Anda di halaman 1dari 31

Pembimbing:

dr. Ngatman, Sp.B



Di susun oleh:
Willy Kurniawan
11-2012-125



Peritonitis merupakan salah satu keadaan akut
abdomen yang dapat membahayakan nyawa
penderitanya
Peritonitis karena perforasi gaster merupakan
peritoniti ketiga tersering, dibawah appendisitis
perforasi dan ileus obstruktif
Penyebab tersering perforasi gaster adalah adanya
tukak lambung yang menahun dan dewasa ini
prevalensinya semakin meningkat
Latar Belakang

Peritoneum merupakan suatu lapisan serosa yang
melapisi rongga perut yang dibagi menjadi dua bagian
yaitu peritoneum parietalis dan viseralis
Peritonitis merupakan suatu proses radang dari
peritoneum
Perforasi merupakan suatu keadaan terbentuknya lubang
dari suatu organ berongga biasanya merupakan organ
saluran cerna
Peritonitis et causa perforasi gaster merupakan suatu
keadaan terjadinya peradangan pada peritoneum karena
terbentuknya lubang pada dinding abdomen, keluarnya
isi lambung akan mengakibatkan terjadinya peradangan
peritoneum
Definisi

Bagian-bagian lambung:
Cardia
Fundus
Corpus
Antrum
Pylorus
Kurvatura mayor
Kurvatura minor
Anatomi Lambung


Histologi

Di Amerika Serikat, peptic ulcer disease (PUD)
mempengaruhi sekitar 4,5 juta orang setiap tahun
dengan 20% disebabkan H. Pylori.
Prevalensi tukak gaster pada laki-laki adalah 11-14%
dan prevalensi pada wanita adalah 8-11%.
Di Indonesia, ditemukan antara 6-15% pada usia 20-
50 tahun.
Diperkirakan setidaknya ada 3.000 orang di Amerika
Serikat yang meninggal dunia akibat perforasi tukak
gaster.

Epidemiologi

Sebanyak 2-10% perforasi gaster terjadi karena adanya tukak
peptik
70% kematian pada tukak lambung terjadi karena peritonitis.
Perforasi karena ulkus peptikum sering terjadi beberapa tempat
60% pada bagian anterior duodenum, 20% pada bagian antrum,
dan 20% pada bagian kurvatura minor.
Perforasi karena peptic ulcer dahulu lebih sering pada usia
muda (20-30 tahun), tetapi saat ini terjadi lebih sering
ditemukan pada usia lanjut (40-60 tahun) dan lebih sering
ditemukan pada perempuan
Di Amerika Serikat tukak lambung dilaporkan terjadi pada 4,5
juta orang, dengan 3000 kematian setiap tahunnya karena
perforasi tukak lambung.
Epidemiologi

Tukak lambung
Trauma abdomen
Tumor gaster
Etiologi

Helicobacter
pylori
NSAID
Genetik Lifestyle
Tukak Lambung
Tukak Lambung

Trauma Abdomen

Trauma Abdomen


Tumor Gaster

Faktor Resiko
Jenis
Kelamin
Usia
Alkoholisme
Kafein
Stress
Merokok
Laki-laki > perempuan
(usia 30-40 thn)
Perempuan > laki-laki
(usia >75thn)
Berkurangnya mekanisme
protektif gaster
Pengunaan NSAID
Alkoholisme, kafein dan
merokok dapat menurunkan
mekanisme protektif dari gaster
Psikosomatik gastritis


Patofisiologi Tukak
Lambung


Patofisiologi Peritonitis

Demam
Nyeri
perut
Diare /
konstipasi
Perut
terasa
tegang
Nyeri
Pada Bahu
Syok
Manifestasi Klinis

Pemeriksaan
Hematologi
Leukositosis (neutrofil ^)
Peningkatan Hematokrit
Penurunan Hb
Pemeriksaan Penunjang

Peritoneal fat line
menghilang /
memudar
Pneumoperitoneum
(trap air, semilunar
shadow)
Foto polos
abdomen
Baik untuk trauma
abdomen (FAST)
Dapat mengetahui ada
tidaknya cairan di
cavum abdomen
Kurang dapat
mendeteksi udara
USG
Paling baik, bahkan
dapat mengetahui
udara dalam jumlah
kecil

Ct-scan
Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis Peritoneal Lavage

Pemeriksaan Penunjang
Bila ada trauma abdomen
dengan hemodinamik tidak
stabil
Bermakna bila :
10 cc/blood
100,000 RBCs/mm
3

