Anda di halaman 1dari 96

REGULASI FARMASI INDUSTRI

Kel. 10
Rizki Muhamad H Indrawan
Sri Rahayu Evrilia
Tina Arselina Intani
Tissa Rizki Amanda
OUTLINE
SEJARAH CURRENT GOOD
MANUFACTURING PRACTICES (cGMP)
Australia
Jepang
Korea Selatan
India
Amerika
cGMP di NEGARA MAJU
Manajemen Mutu
Personalia
Bangunan dan Fasilitas
Peralatan
Sanitasi dan Higiene
Produksi
Pengawasan Mutu
Inspeksi Diri, Audit Mutu dan
Audit & Persetujuan Pemasok
Penanganan Keluhan terhadap
Produk dan Penarikan Kembali
Produk
Dokumentasi
Pembuatan dan Analisis
Berdasarkan Kontrak
Kualifikasi dan Validas

CPOB DI INDONESIA
PERUNDANG UNDANGAN
PERINDUSTRIAN FARMASI
OUTLINE
SEJARAH CURRENT GOOD
MANUFACTURING PRACTICES (cGMP)
Australia
Jepang
Korea Selatan
India
Amerika
cGMP di NEGARA MAJU
Manajemen Mutu
Personalia
Bangunan dan Fasilitas
Peralatan
Sanitasi dan Higiene
Produksi
Pengawasan Mutu
Inspeksi Diri, Audit Mutu dan
Audit & Persetujuan Pemasok
Penanganan Keluhan terhadap
Produk dan Penarikan Kembali
Produk
Dokumentasi
Pembuatan dan Analisis
Berdasarkan Kontrak
Kualifikasi dan Validas

CPOB DI INDONESIA
PERUNDANG UNDANGAN
PERINDUSTRIAN FARMASI
SEJARAH GMP
Mengapa kita harus mengetahui tentang
sejarah GMP?
Setiap orang harus mengetahui cerita tentang
bagaimana GMP berawal sehingga menjadi
ada
Persyaratan yang dibuat sebagai respons
terhadap suatu peristiwa dan untuk mencegah
peristiwa serupa terjadi di masa depan.
SEJARAH GMP

Good Manufacturing Practice (GMP) adalah sistem untuk
memastikan bahwa produk secara konsisten diproduksi dan
diawasi sesuai dengan standar kualitas. Hal ini dirancang
untuk meminimalkan risiko yang terlibat dalam produksi
farmasi apapun yang tidak dapat dihilangkan melalui
pengujian produk akhir.
GMP disebut sebagai "cGMP" terutama di Amerika Serikat.
"C" singkatan dari "saat ini," mengingatkan produsen bahwa
mereka harus menggunakan teknologi dan sistem yang up-to-
date untuk memenuhi peraturan tersebut.

DAFTAR DARI USFDA CGMPS
Part 210: cGMP in Manufacturing, Processing, Packing, or Holding
of Drugs; General (1963; revamped 1978)
Part 211: cGMPs for Finished Pharmaceuticals (1963; revamped
1978)
Part 226: cGMPs for Type A Medicated Articles (1975)
Part 606: cGMPs for Blood and Blood Components (1975)
Part 225: cGMPs for Medicated Feeds (1976)

Part 110: cGMP in Manufacturing, Packing, or Holding Human
Food (1986)
Part 820: Quality System Regulation (1996)
- Part 216: Pharmacy Compounding (1999)
Part 1271.145-320: Current Good Tissue Practice [for HCT/Ps]
(2001)
Part 111: cGMP in Manufacturing, Packaging, Labeling, or Holding
Operations for Dietary Supplements (2007)


SEJARAH PERKEMBANGAN GMP DI USA
1937 sulfanilamide

-Sulfa diperkenalkan pada tahun
1935 sebagai anti-infeksi;

-dietilen glikol (pelarut beracun)
digunakan oleh salah satu
perusahaan dalam obat oral yaitu
eliksir sulfanilamid;

-108 orang meninggal, kebanyakan
anak-anak;

-Perusahaan ini dituduh melakukan
misbranding (= label tidak akurat
dan palsu ilegal ..... selama
bertahun-tahun kata/kalimatnya
telah diganti dengan kata
dipalsukan)
SEJARAH PERKEMBANGAN GMP DI USA
1938 - di Amerika
Serikat, didirikan
Kongres/Federal Food,
Drug and Cosmetic
(FD&C) Act.

Perusahaan-perusahaan
diminta untuk
membuktikan bahwa
produk mereka aman
sebelum dipasarkan.
SEJARAH PERKEMBANGAN GMP DI USA
1941 Awal dari GMP

-Tablet Sulfathiazole terkontaminasi
dengan fenobarbital (obat penenang);

-300 orang tewas atau terluka;

- FDA enforced and revised
manufacturing and quality control
requirements, leading to what would later
be called GMP;

-FDA didirikan dan persyaratan QC pabrik
direvisi, yang mengarah ke apa yang
kemudian disebut GMP;

- Selama perang dunia kedua, sertifikasi
no. batch oleh FDA menjadi persyaratan
untuk obat-obatan tertentu (yaitu pada
1941 untuk insulin, 1945 untuk penisilin)
1906 certificate of purity signed by doctor
SEJARAH PERKEMBANGAN GMP DI USA
1960 Obat Thalidomide

- Thalidomide dipasarkan di Eropa
sebagai obat tidur dan untuk
mengobati morning sickness;

- badan pengatur yang memberi izin
untuk menjual obat ini tidak tahu apa-
apa tentang informasi efek sampingnya
dari perusahaan produsen: dan
ternyata bersifat teratogenik

