Anda di halaman 1dari 13

IDENTIFIKASI POTENSI LAHAN UNTUK PENYEDIAAN

LAHAN PERTANIAN PANGAN PADA LAHAN HUTAN


PRODUKSI KONVERSI (HPK) DI PROVINSI KALIMANTAN
BARAT DAN KALIMANTAN TENGAH
PENANGGUNG JAWAB SURVEY,
Ir. M.HUSNI.MM
Disampaikan 7 Oktober 2014, Hotel Salak- Jln.Ir. H.Juanda No.8, Bogor
KERJASAMA DIREKTORAT PERLUASAN AREAL DAN PENGELOLAAN LAHAN, DITJEN PLANOLOGI- KEMENHUT
BALAI BESAR SUMBER DAYA LAHAN, INSTITUT PERTANIAN BOGOR
DAN UNIVERSITAS GAJAH MADA
2012
Fokus Utama Pemerintahan Pada Kabinet Bersatu Jilid II adalah
Peningkatan Produksi Beras 10 juta ton pada 2014.

Fokus Utama Pemerintahan yang akan datang adalah mewujudkan
ketahanan dan kedaulatan pangan, maka salah satunya diperlukan
perluasan lahan pertanian pangan.

Surat Dirjen Planologi, Kemenhut Nomor : S.163/VII_REN/2012,
tanggal 8 Februari 2012, guna mendukung pencapaian peningkatan
produksi beras 10 juta ton telah dicadangkan lahan HPK yang dapat
dikonversi di Kalimantan yang berindikatif potensial untuk pangan
seluas 307.700 Ha, masing-masing 119.376 Ha di Kalimantan
Barat, 178.572 Ha di Kalimantan Tengah, dan 9.922 Ha di
Kalimantan Timur.
P E N D A H U L U A N
Areal Potensial tersebut masih memerlukan kajian, al : kesesuaian
lahan, kondisi penggunaan lahan saat ini, infrastruktur / aksesibilitas,
dan lain-lain.

Atas dasar hal tersebut diatas maka dibentuklah Tim Kordinasi
Penyediaan Lahan untuk Pertanian melalui SK Menko Bidang
Perekonomian No.: Kep/56/M.Ekon/07/2012 yang melibatkan 9
Kementerian/Lembaga.
L a n j u t a n
Mengetahui kondisi lahan cadangan untuk
pengembangan tanaman pangan di kawasan HPK di
Propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Menyusun arahan potensi pengembangan lahan
cadangan tersebut,terutama untuk tanaman padi.
T U J U A N
Luas lahan yang
dicadangkan untuk
pertanian 307.700 Ha

Kalbar 119.376 Ha
Kalteng 178.572 Ha
Kaltim 9.922 Ha
Surat Direktorat Jenderal
Planologi Kehutanan
S.163/VII-REN/2012

SK Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian
melibatkan 9
Kementerian/Lembaga
Tim Koordinasi Penyediaan
Lahan Untuk Pertanian
KEP/56/M.EKON/07/2012


Kementerian Pertanian
Kementerian Kehutanan
UGM
IPB


Tim Survey
Penyediaan Lahan
Pangan di Kawasan
HPK
Hasil screening:
Kalimantan Barat 108.147
Ha
Kalimantan tengah 85.671
Ha
Kajian:
Kesesuaian lahan
Penggunaan
lahan
Status lahan
Workdesk
(screening awal)
Hasil survey lapang dan
analisis:
Kalimantan Barat 64.586 Ha
Kalimantan tengah 59.097
Ha
kawasan dengan tanah bertekstur pasir,
lereng > 15%,
penggunaan/tutupan lahan sudah kebun
atau ada ijin lokasi/HGU,
luasan < 200 ha dalam satu hamparan
A L U R P E L A K S A N A A N S U R V E Y
Dari kriteria yang digunakan: tanah, lereng,
penggunaan lahan, perizinan lokasi/HGU,
maka potensi lahan HPK dibedakan atas tiga
kelas:
1). Berpotensi, 2). Tidak berpotensi dan
3). Lainnya.
ME T OD OL OGI
PROVINSI KALIMANTAN BARAT
Pertanian Lahan Basah: 39.158 Ha
(sawah irigasi, sawah tadah hujan)

Pertanian Lahan Kering: 25.428 Ha
(jagung, ubi kayu, kedelai)
Lahan yang berpotensi untuk pertanian pangan sebesar: 64.586 Ha
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
Pertanian Lahan Basah: 41.790 Ha
(sawah irigasi, sawah tadah hujan)

