Anda di halaman 1dari 39

Dokter Muda Bagian Ilmu

Penyakit Dalam
RSUP Dr. M.Djamil Padang

DIAGNOSIS DAN
TATALAKSANA DM TIPE 2
LATAR BELAKANG
Diabetes Melitus : penyakit kronis yang
memerlukan terapi medis secara
berkelanjutan
Kecenderungan peningkatan prevalensi
DM
Mengakibatkan berbagai macam
komplikasi
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana diagnosis dan
penatalaksanaan dari diabetes mellitus
tipe 2?

TUJUAN
Untuk mengetahui diagnosis dan
penatalaksanaan dari diabetes mellitus
tipe 2

MANFAAT
Menambah ilmu pengetahuan mengenai
diagnosis dan penatalaksanaan dari
diabetes mellitus tipe 2

DEFINISI
penyakit kelainan metabolik yang
dikarakteristikkan dengan hiperglikemia
kronis serta kelainan metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein diakibatkan
oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin
maupun keduanya
EPIDEMIOLOGI
American Diabetes Association tahun
2012 (ADA 2012), sekitar 10,2 juta orang
di Amerika Serikat menderita DM.
Indonesia prevalensi DM sebesar 1,5-
2,3% penduduk usia >15 tahun
Manado prevalensi DM sebesar 6,1%
11


KLASIFIKASI
tipe 1
DM tipe 2
DM dalam kehamilan
diabetes tipe lain
FAKTOR RESIKO
usia 45 tahun
Obesitas (Indeks Massa Tubuh > 23 kg/m2)
Riwayat keluarga diabetes mellitus
Riwayat melahirkan bayi dengan berat badan > 4000
gram (4kg), atau riwayat diabetes gestasional,
Riwayat hipertensi ( 140/90 mmHg), kolesterol (HDL
35 mg/dL dan atau trigliserida 250 mg/dL)
Riwayat penyakit jantung, orang sebelumnya
dinyatakan sebagai TDT (Toleransi Glukosa
Terganggu) atau GDPT (Glukosa Darah Puasa
Terganggu).

ETIOLOGI & PATOGENESIS
gangguan genetik
penyakit iatrogenik akibat steroid
kondisi endokrin seperti hiperpituitarisma
atau hipertiroidisma
kerusakan sel-sel pulau-pulau Langerhans
akibat inflamasi, kanker, atau pasca
bedah.
MANIFESTASI KLINIS
poliuria (banyak berkemih)
polidipsia (rasa haus sehingga jadi
banyak minum)
polifagia (banyak makan karena perasaan
lapar terus-menerus)
penurunan berat badan yang tidak dapat
dijelaskan sebabnya
Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Anamnesis
Adanya gejala klasik dari DM yaitu poliuri, polifagi dan
polidipsi
Pola diet sehari-hari, riwayat berat badan berlebih,
aktifitas fisik yang kurang
Riwayat infeksi berulang khususnya pada kulit, kaki,
gigi dan urogenital
Riwayat keluarga mengalami diabetes mellitus
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan tinggi dan berat badan serta
perhitungan Body mass index (BMI)
Pemeriksaan tekanan darah dan kelainan
kardiovaskular
Pemeriksaan fungsi saraf motorik dan sensorik
Pemeriksaan mata, kelainan kulit, ginjal dan organ
lain yang biasanya mengalami komplikasi dari DM
Pemeriksaan laboraturium
Glukosa darah puasa, glukosa darah sewaktu
A1c
Pemeriksaan A1c 6 % pada 2 kali pemeriksaan
Profil lipid : total kolesterol, High-density lipoprotein (HDL), low-
density lipoprotein (LDL) dan trigliserida
Kreatinin dan ureum
Urinalisa : keton, glukosa, protein
DIAGNOSIS
Apabila hasil pemeriksaan tidak
memenuhi kriteria normal atau DM,
bergantung pada hasil yang diperoleh,
maka dapat digolongkan ke dalam
kelompok toleransi glukosa terganggu
(TGT) atau glukosa darah puasa
terganggu (GDPT).
1. TGT: Diagnosis TGT ditegakkan bila
setelah pemeriksaan TTGO didapatkan
glukosa plasma 2 jam setelah beban antara
140 199 mg/dL (7,8-11,0 mmol/L).
2. GDPT:Diagnosis GDPT ditegakkan bila
setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa
didapatkan antara 100 125 mg/dL (5,6
6,9 mmol/L) dan pemeriksaan TTGO gula
darah 2 jam < 140 mg/dL

