Anda di halaman 1dari 20

GOOD CORPORATE GOVERNANCE

(GCG)
PENGERTIAN GCG
Sukrisno Agoes (2006) mendefinisikan tata kelola perusahaan
yang baik adalah satu sistem yang mengatur hubungan peran
Dewan Komisaris, peran Direksi, pemegang saham, dan
pemangku kepentingan lainnya. Tata kelola perusahaan yang
baik juga disebut juga sebagai suatu proses yang transparan
atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaiannya, dan
penilaian kinerjanya.
Organization for Economic Cooperation and Development-
OECD (Tjager dkk., 2004) mendefinisikan GCG sebagai suatu
struktur yang terdiri atas pemegang saham, direktur, manajer,
seperangkat tujuan yang ingin dicapai perusahaan, dan alatalat
yang akan digunakan dalam mencapai tujuan dan
memantau kinerja.
Pengertian GCG
Cadbury Comitte of United Kingdom:
Seperangkat peraturan yang mengatur
hubungan antara pemegang saham, pengurus
(pengelola) perusahaan, pihak kreditur,
pemerintah, karyawan, serta para pemegang
kepentingan internal dan eksternal lainnya
yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban
mereka; atau dengan kata lain suatu sistem
yang mengarahkn dan mengendalikan
perusahaan.

PRINSIP CGC

MANFAAT CGC
Dapat meningkatkan nilai perusahaan (corporate
value).
Bagi perusahaan yang telah go publik dapat
memperoleh manfaat berupa meningkatnya
kepercayaan para investor. Selain itu karena adanya
kenaikan harga saham, maka dapat menarik minat para
investor untuk membeli saham perusahaan tersebut.
dapat meningkatkan daya saing (competitive
advantage) perusahaan.
membangun corporate image / citra positif , serta
dalam jangka panjang dapat menjaga kelangsungan
hidup perusahaan (sustainable company).
Hukum GCG
Kegiatan perusahaan (perseroan) di Indonesia
didasarkan atas payung hukum Undang-
Undang Nomor 1 tahun 1995 tentang
perseroan terbatas. Namun Undang-Undang
ini kemudian dicabut dan diganti dengan
Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007.
UU 40 tahun 2007
Ketentuan yang disempurnakan ini, antara lain:
Dimungkinkan mengadakan RUPS dengan memanfaatkan
teknologi informasi yang ada, seperti: telekonferensi, video
konferensi, atau sarana media elektronik lainnya (Pasal 77).
Kejelasan mengenai tata cara pengajuan dan pemberian
pengesahan status badan hukum dan pengesahan Anggran
dasar Perseroan.
Memperjelas dan mempertegas tugas dan tanggung jawab
direksi dan dewan komisaris, termasuk mengatur mengenai
komisaris independent dan komisaris utusan
Kewajiban perseroan untuk melaksanakan tanggung jawab
social dan lingkungan.

Secara spesifik, wewenang, tugas dan tanggung
jawab organ ini dapat diringkas sebagai
berikut:
1. RUPS
2. Dewan Komisaris
3. Dewan Direksi

RUPS
Menyetujui dan menetapkan Anggaran Dasar Perusahaan (Pasal 19 ayat 1)
Menyetujui pembelian kembali dan pengalihan saham Perseroan (Pasal 38
ayat 1)
Menyetujui penambahan dan pengurangan modal Perseroan (Pasal 41
ayat 1 dan Pasal 44 ayat 1)
Menyetujui dan mengesahkan laporan tahunan termasuk laporan
keuangan Direksi serta laporan tugas pengawasan Komisaris (Pasal 69)
Menyetujui dan menetapkan penggunaan laba bersih, penyisihan
cadangan dan dividen, serta dividen interim (Pasal 71 dan Pasal 72).
Menyetujui penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan,
pengajuan pailit, perpanjang jangka waktu berdirinya, dan pembubaran
perseroan (Pasal 89).
Menyetujui pengangkatan dan pemberhentian anggota Direksi dan
Komisaris (Pasal 94 dan Pasal 111)
Menetapakan besarnya gaji dan tunjangan anggota Direksi dan Komisaris
(Psala 96 dan Pasal 113).
Dewan Komisaris
Melakukan tugas dan tanggung jawab pengawasan atas
kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada
umumnya, dan memberikan nasehat kepada Direksi (Pasal
108 dan Pasal 114).
Bertanggung jawab rentang secara pribadi atas kerugian
perseroan bila yang bersangkutan atau lalai dalam
menjalankan tugasnya (Pasal 114 ayat 3 dan ayat 4).
Bertanggung jawab renteng secara pribadi atas kepailitan
perseroan bila disebabkan oleh kesalahan dan kelalian
dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemberi
nasehat (Pasal 115).
Diberi wewenang untuk membrntuk komite yang
diperlukan untuk mendukung tugas Dewan Komiaris.
Dewan Direksi
Menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan sesuai
dengan kebijakan yang dianggap tepat dalam batas yang ditetapkan
Undang-Undang dan Anggaran Dasar Perseroan (Pasal 92)
Bertanggung jawab renteng dan penuh secara pribadi atas kerugian
perseroan bila yang bersangkutan bersalah atau lalai dalam menjalankan
tugasnya (Pasal 97)
Mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan (Pasal 98)
Wajib membuat daftar pemegang saham, risalah RUPS, dan risalah rapat
direksi (Pasal 100 ayat 1a)
Wajib membuat laporan tahunan (Pasal 100 ayat 1b)
Wajib memelihara seluruh daftar, risalah, dokumen keuangan dan
dokumen perseroan lainnya ditempat kedudukan Perseroan (Pasal 1c dan
Pasal 2)
Wajib meminta peesrtujuan RUPS untuk mengalihkan kekayaan Perseroan
atau menjadikan jaminan utang Perseroan (Pasal 102)
Organ Khusus Dalam GCG
A. Komisaris dan Direktur Independen

