Anda di halaman 1dari 30

GANGGUAN MENSTRUASI II

(AMENORE)
Dr. Kusuma Andriana SpOG
DEFINISI
Usia 14 tahun; seks sekunder (-) dan haid (-)
Usia 16 tahun dan seks sekunder (+) dan
haid (-)
Telah mendapat menstruasi haid
berhenti selama sedikitnya 3 bulan berturut
turut
Amenore Fisiologis
Prepubertas
Hamil dan nenyusui
Menopause
Tabel 3.2. Gambaran skematis bentuk lain dari amenorea

Amenorea primer Belum pernah haid, meskipun usia di atas 18 tahun

Amenorea sekunder Pernah haid, tetapi kemudian tidak haid selama 3 bulan

Amenorea generatif Amenorea derajat I: pematangan folikel dan ovulasi
terganggu

Amenorea vegetatif Amenorea derajat II : selain tidak terjadi pematangan
folikel, juga tidak terbentuk estrogen

Amenorea hiperestrogen Terdapat endometrium hiperplasia

Amenorea hipoestrogen Endometrium atrofis

Amenorea hipergonadotrop Tidak ada pembentukan estrogen, hipofisis dihambat

Amenorea hipogonadotrop Terdapat gangguan di hipotalamus

Uterus
Ovary
Anterior pituitary
hypothalamus
Central nervous system
Compartment I
Compartment II
Compartment III
Compartment IV
Environment
GnRH
FSH
LH
Estrogen Progesteron
Menses
Dasar patologi amenorea
Kompartemen I : kelainan pada outflow tract
atau uterus sebagai target
organ
Kompartemen II : kelainan pada ovarium
Kompartemen III : kelainan pada hipofise
anterior
Kompartemen IV : kelainan karena faktor CNS
atau hipotalamus
Pemeriksaan Klinis
Adanya disfungsi psikologis atau stress emosi
Riwayat keluarga menderita anomali kongenital
Problem fisik yang meliputi status nutrisi dan
gangguan perkembangan dan pertumbuhan
Pemeriksaan ginekologis
Adanya kelainan pada sistem syaraf pusat
Gejala galaktorea
Amenore Primer
Brenner
Haid spontan (-) sampai usia 16,5 th
Seks sekunder (mammae -) sampai usia 14 th
Seks sekunder (+) tanpa diikuti haid dlm 2 th
Speroff
Haid (-) usia 14 th, seks 2
nd
(-)
Haid (-) usia 16 th, seks 2
nd
(+)

Amenore Primer cont..
Brenner Paul F

GROUP MAMMAE UTERUS
I - +
II + -
III - -
IV + +
Perkembangan genitalia wanita
Dipengaruhi adanya :
Mullerian Regression Factor sel Sertoli
Testosteron sel Leydig
Antigen H-Y
Kromosom XY


Jumlah oosit dan oogonium
Perubahan kadar hormonal dan jumlah
oosit pada masa in utero - remaja
Pubertas :
Suatu periode perkembangan dari seksual
imatur manjadi matur baik secara hormonal
maupun fisik

Dipengaruhi :
Genetik
Keadaan kesehatan
Nutrisi peran Leptin ?
Status psikologik
Variasi individu
Tanner Stagging
Stage Mammae Pubic hair
I
Elevation of pappila only Neg
II
Elevation breast & pappila
<, areola hanya di medial
Usia 9,8 th
Menyebar, hanya di
lab mayor
Usia 10,5 th
III
Membesar, areola dan
pappila blm terpisah
Usia 11,2 th
Hitam, kasar
menyebar sp di
mons. Usia 11,4 th
IV
Areola dan pappila
terpisah, menonjol
Usia 12,1 th
Adult type
Usia 12,0 th
V
Recession of areola to
countor of breast
Usia 14,6 th
idem
Perkembangan seks sekunder melalui
beberapa tahapan
Tahapan Marshall & Tanner
Sistem Tanner :
Tidak melakukan penilaian gradasi terhadap
pubertas, namun melakukan penilaian gradasi
perkembangan genitalia, rambut pubis dan
payudara secara terpisah
Kelainan spesifik yang terkait pada
masing- masing kompartemen
Kompartemen I :

sindrom Asherman
Anomali duktus mullerian hymen imperforata
Agenesis mullerian sindrom MRKH
Androgen insensitivity (testicular feminization)
Kompartemen II :

