Anda di halaman 1dari 25

GAGAL GINJAL AKUT

1
Definisi
 suatu sindrom yang yang ditandai dengan penurunan
fungsi ginjal yang mendadak dengan akibat terjadinya
penimbunan hasil hasil metabolit persenyawaan nitrogen
seperti, ureum dan kreatinin serta gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit yang seharusnya
dikeluarkan oleh ginjal (Anderson dan Schrier, 1980,
Bresis dkk, 1986).
Fine (1987) mempertajam definisi ini dengan
menambahkan peningkatan kreatinin darah secara
progresif 0.5 mg/dl perhari atau peningkatan kadar ureum
10-20 mg/dl perhari, kecuali bila terjadi keadaan
hipermetabolisme dapat mencapai 100 mg/dl perhari.
 Pada neonatus harus memperhatikan manifestasi
klinis, usia kehamilan (preterm/ aterm) dan kadar
kreatinin serum ibu. Kadar kreatinin serum > 1.5
mg/dl atau lebih tinggi dari kadar normal fungsi
ginjal ibunya.
 Insufisiensi ginjal akut pada neonatus aterm atau
prematur bila didapatkan peningkatan kadar
kreatinin serum atau kegagalan penurunan kadar
kreatinin serum dalam minggu I kehidupan pada
bayi aterm.
(Chua and Sarwal, management acute renal failure in neonate,
Neoreview, 2005)

3
 Klasifikasi RIFLE, 2004 ( The Acute Dialysis Quality Initiative (ADQI)
group ), berdasarkan perubahan kadar kreatinin darah, laju filtrasi
glomerulus (LFG) dan diuresis.
• Risiko (R) : peningkatan kreatinin serum 1.5 kali atau penurunan
LFG 25% atau diuresis < 0.5 ml/kg/jam selama 6 jam.
• Injuri (I) : peningkatan kreatinin serum 2.0 kali atau penurunan
LFG 50% atau diuresis < 0.5 ml/kg/jam selama 12 jam.
• Gagal (F) : peningkatan kreatinin serum 3.0 kali atau penurunan
LFG 75% atau kadar kreatinin ≥ 4 mg/dl dengan peningkatan akut >
0.5 mg/dl; diuresis < 0.3 mg/dl/jam selama 24 jam atau anuria selama
12 jam .
• Loss (L) : persisten gagal ginjal akut , kehilangan fungsi ginjal > 4
minggu.
• Penyakit ginjal stadium akhir (end stage) (E) : kehilangan fungsi ginjal
> 3 bulan.

Peacock , 2008 , e medicine : Acute Renal failure


Secara klinis GGA dapat dibagi 2 golongan
1. GGA oligurik : definisi oliguria pada anak adalah <240
ml/m2/hari atau 8-10 ml/kgBB/hari. Pada neonatus <
1ml/kgBB/jam (James, 1986; Anand, 1982. Penulis lain
memberi batasan < 0,5 ml/kgBB/jam (Ingelfinger,
1985). Sedangkan Gandio dan Siegel (1989)
berpendapat bahwa pada setiap anak dapat dipakai
definisi < 0,8 cc/kg BB/jam
2. GGA non oligurik : pada kondisi ini tidak dijumpai
oliguria terapi kadar ureum dan kreatinin meningkat.
Hal ini sering dijumpai pada GGA akibat pemakaian
obat-obat nefrotoksik

5
Etiologi GGA
A. GGA pra renal, terjadi akibat hipovolemia,
hipotensi dan hipoperfusi ginjal sbb :
1. Kehilangan darah : trauma, perdarahan.
2. Kehilangan plasma : luka bakar, peritonitis.
3. Kehilangan air dan elektrolit : gastroenteritis
akut.
4. Hipoalbuminemia pada sindrom nefrotik.
5. Dekompensasi jantung : infark miokard.
6. Pada neonatus akibat syok septik atau asfiksia
berat.

