebalan dari 5,0 cm 1,0 m.

3. Injection, terbentuk akibat penerobosan ketempat lain,
akibatnya logam yang telah terbentuk akan
terkonsentrasi di tempat lain, seperti yang dijumpai di
daerah Kirunia, Swedia. Penerobosan endapan magnetit
(Fe3O4) terjadi diantara batuan Syenit porphyry dengan
Quartz porphyry (endapan bijih magnetitnya tebal) dan

untuk endapan bijih magnetit yang terletak diantara
Quartz phorphyry lebih tipis, kondisi ini dipengaruhi oleh
struktur geologi dan tekstur. Endapan bijih magnetit dan
ilmenit (TiO2) adalah lebih awal mengkristal sebelum
silikat, dimana injeksi tidak akan terjadi pada kristal-
kristal myang padat.

ENDAPAN MAGMATIK AKHIR, gejala yang biasa dijumpai
pada endapan magmatik akhir adalah memotong
endapan early magmatik. Proses yang berlangsung
pada early magmatik adalah :

1. Residual liquid segregation, terjadi pada magma sisa
yang telah mengkristal, tapi belum membentuk mineral,
kemudian membentuk mineral secara terkonsentrasi
oleh proses difrensisasi kristalisasi grafitasi (normal).
Bentuk endapannya umumnya paralel terhadap batuan
pembawa (heat sources) ataupun pada host rocknya,
umumnya batuan anorthosit, norit, gabro, seperti
pembentukan titaniferous magnetit bands dan platina di
daerah Busveld compleks, Afrika selatan.
2. Residual liquid injection, terjadi pada magma sisa
early magmatik yang belum mengkristal, kemudian
diinjeksi ke tempat lain yang kondisi tekanannya lebh
rendah, sehingga membentuk endapan logam secara
terkonsentrasi (resoidual), seperti pembentukan
endapan titanoferous di daerah Adivondack region of
New York, berasosiasi dengan batuan basa. Proses
pembentukan endapan logam secara residual liquid
injection kaya akan besi.
3. Immisible liquid separation and accumulation, terjadi
pada magma sisa yang belum mengkristal pada erly
magmatik. Magma sisa tersebut akan menerobos dan
merusak terhadap mineral/unsur yang sudah terbentuk,
kemudian membentuk mineral baru secara
terkonsentrasi, seperti pembentukan endapan :
1. Nickel Copper Sulphide Type Insizwa, Afrika
Selatan; 2, Nickelferous Sulphide Deposits, Bushveld,
Afrika Selatan, dan 3. Marginal Sudbury Deposits,
Norwegia.