500 WBCs/mm
3

Presence of bile, bacteria or
food particles
Serum Amylase > 175IU/ml


Esophagus Forceful vomiting Termed Boerhaave's syndrome
Iatrogenic causes Typically perforation with an esophagoscope,
balloon dilator, or bougie
Ingestion of corrosive material
Stomach or duodenum Peptic ulcer disease In about one third of patients, no previous
history of ulcer symptoms
In about 20%, no free air visible on x-ray
Ingestion of corrosive material Typically stomach
Intestine Strangulating obstruction
Possibly acute appendicitis and Meckel's
diverticulitis
Free air rarely visible on x-rays
Diagnosis Banding

Colon Obstruction Typically perforates at cecum
High risk: Colon > 13 cm
diameter, patients
receiving prednisone


or other immunosuppressants
(symptoms and signs may be
minimal in this group)
Diverticulitis
Inflammatory bowel disease
(ulcerative colitis, Crohn's
disease)

Toxic megacolon
Sometimes spontaneous
Gallbladder Iatrogenic injury during
cholecystectomy or liver
biopsy
Usually biliary tree
Rarely, acute cholecystitis Usually walled off by omentum
Diagnosis Banding



Preoperatif Operatif Postoperatif
Penatalaksanaan

Resusitasi cairan
Antibiotik broad spectrum
Oksigen dan ventilator
NGT, kateter dan monitor TTV
Preoperatif

Tujuan utama tindakan operatif pada peritonitis:
Mengontrol sumber kontaminasi
Peritoneal lavage
Pertioneal drainage

Dapat dilakukan dengan dua cara:
Open laparatomi
Minimal invasive surgery (laparascopic)



Operatif


Primary closure by intterupted
suture
Primary closure by interrupted
sutured covered with pedicled
omentoplasty
Cellan-Jones repair: plugging
the perforation with pedicled
omentoplasty

Graham patch: plugging the
perforation with free omental plug


Dengan normal saline yang telah dihangatkan sesuai
suhu tubuh, 6-10 liter cairan normal saline,
bahkan ada yang menyatakan bahwa pembilasan
rongga abdomen dalam keadaan ini memerlukan 30
liter normal saline hangat.

Peritoneal Drainage

Bertujuan untuk mengurangi penumpukan cairan
dalam rongga abdomen
Mengurangi kemungkinan terjadinya abses


Kerugian : dapat meningkatkan resiko infeksi
sekunder (10%), dan dapat mengakibatkan
strangulasi saluran cerna
Peritoneal Drain

Postoperatif Management
Nasogastric tube setidaknya selama 48 jam setelah operasi,
Makanan oral sebaiknya mulai diberikan setelah 3 hari
postoperasi dimulai dengan makanan yang lunak terlebih
dahulu.
Antibiotik
Bila tukak lambung disebabkan oleh infeksi H. pylori perlu
diberikan triple terapi untuk eradikasi H. pylori yaitu PPI,
klaritromisin dan amoksisilin atau metronidazole selama 14
hari.
Endoskopi perlu di ulang setidaknya 1 kali setelah 8 minggu
post operasi untuk mengetahui proses penyembuhan lambung
dan untuk melihat apakah eradikasi H. pylori berhasil atau
tidak.

Postoperatif

Jenis Komplikasi Prevalensi
Pneumonia 3,60-30%
Infeksi luka 10-17%
Urinary tract infection 14-15%
Kebocoran jahitan 2-16%
Pembentukan abses 0-9%
Gangguan jantung 5%
Ileus 2-4%
Fistula 0,5-4%
Luka tidak menutup 2,5-6%
Kebocoran empedu 4,9%
Perdarahan 0,6%
Reoperasi 2-9%
Sepsis 2,5%
Stroke 4%
Death 5-11%
Komplikasi

Faktor resiko Skor
Lama terjadi
perforasi
< 24 jam
> 24 jam

0
1
Tekanan darah sistol
preoperasi
> 100 mmHg
< 100 mmHg

0
1
Penyakit sistemik
(jantung, ginjal,
paru, DM)
Ada
TIdak ada

0
1
Prognosis
Boey score Morbidity
rate
Mortality rate
Boey 0 17,4% 1,5%
Boey 1 30,1% 14,4%
Boey 2 42,1% 32,1%
Boey 3 100%




SEKIAN dan TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai