Anda di halaman 1dari 8

KULTUR Tetraselmis chuii

KLASIFIKASI
Tetraselmis merupakan alga hijau atau dikenal
juga sebagai flagellata berchlorophyl sehingga
berwarna hijau.

Klassifikasi Tetraselmis :
Filum : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Volvocales
Sub ordo : Chlamidomonacea
Genus : Tetraselmis
Spesies : Tetraselmis chuii
MORFOLOGI
Tetraselmis chuii termasuk alga hijau, mempunyai sifat
selalu bergerak,
berbentuk oval elips, mempunyai 4 buah flagella pada
ujung depannya yang
berukuran 0,75-1,2 kali panjang badan dan berukuran
10x6x5 m (Butcher, 1959).
Menurut Mujiman (1984), Sel-sel Tetraselmis chuii
berupa sel tunggal yang
berdiri sendiri. Ukurannya 7-12 m, berkolorofil sehingga
warnanya pun hijau cerah.
Pigmen penyusunnya terdiri dari klorofil. Karena memiliki
flagella maka Tetraselmis
dapat bergerak seperti hewan.
Pigmen klorofil Tetraselmis chuii terdiri dari dua macam
yaitut karotin dan
xantofil. Inti sel jelas dan berukuran kecil serta dinding
sel mengandung bahan
sellulosa dan pektosa.
EKOLOGI
Tetraselmis chuii tumbuh dengan kondisi salinitas optimal
antara 25 - 35 ppt (Fabregas et al, 1984). Menurut Griffith
et al (1973) mengatakan bahwa Tetraselmis chuii masih
dapat mentoleransi suhu antara 15
o
C-35
o
C, sedangkan
suhu optimal berkisar antara 23
o
C-25
o
C.
METODE KULTUR
Proses produksi massal Tetraselmis chuii dilakukan dalam
4 tahap dan setiap tahap dilakukan dalam wadah yang
ukurannya berbeda.

Tahap I dilakukan dalam wadah 1 liter, berupa botol
erlenmeyer. Sebelumnya botol dicuci dengan air sabun dan
dibilas dengan larutan khlorin150 ml/ton (150 ppm). Alat-
alat lain seperti slang plastik dan batu aerasi juga dicuci.
Kemudian aair dimasukkan ke dalam botol melalui
saringan 15 dan langsung disterilisasi dengan
pemanasan sampai mendidih atau dengan penambahan
larutan khlorin atau disinari dengan lampu UV. Air ini
dipupuk dengan campuran beberapa macam larutan kimia.
Bibit dari hasil penangkaran ditebarkan dengan kepadatan
100.000 sel/ml lalu diaerasi.

Pertumbuhan dan perkembangbiakan ini dilakukan dalam ruangan
yang dilengkapi alat pengatur suhu atau lampu neon. Masa
penumbuhan tahap ini selama 4 5 hari. Pada puncak pertumbuhan
dan perkembangbiakannya kepadatan sel mencapai 4 5 juta sel/ml.
dengan tingkat kepadatan ini, bibit telah siap untuk ditumbuhkan dan
dikembangbiakkan lagi pada tahap II dalam wadah 1 galon.
Bentuk wadah pada produksi tahap II adalah stoples. Wadah dicuci
bersih dengan sabun dan dibilas dengan larutan khlorin 150 ppm.
Selanjutnya diisi air laut yang kadar garamnya 28 permill. Sebelum
dimasukkan, air ini terlebih dulu disaring dalam saringan 15 . Di dalam
wadah tersebut air disterilkan dengan pemanasan (perebusan) atau
disinari dengan lampu UV atau penambahan larutan khlorin 60 ppm
dan selanjutnya dengan Na
2
S
2
O
3
20 ppm. Dan selanjutnya dipupuk
menggunakan campuran beberapa bahan.
Bibit segera ditebarkan. Tingkat kepadatannya 100.000 sel/ml. untuk
wadah 1 gallom ini ditebari 1 liter bibit hasil penumbuhan tahap 1.
masa pertumbuhan tahap II ini 4 5 hari hingga mencapai kepadatan
tertinggi. Selama proses penumbuhan dan perkembangbiakan dan
perkembangbiakan, wadah ditempatkan dalam ruangan yang
dilengkapi alat pengatur suhu (AC) dan lampu neon. Selama masa
penumbuhan dan perkembangbiakan juga terus dilakukan aerasi. Jika
penumbuhan dan perkembangbiakannya sempurna, selama masa
produksi 4 5 hari akan dicapai jumlah sel antara 4 5 juta sel.ml. dan
hasil ini selanjutnya digunakan sebagai bibit pada produksi massal
tahap III.
Wadah untuk produksi massal tahap III adalah fibre glass atau bak
semen (Kayu), ukurannya sekitar 200 liter. Peralatan yang digunakan
dan proses produksinya sama seperti tahap-tahap sebelumnya.
Bibitnya berasal dari hasil produksi tahap II. Untuk wadah dengan
kapasitas 200 liter membutuhkan 3 gallon bibit. Tempat produksi
massal tahap III adalah ruangan terbuka yang terkena sinar matahari
langsung. Masa pemeliharaan 4 5 hari. Hasil produksi massal tahap
III ini selaj\njutnya digunakan sebagai bibit untuk produksi massal
tahap IV dalam wadah 1 m3 atau lebih.
Pada tahap prduksi ini ukuran wadah 1 m3 atau lebih, dibuat dari bak
semen (kayu) atau fibre glass. Peralatan dan proses produksinya tidak
berbeda dengan tahap-tahap sebelumnya. Pupuk yang digunakan
cukup urea sebanyak 60 100 mg/liter dan TSP sebanyak 30 50
mg/liter. Tempat yang digunakan adalah ruangan terbuka dan terkena
sinar matahari langsung. Bibitnya diambilkan dari hasil produksi massal
tahap III. Untuk wadah dengan kapasitas 1 m3 dibutuhkan 100 liter.
Dengan demikian hasil produksi massal tahap III dapat digunakan
sebagai bibit pada produksi massal tahap IV dengan menggunakan
wadah yang kapasitasnya 2 m3.
Dalam waktu 4 5 hari sejak bibit ditebarkan, biasanya telah tumbuh
dan berkembang mencapai puncaknya. Pada puncak ini jumlah selnya
mencapai 2 4 k\juta sel/ml dan siap dilakukan pemanenan. Hasil
produksi tahap IV inilah selanjutnya digunakan sebagai pakan alami
larva ikan.