Anda di halaman 1dari 29

OLEH:

SITI AISYAH S. PD

POLTEKES JAMBI
JURUSAN KEPERAWATAN


ETIKA
KEPERAWATAN
Etika berasal dari bahasa yunani kuno kata
tunggal : ETHOS
Artinya: - adat - nilai
- kebiasaan - sikap
- moralitas - cara berpikir
- akhlak
- norma

Kata jamak : TA ETHA
Artinya: adat kebiasaan
Etika
Etika etimologisnya adalah:
ilmu yang mempelajari tentang apa yang
biasa dilakukan
Ilmu yang mempelajari tentang adat kebiasaan

Etika dalam arti luas adalah:
adat kebiasaan dan nilai-nilai norma yang menjadi
pegangan bagi individu atau kelompok dalam
mengatur tingkah lakunya.
Etika : etichs yunani
Artinya : ilmu yang mempelajari tentang baik dan
buruk, secara moral bagaimana tepatnya
manusia hidup di dalam masyarkat

Etika Keperawatan : ilmu yang mempelajari
tentang baik buruk nya tingkah laku perawat
dalam melaksanakan tugasnya di masyarakat

Dalam melayani perawatan Keperawatan ada tahap-
tahap :
Tanggung jawab perawat terhadap pasien
Tanggung jawab perawat terhadap tugas
Tanggung jawab perawat terhadap sejawat
Tanggung jawab perawat terhadap profesi lain
Tanggung jawab perawat terhadap negara

Teori Moral dalam Keperawatan
Istilah Moral : berasal dari kata MORES mos
yang artinya kesusilaan, tabitat, kelakuan,asal
bahasa latin.
Pengertian Moral :
Ilmu yang mencari kelarasan perbuatan
manusia (tindakan insani) dengan dasar yang
sedalamnya yang diperoleh dengan akal budi
manusia.
Etika:
sesuatu yang membicarakan tentang adat
kebiasaan, norma dan nilai akhlak.
Contoh: dalam percakapan sehari-hari kita sering
dengar.

a. Perbuatan si A itu tidak susila, masa berbusana
minim di depan orang banyak
b. Si B itu tidak bermoral, masa anak tirinya di
perkosa
c. Sekolahnya si C itu memang tinggi, tetapi sayang
kelakuannya kurang sopan.

Ketiga contoh di atas memperlihatkan bahwa
istilah etika, moral yang semuanya menyangkut
perbuatan baik buruk/ tingkah laku seseorang
yang dalam pengertiannya hampir sama
Hal-hal yang menjadi sumber moral adalah:
1. Keselarasan dari perbuatan manusia dengan
kodratnya sebagai manusia
2. Akal budi dipakai untuk mendalami ilmu dan
mencari alasannya.

Perkembangan Moral individu:
Dalam beberapa teori PIAGET (1923)
Perkembangan moral anak mengalami
perubahan dari satu tahap tahap yang lebih
tinggi
1. Anak 2th bermain asal main tanpa ada
aturan makor activity. Tanpa dipimpin oleh
pikiran
2. 2-6 th memperhatikan dari anak-anak yang
besar (meniru) dan mulai sadar, main itu punya
aturan. Individu sosial
3. 7-10 th adanya persaingan dengan kawan
bermain dan mengikuti peraturan dan di
setujui bersama mulai tumbuh sikap otonomi
4. 11-12 th mulai berfikir abstrak mulai
berkembang dan kodifikasi (penentuan) aturan
sudah dianggap perlu
5. 12-dewasa peraturan dipakai sebagai hukum
yang merupakan kesepakatan
Dengan demikian moral selalu berhubungan dengan
nilai-nilai. Akan tetapi tidak semua nilai itu
merupakan nilai moral.

Ada 3 macam nilai:
1. Nilai logis benar salah
2. Nilai estetis indah
3. Nilai etika atau nilai moral tentang baik /
buruk

Faktor-faktoryang mempengaruhi moral:
1. Lingkungan
2. Individu /
manusia
3. Usia
4. Sex / jenis
kelamin
5. Pendidikan
6. Status ekonomi
7. Agama
8. RAS / suku
bangsa
9. Adat istiadat
10. IPTEK
11. Herediter
12. Dll
Hubungan Etika dan Etiket dengan
Moral, Agama
Setiap agama mengandung ajaran moral yang
menjadi pegangan bagi para penganutnya

Ada 2 macam aturan ajaran moral yang terkandung
dalam agama:
1. Aturan yang menyangkut kalangan intern
dengan cara detail
Contoh: makan babi-haram, puasa wajib dan
ibadat
2. Aturan etis diterima oleh semua agama
Contoh: jangan membunuh, mencuri, dan berzinah
Hubungan Moral dan Hukum
A. Pengertian hukum
merupakan aturan rill dengan penjabaran
dari suatu konsep dan mempunyai sangsi

Ada 8 prinsip hukum:
1. Sistem harus mengandung peraturan
2. Peraturan dirumuskan dengan susunan kata
yang mudah di mengerti
3. Antara masing aturan tidak boleh
bertentangan
4. Suatu peraturan tidak boleh dilarang
5. Peraturan harus diumumkan
6. Peraturan tidak boleh berlaku surut
7. Harus sesuai antara yang diundang dengan
pelaksanaanya
8. Tidak boleh sering diubah-ubah agar masyarakat
tidak kehilangan orientasi

Perbedaan Hukum dan Moral:
1. Hukum : lebih di modifikasi
- dituangkan, ditulis dalam UU
- mempunyai kepastian yang lebih
besar
- bersifat obyektif
moral : tidak di modifikasi
- tidak tertulis dalam UU
- tidak mempunyai kepastian
- bersifat subyektif
2. Hukum : membatasi diri pada tingkah laku
lahiriyah
moral : menyangkut sikap batiniah
3. Hukum : sangsinya sebagian besar di
paksakan
moral : sangsi etis tidak dipaksakan
4. Hukum: berdasarkan kehendak masyarakat
(negara)
moral : berdasarkan norma moral
masyarakat
B. Dampak Hukum terhadap Moral
Hukum tidak berarti, bila tidak dijiwai oleh
moralitas. Tanpa moralitas hukum akan kosong.

