Anda di halaman 1dari 23

Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak.

1
Sumber Utama (Scott, Bab 5).

Outline Kuliah:
1. Pengertian Perspektif Informasi
2. Alasan Pasar Bereaksi terhadap Informasi
3. Temuan tentang Respon Pasar
4. Causation dan Association
5. Earnings Response Coefficients (ERC)
6. Extraordinary Items
7. Kasus untuk Diskusi
KULIAH 6
THE INFORMATION PERSPECTIVE ON DECISION USEFULNESS
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 2
Information perspective berkaitan dengan penyamaan
kegunaan (usefulness) informasi dengan kandungan
informasi (information content).

Information perspective pada pelaporan keuangan
adalah suatu pendekatan yang mengakui tanggungjawab
individual untuk memprediksi kinerja masa depan
perusahaan yang berkonsentrasi pada penyediaan
informasi yang bermanfaat untuk tujuan tersebut.
Pendekatan ini mengakui bahwa pasar akan bereaksi
terhadap informasi yang bermanfaat dari manapun
sumbernya, termasuk laporan keuangan.
Pengertian Perspektif Informasi
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 3
Ada ungkapan yang menyatakan the proof of the
pudding is in the eating. Apabila teori pasar modal
efisien dan teori keputusan yang mendasarinya
merupakan gambaran realitas, maka nilai sekuritas
tentu dapat diprediksi dengan adanya informasi baru.

Untuk membuktikan ini diperlukan penelitian empiris
dalam akuntansi. Walapun sulit dalam perancangan riset
eksperimen untuk menguji hal ini, riset akuntansi telah
menemukan bahwa pasar bereaksi setidaknya terhadap
komponen laba dalam informasi akuntansi. Bukti
tentang hal ini pertama kali ditemukan oleh Ball dan
Brown (1968).
Pengertian Perspektif Informasi
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 4
Kalau pasar bereaksi, berarti bahwa informasi
digunakan untuk pengambilan keputusan. Inilah
yang dinyatakan bahwa bukti enak tidaknya
puding adalah dengan memakannya.

Akuntan dapat membantu meningkatkan kegunaan
(usefulness) dengan menggunakan pedoman respon
pasar sebagai dasar untuk menyediakan informasi
yang dibutuhkan oleh investor.
Pengertian Perspektif Informasi
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 5
Apa alasan pasar bereaksi terhadap informasi keuangan?
1. Keyakinan sebelumnya (prior belief) investor yang
didasarkan pada informasi yang telah tersedia tidak sama.
Ketidaksamaan tersebut dipengaruhi oleh besar-kecilnya
informasi yang diperoleh dan kemampuan untuk
menginterpretasi informasi.
2. Dengan masuknya informasi baru berupa laba, sebagian
investor menjadi lebih informed dan merevisi
ekspektasinya (upward) dengan datangnya berita baik ini.
Namun sebagian investor lain yang sebelumnya memiliki
ekspektasi yang terlalu tinggi mungkin akan
menginterpretasikan informasi laba tersebut sebagai
berita buruk (downward).
Alasan Pasar Bereaksi terhadap Informasi
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 6
Apa alasan pasar bereaksi terhadap informasi keuangan?
3. Investor yang merevisi ekspektasinya upward akan
bersedia membeli sekuritas pada harga sekarang,
sedangkan investor yang merevisi ekspektasinya
downward akan melakukan sebaliknya.
4. Kita dapat mengobservasi jumlah sekuritas yang
diperdagangkan dengan munculnya informasi baru berupa
laba ini. Seharusnya volume perdagangan akan semakin
besar dengan semakin besarnya perbedaan ekspektasi
antara investor yang bersikap upward dengan yang
bersikap downward.
Alasan Pasar Bereaksi terhadap Informasi
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 7
Pada tahun 1968, Ball dan Brown (BB) memulai tradisi riset empiris
pasar modal. BB menguji sampel 261 perusahaan publik yang
terdaftar di NYSE dari tahun 1957 sampai 1965.

Studi ini bertujuan untuk mengetahui respon pasar terhadap
kandungan informasi laporan keuangan. Perusahaan yang terdaftar
di NYSE biasanya mengumumkan laporan keuangan lebih dahulu
melalui media massa baru kemudian dikeluarkan laporan keuangan
tahunan secara resmi. Perlu diketahui bahwa laporan keuangan
tahunan yang berakhir bulan Desember terbit sekitar bulan
Februari tahun berikutnya.