Walaupun oksida-oksida logam dalam bentuk larutan
tidak dapat larut pada larutan silikat magma. Oleh Voght,
memperlihatkan bahwa sulfida-sulfida besi, nikel dan
tembaga dapat larut pada magma basal, dimana
konsentrasi sulfidanya sekitar 6% - 7%. Larutan sisa
sulfida akan mengkristal setelah silikat dan akan
menerobos dan merusak kristal dan mineral tersebut.
Pada akumulasi sulfida tidak diperlukan tidak diperlukan
peleburan sulfida murni, pengkayaan sulfida adalah
dibagian paling bawah dari magma, dimana pada batuan
beku basa kandungan sulfidanya adalah 10% - 20%.
Endapan bijih yang terbentuk oleh proses ILSA adalah
pirhotit (Fe7S8), kalkopirit (CuFeS2), petlandite nickel
(2FeS.Ni.S), Cu, serta platina, emas, perak.
Pembentukan endapan tersebut di atas umumnya pada
batuan beku basa, dimana segregasi terbentuk oleh
gaya berat.
4. Immicible liquid injection, terbentuk dari magma sisa
early magmatic, akan membawa mineral/unsur yang
telah terbentuk pada early magmatic ketempat lain oleh
proses injeksi, sehingga akan terkonsentrasi bersama-
sama mineral lain yang terbentuk kemudian. Proses ini
hampir sama dengan early magmatic.
Contoh lokasi pembentukan endapan adalah : endapan
nikel Norwegia, endapan tembaga-nikel, daerah
Merensky Reef of the Busveld, Afrika Selatan, endapan
nikel-tembaga, Sudbury.
Umumnya tipe endapan late magmatic dijumpai pada
daerah dengan kondisi tektonik kompleks, seperti ofiolit
Dan melange/bancuh. Contoh pembentukan endapan
khromit primer tipe podiform, spt Sulsel (Barru, Pangkep
dan Malili, Sultra (Buton), Latau (Sulteng), Maluku
(P.Doi), G. Batan Bulu Kalimantan Selatan.
Penyebarannya dijumpai pada zona penggerusan kuat.
Selaian itu juga dijumpai di daerah Urals, Filipina,
kompleks ofiolitnya adalah tipe Alpin, yaitu berasal dari
luar (allochthnous), penyebaran peridotit sekitar 10 km,
yang terkonsentrasi pada jalur serpentinit, dan sebagai
pembawa khromit adalah harzburgit. Endapan seperti ini
juga dijumpai di Albania, Turki, Cuba, New Caledonia,
dan Yugoslavia.
3 hal penting dalam mempelajari genesa endapan
bahan galian logam, termasuk kegiatan eksplorasi :
1. Sumber endapan yang membawa logam (heat
sources); 2. Harus ada batuan tempat kedudukan
atau akumulasi dari endapan bahan galian tersebut
(host rock); dan 3 struktur geologi (patahan, kekar).
Proses pembentukan endapan magmatik awal (nikel,
cobal, khromit, platina, intan, dst), maka sumber
pembawa logam tersebut adalah magma yang bersifat
basa ultara basa, terbentuk pada temperatur tinggi
(>1000 derajad celcius) dan berlangsung lebih kurang
10 km dibawah permukaan bumi.
Proses pembentukan endapan magmatik akhir (Be, Li,
Sn, W, Rb, Cs, Nb, Al/Spodumene dan Petalit, unsur
tanah jarang/rare earth elements, uranium dan besi
uranium). Endapan timah putih/kasiterit (SnO2) dijumpai
di P. Bangka, P. Belitung dan P. Singkep yang menerus
ke semenanjung Malaysia, dan umumnya dijumpai pada
batuan granit dan batuan sedimen Pra tersier. Oleh
karena proses pembekuan kristalisasi berlangsung
lambat, maka kristal mineral berukuran besar. Secara
umum keberadaannya pada batuan pembawa sangat
kecil/rendah. Terbentuk pada temperatur < 1000 derajad
celcius).
Proses pembentukan endapan porfiri dan
hidrotermal/larutan sisa magma (emas, perak, stibnit,
molibdenit, logam dasar/Cu, Pb, Zn, besi), tempaearatur
pembentukan < 400 derajad celcius.
Host Rock, sifat fisik (kekerasan dan ukuran butir) dan
kimia/reaktifitas.
Struktur Geologi (fault/patahan, joint/rekahan)
Setelah ada sumber yang membawa unsur/logam
(magma dan larutan sisa magma/hidrotermal), maka
harus ada batuan tempat akumulasi/cebakan/kedudukan
dari unsur/logam (host rock) yang punya nilai ekonomi.
Host rock dikontrol oleh : 1. urutan keterjadiannya
(stratigrafi) untuk batuan sedimen, dan umur batuan
untuk batuan plutonik (granit, diorit, monzonit, dan
granit), batuan gunungapi (breksi vulkanik, agglomerat,
tufa dan aliran lava atau retas); 2. sifat fisik dan kimia
(lapuk, kompak, ukuran butir/tekstur, porositas, reaktif
dan komposisi kimia, khususnya batuan beku); dan 3.
Struktur geologi (patahan, lipatan dan kekar).
Umumnya host rock mineralisasi yang baik
(favourable) adalah :

