Anda di halaman 1dari 38

Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang

dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun


berdasarkan konsesus semua pihak yang terkait, dengan
memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan,
kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, pengalaman, perkembangan
masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh
manfaat yang sebesar-besarnya (PP 102 tahun 2000
Tentang Standardisasi Nasional).

Standar adalah suatu pedoman atau model yang disusun
dan disepakati bersama serta dapat diterima pada suatu
tingkat praktek untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(Reyers, 1983).
Standar yang berbasis pada sistem manjemen
kinerja menegaskan spesifikasi suatu kinerja
antara lain:
1.Spesifik (specific)
2.Terukur (measurable)
3.Tepat (appropriate)
4.Andal (reliable)
5.Tepat waktu (timely)

4 ketentuan standar :

Harus tertulis, dapat diterima pada tingkat
praktik, mudah dimengerti.
Mengandung komponen struktur (peraturan),
proses (tindakan), dan hasil.
Dibuat berorientasi pada pelanggan, staf dan
sistem dalam organisasi.
Harus disetujui dan disahkan oleh pihak yang
berwenang.
Standard Operating Procedure :

Pedoman tertulis yang dipergunakan untuk
mendorong dan menggerakan suatu kelompok
untuk mencapai tujuan organisasi

Tata cara atau tahapan yang harus dilalui dalam
suatu proses kerja tertentu, yang dapat diterima
oleh seseorang yang berwenang atau yang
bertanggung jawab untuk mempertahankan tingkat
penampilan atau kondisi tertentu sehingga suatu
kegiatan dapat diselesaikan secara efektif dan
efisien (depkes, 1995)
Tujuan SOP :
1) Agar petugas menjaga konsistensi pada tingkat kinerja
tertentu.
2) Agar mengetahui dengan jelas peran dan fungsi
tiap-tiap posisi dalam organisasi
3) Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung
jawab dari petugas terkait
4) Melindungi organisasi dan staf dari malpraktik atau
kesalahan administrasi
5) Menghindari kegagalan, kesalahan, keraguan dan
inefisiensi
Fungsi SOP :
a. Memperlancar tugas petugas/tim.
b. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan
c. Mengetahui dengan mudah hambatan-hamabatan
d. Mengarahkan petugas untuk disiplin
e. Sebagai pedoman
Prinsip-prinsip protap :
a) Harus ada pada setiap kegiatan pelayanan
b) Bisa berubah sesuai perkembangan
c) Memuat segala indikasi dan syarat yang harus
dipenuhi pada setiap upaya, disamping tahapan-
tahapan yang harus dilalui setiap kegiatan pelayanan
d) Harus didokumentasikan
Jenis dan ruang lingkup SOP :
1. SOP pelayanan profesi (pelayanan kedokteran,
keperawatan, dan kebidanan):
a. SOP untuk aspek keilmuan; mengenai
proses kerja untuk diagnostic dan treatment.
b. SOP untuk aspek manajemen; mengenai proses
kerja yang menunjang aspek keilmuan dan
pelayanan
2. SOP administrasi
a. perencanaan program dan kegiatan
b. keuangan
c. perlengkapan
d. kepegawaian
e. pelaporan
Tahap-tahap penyusunan SOP :
1. Merumuskan tujuan, menetapkan judul SOP
2. Mengidentifikasi kebijakan yang terkait dengan SOP.
SOP sebagai penterjemahan dari policy. Berguna:
a. untuk menjamin suatu kegiatan
b. membuat standar kinerja
c. menyelesaikan konflik dalam tim

3. Membuat aliran proses
a. bentuk bagan yangmenggambarkan proses atau urutan
jalannya kegiatan.
- memberi gambaran lengkap tentang apa yang dilaksanakan
- membantu staf memahami peran dan fungsi
b. bagan dibuat harus didasarkan rujukan tertentu; memuat
tujuan, apa, siapa yang mengerjakan, bagaimana
mengerjakan, kapan dan dimana.