BB menguji apakah kandungan laba yang diumumkan lebih besar
dari ekspektasi pasar (good news) atau lebih kecil dari ekspektasi
pasar (bad news). Hal ini membutuhkan proksi ekspektasi pasar. BB
menggunakan laba tahun lalu sebagai proksi.

Temuan tentang Respon Pasar
Ball and Brown (1968)
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 8
BB menemukan bahwa dalam rentang waktu sempit, narrow
window, yaitu 1 bulan (dalam bulan Februari tersebut),
investor mendapatkan keuntungan abnormal positif
(keuntungan di atas rata-rata pasar) untuk pengumuman GN
dan kerugian abnormal negatif (kerugian di bawah rata-rata
pasar) untuk pengumuman BN.

Pola tersebut ternyata konsisten. Pengumuman laba GN,
dengan sampel 1.231, menunjukkan keuntungan abnormal
positif dalam bulan pengumuman laba yang sama. Demikian
juga dengan pengumuman laba BN, dengan sampel 1.109,
menunjukkan kerugian abnormal negatif dalam bulan
pengumuman yang sama.

Temuan ini menunjukkan bahwa pasar bereaksi terhadap
informasi laba yang diumumkan.
Temuan tentang Respon Pasar
Ball and Brown (1968)
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 9
Pengujian kemudian dikembangkan dengan rentang waktu lebih
lebar, wider window, yaitu 18 bulan (11 bulan sebelum bulan
pengumuman, dan 6 bulan setelah bulan pengumuman).

Tingkat keuntungan dan kerugian abnormal cenderung
berkurang dengan bertambahnya dimensi waktu. Pada kasus ini,
saham dengan pengumuman GN yang diperoleh 11 bulan
sebelum pengumuman dan dijual akhir bulan ke 6 setelah
pengumuman memperoleh keuntungan 6% di atas keuntungan
rata-rata pasar. Sedangkan saham dengan pengumuman BN yang
dibeli 11 bulan sebelum pengumuman dan dijual akhir bulan ke
6 setelah pengumuman memperoleh kerugian 9% di bawah
pasar.

Reaksi investor terhadap pengumuman berkurang dengan
bertambahnya dimensi waktu.
Temuan tentang Respon Pasar
Ball and Brown (1968)
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 10
Reaksi pasar terhadap informasi akuntansi dalam
narrow window lebih tinggi karena dalam waktu
singkat tidak terjadi kejadian tertentu yang
mempengaruhi pasar, kecuali informasi laba.

Sedangkan reaksi pasar terhadap informasi akuntansi
dalam wider window berkurang karena dalam waktu
yang relatif panjang dapat terjadi hal-hal lain selain
pengumuman laba yang terkait dengan saham.
Temuan tentang Respon Pasar
Ball and Brown (1968)
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 11
Beaver (1968) menguji volume perdagangan sekitar
pengumuman earnings. Ada 506 pengumuman earnings dari
sebanyak 143 perusahaan di NYES dari tahun 1961 sampai 1965
(ada 261 minggu).

Beaver menghitung rata-rata volume perdagangan disekitar
pengumuman earnings dengan window 17 minggu (8 minggu
sebelum minggu pengumuman, minggu pengumuman, dan 8
minggu setelah minggu pengumuman).

Hasilnya? Ada kenaikan volume secara dramatis pada minggu 0
dan di bawah normal dalam minggu-minggu sebelum minggu
pengumuman.
Temuan tentang Respon Pasar
Beaver (1968)
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 12
Peningkatan volume perdagangan di minggu 0 menunjukkan
bukti bahwa pasar bereaksi terhadap pengumuman earnings dan
ada kandungan informasi dari pengumuman earnings. Hal ini
juga menjadi bukti bahwa informasi earnings dipergunakan oleh
investor dalam pengambilan keputusan.