- hal ini menyebabkan cacat pada
perkembangan janin;

- bayi yang ibunya mengkonsumsi
thalidomide dalam tiga bulan pertama
lahir dengan tangan dan kaki yang
cacat;

- Diperkirakan 10.000 kasus
dihubungkan pada penggunaan
thalidomide.
SEJARAH PERKEMBANGAN GMP DI USA
1960 Obat Thalidomide

- Peninjau obat yang
bertanggung jawab untuk
penggunaan thalidomide di
Amerika Serikat adalah Frances
Kelsey;

-pada tahun 1962 Presiden
Kennedy memberinya
Penghargaan Distinguished
Federal Civilian Service Award,
kehormatan tertinggi seorang
pegawai pemerintah yang
diperoleh seorang warga sipil.
SEJARAH PERKEMBANGAN GMP DI USA
1962 Kefauver-Harris Drug Amendments

- Dua legislator (Kefauver dan Harris) mendorong
undang-undang yang lebih ketat;

- FDAs regulation required companies to test not only
to ensure that products were safe but that they were
efficacious for their intended use (proof of efficacy
law);

-Regulasi FDA mewajibkan perusahaan melakukan
pengujian, tidak hanya untuk memastikan bahwa
produknya aman, tetapi juga berkhasiat untuk tujuan
penggunaannya (hukum"bukti keberhasilan");

-Regulasi uji klinis, Amandemen mengharuskan obat
untuk diuji pada hewan sebelum pada manusia;
-Perusahaan/pabrik diharuskan untuk melaporkan
bahaya yang tidak diinginkan/tak terduga (efek
samping);

- GMP untuk obat (21 CFR bagian 210 & 211) dibuat
akhir tahun 1970.
SEJARAH - GMP

-1962 - Majelis Kesehatan Dunia menetapkan resolusi
tentang keamanan dan pemantauan obat.

-1968 - Undang-undang tentang Obat (Inggris) (Undang-
undang Parlemen) yang mengatur pembuatan dan
penyediaan obat-obatan. Disini diperkenalkan sistem
untuk:
- produk lisensi yang meliputi usia (pra 1968) dan obat-
obatan baru;
- lisensi situs manufaktur;
- lisensi dari uji klinis.
SEJARAH PERKEMBANGAN GMP DI USA
1976 Medical Device Amendments
(Amandemen Alat Medis)

- 1972 dan 1973 dilaporkan
beberapa kegagalan alat pacu
jantung;

- insiden yang melibatkan alat
kontrasepsi intrauterine
menyebabkan ribuan orang terluka
(infeksi panggul, infertilitas dan
beberapa kematian) dan kemudian
produk diambil dari pasar

- a Medical Device Amendments
required manufacturers to provide
FDA with safety and effectiveness
data before marketing medical
devices.
-Amandemen Alat Medis diperlukan
produsen untuk memberikan FDA
data keamanan dan efektivitas
peralatan medis sebelum
pemasarannya.
President Gerarl Ford signs the Medical Device Amendments
SEJARAH PERKEMBANGAN GMP DI USA
1980 Infant Formula Act (FDA) / Undang-
undang Susu Formula Bayi

-produsen susu formula kembali memformulasi
dua produk berbahan dasar kedelai;
- 1979, bayi diagnosa kekurangan klorida
(hypochloremic);
- Peraturan yang lebih luas mengontrol atas
formulasi dan produksi gizi untuk susu formula
bayi;
- produsen diwajibkan untuk menganalisa gizi
formula setiap periode produksi, setiap kode
kemasan dengan nomor slot, menyimpan
catatan rinci produksi dan analisis;
- GMPs makanan (21 CFR bagian 110)
diselesaikan pada tahun 1980.
SEJARAH PERKEMBANGAN GMP DI USA

- Setelah 1980an

- FDA mulai menerbitkan serangkaian
dokumen panduan yang memiliki efek
besar pada interpretasi praktek-praktek
manufaktur yang baik hingga saat ini;

- dokumen tersebut hanya memberikan
pedoman pada prinsip-prinsip dan praktek-
praktek dimana tidak ada persyaratan
hukum;

- Namun, biasanya mereka mencerminkan
pemikiran dan harapan lembaga saat ini.
SEJARAH FDA
PROMULGATED BY U.S FDA
1902 - BIOLOGICS CONTROL ACT

1906 - PURE FOOD AND DRUG ACT
1963 - GMPS FOR DRUGS

1978 - CGMPS FOR DRUGS AND DEVICES

1983 - GUIDE TO INSPECTION OF COMPUTERIZED SYSTEMS IN DRUG PROCESSING PUBLISHED
1938 - FEDERAL FOOD, DRUG AND COSMETIC (FD&C) ACT

1941 - TWO UNRELATED EVENTS

1962 - KEFAUVER-HARRIS DRUG AM1902 - DEVELOPMENT OF THE BIOLOGIC CONTROL ACT
1906 - DEVELOPMENT OF THE PURE FOOD AND DRUG ACT
1938 - FEDERAL FOOD, DRUG AND COSMETIC ACT
1941 - INITIATION OF GMP
1944 - DEVELOPMENT OF PUBLIC HEALTH SERVICES ACT
1962 - KEFAUVER-HARRIS DRUG AMENDMENTS RELEASED
1963 - ESTABLISHMENT OF GMPS FOR DRUGS
1975 - CGMPS FOR BLOOD AND COMPONENTS FINAL RULE
1976 - MEDICAL DEVICE AMENDMENTS
1978 - CGMPS FOR DRUGS AND DEVICES
1979 - GLPS FINAL RULE
1980 - INFANT FORMULA ACT IS PASSED AMENDMENTS

1962 1978 1979
cGMPs Established
(Kefauver-Harris
Amendements
Major revisions to the
cGMPs dealing with
personnel & facilities, as
well as products and
processes.
Major revisions to the
cGMPs have been
DEFINISI GMPS

Good Manufacturing Practices adalah seperangkat
peraturan, kode dan pedoman untuk pembuatan obat dan
produk obat, diagnostik produk obat dan makanan secara
in vivo dan in vitro.

