Anda di halaman 1dari 20

Norman R.S 12.

025
M Budi Prakoso 12.024
Mita Setiana N.A 12.023
Novrain P 12.026
Kanker ovarium

Kanker ovarium atau kanker indung telur rata-rata ditemukan pada wanita
berusia di atas 50 tahun. Kelainan genetik dan kromosom mempengaruhi
terjadinya kanker ovarium.
Kanker ovarium adalah sebuah penyakit sel tumor ganas didalam ovarium
wanita. Merupakan salah satu tumor yang paling sering ditemukan pada organ
reproduksi wanita. Dikarenakan jaringan di dalam ovarium dan kompleksitas
fungsi endokrin, sulit mendeteksi apakah tumor tersebut jinak atau ganas. Saat
diagnosis, mayoritas sel kanker sudah menyebar ke organ disekitarnya.
Tingkat kematian tumor ganas ovarium menduduki urutan pertama pada
onkologi ginekologi. Sudah menjadi ancaman serius buat kehidupan dan
kesehatan para kaum wanita. Setelah ditemukan adanya kanker ovarium,
sekitar 2/3 diantaranya sudah memasuki stadium lanjut. Oleh karena itu
tingkat kelangsungan hidup dalam waktu lima tahun hanya tinggal 20%-30%.
Setelah timbul penyakit, sedikit yang bisa hidup sampai 3 tahun. Semakin tua
usianya, tingkat kematian kanker ovarium juga semakin tinggi.
Namun masih ada harapan seperti, semakin cepat terdeteksi kanker
ovarium dan menggunakan teknik pengobatan yang maju akan mendapatkan
hasil pengobatan yang efektif, memperpanjang kehidupan wanita dan
meningkatkan kualitas hidup.

Neoplasma ovarium

Secara keseluruhan mayoritas massa ovarium bersifat jinak dan memiliki risiko seumur
hidup untuk berkembang menjadi kanker ovarium sebesar 2%. Usia merupakan factor
yang paling penting dalam menentukan risiko keganasan. Massa adneksa sering
ditemukan selama usia reproduksi, selama tahap kehidupan ini. Masaa tersebut biasanya
disebabkan oleh kista ovarium fungsional, neoplasma ovarium jinak, atau perubahan
pascainfeksi pada tuba fallopii, pada anak perempuan yang berusia dibawah 20 tahun
dan wanita diatas 50 tahun. 10% massa yang teraba bersifat ganas. Sekitar 85-90% kanker
ovarium terjadi pada wanita pascamenopouse.

Neoplasma ovarium jinak
Berbagai neoplasma ovarium baik jinak maupun ganas dapat berasal dari setiap jenis sel
yang terdapat di dalam ovarium. Kista sederhana dapat bersifat fungsional dan terbentuk
pada lokasi ovulasi atau selam perkembangan korpus luteum. Kista ini sangat banyak
ditemukan dan dapat dibedakan dari neoplasma sejati berdasarkan riwayat alami
perubahan sel. Biasanya kisat-kista ini menghilang dalam 6 minggu setelah ditemukan.
Massa yang kompleks atau padat dan menetap cenderung merupakan neoplasma sejati
dan membutuhkan diagnosis secara histology. Sebagai besar neoplasma ovarium jinak
bukan merupakan lesi premaligna dan tidak akan berlajut menjadi kanker yang invasif.
Oleh karena itu, skrining yang teliti dan pengangkatan tumor-tumor jinak dan peralihan
pada ovarium selama 20 tahun terakhir tidak menurunkan insidensi kanker ovarium.
FAKTOR RISIKO
Wanita yang berisiko tinggi terkena kanker ovarium
yaitu
wanita postmenopause ( usia > 50 tahun ).
Wanita dengan riwayat kanker ovarium dalam
keluarga, risikonya 18 kali lebih besar daripada wanita
yang tidak ada riwayat kanker ovarium dalam
keluarga.
Factor reproduksi
Factor genetic


Prognosis

Prognosis dari tumor ovarium tergantung dari beberapa
hal :
Stadium
Jenis histologinya
Derajat diferensiasi
Residu tumor
Free disease interval
Penyebab kanker ovarium

1. Faktor lingkungan : tingkat kejadian kanker ovarium
lebih tinggi di negara industri yang berkembang dan wanita
dilapisan masyarakat atas, kemungkinan berhubungan dengan
pola makan yang tinggi kolesterol. Selain itu, radiasi komputer,
asbes dan talek dapat meningkatkan resiko terkena kanker
ovarium. Merokok dan kurangnya vitamin A,C,E juga ada
kaitannya.