Pertanian Lahan Kering: 17.307 Ha
(jagung, ubi kayu, kedelai)
Lahan yang berpotensi untuk pertanian pangan sebesar: 59.097 Ha
HASI L SURVEY LAPANG DAN ANALI SI S
1. Provinsi Kalimantan Barat seluas 43.561 ha
2. Provinsi Kalimantan Tengah seluas 26.574 ha
Lahan yang tidak berpotensi untuk pertanian pangan :
Keterangan :
Lahan yang tidak berpotensi untuk pertanian pangan
disebabkan oleh :
tekstur pasir (Spodosols),
lahan berlereng >15%,
telah mendapat ijin lokasi/HGU dari pemerintah setempat,
bahkan sebagian telah digunakan untuk perkebunan kelapa
sawit/karet milik swasta, dan
gambut
TA NTA NGA N
TA NTA NGA N
1. Syarat Teknis Pengembangan tanaman pangan :
lahan kering dengan kemiringan 8-15%, dan
lahan basah (padi sawah, tadah hujan) dengan kemiringan < 8%.
Tantangan yang perlu diatasi :
Perlu terasering.
Sumber airnya yang hanya mengandalkan curah hujan.

2. Aksesibilitas untuk mencapai lokasi sebagian besar tergolong
sedang sampai cukup sulit (belum terdapat jalan yang memadai).

3. Populasi penduduk jarang.

4. Sebagian besar lahan yang potensial untuk pangan telah diokupasi
oleh penduduk setempat dan diakui sebagai tanah adat (ditanami
karet dan komoditas pangan lainnya)
1. Surat Menteri Kehutanan No. S-18 s/d-33/Menhut-VII/2013, tanggal 15
Januari 2013, meminta kepada Guburnur Kalimantan Barat dan Kalimantan
Tengah serta 4 Bupati di Kalimantan Barat dan 11 Bupati di Kalimantan Tengah
untuk tidak mencadangkan areal dimaksud untuk keperluan diluar
pengembangan tanaman pangan (padi, jagung, kedelai, tebu, peternakan
sapi, dan kerbau).
2. Surat Menteri Dalam Negeri No : 522/7678/SJ, tanggal 23 Oktober 2013,
meminta Guburnur Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah agar
memerintahkan kepada para Bupati yang wilayahnya terdapat cadangan areal
Hutan Produksi yang dapat dikonversi untuk mengajukan usulan pelepasan
cadangan areal hutan produksi yang dapat dikonversi kepada Menteri
Kehutanan, agar dapat segera dimanfaatkan untuk kegiatan investasi
pembangunan lahan pertanian baru sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.


T I N D A K L A N J U T
H A S I L S U R V E Y
3. Menanggapi Surat Menteri Dalam Negeri tersebut diatas, Guburnur
Kalimantan Tengah melalui Surat No.: 521.5/1183/Distanak/2013, tanggal 22
Oktober 2013 yang dilanjutkan dengan Suar No.522/0499 Dishut, tanggal 20
Mei 2014 telah meminta para Bupati agar segera memanfaatkan HPK yang
telah dicadangkan tersebut sebagai lahan pertanian pangan.

4. Berdasarkan hasil sosialisasi dan Rakor yang pernah dilakukan di Kantor
Menko Perekonomian disampaikan anatara lain :
Agar permintaan pelepasan diajukan dari Menteri Pertanian Kepada
Menteri Kehutanan atas usul dari Bupati dan Guburnur sehingga dapat
dikeluarkan ijin prinsip untuk dilakukan pemantapan sementara itu untuk
validasi lahan yang sesuai untuk dimasukan dalam LP2B didalam RTRW
tetap dilakukan inventarisnya.
Untuk jangka waktu dekat pihak BUMN belum berani memanfaatkan lahan
tersebut, karena saat ini pihak BUMN memerlukan lahan sawah yang bisa
segera digunakan mengingat surplus 10 juta ton harus dicapai tahun 2014.


l a n j u t a n
5. Perlu dilakukan updating kembali terhadap lokasi tersebut, mengingat
pelaksanaan survey tersebut dilakukan pada 2 tahun yang lalu guna
mengetahui kondisi saat ini, dengan melakukan pemetaan dan evaluasi
kesesuain lahan secara mendetail.

6. Perlu peran Pemerintah Pusat/Daerah untuk menyiapkan infrastruktur dasar
terlebih dahulu (jalan, jembatan, jaringan irigasi) pada wilayah tersebut
apabila akan dimanfaatkan serta mobilisasi SDM untuk mengolah lahan
tersebut melalui transmigrasi dan atau kerjasama inti-plasma.

7. Perlu pendekatan /sosialisai kepada masyarakat setempat, serta pelibatan
sektor swasta/BUMN melalui pertanian modern (food estate).
l a n j u t a n