Volume perdagangan di bawah normal pada minggu-minggu
sebelum minggu pengumuman karena tidak ada informasi yang
signifikan yang dapat dijadikan oleh investor untuk merevisi
probabilitas tentang return masa depan diharapkan yang telah
dibuat. Karena itu, begitu ada pengumuman earnings, reaksinya
muncul dengan cepat karena investor segera merevisi
ekspektasinya.
Temuan tentang Respon Pasar
Beaver (1968)
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 13
Hasil riset Beaver ini mendukung decision usefulness, yaitu suatu
pendekatan yang mengakui tanggungjawab individual untuk
memprediksi kinerja perusahaan masa depan yang berkonsentrasi
pada penyediaan informasi yang bermanfaat untuk tujuan
tersebut. Pendekatan ini mengakui bahwa pasar akan bereaksi
terhadap informasi yang bermanfaat dari manapun sumbernya,
termasuk laporan keuangan. Kalau pasar bereaksi, berarti bahwa
informasi digunakan untuk pengambilan keputusan. Inilah yang
dinyatakan dengan ungkapan bahwa the proof of the pudding is in
the eating.

Beaver menggunakan volume perdagangan sebagai indikator
decision usefulness. Hal ini dilakukan karena adanya anggapan
bahwa volume perdagangan lebih tepat digunakan untuk
menggambarkan ekspektasi dan reaksi investor secara individual.
Volume perdagangan dianggap lebih sensitif terhadap informasi
akuntansi. Sedangkan harga menggambarkan ekspektasi dan reaksi
pasar, bukan investor individual. Karena itu, volume perdagangan
lebih tepat digunakan daripada harga.
Temuan tentang Respon Pasar
Beaver (1968)
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 14
Dalam studi BB ditemukan bahwa ada perbedaan return antara
narrow window dengan wider window.
Apabila reaksi pasar terhadap informasi laporan keuangan
diamati dalam narrow window, dapat diargumentasi bahwa
informasi akuntansi adalah cause (penyebab) reaksi pasar.
Alasannya adalah karena dalam narrow window belum
terdapat informasi lain yang masuk ke pasar. Seandainyapun
ada informasi lain yang masuk, misalnya pengumuman dividen
dan stock split, maka perusahaan tersebut dikeluarkan dari
sampel. Maka, studi dengan narrow window dapat
dikategorikan sebagai causation.
Sebaliknya, apabila reaksi pasar terhadap informasi laporan
keuangan diamati dalam wider window, dapat dikatakan
bahwa informasi akuntansi berhubungan secara positif
terhadap return pasar. Alasannya adalah karena dalam wider
window, dimungkinkan sudah banyak informasi lain yang
masuk ke pasar selain informasi tentang laba. Karena itu,
studi tentang wider window dikategorikan sebagai
association.
Temuan tentang Respon Pasar
Causation dan Association
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 15
ERC adalah koefisien yang mengukur besarnya keuntungan
abnormal sebuah sekuritas sebagai respon terhadap
komponen tidak diharapkan (unexpected component)
informasi keuangan.

Seperti dijelaskan sebelumnya, BB menemukan keuntungan
abnormal positif terhadap berita baik dan negatif terhadap
berita buruk secara rata-rata. Mengapa pasar merespon
lebih kuat terhadap berita baik atau berita buruk pada suatu
perusahaan dibandingkan perusahaan lain? Penyebab hal ini
adalah ERC yang berbeda.
Earnings Response Coefficients (ERC)
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 16
Faktor yang menentukan perbedaan ERC:
1. Beta. Semakin tingi beta (semakin tinggi risiko keuntungan
diharapkan masa depan), semakin rendah reaksi investor
terhadap jumlah earnings tidak diharapkan.
2. Capital structure. Apabila tingkat leverage perusahaan
tinggi, pengumuman informasi laba lebih merupakan
berita baik bagi kreditor daripada bagi pemegang saham.
Karena itu, reaksi pasar lebih rendah terhadap berita baik
perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi
dibandingkan tingkat leverage lebih rendah.
3. Persistence. Reaksi pasar lebih tinggi terhadap informasi
laba yang diharapkan berlaku konsisten dalam jangka
panjang dibandingkan informasi laba yang bersifat
sementara. Reaksi pasar lebih tinggi terhadap
pengumuman laba karena pengenalan produk baru
daripada pengumuman laba karena penjualan aktiva tetap.
Earnings Response Coefficients (ERC)
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 17
Faktor yang menentukan perbedaan ERC:
4. Earnings quality. Semakin tinggi kualitas earnings
diharapkan semakin tinggi ERC. Kualitas earnings adalah
besarnya probabilitas main diagonal dalam kaitannya
dengan informasi.
5. Growth opportunity. Berita baik dan berita buruk
mengimplikasikan prospek akan pertumbuhan laba.
Semakin tinggi pertumbuhan laba akan semakin besar
reaksi pasar (semakin tinggi ERC).
6. The informativeness of price (firm size). Semakin
informatif harga (proksinya adalah firm size), semakin
sedikit kandungan informasi tentang pengumuman laba.
Reaksi pasar tidak terlalu besar atas pengumuman laba
perusahaan besar yang sering muncul dalam perberitaan
dan media massa.
Earnings Response Coefficients (ERC)
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 18
Karakteristik extraordinary item:
Tidak diharapkan sering terjadi sepanjang tahun.
Tidak merupakan aktivitas normal perusahaan.
Tidak tergantung pada keputusan dan determinasi
manajemen atau pemilik.

