Anda di halaman 1dari 38

REFERAT EPILEPSI

Pembimbing :
Dr. Wiwin Sundawiyani,
Sp.S
OLEH :
KELOMPOK SARAF

2014
Epilepsi didefinisikan sebagai kumpulan gejala
dan tanda-tanda klinis yang muncul
disebabkan gangguan fungsi otak secara
intermiten, yang terjadi akibat lepas muatan
listrik abnormal atau berlebihan dari neuron-
neuron secara paroksismal.
Epileptic seizure
Manifestasi klinis yang serupa dan berulang
secara paroksismal, yang disebabkan oleh
hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di
otak yang spontan dan bukan disebabkan oleh
suatu penyakit otak akut (unprovoked).
Penyebab Epilepsi ?
Cedera otak
Keracunan
Stroke
Infeksi
Infestasi parasit
Tumor otak
Epidemiologi
Perempuan dan laki-laki dapat terjadi
Umur berapa saja, dan ras apa saja.
Jumlah penderita epilepsi meliputi 1-2% dari
populasi.
Tidak diketahui
penyebabnya -
Idiopatik
Epilepsi
Simtomatik
trauma kepala, infeksi,
kongenital, lesi desak
ruang, gangguan
peredaran darah otak,
toksik dan metabolik.
Penyebab Epilepsi
Aktivitas saraf abnormal
Gangguan biokimia atau metabolik dan lesi
mikroskopik di otak akibat trauma otak pada saat
lahir atau cedera lain
Asfiksi atau hipoksia waktu lahir, trauma
intrakranial waktu lahir, gangguan metabolik,
malformasi congenital pada otak, atau infeksi
Pada anak-anak dan remaja, mayoritas adalah
epilepsy idiopatik, sedangkan pada anak umur 5-6
tahun disebabkan karena febris
Pada usia dewasa penyebab lebih bervariasi
idiopatik, karena cedera kepala maupun tumor

Faktor Pencetus
Kurang tidur
Stress emosional
Infeksi
Obat-obat tertentu
Alkohol
Perubahan hormonal
Terlalu lelah
Fotosensitif

Klasifikasi
Klasifikasi menurut sindroma epilepsi yang
dikeluarkan ILAE tahun 1989
Berkaitan dengan
letak fokus
Idiopatik
Epilepsi Rolandik
benigna
Epilepsi pada anak
dengan paroksismal
oksipital
Simptomatik
- Lobus temporalis
- Lobus frontalis
- Lobus parietalis
- Lobus oksipitalis
Umum
Idiopatik Simptomatik
Berkaitan dengan
lokasi dan epilepsi
umum (campuran
1 dan 2)
Epilepsi yang
berkaitan dengan
situasi
Neurotransmiter yang berperan
Glutamat, yang merupakan brains excitatory
neurotransmitter
GABA (Gamma Aminobutyric Acid), yang bersifat sebagai
brains inhibitory neurotransmitter.
Golongan neurotransmiter lain yang bersifat
eksitatorik
aspartat dan asetil kolin,
sedangkan yang bersifat inhibitorik
Noradrenalin
Dopamine
Serotonin (5-HT) dan peptida
Neurotransmiter ini hubungannya dengan epilepsy
belum jelas dan masih perlu penelitian lebih lanjut.
Patogenesis
Kejang disebabkan karena ada
ketidakseimbangan antara
pengaruh inhibisi dan
eksitatori pada otak

Ketidakseimbangan bisa terjadi
karena :
Kurangnya transmisi inhibitori
Meningkatnya aksi eksitatori
Patofisiologi
Defek pada (GABA)-
A inhibition
Defek pada (GABA)-
B inhibition
Defek pada aktivasi
neuron GABA
Defek buffering
kalsium intraseluler

Peningkatan aktivasi
reseptor NMDA
Peningkatan
sinkronisasi
antarneuron akibat
interaksi ephaptic
Peningkatan
sinkronisasi atau
aktivasi akibat
eksitatorik kolateral
berulang

Mekanisme penurunan
inhibisi
Mekanisme peningkatan
eksitasi
Patofisiologi
Gangguan
fungsi
membran
Mudah
dilalui ion
Ca,Na
Eksraseluler Intaseluler
Ca letupkan
depolarisasi
Lepaskan
Muatan
listrik
berlebihan
Epilepsi


Manifestasi klinik
Epilepsi umum :
Major :
Grand mal (meliputi 75% kasus epilepsi).
hilang kesadaran dan bangkitan tonik-tonik.
didahului aura Aura dapat berupa perasaan tidak enak,
melihat sesuatu, mencium bau-bauan tak enak, mendengar
suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit kepala dan
sebagainya.
jeritan epilepsi Udara paru-paru terdorong keluar
dengan deras sehingga terdengar.
Kejang tonik ini kemudian disusul dengan kejang klonik
yang seolah-olah mengguncang-guncang dan
membanting-banting tubuh si sakit ke tanah.
Kejang tonik-klonik berlangsung 2 - 3 menit.