Dampak hukum terdapat moral:
1. Kualitas hukum sebagian besar tentukan oleh mutu
moral
2. Hukum selalu harus diukur dengan norma moral
3. Moral akan mengawang apabila tidak diungkapkan,
dilembagakan, sperti terjadi dengan hukum
4. Hukum bisa meningkatkan dampak SOS dari
moralitas
5. Hukum harus membatasi diri dengan mengukur
hubungan antar manusia yang relevan
6. Hukum memperkuat moral

contoh: menghormati milik orang lain prinsip
moral mengambil milik orang tanpa seizin, salah
Secara intelektual, mengutip, menulis,
menggandakan buku, kaset, dll salah
Ada dasar hukumnya.
c. Kegunaan hukum terhadap moral
Hukum berdasarkan kehendak masyarakat dan pada
dasar sampai akhirnya sebagai kehendak negara
Keputusan Moral
Pada dasarnya keputusan tentang moral tidak
ditempatkan begitu saja oleh nilai-nilai tertentu.
Manusia sebagai pendukung dari nilai-nilai (warden
subject) dengan kesadarannya menentukan
penilaian, manakah sesuatu yang perbuatan baik
dan perbuatan yang buruk. Dengan kesadaran ini
potensial ada pada manusia

Tebal tipisnya kesadaran itu selalu berbeda
sebagai keputusan dari moral.
Teori Moral dalam Keperawatan
Praktek keperawatan termasuk etika keperawatan
mempunyai dasar penting seperti: Advokasi,
Akuntabilitas, Loyalitas, Rasa Haru dan menghianati
martabat manusia.
Diantaranya dari berbagai pernyataan ini yang lazim
dalam praktek keperawatan adalah:
-Advokasi
-Responsibilitas
-Akuntabilitas
-Loyallitas (Tri, 1991)

1. Advokasi:
Menurut Ana (1985) melindungi
klien/masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
dan keselamatan praktek yang tidak sah, yang tidak
kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh
siapapun.
Melindungi klien memberi bantuan kepada klien
memberi informasi, memberi penjelasan sesuai
yang dibutuhkan oleh klien, memberikan keyakinan
kepada klien, mengupayakan hak dan tanggung
jawab untuk menentukan keputusan dan tidak
tertekan oleh siapapun.
2. Responsibilitas (tanggung jawab)
adalah eksekusi terhadap tugas-tugas yang
berhubungan dengan peran tertentu dari
perawat, pada saat memberikan tindakan sesuatu
pada klien.
Contoh: memberikan obat, perawat bertanggung
jawab untuk mengkaji kebutuhan klien
memberikan dengan aman dan benar,
mengevaluasi respon klien terhadap obat
tersebut perawat tetap terampil dalam
pengetahuan dan tindakanya.
3. Akuntabilitas (tanggung gugat)
konsep yang sangat penting dalam keperawatan
bertanggung jawab atas sesuatu dalam
tindakannya dan dapat menerima konsekuensi
dari tindakan tersebut (Kozier Erb,1991)
Akuntabilitas dilakukan untuk mengevaluasi
perawat dalam melakukan praktek keperawatan
4. Loyalitas
merupakan konsep yang meliputi simpati, peduli,
hubungan timbal balik terhadap pihak yang
secara profesional berhubungan dengan perawat
untuk menyusun tujuan tertentu secara bersama,
menempati janji dalam menentukan masalah dan
memprioritaskan, mengupayakan pencapaian
keputusan selanjutnya secara bersama
(Zameto,1984)
Untuk mewujudkan loyalitas yang harus di
pertahankan oleh perawat baik kepada klien, teman
sejawat, RS, pelayanan kesehatan lainnya, maupun
profesi lainnya (Cresia,1991)

Mengajukan beberapa argumentasi:
1. Masalah klien tidak boleh didiskusikan oleh klien
lain, perawat harus bijaksana memberikan
informasi.
2. Perawat harus menghindari pembicaraan yang
tidak bermanfaat dari berbagai persoalan yang
berhubungan dengan klien, RS, atau teman
sejawat lainnya.
3. Perawat harus menghargai dan memberikan
bantuan kepada teman sejawat, kegagalan dalam
melakukan ini dapat menurunkan kepercayaan
masyarakat terhadap tenaga kesehatan
4. Pandangan masyarakat terhadap profesi
keperawatan ditentukan oleh tingkah laku
anggota profesi (perawat) itu sendiri, perawat
harus menunjukkan loyalitasnya kepada profesi
lain dengan berperilaku secara tepat dan benar
pada saat bertugas

Terimakasih
Assalamualaikum
Syukron