GMPs diumumkan oleh pihak yang berwenang (EMA,
FDA, TGA, Jepang) dan memiliki kekuatan hukum.
Good Manufacturing Practices diberlakukan di Amerika
Serikat oleh FDA
Di Inggris oleh the Medicines and Healthcare Products
Regulatory Agency
GMPs yang diberlakukan di Australia oleh TGA (the
Therapeutically Goods Administration
Di India oleh Central Drugs Standard Control
Organization.
Di Indonesia menerbitkan CPOB oleh BPOM.
Banyak negara-negara terbelakang tidak memiliki
GMPs

GMPs mengharuskan produsen dan pembuat obat-
obatan, peralatan medis, makanan, dan darah (produk
biologis) harus memastikan bahwa produk mereka aman,
murni, dan efektif sebelum memasarkannya.

SEJARAH GMP DI INDONESIA
1971
WHO GMP VOLUNTARY
1989
CPOB EDISI 1 - KEPUTUSAN MENTERI
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR43/MENKES/SK/IL/1980 TANGGAL 2
PEBMARI 1988
1990
PETUNJUK OPERASIONAL
INSPEKSI 1
SERTIFIKASI 1
2001
CPOB EDISI 2001 (EDISI KEDUA) NOMOR: HK.00.05.3.02152 TAHUN 2002
PETUNJUK OPERASIONAL
2006
CPOB EDISI 3
2007
PETUNJUK OPERASIONAL IN-PROCESS CONTROL
2009
PETUNJUK OPERASIONAL PENERAPAN CPOB
2012
PENERAPAN PEDOMAN CARA PEMBUATAN OBAT YANG BAIK - PERATURAN
KEPALA BPOM RI NO. HK.03.1.33.12.12.8195 TAHUN 2012
THE DIFFERENCES BETWEEN GMP IN INDONESIA
AND WHO-GMP CODE
Aspect GMP 2001 WHO TRS PIC/s Guidelines
GMP 2006 in
Indonesia
Quality Management
System (QMS)
not listed WHO TRS
908/2003
Annex 4
PIC/S 2006

Annex 1
Bab I Quality
Management
Levels limit ( CFU)
for the detection of
contamination
microbiology( alert and
action
purposes)
not listed WHO TRS
902/2002
Annex 6
PIC/S 2006

Annex 1

Aneks 1
Sterile
Product
Manufacture
Space Aseptic
handling, preparation
and filling of products
in aseptic and sterile
handling of equipment
class IA
(A)
backgroun
d II (C)
WHO TRS
902/2002
Annex 6
class A
background
B
class A
background
B
Class A
background B
THE DIFFERENCES BETWEEN GMP IN INDONESIA
AND WHO-GMP CODE
Aspek GMP 2001 WHO TRS PIC/s Guidelines
GMP 2006 in
Indonesia
Aseptic Process
Validation
Just a little
explanation in
Operational
Guidelines
2001 (VMP)
TRS 902/
2002
Annex 6
described
detail
More detail
than
operational
guidelines
2001 (VMP)
Sterilitation terminal
Preparation
room and filling
room
Not listed, but
it explains in
operational
guidelines
2001 class III
(D)
TRS 902/
2002
Annex 6
Must be in
class II (C)
Must in class
II (C)
Must in class II
(C)
Method of
sterilization with
steam (for
termostabil
products)
Not listed Just a little
explanation
Just a little
explanation
Overkill or
minimum Fo
8
(in operational
guidelines )
OUTLINE
SEJARAH CURRENT GOOD
MANUFACTURING PRACTICES (cGMP)
Australia
Jepang
Korea Selatan
India
Amerika
cGMP di NEGARA MAJU
Manajemen Mutu
Personalia
Bangunan dan Fasilitas
Peralatan
Sanitasi dan Higiene
Produksi
Pengawasan Mutu
Inspeksi Diri, Audit Mutu dan
Audit & Persetujuan Pemasok
Penanganan Keluhan terhadap
Produk dan Penarikan Kembali
Produk
Dokumentasi
Pembuatan dan Analisis
Berdasarkan Kontrak
Kualifikasi dan Validas

CPOB DI INDONESIA
PERUNDANG UNDANGAN PERINDUSTRIAN
FARMASI


AUSTRALIA
Australia mengenal istilah Therapeutic Goods
Administration (TGA) yang meregulasi hal-hal yang
berkaitan dengan terapeutik melalui berbagai tindakan
yang komprehensif termasuk memastikan efikasi dan
keamanan obat-obatan yang diperbolehkan dijual di
Australia.

Di Australia merupakan suatu pelanggaran untuk
memproduksi sediaan farmasi untuk digunakan kepada
manusia, tanpa adanya lisensi atau sertifikat dari TGA

Komponen kunci dari keseluruhan regulasi TGA mengenai
obat-obatan dan alat kesehatan adalah inspeksi dari
fasilitas manufaktur untuk memastikan proses produksi
dijalankan sesuai dengan prinsip manufaktur yang
dilegalisasi, termasuk Code of Good Manufacturing
Practice (GMP).