1. Reaktif (batugamping, marmer, dolomit, dan batuan
sedimen klastik gampingan);
2. Lapuk agak kompak;
3. Porous (keseragaman ukuran butir); dan
4. Komposisi kimia, khususnya batuan beku
(asam/umum, menengah/sebahagian,
basa/jarang/setempat dan ultra basa/sangat jarang);
5. Kontrol struktur geologi (patahan, rekahan dan
perlipatan) intensif/rapat.
DARI HASIL KLASIFIKASI/PENGGOLONGAN ENDAPAN
BAHAN GALIAN LOGAM OLEH PARA AHLI, MAKA
UMUMNYA DIBEDAKAN ATAS 5 YAITU :
1. Magmatik Awal/Orthomagmatik : 1. Early magmatic
(dissemination/menyebar, tidak terjadi konsentrasi, spt
intan/C, korundum/Al2O3, pirope garnet [(Ca, Mg, Fe,
Mn)3. Al2 (SiO4)3], diopside khromit [CaMg(SiO3)2-
Cr2O3], spinel khromit (FeO.Cr2O3), ilmenit (FeTiO3),
magnetit (Fe3O4 dan rutil (TiO2);
segregation/konsentrasi, terjadi difrensiasi, spt: khromit
startiform (layer/konkordan); injection/penerobosan,
penerobosan ketempat lain, spt: magnetit, ilmenit.
2. Late magmatik (residual liquid segregation, terjadi
pada magma sudah mengkristal tapi belum membentuk
mineral, spt : titaniferous magnetite bands dan platina
(Busveld complex,Afsel); residual liquid injection, magma
yang belum mengkristal akan diinjeksi ketempat lain dan
akan membentuk endapan secara terkonsentrasi, spt :
titanoferous (daerah Adivondack region of New York),
magnetit (daerah Kiruna, swedia); immisible liquid
separation and accumulation, terjadi pada magma sisa
yang belum mengkristal pada early magmatic, magma
sisa akan menerobos dan merusak unsur/mineral yang
tertbentuk awal, kemudian membentuk mineral baru
secara terkonsentrasi (nickel copper sulphide, tipe
Inziwa, Afsel; nickelferous sulphide, Busveld Complex,
Afsel); immicible liquid injection, proses hampir sama
dengan proses injeksi pada early magmatic.
Umumnya pembentukan endapan late magmatic tipe
immicible liquid injection, dijumpai pada daerah dengan
tektonik kompleks (melange/bancuh dan ofiolit), spt :
khromit primer tipe podiform (Ind, Turki dan Filipina).
2. Pegmatis - Pneumatolitis, magma yang belum
mengkristal, terdiri dari cairan dan gas atau larutan
pegmatis (cairan) pneumatolitis/kontak metasomatis
(gas), terbentuk dibagian atas dari magmatik awal.
Endapan pegmatis berhubungan dengan intrusi atau
penerobosan batuan plutonik asam dan struktur geologi
patahan, kekar dan foliasi (greisen), jarang dijumpai
pada batuan ekstrusif, spt : bauksit, kasitertit, dan unsur
tanah jarang (logam dan non logam).


3. Porfiri dan Hidrotermal, endapan logam porfiri dan
hidrotermal sulit dibedakan, dibutuhkan pengetahuan
maksimal (teori dan lapangan), keduanya dibentuk oleh
aktifitas larutan sisa magma (hidrotermal).
- Endapan logam porfiri dan hidrotermal dapat
dibedakan oleh :
1. Waktu/temperatur pembentukan ( >372oC, <372oC)
2. Bentuk/tekstur vein/urat (membawa dan tidak
membawa), kumpulan urat menjaring/network/stock
work (porfiri) dan urat tunggal (hidrotermal).
3. Host rock, dan alterasi (mineral sekunder/ubahan)
4. Prosentase kehadiran logam (%, ppm, ppb) dan
tonase (cadangan x bd).
Endapan porfiri dan hidrotermal berhubungan/dikontrol
oleh unsur tektonik busur plutonik/gunung api
(mandala/propinsi metalogenik)
Alterasi endapan logam porfiri ideal, yaitu dapat
dibedakan ke arah lateral/horisontal dan
vertikal/kebawah :
- Ubahan ke arah lateral terdiri dari : potasik phyllitic
argilik dan propilitic (dari bagian dalam keluar).
- Ubahan ke arah vertikal, dibedakan atas 2, yaitu : 1.
Zona luar (klorit,-serisit-epidot dan magnetit; 2. Zona
dalam (kuarsa-serisit-kalsedon-kalium feldspar
PENENTUAN KEHADIRAN MINERAL UBAHAN ATAU ALTERASI
ADALAH DENGAN PENGAMATAN MIKROSKOP TERHADAP
SAYATAN TIPIS BATUAN/URAT TERUBAH DAN TERMINERALISASI
Zona Alterasi Potasik, terdekat ketubuh intrusi, cirinya adalah
kehadiran dari kumpulan mineral orthoklas biotit dan ortoklas- pirit,
dan pada beberapa lokasi keduanya ditemukan. Tipe alterasi ini
selalu dijumpai. Kuarsa yg dijumpai pada zona ini adalah sekunder.
Mineral ubahan lain yang biasa juga dijumpai adalah karbonat,
epatit, rutil dan wolfram pada veinlet dan mikroveinlet.
Zona alterasi seritisasi/phyllic, dijumpai dekat zona alterasi potasik
atau bagian luar zona phyllic, selalu hadir/dijumpai. Cirinya adalah
kehadiran kumpulan dari mineral kuarsa, serisit (juga bisa dijumpai
dalam banyak), pirit dan klorit dalam jumlah kecil, hidromika dan pirit
( bisa > 20% dalam bentuk disseminated/hamburan dan veinlet),
dan jarang dijumpai karbonat. Pada zona alterasi ini, pirit dan
kalkopirit tersebar merata (stock work) dan merupakan zona bijih.
Berdasarkan data isotop oksigen dan hidrogen, maka air tanah
(ground water) berperan aktif pada pembentukan alterasi dan
mineralisasi pada zona alterasi potasik dasn phyllic.
Zona Agilik, adalah bagian luar zona phillic/serisit, dicirikan oleh
perubahan plagioklas menjadi kaolin pada bagian dalam dan
monmorilonit pada bagian luar. Pirit juga dijumpai tapai dalam
jumlah kecil/sedikit dan berbentuk veinlet. Batas antara zona argilik
dan phyllic sulit dibedakan. M ineral lain yang biasa juga dijumpai
adalah piropilit, topaz.
Zona Propilitik, adalah zona terluar dari mineralisasi tembaga porfiri,
dicirikan oleh kumpulan mineral klorit pirit (dalam jumlah terbatas)
Bukaan penambangan endapan porfiri lebih luas
dibanding dibanding hidrotermal (hipotermal,
mesotermal, epitermal, teletermal.
ENDAPAN LOGAM PORFIRI
- Identik dengan tembaga (umum) dan molibdenum (sebagian)
- Tambang tembaga tertua di daerah Maadi pada zaman pra-dinasti
Egiptian (3300 SM), 10 km dari Kairo dijumpai artefak tembaga;
Tambang tembaga daerah Bwana Mbuka dekat Ndoloa, Zambia;
Asia Kecil dan Siprus, telah ada pengolahan dan peleburan
tembaga.
- Antara tahun 1580 1850 produksi tembaga per tahun 10.000 ton,
ini berarti hanya endapan tembaga kadar tinggi yang ditambang. Di

Di Eropa Utara (1540), endapan tembaga yang ditambang dan diolah
berkadar 8%. Tahun 1890 deposit/endapan tembaga kadar 6%
ditambang dan diolah; dan menjelang tahun 1906 berkat kemajuan
teknologi penambangan dan pengolahan, maka endapan tembaga
kadar 2% sudah dianggap ekonomis.
- Penghasil utama tembaga dunia adalah : AS, Canada, Cili, Peru
danZambia. Meskipun sdh ada logam pengganti tembaga, spt
Aluminium, tetapi permintaan akan tembaga terus meningkat.
- Istilah tembaga porfiri berasal dari hubungan mineralisasi tembaga
dengan batuan plutonik (granit, monzonit, granodiorit dan diorit),
dicirikan oleh tembaga dan molibdenit dalam bentuk
hamburan/menyebar (disseminated) atau fenokris pada batuan
beku plutonik (granit, granodiorit, diorit) tekstur porfiritik.
Definisi tembaga porfiri adalah endapan besar, berkadar rendah
menengah dalam sulfida hipogen yang dikontrol oleh struktur primer dan
umumnya berasosiasi dengan intrusi asam atau intermedit porfiri
(Kirkham, 1971, dalam Guilbertt dan Park, 1987)
Deposit besar, menggambarkan total produksi tembaga/Cu dari
deposit Cu porfiri yang sangat besar, sekitar 15 milyar ton pertahun.
Deposit kadar rendah menengah, untuk menjelaskan
konsentrasi Cu dalam endapan Cu porfiri. Umumnya kandungan Cu
berkisar antara 0,6 % 0,9% Cu, dan yang paling tinggi 1 2% Cu,
serta yang paling rendah dan belum ekonomis adalah 0,35% Cu.
Mineral tembaga yang paling umum dijumpai kalkopirit (CuFeS2),
sedang bornit, kalkosit, malasit, krisokola jumlah terbatas dan kecil.
Umur geologi umumnya Kapur dan Paleogen, penyebarannya
sangat ditentukan tingkat erosi (Silitoe, 1972, dalam Bowen dan
Gunatilaka, 1977) dan berhubungan generasi magma pada zona
subduksi, khususnya yg penting dan berpengaruh adalah
pergerakan lempeng secara konvergen (Silitoe, 1972, dalam
Bateman, 1979)
Endapan tembaga porfiri dihasilkan oleh proses GEOKIMIA FISIKA
dari rangkaian berupa : magmatik akhir, magmatik hidrotermal,
meteorik hidrotermal, hingga normal hidrotermal seiring berkurangnya
kedalaman.
Endapan tembaga berhubungan dengan intrusi calc-alkali atau alkali
menghasilkan batuan berkomposisi tertentu seperti : monzonit kuarsa
granodiorit atau diorit senit.
Batuan yang larut/asimilasi dalam magma akan mempengaruhi
komposisi magma dan struktur kemas magma.
Endapan tembaga porfiri umumnya jauh lebih besar dari deposit
hidrotermal lainnya.
TIGA KESIMPULAN HASIL STUDI KASUS PEMBENTUKAN ENDAPAN
TEMBAGA PORFIRI DAERAH EL SALVADOR CHILI (Guastafon dan
Hunt, 1975, dalam, Park dan Guilbert, 1986) : 1. Stok tembaga porfiri
akan terbentuk didalam atau diatas zona kupola dalam bentuk
kompleks dike (dike swarm); 2. Transfer tembaga, logam lain dan
sulfur kedalam stok pirfiri dan batuan samping terjadi karena
pemisahan fluida magma metasomatik secara menyeluruh;
3. Transfer panas magma ke batuan samping, menyebabkan
terjadinya sirkulasi airtanah.
dan
Kandungan tembaga dalam magma basal sekitar 200 ppm, magma ultra
basa dan granitis hanya sekitar 20 ppm (Bown dan Gunatilaka, 1977).
Selama difrensiasi magma basal, maka kandungan Fe, Co, Ni cenderung
terbentuk duluan dalam fraksinasi kristalisasi, sedang tembaga dalam silikat
atau bentuk lainnya cenderung menjadi konsentrasi/segregasi residu dalam
larutan.
Apakah tembaga terbentuk awal atau kemudian, sangat ditentukan oleh
tekanan partial dari Sulfur dan Oksigen dan pH larutan.
Magma intermedit (granodiorit, diorit) umumnya berasosiasi dengan
endapan tembaga dan molibdenit (Cu-Mo) porfiri, sedang magma
basa/magma primer jarang, sebab kandungan air sangat rendah.
Selama pembentukan endapan tembaga terjadi perubahan geokimia yang
dipengaruhi oleh perubahan temperatur : 1. Pendinginan larutan hidrotermal
dan reaksi dengan batuan samping, akan meningkatkan kandungan K, Na,
dan Ca dari larutan klorida; 2. Replasemen plagioklas menjadi ortoklas
pada T tinggi, adalah dihasilkan dari subsitusi Ca dan Na menjadi K; 3.
Alterasi dan presipitasi kuarsa (silifikasi/terkersikan) diikuti oleh pemaksi ; .
3. Alterasi dan presipitasi kuarsa (silifikasi/terkersikan) diikuti oleh
pembentukan Molibdenit, dan pada T yang lebih rendah kan terbentuk
logam dasar sulfida lainnya.