6
B. GGA renal terjadi karena :
1. Kerusakan epitel tubulus : nekrosis tubuler akut
1.1. Tipe iskemik : karena GGA pra renal yang
akut berlangsung lama.
1.2. Tipe nefrotoksik karena obat antara lain :
aminoglikosida, zat kontras radiopak dan
lain-lain.
2. Kerusakan glomerulus
2.1.Glomerulonefritis akut
2.2. Sindrom hemolitik uremik

7
3. Penyakit vaskuler : trombosis, hipertensi
4. Pada neonatus dapat terjadi karena anomali
ginjal yaitu polikistik infantil, ginjal multikistik,
displastik bilateral.
C. GGA pasca renal
Obstruksi bisa disebabkan oleh :
1. Kelainan kongenital : mis : valvula uretrovesikal
2. Batu.
3. Bekuan darah.
4. Tumor.
5. Kristal (asam jenggol, asam urat).

8
Chan, William and Roth, Kidney failure in infant and children, pediatric review, 2002
Chan, William and Roth, Kidney failure in infant and children, pediatric review, 2002
Algoritme penanganan gagal ginjal akut
Penatalaksanaan gagal ginjal
Gagal ginjal pra renal
 Jenis cairan yang diberikan tergantung etiologi
hipovolemia. Pada gastroenteritis dehidrasi diberikan
Ringer Laktat atau Dextrose 1/2 salin sesuai protokol.
Pada syok hemoragik diberikan trannsfusi darah
 Pada syok yang terjadi pada sindrom nefrotik akibat
hipoalbuminemia diberikan infus albumin atau plasma
 Pada dehidrasi yang tak jelas etiologinya sebaiknya
diberi Ringer Laktat 20 ml/kg BB dalam waktu 1 jam.
Biasanya terjadi diuresis setelah 2-4 jam pemberian
terapi rehidrasi

13
Gagal ginjal akut pasca renal
• Bila ditemukan GGA pasca renal pada USG maka
perlu ditentukan lokalisasi dengan pielografi
arterad atau retrograt.

• Tindakan bedah tergantung pada situasi, dapat


bertahap dengan melakukan nefrostomi dulu untuk
mengeluarkan urin dan memperbaiki keadaan
umum atau segera melakukan pembedahan
definitif dengan menghilangkan obstruksinya.

14
Gagal ginjal renal
Tujuan pengobatan pada GGA renal ialah :
mempertahankan hemostasis tubuh sambil menunggu
Ginjal berfungsi kembali.
Pemantauan yang perlu dilakukan ialah :
1. Tanda-tanda vital : tensi, nadi, pernafasan, ritme
jantung
2. Pemeriksaan darah : Hb, Ht, Trombosit
3. Darah : ureum & kreatinin
4. Elektrolit : K, Na, Cl, Ca, P dan asam urat
5. Analisis gas darah
6. Pengukuran diuresis

15
Terapi GGA renal dapat dibagi dua yaitu :
A. Terapi konservatif
1. Terapi cairan dan kalori
Perhitungan IWL didasarkan pada caloric
expenditure (Trainin dan Spitzer, 1978) sbb :
Berat Badan - 0-10 kg : 100 kal/kg BB/hari
- 11-20 kg : 1000 kal + 50 kal/kg
BB/hr diatas 10 kg BB
- 20 kg : 1500 kal + 20 kal/kg
BB/hr diatas 20 kg BB
Jumlah IWL = 25 ml per 100 kal.