4. Menyusun prosedur atau pelaksanaan kegiatan.
Prosedur yang menjamin tercapainya kepuasan kerja dan
tercapainya tujuan
Review...
Tenaga medis adalah salah satu jenis tenaga kesehatan
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) PP No
32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. Selengkapnya
bunyi Pasal 2 ayat (1) PP 32/1996 sebagai berikut:
Tenaga kesehatan terdiri dari:
a. tenaga medis;
b. tenaga keperawatan;
c. tenaga kefarmasian;
d. tenaga kesehatan masyarakat;
e. tenaga gizi;
f. tenaga keterapian fisik;
g. tenaga keteknisian medis.
Tenaga kesehatan itu sendiri adalah setiap orang
yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis
tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan
upaya kesehatan (Pasal 1 angka 1 PP 32/1996).
Lebih lanjut, dalam PP 32/1996 dikatakan bahwa
tenaga medis itu meliputi dokter dan dokter gigi
(Pasal 2 ayat [2] PP 32/1996).
Mengapa seorang dokter gigi harus dituntut untuk
memahami konsep dari Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) ...?
Pekerja dalam pelayanan kesehatan, seperti pekerja
tempat lain, mungkin menghadapi potensi bahaya kimia,
fisik, ergonomik atau potensi bahaya psikososial (seperti
stres, pelecehan dan kekerasan).
Pelayanan kesehatan terdapat potensi bahaya khusus
yaitu infeksi patogen yang memerlukan upaya preventif
dan perlindungan yang khusus.
Suatu sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
yang efektif memerlukan komitmen bersama antara
pihak yang kompeten, pengusaha, pekerja dan
penderita.
Standar Operasional Prosedur Praktik Dokter Gigi
SOP dalam praktik dokter gigi juga ditekankan pada
kemampuan bekerja ergonomis, pengelolaan resiko infeksi
silang dan relationship.
SOP...?
SOP...?
Risiko terpajan patogen seperti HIV dan hepatitis B
dan C harus diberitahukan secara komprehensif untuk
memastikan bahwa pencegahan dan perlindungan
Proses keseluruhan dari manajemen risiko mencakup
langkah-langkah identifikasi potensi bahaya, penilaian
risiko dan pengendalian risiko.
MANAJEMEN RESIKO
Manajemen risiko dimulai dengan identifikasi keadaan,
kegiatan dan tugas-tugas dalam tempat kerja yang
mungkin menyebabkan pekerja sektor kesehatan berisiko
terpajan HIV dan infeksi melalui darah lainnya atau infeksi
oportunistik.
1. Identifikasi potensi bahaya
Contoh: bertanya pada pekerja, evaluasi pajanan
darah/cairan tubuh, tempat kerja dll.
2. Penilaian risiko
setelah suatu potensi bahaya diidentifikasi, harus
dilakukan penilaian risiko untuk mengevaluasi tingkat
dan asal risiko pekerja terpajan terhadap darah atau
cairan tubuh dan menentukan upaya yang diperlukan
untuk mengeliminasi potensi bahaya atau meminimalisir
faktor-faktor risiko.
Contoh: cara penularan, jenis dan frekuensi pajanan terhadap darah
dan cairan tubuh. faktor-faktor yang menunjang pajanan dan
rekurensinya seperti tata ruang tempat kerja, cara kerja dan
kebersihannya. Tersedianya alat pelindung diri. Apakah setiap
peralatan yang digunakan kelihatannya meningkatkan atau
menurunkan risiko pajanan. Upaya pengendalian yang ada.
3. Pengendalian risiko
Tujuan pengendalian risiko adalah mengikuti urutan
pengendalian, dan memilih cara yang paling efektif dalam
urutan prioritas untuk keefektifannya dalam meminimalisasi
pajanan terhadap darah dan cairan tubuh.
(a) Eliminasi: Upaya yang paling efektif adalah
membuang secara sempurna potensi bahaya dari
tempat kerja.
Contohnya : membuang benda-benda tajam dan jarum,
mengeliminasi semua suntikan yang tidak perlu dan
menggantinya dengan pengobatan oral dengan efek yang
sama.
(b) Substitusi: (eliminasi tidak mungkin), pengusaha
harus mengganti cara kerja dengan cara lain yang
menimbulkan risiko lebih kecil.
Contohnya : mengganti dengan bahan kimia yang lebih kurang
beracun untuk disinfektan.
(c)Pengendalian rekayasa: pengendalian ini mengisolasi
atau membuang potensi bahaya dari tempat kerja.
Contoh: kewaspadaan untuk mengolah darah atau cairan tubuh semua
orang sebagai sumber infeksi potensial, tidak tergantung diagnosis
atau dugaan risiko.
(d) Pengendalian administratif: kebijakan tempat kerja
yang bertujuan untuk membatasi pajanan pada potensi
bahaya, seperti perubahan jadwal, rotasi, atau akses ke
daerah risiko.
(e) Pengendalian cara kerja: pengendalian ini
mengurangi pajanan terhadap potensi bahaya pekerjaan
melalui cara bagaimana pekerjaan dilakukan, melindungi
kesehatan dan meningkatkan kepercayaan diri pekerja
sektor kesehatan dan pasien mereka.
Contoh: tidak ada penutupan ulang jarum, dan membangun
cara untuk penanganan dan pembuangan yang aman dari
alat-alat tajam sebelum memulai suatu prosedur.
(f) Alat Pelindung Diri (APD): Penggunaan APD adalah
upaya pengendalian yang menempatkan rintangan dan
saringan antara pekerja dan potensi bahaya.
Fokus: cara kerja aman untuk mengurangi risiko
penularan penyakit dan infeksi melalui darah lainnya di
tempat kerja adalah kewaspadaan standar, higene
perseorangan, dan program pengendalian infeksi.
Harus disediakan sarana cuci tangan,
sumber air yang bagus, sabun dan handuk
sekali pakai.
Alternatif lain harus disediakan : alkohol dsb.
Pekerja harus mencuci tangan mereka pada awal dan akhir setiap shift,
sebelum dan sesudah merawat pasien, sebelum dan sesudah makan,
minum, merokok dan pergi ke kamar kecil, dan sebelum dan sesudah
keluar dari daerah kerja mereka. Pekerja harus mencuci dan
mengeringkan tangan mereka setelah kontak dengan darah atau cairan
tubuh dan segera setelah membuka sarung tangan.