Minor
Petit mal
Epilepsi umum yang idiopatik.
Meliputi kira-kira 3-4% dari kasus epilepsi.
Umumnya timbul pada anak sebelum pubertas (4-5
tahun).
Bangkitan berupa kehilangan kesadaran yang
berlangsung tak lebih dari 10 detik.
Sikap berdiri atau duduk sering kali masih dapat
dipertahankan Kadang-kadang terlihat gerakan alis,
kelopak dan bola mata.
Setelah sadar biasanya penderita dapat melanjutkan
aktivitas semula.
Bangkitan petit mal yang tak ditanggulangi 50%
akan menjadi grand mal. Petit mal yang tidak
akan timbul lagi pada usia dewasa dapat
diramalkan berdasarkan 4 ciri :
Timbul pada usia 4-5 tahun dengan taraf kecerdasan
yang normal.
Harus murni dan hilang kesadaran hanya beberapa
detik.
Harus mudah ditanggulangi hanya dengan satu
macam obat.
Pola EEG khas berupa gelombang runcing dan
lambat dengan frekuensi 3 per detik.

Bangkitan mioklonus
Bangkitan berupa gerakan involunter
misalnya anggukan kepala, fleksi lengan
yang teijadi berulang-ulang.
Bangkitan terjadi demikian cepatnya
sehingga sukar diketahui apakah ada
kehilangan kesadaran atau tidak.
Bangkitan ini sangat peka terhadap
rangsang sensorik.

Bangkitan akinetik
Bangkitan berupa kehilangan kelola sikap
tubuh karena menurunnya tonus otot
dengan tiba-tiba dan cepat sehingga
penderita jatuh atau mencari pegangan
dan kemudian dapat berdiri kembali.
Ketiga jenis bangkitan ini (petit mal,
mioklonus dan akine- tik) dapat terjadi
pada seorang penderita dan disebut trias
Lennox-Gastaut.

spasme infantile
Dikenal sebagai salaamspasm atau sindroma
West.
Timbul pada bayi 3 -- 6 bulan dan lebih sering
pada anak laki-laki.
Penyebab yang pasti belum diketahui.
Bangkitan dapat berupa gerakan kepala
kedepan atau keatas, lengan ekstensi, tungkai
tertarik ke atas, kadang-kadang disertai teriakan
atau tangisan, miosis atau midriasis pupil,
sianosis dan berkeringat.

Epilepsi parsial (20% dari seluruh kasus
epilepsi)
Bangkitan motorik.
Fokus epileptogen terletak di korteks
motorik. Bangkitan kejang pada salah
satu atau sebagian anggota badan
tanpa disertai dengan hilang
kesadaran. Manifestasi klinik
kelainannya biasa disebut Jacksonian
marche

Bangkitan sensorik
Bangkitan yang terjadi tergantung dari letak
fokus epileptogen pada koteks sensorik.
Bangkitan somato sensorik dengan fokus
terletak di gyrus post centralis memberi
gejala kesemutan, nyeri pada salah satu
bagian tubuh, perasaan posisi abnormal
atau perasaan kehilangan salah satu
anggota badan.
Epilepsi lobus temporalis.
Jarang terlihat pada usia sebelum 10 tahun.
Memperlihatkan gejala fokalitas yang khas sekali.
Bangkitan psikik berupa halusinasi dan bangkitan
motorik lazimnya berupa automatisme.
Kesadaran hilang sejenak.
Dalam keadaan hilang kesadaran ini penderita
masuk kealam pikiran antara sadar dan
mimpi(twilight state).
Dalam keadaan ini timbul gejala fokalisasi
yang terdiri dari halusinasi dan automatisme
yang berlangsung beberapa detik sampai
beberapa jam.
DIAGNOSIS
Ada tiga langkah untuk menuju diagnosis epilepsi,
yaitu:
Langkah pertama :memastikan apakah kejadian
yang bersifat paroksismal menunjukan bangkitan
epilepsi atau bukan epilepsi.
Langkah kedua :apabila benar ada bangkitan
epilepsi, maka tentukanlah bangkitan yang ada
termasuk jenis bankitan apa ( lihat klasifikasi ).
Langkah ketiga :pastikan sindrom epilepsi apa
yang ditunjukan oleh bangkitan tadi, atau epilepsi
apa yang diderita oleh pasien, dan tentukan
etiologinya.
Diagnosis epilepsi ditegakkan atas dasar
adanya gejala dan tanda klinik dalam bentuk
bangkitan epilepsi berulang (minimum 2 kali)
yang ditunjang oleh gambaran epileptiform
pada EEG.
Diagnosis
Anamnesis
Pola / bentuk serangan
Lama serangan
Gejala sebelum, selama dan paska serangan
Frekwensi serangan
Faktor pencetus
Ada / tidaknya penyakit lain yang diderita sekarang
Usia saat serangan terjadinya pertama
Riwayat kehamilan, persalinan dan perkembangan
Riwayat penyakit, penyebab dan terapi sebelumnya
Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga


Pemeriksaan Fisik Umum dan
Neurologis
Melihat adanya tanda-tanda dari gangguan yang
berhubungan dengan epilepsi, seperti
trauma kepala,
infeksi telinga atau sinus,
gangguan kongenital,
gangguan neurologik fokal atau difus.
Pada anak-anak pemeriksa harus memperhatikan
adanya keterlambatan perkembangan,
organomegali, perbedaan ukuran antara anggota
tubuh dapat menunjukkan awal gangguan
pertumbuhan otak unilateral.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
EEG
CT-Scan
MRI
Lab
INDIKASI EEG
Membantu menegakkan diagnosis epilepsi
Menentukan prognosis pada kasus tertentu
Pertimbangan dalam penghentian obat anti
epilepsi
Membantu dalam menentukan letak fokus
Bila ada perubahan bentuk bangkitan
(berbeda dengan bangkitan sebelumnya)

Indikasi Brain Imaging
Semua kasus bangkitan pertama yang diduga
ada kelainan struktural
Adanya perubahan bentuk bangkitan
Terdapat defisit neurologik fokal
Epilepsi dengan bangkitan parsial
Bangkitan pertama di atas usia 25 thn
Untuk persiapan pembedahan epilepsi
Diagnosa Banding
Sinkope
TIA
Vertigo
Transient global amnesia
Narkolepsi
Bangkitan panik yg psikogenik
Sindrom Menier
Tics
Obat antiepilepsi (OAE) merupakan terapi
utama pada manajemen epilepsi
Pengobatan
Tipe serangan First-line Second-line/
add on
Third line/
add on
Parsial simple &
kompleks dengan
atau tanpa general
sekunder
Karbamazepine
Fenitoin
Fenobarbital
Okskarbazepin
Lamotrigin
Topiramat
Gabapentin
Asam valproat
Levetiracetam
Zonisamid
Pregabalin
Tiagabin
Vigabatrin
Felbamat
Pirimidon
Tonik klonik Asam valproat
Karbamazepine
Fenitoin
Fenobarbital
Lamotrigin
Okskarbazepin
Topiramat
Levetiracetam
Zonisamid
Pirimidon
Mioklonik Asam valproat Topiramat
Levetiracetam
Zonisamid
Lamotrigin
Clobazam
Clonazepam
Fenobarbital
Absence (tipikal
dan atipikal)
Asam valproat
Lamotrigin
Etosuksimid Levetiracetam
Zonisamid
Atonik Asam valproat Lamotrigin
Topiramat
Felbamat
Tonik Asam valproat
Fenitoin
Fenobarbital
Clonazepam
Clobazam
Epilepsy absence
juvenil
Asam valproat
Etosuksimid
Clonazepam
Epilepsy mioklonik
juvenil
Asam valproat
Fenobarbital
Clonazepam
Etosuksimid
Terima Kasih
Daftar Pustaka
Guyton AC., Hall JE., Sistem saraf. In : Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran (Textbook of Medical Physiology)
Edisi 9.Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta. 1996
Pinzon R., Dampak Epilepsi Pada Aspek Kehidupan
Penyandangnya. SMF Saraf RSUD Dr. M. Haulussy,
Ambon, Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran No. 157,
2007.
Epilepsi. Available at : http://www.fkui.org/.
Epilepsi. Available at : http://www.medicastore.com/
Epilepsi. Buku Ajar Neuropsikiatri Fakultas Kedokteran
Unhas. 2004
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Epilepsi. Bagian
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 1985
Behrman RE., Kliegman RM., Jenson HB., Nelson
Textbook of Pediatrics. 17
th
edition. Saunders.
Philadelphia. 2004.