Screening
Pada orang yang memiliki
resiko untuk terjadi DM
Untuk kelompok risiko tinggi yang
tidak menunjukkan kelainan hasil,
dilakukan ulangan tiap tahun. Bagi
mereka yang berusia >45 tahun
tanpa faktor risiko lain,
pemeriksaan penyaring dapat
dilakukan setiap 3 tahun
Patokan kadar gula darah
TATALAKSANA
Penatalaksanaan Diabetes
Melitus
21
Penatalaksanaan
DM
Evaluasi medis
Lengkap
Evaluasi medis
secara berkala
Pilar
Penatalaksanaan
DM
Pilar penatalaksanaan DM :

pola gaya hidup
Edukasi
pengaturan makan pada penyandang
diabetes
makanan yang seimbang &sesuai
dengan kebutuhan kalori dan zat gizi
masing-masing
Terapi gizi
medis
3-4 kali seminggu selama 30
menit
bersifat aerobik
Latihan jasmani
Obat hipoglikemik oral
Insulin
Kombinasi
Intervensi
farmakologis
TERAPI NUTRISI MEDIS
23
1. Kadar glukosa darah mendekati
normal ;
GPD 90-130 mg/dl,
GD2PP <180 mg/dl,
A1c <7%
2. Tekanan darah <130/80 mmHg
3. Profil lipid ;
LDL <100 mg/dl,
HDL >40mg/dl,
Trigliserida <150 mg/dl
4. Berat badan senormal mungkin
Pengaturan kebutuhan
kalori dengan IMT atau
BBI dengan rumus
Broca
Pengaturan
karbohidrat,
lemak, protein,
natrium, serat,
pemanis alternatif
Latihan
Jasmani
TERAPI FARMAKOLOGIS
24
Pemicu
Sekresi
Insulin
Peningkat
sensitivitas
terhadap
insulin
Penghambat
glukoneogene
sis
Penghambat
Glukosidase
Alfa
(Acarbose)
DPP-IV
inhibitor
1. Obat
Hipoglikemik
Oral
Obat Hipoglikemik Oral
Pemicu sekresi insulin sulfonil urea dan
glinid
Penambah sensitivitas terhadap insulin
tiazolidindion
Penghambat glukoneogenesis
metformin
Penghambat absorpsi glukosa
penghambat glukosidase alfa
Cara Pemberian OHO
OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan
secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah,
dapat diberikan sampai dosis hampir maksimal
Sulfonilurea generasi I & II : 15 30 menit sebelum
makan
Glimepirid : sebelum/sesaat sebelum makan
Repaglinid, Nateglinid : sesaat/ sebelum makan
Metformin : sebelum /pada saat / sesudah makan
Penghambat glukosidase (Acarbose) : bersama
makan suapan pertama
Tiazolidindion : tidak bergantung pada jadwal makan.
TERAPI FARMAKOLOGIS
28
Insulin
Agonis GLP-
1/incretin
mimetic
2. Suntikan
Insulin
Insulin diberikan pada keadaan:
Penurunan berat badan yang cepat
Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
Ketoasidosis diabetik
Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
Hiperglikemia dengan asidosis laktat
Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir
maksimal
Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar,
IMA, stroke)
Kehamilan dengan DM/diabetes melitus
gestasional yang tidak terkendali dengan
perencanaan makan
Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
Jenis dan Lama kerja Insulin
insulin kerja cepat (rapid acting insulin)
insulin kerja pendek (short acting insulin)
insulin kerja menengah (intermediate
acting insulin)
insulin kerja panjang (long acting insulin)
insulin campuran tetap, kerja pendek dan
menengah (premixed insulin).
KOMPLIKASI
Komplikasi akut :
- Hipoglikemia
- Ketoasidosi Metabolik
- Hiperosmolar non ketotik
KOMPLIKASI
Komplikasi Kronik
- Makroangiopati
- Mikroangiopati
- Neuropati
- Komplikasi dengan mekanisme
gabungan
PROGNOSIS
Cepat didiagnosa dan diobati maka akan
memperlambat terjadinya komplikasi
sehingga morbiditas dan mortalitasnya
menurun.

Jika telat didiagnosa dan diobati,
maka tingkat mortalitas dan
morbiditasnya akan meningkat karena
komplikasi mudah terjadi.