Pengertian yang tegas tentang extraordinary item
harus dibuat. Jangan sampai manajemen
melakukan classificatory smoothing, yaitu
melakukan income smoothing dengan
mengklasifikasi extraordinary item sebagai unsur
earnings dari aktivitas operasi normal.
Extraordinary Items
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 19
Dengan karakteristik tersebut, persistensi (kemampuan
terjadi terus-menerus) laba karena extraordinary item
rendah. Unsur-unsur ini harus diungkapkan karena apabila
tidak, pasar akan salah menafsirkan persistensi earnings
perusahaan.

Kalau tahun ini ada unsur extraordinaty item, maka tahun
depan mungkin earningsnya akan lebih rendah. Hal ini
disebabkan oleh unsur earnings tahun ini tidak hanya
permanent earnings (yang persisten) tetapi juga transitory
earnings (sementara) yang berasal dari extraordinaty item
tersebut.
Extraordinary Items
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 20
High persistence (ERC lebih dari 1). Perusahaan
mengumumkan telah berhasil mengembangkan produk baru.
Perusahaan berhasil menemukan metode untuk meningkatkan
efisiensi cukup signifikan. GN ini akan direaksi pasar lebih
dari 1 karena diharapkan net income masa depan akan lebih
besar.
Persistence of 1 (ERC adalah 1). Perusahaan mengumumkan
GN dengan adanya peningkatan net income yang disebabkan
oleh laba penjualan aktiva tetap atau penghentian suatu
kegiatan usaha. Hal ini terjadi karena tidak ada alasan untuk
mengharapkan laba seperti ini akan terulang kembali.
Persistence of 0 (ERC adalah 0). Perusahaan mengumumkan
GN dengan meningkatnya net income yang disebabkan oleh
perubahan metode akuntansi, misalnya perusahaan
mengkapitalisasi biaya organisasi atau biaya promosi. Tidak
ada alasan bagi pasar untuk bereaksi terhadap GN ini.
Extraordinary Items
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 21
Hasil estimasi empiris menunjukkan bahwa ERC
perusahaan J adalah 0,38. Perusahaan K identik
dengan perusahaan J dalam hal: size, earnings
power, persistence of earnings, dan risk. Tidak
seperti perusahaan J, perusahaan K memberikan
informasi suplemen berupa forecast bagi pasar.
Hasil estimasinya menunjukkan bahwa ERC
perusahaan K adalah 0,57. Laporan net income
perusahaan mana yang lebih bermanfaat? Apakah
hal ini berarti bahwa perusahaan dituntut harus
menyediakan forecast bagi investor?
Kasus untuk Diskusi
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 22
Ada riset yang menyatakan bahwa pasar bereaksi
terhadap informasi akuntansi dengan narrow
window (misalnya 3 hari). Riset tersebut
menyatakan bahwa informasi akuntansi penyebab
return pasar. Namun ada juga riset yang
menemukan bahwa ada hubungan antara informasi
akuntansi dengan return pasar dalam wider window
(misalnya 12 bulan). Mengapa hal ini terjadi?
Kasus untuk Diskusi
Dr. Baldric Siregar, MBA., Ak. 23
Jelaskan mengapa perlu menemukan exact time
yang menggambarkan reaksi pasar yang pertama
terhadap informasi akuntansi. Dapatkah exact time
tersebut ditemukan? Apa yang dapat dilakukan
peneliti apabila exact time tidak bisa ditemukan?
Kasus untuk Diskusi