16
Secara praktis dapat dipakai perkiraan perhitungan
sebagai berikut : anak < 5 th = 30 ml/kg BB/hari
anak > 5 th = 20 ml/kg BB/hari
2. Asidosis
Bila hasil pemeriksaan gas darah menunjukan hasil
asidosis metabolik, dikoreksi dengan cairan
natrium bikarbonat sesuai dengan hasil analisis
gas darah yaitu ekses basa x berat badan x 0,3
(mEq), atau kalau hal ini tidak memungkinan maka
dapat diberikan koreksi buta 2-3 mEq/kg BB/hari

17
3. Hiperkalemia
Hiperkalemia perlu segera ditanggulangi karena
bisa membahayakan jiwa penderita.
Bila kadar K serum 5,5-70 mEq/L perlu diberi
kayexalat yaitu kation exchange resin (Resonium
A) 1 mg/kg BB per oral atau perektal 4 x sehari.

Bila kadar K > 7,0 mg/L atau ada kelainan EKG


atau aritmia jantung perlu diberikan :
- Glukonas kalsikus 10 % 0,5 ml/kg BB i.v. dalam
5- 10 menit.
- Natrium bikarbonat 7,5 % 2,5 mEq/kg BB i.v.
dalam 10-15 menit.

18
4. Hiponatremia
Hiponatremia < 30 mEq/L sering ditemukan karena
pemberian cairan yang berlebihan sebelumnya dan
cukup dikoreksi dengan restriksi cairan. Bila
disertai dengan gejala serebral maka perlu
dikoreksi dengan cairan Na Cl hipertonik 3 % (0,5
mmol) = (140-Na darah) x 0,5 x 33
5. Tetani
Bila timbul gejala tetani akibat hipokalsemia perlu
diberikan glukonas kalsium 10 % i.v. 0,5 ml/kg BB
pelan-pelan 5-10 menit dilanjutkan dengan dosis
rumat kalsium oral 1-4 gram/hari

19
6. Kejang
Bila terjadi kejang dapat diberikan diazepam 0,3-
0,5 mg/kg BB I.v. dan dilanjutkan dengan dosis
rumat luminal 4-8 mg/kg BB/hari atau difenil
hidantoin 8 mg/kg BB.

7. Anemia
Transfusi dilakukan bila kadar Hb < 6 g/dl atau Ht <
20 % sebaiknya diberikan packed red cel untuk
mengurangi penambahan volume darah.

20
8. Hipertensi
Hipertensi ditanggulangi dengan diuretika, bila
perlu dikombinasi dengan captopril 0,3 mg/kg
BB/kali diberikan 2-3 kali sehari dinaikan secara
bertahap sampai 2 mg/kg BB/kali. Pada hipertensi
krisis dapat diberikan klonidin drip 0,002 - 0,006
mg/kg BB.
9. Edema paru
Merupakan hal yang sangat berbahaya dan dapat
menimbulkan kematian dalam waktu singkat,
sebagai tindakan percobaan dapat diberikan
furosemid I.V. 1 mg/kg BB/x.

21
Bila tindakan tersebut tidak memberi hasil yang
efektif dalam waktu 20 menit maka dialisis harus
segera dilakukan.

B. Tindakan Dialisis.
Jenis dialisis pada anak biasanya dilakukan :
Peritoneal Dialisis, anak yang lebih besar dapat
dilakukan Hemodilaisis.

22
• Indikasi dialisis pada GGA
1. Kadar ureum > 200 mg%
2. Hiperkalemia > 7.5 mEq/L
3. Bikarbonas serum < 12 mEq/L
4. Adanya gejala overhidrasi : edema paru,
dekompensasi jantung, dan hipertensi yang tidak
dapat diatasi dengan obat-obatan.
5. Perburukan keadaaan umum dengan geajla uremia
berat: perdarahan, kesadaran menurun sampai koma.
Prognosis
 Tergantung : usia, luas kerusakan ginjal dan
penyebab dasarnya.
 GGA non oligurik lebih baik prognosisnya 
komplikasi dan kematian rendah, jarang
memerlukan dialisis.
 Kematian tinggi pada penyebab non renal : sepsis,
syok kardiogenik, operasi jantung terbuka ( 50%);
pada penyebab renal (10%) pada GNA, HUS, dan
nefrotoksik agen.
Terima kasih