TGA melakukan kontrol secara keseluruhan melalui
lima proses utama,yaitu:
Evaluasi pre market dan persetujuan produk
terdaftar ditujukan untuk pasokan di Australia.
Pengembangan, pemeliharaan dan pemantauan
sistem untuk daftar obat-obatan
Lisensi produsen sesuai dengan standar
internasional GMP.
Pemantauan post-market, melalui pengambilan
sampel, pelaporan efek samping, kegiatan
surveilans, dan menanggapi pertanyaan publik
Penilaian obat untuk ekspor

Pada tanggal 29 juli 2009,
Therapeutic Goods
(Manufacturing Principle)
Determination No. 1 of 2009
mengadopsi panduan PIC/S
untuk GMP
CGMP AUSTRALIA
Equipment
Harus dirancang, diletakan dan dipelihara sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan.
Perbaikan dan pemeliharaan operasi seharusnya tidak
menimbulkan bahaya apapun untuk produk.
Harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat dengan
mudah dan benar-benar dibersihkan.
Produk obat dirancang dan dikembangkan dengan cara
yang memperhitungkan persyaratan GMP
Produksi dan kontrol operasi ditentukan secara jelas dan
diadopsi dari GMP;
Tanggung jawab manajerial ditentukan secara jelas
CGMP AUSTRALIA
Quality
Assurance
Quality
control
Personnel
Personal
Hygiene
Organization
& Personnel
CGMP AUSTRALIA
Trainin
g

Perusahaan / produsen harus
menyediakan pelatihan untuk semua
personil

Pengunjung atau karyawan yang tidak
terlatih tidak boleh masuk ke dalam
ruang produksi dan area Quality
Control. Jika terpaksa, mereka harus
diberi informasi.
CGMP AUSTRALIA
Premises
Production Area
Storage Areas
Quality Control Areas
Ancillary Areas
JEPANG
Produksi obat di Jepang
diatur oleh
Pharmaceuticals Affairs
Law (PAL)
Dikenalkan pada tahun
1974 sebagaiThe
Standards for
Manufacturing Control
and Quality Control.
Persyaratan untuk tempat untuk pembuatan obat
diberikan dalam Kementerian Kesehatan, Labor
and Welfare (MHLW) Ministerial Ordinance No.
73, 2005 Regulations for Buildings and Facilities for
Pharmacies, etc.
KOREA SELATAN
Pengaturan mengenai
produksi obat di Korea
Selatan di atur oleh
Pharmaceutical Affairs
Law
Korean GMP, biasa
disebut dengan
KGMP,
Sebuah pabrik obat yang berniat untuk
memproduksi produk obat untuk dijual
di Korea harus mendapat persetujuan
dari the Commissioner of the Korea
Food and Drug Administration (KFDA).
INDIA
Produksi obat di
India diatur oleh
the Drugs and
Cosmetics Rules
Pemegang lisensi untuk
memproduksi obat harus
memenuhi persyaratan
GMP sebagaimana
diatur dalam Schedule
M.
Schedule M menetapkan persyaratan umum dan
spesifik untuk bangunan pabrik dan bahan, pabrik dan
peralatan dan area yang direkomendasikan untuk
instalasi dasar untuk kategori tertentu obat.
AMERIKA
Di Amerika produksi
obat diatur oleh the
federal Food, Drug
and Cosmetic Act.
cGMP regulations
berdasarkan dari
regulasi original
GMP pada tahun
1978
OUTLINE
SEJARAH CURRENT GOOD
MANUFACTURING PRACTICES (cGMP)
Australia
Jepang
Korea Selatan
India
Amerika
cGMP di NEGARA MAJU
Manajemen Mutu
Personalia
Bangunan dan Fasilitas
Peralatan
Sanitasi dan Higiene
Produksi
Pengawasan Mutu
Inspeksi Diri, Audit Mutu dan
Audit & Persetujuan Pemasok
Penanganan Keluhan terhadap
Produk dan Penarikan Kembali
Produk
Dokumentasi
Pembuatan dan Analisis
Berdasarkan Kontrak
Kualifikasi dan Validas

CPOB DI INDONESIA
PERUNDANG UNDANGAN
PERINDUSTRIAN FARMASI
CPOB

Definisi:
petunjuk yang menyangkut segala aspek dalam
produksi dan pengendalian mutu , meliputi seluruh
rangkaian pembuatan obat yang bertujuan untuk menjamin
agar produksi obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi
persyaratan mutu yang telah ditetapkan sesuai dengan
tujuan penggunaannya
38










Sejarah CPOB di Indonesia
1969 WHO Konsep Good Practices in Manufacture
and quality Control of Drug
1971 Penerapan CPOB secara sukarela
1988 Pedoman CPOB Edisi 1, dikeluarkan & mulai
penerapannya
1989 1994 Batas waktu pemenuhan CPOB
1990 Sertifikasi CPOB
2001 Pedoman CPOB Edisi 2
2004 Addendum IV, GMP for Human Blood & Blood
Products
2005 Draft Pedoman CPOB Edisi 3 (c-GMP)
2006 Finalisasi Pedoman CPOB Edisi 3 (c-GMP)
2007 Batas waktu pemenuhan c-GMP
2009 Petunjuk Operasional Penerapan CPOB:2006
2010 Suplemen I 2009 Pedoman CPOB: 2006
2011 Aneks 8: Pedoman Cara Pembuatan Bahan Baku
Aktif Obat yang Baik
2013 Pedoman CPOB edisi 2012
2013 Petunjuk Teknis Sarana Penunjang Kritis IF