2. Faktor endokrin : kanker ovarium lebih banyak terjadi
pada nulipara atau wanita steril. Kehamilan tampaknya memiliki
efek melawan kanker ovarium. Menurut kedokteran, ovulasi
yang setiap hari menyebabkan epitel ovarium rusak berulang
kali, ada hubungannya dengan kanker ovarium. Selain itu,
kanker payudara, kanker endometrium dan kanker ovarium
mudah terjadi bersamaan. Ketiga penyakit ini mempunyai sifat
ketergantungan terhadap endokrin.

3. Faktor genetik dan keluarga : sekitar 20%-25% pasien
kanker ovarium anggota keluarganya mengidap kanker.


Stadium
Tingkat penyebaran
Tingkat rata-rata kelangsungan hidup dalam 5 tahun
Stadium I perbatasan ovarium dan tumor, termasuk kanker
ovarium stadium awal 90%
Stadium II lesi tumor pada satu atau kedua ovarium,
metastasis pada panggul 70%
Stadium III lesi tumor pada satu atau kedua ovarium,
metastasis panggul atau bagian dalam abdomen atau
retroperitoneal 60%
Stadium IV metastasis lokal jauh, metastasis paru-paru 17%
Stadium kanker ovarium pada metode pengobatan dan
hasilnya memiliki makna yang berarti. Letak, ukuran, ada
tidaknya kecenderungan penyebaran akan mempengaruhi
dokter dalam menentukan metode pengobatan. Selain itu, faktor
umur, masih tidaknya masa menstruasi dan kondisi kesehatan
juga akan mempengaruhi metode pengobatan dan prognosis
GEJALA


Gejala awal jarang ditemukan

1. Pada stadium dini terkadang merasa tidak enak di perut bagian bawah atau
merasa menurun dan sakit di satu sisi pada perut bagian bawah.

2. Merasa perut mengembung, karena tumor bertumbuh dengan cepat maka
diwaktu yang singkat akan terasa perut kembung, benjolan di perut dan asites.
Tumor yang kecil pada saat pemeriksaan pelvik baru dapat terdeteksi, disaat
benjolan terus bertumbuh besar melewati pelvik, benjolan di perut baru dapat
teraba.

3. Gejala tertekan, disaat tumor infiltrasi ke jaringan di sekitar atau menekan
saraf, dapat menimbulkan sakit perut, sakit pinggang atau sakit linu panggul;
apabila menekan pembuluh darah vena pelvik, bisa timbul bengkak pada kaki;
tumor dengan ukuran besar dapat menekan kandung kemih, menimbulkan
gejala sering kencing, kesulitan kencing, retensi urin; menekan rektum akan
kesulitan buang air besar; menekan lambung dan usus akan timbul gejala
pencernaan; menekan diafragma akan kesulitan bernapas, tidak dapat tidur
terlentang.
4. Karena pertumbuhan tumor sangat cepat, maka akan
timbul gejala malnutrisi dan badan kurus, menyebabkan
cachexia

5. Gejala yang berkaitan dengan adanya metastase kanker,
kanker ganas ovarium jarang ada gejala rasa sakit, apabila
terjadi kebocoran tumor, pendarahan atau infeksi atau
karena infiltrasi menekan organ di sekitarnya dapat
menimbulkan sakit perut, sakit pinggang.
6. Apabila bilateral ovarium semuanya rusak oleh jaringan
tumor, bisa menimbulkan gangguan menstruasi dan
amenore; metastase ke paru-paru akan timbul batuk,
batuk berdarah, efusi pleura; metastase ke tulang dapat
menyebabkan rasa sakit di area metastase; metastase ke
usus dapat menimbulkan darah tinja, yang terberat dapat
menimbulkan obstruksi usus.




7. Apabila berupa fungsional tumor, dapat menimbulkan gejala
yang berkaitan dengan hormon estrogen atau hormon androgen
yang berlebihan. Misalnya : menimbulkan disfungsional awal
pendarahan uterus, pendarahan vagina pasca menopause atau
timbul tanda-tanda maskulin. Pasien kanker ovarium stadium
lanjut timbul gejala badan kurus yang nyata, anemia berat dan
tanda cachexia lainnya. Pada saat pemeriksaan ginekologi dapat
teraba nodul keras yang tersebar di forniks posterior, benjolan
kebanyakan terdapat didua sisi. substantive, permukaan yang
tidak rata, tidak dapat digerakkan, sering terkait dengan adanya
asites darah. Terkadang dapat teraba kelenjar getah bening
membesar di pangkal paha, di bawah ketiak atau di atas tulang
belikat.

Tanda kanker ovarium
Massa tumor di pelvic , tumor memiliki bagian padat ,ireguler
dan terfiksir ke dinding panggul , bila tanda tanda tersebut ada
maka keganasan perlu di curigai.