B. Komite Penunjang Dewan Komisaris.

Komisaris dan Direktur Independen
PT. Bursa Efek Jakarta Nomor Kep-305/BEJ/07-
2004 Pasal III.1.6., dijumpai syarat menjadi
direktur indenpenden adalah sebagai berikut:
Tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Pemegang
Saham Pengendali Perusahaan tercatat yang bersangkutan
sekurang-kurangnnya 6 (enam) bulan sebelum penunjukan
sebagai direktir tidak terafiliasi.
Tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan Komisaris dan
Direktur lainnya dari Perusahaan Tercatatat.
Tidak menjadi orang dalam pada lembaga atau profesi
penunjang pasar modal yang jasannya digunakan oleh
Perusahaan Tercatat selama 6 )enam) bulan sebelum
penunjukan sebagai Direktur.

Komite Penunjang Dewan Komisaris.

- Komite Audit
- Komite Nominasi dan Remunerasi
- Komite Kebijakan Risiko
- Komite Kebijakan Corporate Governance

Komite Audit
Komite Audit bertugas membantu Dewan Komisaris untuk
memastikan bahwa: (i) laporan keuangan disajikan secara
wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum,
(ii) struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan
dengan baik, (iii) pelaksanaan audit internal maupun
eksternal dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang
berlaku, dan (iv) tindak lanjut temuan hasil audit
dilaksanakan oleh manajemen;
Komite Audit memproses calon auditor eksternal termasuk
imbalan jasanya untuk disampaikan kepada Dewan
Komisaris;
Jumlah anggota Komite Audit harus disesuaikan dengan
kompleksitas Perusahaan dengan tetap memperhatikan
efektifitas dalam pengambilan keputusan.
Komite Nominasi dan Remunerasi
Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris
dalam menetapkan kriteria pemilihan calon anggota Dewan Komisaris dan
Direksi serta sistem remunerasinya;
Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris
mempersiapkan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi dan mengusulkan
besaran remunerasinya:. Dewan Komisaris dapat mengajukan calon tersebut
dan remunerasinya untuk memperoleh keputusan RUPS dengan cara sesuai
ketentuan Anggaran Dasar;
Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, perusahaan negara,
perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana
masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat
luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian
lingkungan, Komite Nominasi dan Remunerasi diketuai oleh Komisaris
Independen dan anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau pelaku
profesi dari luar perusahaan;
Keberadaan Komite Nominasi dan Remunerasi serta tata kerjanya dilaporkan
dalam RUPS.
Komite Kebijakan Risiko
Komite Kebijakan Risiko bertugas membantu
Dewan Komisaris dalam mengkaji sistem
manajemen risiko yang disusun oleh Direksi serta
menilai toleransi risiko yang dapat diambil oleh
perusahaan;
Anggota Komite Kebijakan Risiko terdiri dari
anggota Dewan Komisaris, namun bilamana perlu
dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar
perusahaan.

Komite Kebijakan Corporate
Governance

Komite Kebijakan Corporate Governance bertugas
membantu Dewan Komisaris dalam mengkaji kebijakan
GCG secara menyeluruh yang disusun oleh Direksi serta
menilai konsistensi penerapannya, termasuk yang
bertalian dengan etika bisnis dan tanggung jawab sosial
perusahaan (corporate social responsibility);
Anggota Komite Kebijakan Corporate Governance terdiri
dari anggota Dewan Komisaris, namun bilamana perlu
dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar perusahaan;
Bila dipandang perlu, Komite Kebijakan Corporate
Governance dapat digabung dengan Komite Nominasi dan
Remunerasi.

Beri Nilai