40
Aspek CPOB

1. Manajemen Mutu
2. Personalia
3. Bangunan dan Fasilitas
4. Peralatan
5. Sanitasi dan Higiene
6. Produksi
7. Pengawasan Mutu
8. Inspeksi Diri, Audit Mutu dan Audit & Persetujuan
Pemasok
9. Penanganan Keluhan terhadap Produk dan
Penarikan Kembali Produk
10. Dokumentasi
11. Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak
12. Kualifikasi dan Validasi
PERBEDAAN CPOB
10 Bagian
(Umum, Personalia,
Bangunan dan
Fasilitas, Peralatan,
Sanitasi dan
Hygiene, Produksi,
Quality Control,
Inspeksi diri,
Penanganan keluhan
terhadap produk,
penarikan produk
dan produk
kembalian ,
Dokumentasi)
4 Annex
- Persiapan
obat produk
Biologi
- Pembuatan
Gas Medisinal
- Pembuatan
Aerosol
- Pembuatan
produk dari
darah
2001
12 Bagian
Manajemen Mutu
Pembuatan dan
Analisis
Berdasarkan
Kontrak
Kualifikasi dan
Validasi
Bagian umum
dihilangkan

7 Annex
Pembuatan
produk steril
Pembuatan obat
investigasi untuk
uji klinik
Sistem
komputerisasi
2006
12 Bagian

14 Annex
Cara
pembuatan
Bahan Baku
Aktif Obat yang
Baik
Penggunaan
Radiasi Pengion
dalam
Pembuatan
Obat
Sampel
Pembanding
dan Sampel
Pertinggal
Cara
Penyimpanan
dan Pengiriman
obat yang baik
Pelulusan
Parametris
Manajemen
Resiko Mutu
2012
44
1. Manajemen Mutu
Manajemen Mutu
Memberikan arahan kebijakan tentang mutu
Pemastian Mutu
Tindakan sistematis untuk melaksanakan
Sistem mutu
CPOB
Pengawasan Mutu
Menghindarkan atau meminimalkan resiko yg
tidak dapat dideteksi melalui serangkaian
tes, misalnya kontaminasi dan tercampurnya
produk (Cross contamination & Mix-up)
Bagian dari CPOB yg fokus pada
pelaksanaan pengujian lingkungan, fasilitas,
bahan, komponen dan produk sesuai dg
standar
45
QUALITY MANAGEMENT SYSTEM
Ruang lingkup (scope) QMS
Struktur organisasi mutu pemisahan kewenangan/fungsi QA
(Pemastian Mutu) dengan QC (Pengawasan Mutu)
Personalia Kualifikasi dan Program Pelatihan termasuk program
Sanitasi & Hygiene
Sistem Dokumentasi
Sistem Pelulusan Batch
Penanganan terhadap perubahan, penyimpangan dan prosedur
pengolahan ulang
Kualifikasi dan Validasi Rencana Induk Validasi, Protokol & Laporan
Validasi
Program Inspeksi diri & Audit Mutu
Penanganan Keluhan terhadap produk, Penarikan kembali produk,
dan Produk Kembalian

2. Personalia

47
Struktur Organisasi Industri
Farmasi
President Director
HRD Manager Finance Manager Plant Manager Marketing Manager
Production
Manager
Technical
Manager
R&D Manager
PPIC Manager
Production
Supervisor
Packaging
Supervisor
Product dev.
Packaging dev.
Registration Off.
3. BANGUNAN & FASILITAS

54
Bebas banjir dan rembesan air
Tidak ada sumber pencemaran lingkungan, misalnya tidak
berdekatan dengan sumber cemaran baik mikroorganisme
maupun kimia seperti tempat timbunan sampah, rumah sakit,
pasar, industri kimia
Tidak mencemari lingkungan sekitar, misalnya berada di
daerah pemukiman padat penduduk, dsb.
Mudah terjangkau oleh sarana transportasi.
(Khusus untuk industri yang berorientasi eksport harus dekat
dengan sarana pelabuhan untuk kegiatan eksport/import,
misalnya bandara atau pelabuhan laut)
Tersedia sarana dan prasarana, misalnya Sumber Energi/
Listrik, sumber Air dan saluran pembuangan limbah


Persyaratan Lokasi Industri
Farmasi
55
Bangunan memiliki perlindungan terhadap :
Cuaca
Banjir
Rembesan air tanah
Binatang pengerat dan serangga
Desain, Tata letak dan lay out
Principle of Minimum Distance
Principle of Flow of Goods/
Principle of Flow of Process

BANGUNAN INDUSTRI FARMASI
Zoning System
4. PERALATAN


58
Persyaratan Peralatan (GMP Compliance)
Rancang Bangun :
Sederhana, tapi sesuai dgn tujuan penggunaan, mudah dibongkar,
dan dipasang kembali sebelum dan setelah dibersihkan
Tidak ada bagian yang tidak terjangkau pada pembersihan
Tidak ada bagian yang menahan sisa produk atau larutan pencuci
Tidak berkarat dan tidak mudah tergores
Pencucian
Lap bebas serat
Mesin penghisap debu (jangan menggunakan udara bertekanan/
compressed air)
Sikat nylon (tidak boleh pake ijuk)
60
5. Sanitasi & Higiene
61
SANITASI & HIGIENE
DEFINISI
Sanitasi : Pengendalian higiene terhadap proses produksi,
termasuk bangunan, peralatan dan penanganan bahan
Sanitasi menitik beratkan pada Bangunan & Peralatan