Sindrom Turner
Mosaicism
XY gonadal dysgenesis
Gonadal agenesis
resistant ovary syndrome
Premature ovaria failure
Kompartemen III :
Pituary prolactin secreting adenomas
The empty sella syndrome
Sindrom sheehan

Kompartemen IV
Hypothalamic amenorrhea
Anoreksia, bulimia (weight loss)



Chromoso
mes
FSH LH Estradiol Testosteron Prolactin
Progesterone
withdrawal
Primary amenorrhoea
Turners syndr XO = = -ve
Androgen insensis
syndr XY = = -ve
Hypogonadotrophic
hypogondism
XX







=

= or

-ve

Secondary
amenorrhoea


Prolactinoma XX = -ve
PCOS XX = or = = = +ve
Premature ovarian fail XX = = -ve
Pemeriksaan
Progestational challenge
Estrogen endogen dan kompeten outflow tract

Ada 3 pilihan preparat progesteron :
- progesteron parenteral 200mg
- micronized progesteron 300mg
- MPA 10 mg peroral selama 5 hari.
bila dalam 2-7 hari setelah terapi dengan
progesteron didapatkan perdarahan maka
diagnosa adalah anovulasi.
Berarti outflow tract normal, endometrium
reaktif, terdapat estrogen endogen, dan fungsi
minimal dari ovarium, hipofise, dan sistem
syaraf pusat.
Galaktorea(-),Prolaktin N, TSH N evaluasi
lanjutan tidak perlu

Bila hanya didapatkan spotting ( positive withdrawl
response) maka kemungkinan hanya terdapat
estrogen endogen dalam batas marginal,
selanjutnya penderita harus dimonitor dan
evaluasi ulang, karena seringkali akan
berkembang menjadi respon negatif
Negative withdrawl response, berarti bahwa tidak
terdapat estrogen endogen
endometrium mengalami desidualisasi
disebabkan oleh tingginya kadar androgen
(anovulasi PCO), atau pada tingginya kadar
progesteron akibat defisiensi enzim adrenal.
Terapi : pada kasus anovulasi MPA 10
mg/hari pada sepuluh hari pertama tiap bulan
Tahap 2
Bila respon negative target organ, outfow
tract tidak kompeten atau tidak terjadi proliferasi
endometrium akibat tak adanya estrogen.
Uji : 1,25 mg estrogen konyugasi atau 2 mg
estradiol selama 21 hari, ditambah dengan 10 mg
MPA pada 5 hari terakhir.
Tahap 2 :
bila negatif defek pada kompartemen I
bila positif Kompartemen I normal
Tahap 3
Dilakukan pemeriksaan kadar gonadotropin
penyebab kurangnya estrogen akibat gangguan
folikel (kompartemen II) atau pada poros CNS-
hipofise (kompartemen III dan IV)
Gonadotropin yang tinggi didapatkan pada :
tumor yang memproduksi gonadotropin ( a
gonadotropin secreting pituary adenoma ),
perimenopausal, resistant atau insensitive ovary
syndrome, premature ovarian failure (autoimmune
disease).
Hasil pemeriksaan :

Bila kadar gonadotropin normal dengan negative
progestational withdrawl test maka terjadi gangguan
pada poros CNS Hipofise.

Bila kadar gonadotropin rendah maka
kemungkinan terjadi kerusakan pada hipofise
( kompartemen III) atau CNS (kompartemen
IV).
Amenorea karena gangguan di uterus
Uji P maupun uji E + P tetap tidak terjadi
perdarahan, dipikirkan sebagai berikut :
Uterus tidak ada / endometrium tidak ada.
Amenorea uterus primer.
Kerusakan pada endometrium akibat perlengketan
(sindrom Asherman), infeksi berat (TBC). Amenorea
uterus sekunder.
Endometrium ada dan baik, tetapi tidak bereaksi
sama sekali terhadap hormon.