Alterasi batuan samping umumnya digunakan untuk
menginterpretasi lingkungaan kimia-fisika endapan bijih. Zona
alterasi tersebut menunjukkan bahwa fluida pembawa bijih, mulai
bermigrasi keluar dari stok porfiri pada temperatur 500oC 700oC

Pengendapan senyawa kompleks sulfida disebabkan oleh :
1. Pendinginan sebagai akibat dari pergerakan fluida disepanjang
daerah dg perbedaan T yg besar; 2. Percampuran dengan air
meteorik; dan 3. Reaksi dengan batuan samping.
ENDAPAN HIDROTERMAL ADALAH MERUPAKAN FASE/TAHAPAN
AKHIR PEMBENTUKAN ENDAPAN LOGAM YANG
BERHUBUNGAN DENGAN MAGMA, T DAN P LEBIH < ENDAPAN
PORFIRI.
LARUTAN SISA MAGMA YANG BELUM TERDEFERENSIASI DAN
KRISTALISASI AKAN MENERUS MENDEKATI PERMUKAAN
BUMI, JADI DARI SISI TEMPERATUR AKAN LEBIH RENDAH,
DEMIKIAN PULA DENGAN KEDALAMAN JUGA LEBIH
RENDAH/DEKAT PERMUKAAN BUMI.


10.000 ton, kondisi ini menunjukkan bahwa hanya
endapan tembaga kadar tinggi yang ditambang

4. Konsentrasi residu
5. Endapan aluvial, dan
6. Batubara