Higiene Perorangan :
Kewajiban tiap personil mengamati peraturan mengenai
kesehatan kerja,
Pemeliharaan dan perlindungan kesehatan personil,
Pengawasan higiene terhadap proses pembuatan obat yang
harus diterapkan oleh personil.
Higiene menitik beratkan pada Personnel
62
63
ALUR
PRODUKSI
BAHAN BAKU &
BAHAN PENGEMAS
PENIMBANGAN
PENGOLAHAN
PENGEMASAN PRIMER
OBAT JADI
STAGING/RUANG STAGING
PRODUK ANTARA
PRODUK RUAHAN
BELUM SEDIAAN
SUDAH SEDIAAN
PENGEMASAN SEKUNDER
66
Syarat-syarat gudang (sesuai dgn cGMP)
Harus ada Prosedur Tetap (protap) yang mengatur/tata cara kerja
bagian Gudang, termasuk didalamnya mencakup tentang tata cara
penerimaan bahan, penyimpanan dan distribusi bahan/produk
Gudang harus cukup luas, terang dan dapat menyimpan bahan
dalam keadaan kering, bersuhu sesuai dengan persyaratan, bersih
dan teratur
Harus terdapat tempat khusus untuk menyimpan bahan yg mudah
terbakar atau mudah meledak (misalnya alkohol atau pelarut -
pelarut organik)
Tersedia tempat khusus untuk produk atau bahan dalam status
karantina dan Ditolak
Tersedia tempat khusus untuk melakukan sampling (sampling room)
dengan kualitas ruangan seperti ruang produksi (grey area)
Pengeluaran bahan harus menggunakan prinsip FIFO (First In First
Out) atau FEFO (First Expired First Out)
Ada program Pest Control yang terdokumentasi
Khusus untuk LABEL, harus terkunci.
6. Pergudangan
67
68
QUALITY CONTROL
Tugas utama Dept. QC adalah :
Memastikan bahwa bahan awal untuk produksi obat memenuhi
spesifikasi yang ditetapkan untuk identitas, kekuatan, kemurnian,
kualitas dan keamanannya
pemeriksaan bahan awal
Memastikan bahwa tahapan-tahapan proses produksi obat telah
dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan
Pengawasan selama proses Produksi (I n Process Control/I PC)
Memastikan bahwa semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan
laboratorium terhadap suatu batch obat telah dilaksanakan dan batch
tersebut memenuhi spesifikasi yang ditetapkan sebelum didistribusikan
Evaluasi prosedur produksi dan pengkajian catatan produksi
Suatu batch obat memenuhi persyaratan mutunya selama waktu
peredaran yang telah ditetapkan
Program stabilitas

Bagian QC memiliki wewenang khusus untuk memberikan keputusan akhir
meluluskan atau menolak atas mutu Bahan Awal, Bahan Kemas, Produk
Antara dan Produk Ruahan ataupun hal lain yang mempengaruhi mutu obat

Berdasarkan fungsi (c-GMP) Laboratory Based Function
69
70
INSPEKSI DIRI DAN AUDIT MUTU
Definisi :
Inspeksi diri pada dasarnya adalah cara untuk mengkaji kembali secara
obyektif seluruh tata kerja diri sendiri dari setiap aspek yang mungkin
berpengaruh pada jaminan mutu (Quality Assurance)
Tujuan :
Mengetahui kekurangan (cacat), baik yang kritis, berdampak besar maupun
berdampak kecil kemudian menetapkan cara-cara yang efektif untuk
mencegah dan memperbaikinya.
Pelaksanaan :
Harus ada protap
Team inspeksi diri
Anggota minimal 3 orang yang berpengalaman dan memahami CPOB
Penanggung jawab : QA Manager
Frekuensi : minimal 1 x dalam setahun
Setelah dilakukan inspeksi diri harus dibuat Laporan Inspeksi Diri, yg
mencakup hasil inspeksi diri, evaluasi dan kesimpulan serta saran tindak
perbaikan
Tindak lanjut


71
Audit Mutu
Digunakan sebagai pelengkap program inspeksi diri
Meliputi sebagian atau semua bagian manajemen mutu
Umumnya dilaksanakan oleh
spesialis dari luar atau
tim independen atau
tim khusus yang dibentuk oleh manajemen
Audit dan Persetujuan Pemasok :
Tanggung jawab Pemastian Mutu bersama dengan bagian
lain yang terkait
Daftar Pemasok disetujui dan ditinjau ulang secara berkala
Dilakukan evaluasi sebelum pemasok disetujui
Kemampuan pemasok memenuhi standar CPOB
72
73
PROSEDUR PENARIKAN OBAT
Laporan
Adanya
Cacat atau
Reaksi
merugikan
KEPUTUSAN
PENARIKAN
Pemerintah (Badan POM) atau
industri ybs
PERINTAH
PENARIKAN
Bagian Marketing kepada
Distributor Utama dan
seluruh anak cabangnya
Direktur & Apoteker
membuat laporan ke BPOM
LAPORAN
PELAKSANAAN
PENARIKAN
Distributor membuat laporan
pelaksanaan dan mengirim
obat hasil penarikan ke pabrik
PENERIMAAN
HASIL
PENARIKAN
Bagian Gudang membuat
laporan penerimaan kepada
Direksi, Kepala Pabrik,
Manajer Pemasaran, QA/QC
Manajer & Manajer PPIC
RENCANA
PEMUSNAHAN
PEMUSNAHAN
Laporan Rencana Pemusnahan
kepada BPOM
74
75
DEFINISI
Seluruh prosedur, instruksi dan catatan yang berhubungan dengan
proses pembuatan obat.

Guna dokumentasi

1. Merupakan bagian dari sistem manajemen mutu dalam c-GMP
2. Memastikan bahwa setiap petugas mendapat instruksi secara rinci dan
jelas mengenai bidang tugas yang harus dilaksanakan
3. Menggambarkan riwayat lengkap dari setiap batch / lot produk
sehingga menjamin ketelusuran
4. Sebagai bahan pertimbangan tentang mutu produk yang dibuat

76
DOKUMENTASI
Jenis dokumentasi
1. Prosedur tetap (SOP = Standard Operating Procedure)
2. Spesifikasi (bahan baku, pengemas, produk jadi)
3. Catatan Pengolahan Batch/Catatan pengemasan Batch
(batch processing records)
4. Identifikasi (kode/penomoran protap, peralatan, batch)
5. Penandaan (status ruangan, mesin, label bahan baku,
karantina, rejected)
6. Protokol & Laporan Kualifikasi/Validasi
7. Dokumen registrasi
8. Catatan Kalibrasi, Pemantauan kondisi lingkungan ruang
produksi
82
11. Pembuatan dan Analisis
Berdasarkan Kontrak
Untuk memfasilitasi/mendorong dilakukannya Toll Manufacture
Harus ada Kontrak Tertulis antara pemberi kontrak dan penerima kontrak
Kontrak hendaklah mengizinkan Pemberi Kontrak untuk mengaudit sarana
Penerima Kontrak
Industri Farmasi Penerima Kontrak harus memiliki gedung dan peralatan cukup,
pengetahuan dan pengalaman, dan personil yg kompeten untuk melakukan
pekerjaan yg diberikan pemberi kontrak

12. KUALIFIKASI DAN VALIDASI

Definisi :
Suatu tindakan pembuktian dengan cara yang
sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur,
kegiatan, sistem, perlengkapan atau
mekanisme yang digunakan dalam produksi
dan pengawasan mutu akan senantiasa
mencapai hasil yang diinginkan secara
konsisten (terus-menerus)

84
JENIS-JENIS VALIDASI
1. Validasi (Kualifikasi) Mesin dan Peralatan
Design Qualification (DQ)
Installation Qualification (IQ)
Operational Qualification (OQ)
Performance Qualification (PQ)
2. Validasi Metode Analisa
3. Validasi Proses Produksi
4. Validasi Proses Pengemasan
5. Validasi Pembersihan (Cleaning Validation)
OUTLINE
SEJARAH CURRENT GOOD
MANUFACTURING PRACTICES (cGMP)
Australia
Jepang
Korea Selatan
India
Amerika
cGMP di NEGARA MAJU
Manajemen Mutu
Personalia
Bangunan dan Fasilitas
Peralatan
Sanitasi dan Higiene
Produksi
Pengawasan Mutu
Inspeksi Diri, Audit Mutu dan
Audit & Persetujuan Pemasok
Penanganan Keluhan terhadap
Produk dan Penarikan Kembali
Produk
Dokumentasi
Pembuatan dan Analisis
Berdasarkan Kontrak
Kualifikasi dan Validas

CPOB DI INDONESIA
PERUNDANG UNDANGAN
PERINDUSTRIAN FARMASI
MENGENAI
Sediaan Perizinan
Mesin
Pekerjaan
Kefarmasian
PP DAN UU MENGENAI SEDIAAN FARMASI
PP KEPALA BPOM RI NO.
HK.03.1.23.12.11.10690 TH. 2011
Bab I-VII, tentang :
PENERAPAN FARMAKOVIGILANS BAGI
INDUSTRI FARMASI
Farmakovigilans adalah seluruh
kegiatan tentang pendeteksian,
penilaian (assessment), pemahaman,
dan pencegahan efek samping atau
masalah lainnya terkait dengan
penggunaan obat.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 36 TAHUN 2009

TENTANG

KESEHATAN
PASAL 98
(1) Sediaan farmasi dan alat
kesehatan harus aman,
berkhasiat/bermanfaat, bermutu,
dan terjangkau.
(2) Setiap orang yang tidak
memiliki keahlian dan
kewenangan dilarang
mengadakan, menyimpan,
mengolah, mempromosikan, dan
mengedarkan obat dan bahan
yang berkhasiat obat.
(3) Ketentuan mengenai
pengadaan, penyimpanan,
pengolahan, promosi, pengedaran
sediaan farmasi dan alat
kesehatan harus memenuhi
standar mutu pelayanan farmasi
yang ditetapkan dengan
Peraturan Pemerintah
(4) Pemerintah berkewajiban
membina, mengatur,
mengendalikan, dan mengawasi
pengadaan, penyimpanan,
promosi, dan pengedaran
sebagaimana dimaksud pada ayat
(3).
PASAL 105
(1) Sediaan farmasi yang berupa obat dan bahan
baku obat harus memenuhi syarat farmakope
Indonesia atau buku standar lainnya.