Meskipun teknologi diagnosis kanker ovarium berkembang
terus, tetapi pemeriksaan forniks posterior pap pipet,
pemeriksaan cairan rahim dari penusukan kantong rektum dan
pemeriksaan sitologi cairan asites masih merupakan metode
diagnosa yang sederhana, mudah, dan cepat. Untuk kasus
kanker ovarium yang mencurigakan, laparoskopi dan
pemeriksaan histologis dapat segera mengkonfirmasikan
diagnosis. Pemeriksaan pencitraan, khususnya USG transvagina
memberikan kontribusi untuk diagnosis kualitatif pada batas
dan struktur internal dari kanker ovarium dini. Pemeriksaan
endokrin membantu mendiagnosis tumor ovarium stromal dan
kanker ovarium dengan beberapa bagian yang disertai sindrom
endokrin ektopik. Pemeriksaan tumor marker dalam serum
sangat sensitif untuk mendeteksi tumor ovarium ganas, namun
spesifisitasnya kurang, sehingga tidak bisa hanya mengandalkan
satu imunologi tes untuk menentukan jenisnya. Tapi berbagai
deteksi bersama penanda tumor dapat meningkatkan keandalan
diagnosis kualitatif.
PENGOBATAN

Pengobatan kanker ovarium dengan operasi
Secara umumnya, operasi pembedahan adalah cara utama dalam pengobatan kanker
ovarium, akan tetapi dengan operasi masih belum bisa membersihkan secara tuntas lesi
yang sangat kecil di dalam tubuh pasien kanker ovarium, oleh karena itu dapat timbul
metastasis dan kekambuhan setelah operasi

Pengobatan kanker ovarium dengan radioterapi
Menurut type jaringan yang berbeda pada kanker ovarium, maka tingkat kepekaan
terhadap radioterapi juga berbeda, dysgerminoma paling peka terhadap radioterapi,
granulosa sel tumor memiliki kepekaan sedang, epitel tumor juga memiliki tingkat
kepekaan tertentu; penyinaran setelah operasi diutamakan terhadap lesi tumor yang
masih tersisa di rongga perut; pasien yang masih ada tersisa lesi tumor kecil tetapi tidak
terjadi adhesi di rongga perut dapat melakukan perfusi radionuklida pada saat 7-14 hari
setelah operasi.

Pengobatan kanker ovarium dengan kemoterapi
Pengobatan kanker ovarium dengan kemoterapi merupakan pengobatan bantuan
yang utama untuk kanker ovarium. estimasi operasi pengangkatan tumor yang sulit,
maka sebelum operasi terlebih dahulu dilakukan kemoterapi sebanyak 1-2 kali, dapat
meningkatkan efektifitas operasi pengangkatan. Kemoterapi setelah operasi dapat
mencegah kambuh; bagi operasi pengangkatan yang tidak bersih, dengan kemoterapi
memperoleh penangguhan sementara bahkan dapat memperpanjang jangka hidup; bagi
yang tidak dapat dilakukan operasi pengangkatan, kemoterapi dapat membuat tumor
mengecil, mudah digerakkan, menciptakan kondisi untuk operasi lagi.
Contoh data anamesis pada kasus
Ca ovarium
Nama : Ny. K
Umur : 65 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : jln bumi arsri no 27 ciloto Cianjur
Masuk IGD : 22 januari 2011 ,pukul 15.10 WIB

Anamnesis (autoanamnesis ,22 januari 2011)
Keluhan utama : perut membesar
Keluhan tambahan : nyeri perut, pendarahan dari
jalan lahir

Riwayat penyakit sekarang
Pasien dari RSUD Cianjur dengan keluhan 4 hari yang lalu
, di seluruh bagian vagina sampai perut merasa seperti di
tusuk tusuk dan perut mulai membesar sejak tiga bulan
yang lalu, dan sering keluar darah di jalan lahir , darah
berwarna merah segar volume 1. Riwayat nyeri saat
berhubungan (-), riwayat keputihan (-), mual (+) . tidak
muntah , tidak ada nafsu makan , buang air besar sedkit
dan tidak lancar , px masih bisa kentut , buang air kecil
tidak ada keluhan.

Riwayat haid
Px menarche umur 10 tahun, teratur satu kali dalam setiap
bulannya , lamanya 7 hari dalam satu hari px ganti
pembalut 1-2 kali, menopause umur 58 tahun




Riwayat pernikahan
satu kali, lamanya 33 tahun

Riwayat KB
px tidak pernah menggunakan KB

pemeriksaan fisik
KU/KES :Px tampak lemah / composmentis

Tanda vital :
Tekanan darah : 160/100 mmHg
Respiration rate : 22 X / menit , regular
Nadi : 90X / menit
Suhu : 37
0
C

Thorax
Pulmo
Inspeksi : gerakan nafas simetris, retraksi
Palpasi : gerak nafas simetris , VF paru kanan kiri sama
Perkusi : redup di kedua lapang paru
Auskultasi : suara dasar vesicular melemah bilateral , RBH -/-
RBK-/-, wheezing-/-