(1) Sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan
kosmetika serta alat kesehatan harus memenuhi
standar dan/atau persyaratan yang ditentukan.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009
PASAL 8
Fasilitas Produksi Sediaan Farmasi dapat
berupa industri farmasi obat, industri bahan
baku obat, industri obat tradisional, dan
pabrik kosmetika.
PP DAN UU MENGENAI PERIZINAN INDUSTRI FARMASI

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA NO. 16 TAHUN 2013

PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KESEHATAN
NOMOR 1799/MENKES/PER/XII/2010 TENTANG INDUSTRI
FARMASI
PASAL I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang
Industri Farmasi (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2010 Nomor 721), diubah sebagai berikut:

..PASAL 30
(1) Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku,
persetujuan prinsip yang telah dimiliki tetap berlaku
sebagai salah satu tahap untuk memperoleh izin industri
farmasi berdasarkan Peraturan Menteri ini.
(2) Permohonan izin industri farmasi yang telah diajukan
sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini tetap diproses
berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
245/Menkes/SK/X/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi
(3) Izin industri farmasi yang dikeluarkan
berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor 245/Menkes/SK/X/1990 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan
Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi
dinyatakan masih tetap berlaku sampai
dengan tanggal 31 Desember 2013.
(4) Izin industri farmasi
sebagaimana dimaksud pada ayat
3 harus diperbaharui berdasarkan
ketentuan dalam Peraturan Menteri
ini paling lambat tanggal 31
Desember 2013.
(5) Dalam hal Industri Farmasi
tidak melakukan pembaharuan izin
sebagaimana dimaksud pada ayat
4, maka Industri Farmasi yang
bersangkutan harus mengajukan
permohonan izin industri farmasi
sesuai ketentuan dalam Bab II
Peraturan Menteri ini.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 36 TAHUN 2009

TENTANG

KESEHATAN
PASAL 106
(1) Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat
diedarkan setelah mendapat izin edar.
(2) Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat
kesehatan harus memenuhi persyaratan objektivitas
dan kelengkapan serta tidak menyesatkan.
(3) Pemerintah berwenang mencabut izin edar dan
memerintahkan penarikan dari peredaran sediaan
farmasi dan alat kesehatan yang telah memperoleh
izin edar, yang kemudian terbukti tidak memenuhi
persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/atau
kemanfaatan, dapat disita dan dimusnahkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
PASAL 196
Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi
atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat
kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau
persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan,
dan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98
ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
PASAL 197
Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi
atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat
kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar
lima ratus juta rupiah).
PP DAN UU MENGENAI MESIN DAN
PERALATAN INDUSTRI
PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13/M-
IND/PER/2/2013

TENTANG

RESTRUKTURISASI MESIN DAN/ATAU
PERALATAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH
(IKM)
Restrukturisasi adalah penggantian atau
penambahan mesin atau peralatan produksi
yang lebih efisien dan produktif untuk
menghasilkan produk bermutu dan berdaya
saing
PP DAN UU MENGENAI PEKERJAAN
KEFARMASIAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009

TENTANG

PEKERJAAN KEFARMASIAN
PASAL 9
(1) Industri farmasi harus memiliki 3 (tiga)
orang Apoteker sebagai penanggung jawab
masing-masing pada bidang pemastian
mutu, produksi, dan pengawasan mutu
setiap produksi Sediaan Farmasi.
(2) Industri obat tradisional dan pabrik
kosmetika harus memiliki sekurang-
kurangnya 1 (satu) orang Apoteker sebagai
penanggung jawab.
PASAL 34
Tenaga Kefarmasian melaksanakan
Pekerjaan Kefarmasian pada:
a. Fasilitas Produksi
Sediaan Farmasi berupa
industri farmasi obat,
industri bahan baku obat,
industri obat tradisional,
pabrik kosmetika dan
pabrik lain yang
memerlukan Tenaga
Kefarmasian untuk
menjalankan tugas dan
fungsi produksi dan
pengawasan mutu;
b. Fasilitas Distribusi atau
Penyaluran Sediaan
Farmasi dan alat
kesehatan melalui
Pedagang Besar Farmasi,
penyalur alat kesehatan,
instalasi Sediaan Farmasi
dan alat kesehatan milik
Pemerintah, pemerintah
daerah provinsi, dan
pemerintah daerah
kabupaten/kota; dan/atau
c. Fasilitas Pelayanan
Kefarmasian melalui
praktik di Apotek, instalasi
farmasi rumah sakit,
puskesmas, klinik, toko
obat, atau praktek
bersama.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 36 TAHUN 2009

TENTANG

KESEHATAN
PASAL 108
(1) Praktik kefarmasiaan yang meliputi pembuatan
termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan
yang mempunyai keahlian dan kewenangan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
REGULASI INDUSTRI FARMASI


Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2003. Pedoman Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB). Jakarta
Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2005. Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB).
Jakarta
Kemenkes RI, 1988, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43l Menkes/SK/III 1988 tentang
Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
BPOM, 2001, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.05.
3.02147 tahun 2001 tentang Pembentukan Tim Revisi Pedoman Cara Tahun Pembuatan Obat Yang Baik,
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.
BPOM, 2002, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.05.
3.02152 tahun 2002 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik, Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.
BPOM, 2002, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.05.
3.02152 tahun 2002 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik, Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.
BPOM, 2004, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.00.05 .2.4231 Tahun 2004
tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan, Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia, Jakarta.
BPOM, 2006, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.00.05 . 3.0027 Tahun 2006
tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia, Jakarta.
BPOM, 2009, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.00. 06. 1.34.0387 Tahun
2009 tentang Pembentukan Tim Nasional Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB), Badan Pengawas Obat
dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.
BPOM, 2010, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK. 03.01.23.09.10.9030
Tahun 2010 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik, Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia, Jakarta.
BPOM, 2011, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK. 04.1.33.12.11. 09937
Tahun 2011 tentang Tata Cara Sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik, Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia, Jakarta.
BPOM, 2012, Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK. 03.1.33.12.12.8195 Tahun
2012 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik, Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia, Jakarta.