Mereka harus juga mengecek apakah ada sayatan atau lecet pada
bagian tubuh yang terpajan, dan gunakan perban kedap air untuk
menutup setiap temuan. Pekerja harus didorong untuk melaporkan
setiap reaksi yang mereka dapat terhadap cuci tangan yang sering dan
bahan-bahan yang digunakan, untuk tindakan yang tepat oleh
pengusaha.

Penanganan benda-benda tajam dan peralatan injeksi
sekali pakai yang aman.
Pengusaha harus membuat prosedur untuk menangani
dan membuang benda-benda tajam, termasuk alat-alat
suntik, dan memastikan bahwa pelatihan, pemantauan
dan evaluasi penerapannya dilaksanakan dengan baik.
Pembersihan, disinfeksi dan sterilisasi peralatan
Tergantung pada penggunaan, ada tiga tingkat
pembersihan, disinfeksi dan sterilisasi peralatan:
(a) bila peralatan hanya digunakan untuk kontak dengan kulit
yang utuh, hanya diperlukan pembersihan;
(b) bila peralatan harus kontak dengan lapisan mukosa atau
terkontaminasi dengan darah, dia memerlukan pembersihan
dan disinfeksi tingkat tinggi;
(c) bila peralatan kontak dengan jaringan normal yang tidak terinfeksi,
dia memerlukan pembersihan dan sterilisasi. Pembersihan harus
selalu mendahului disinfeksi dan sterilisasi. Pembersihan harus
dilakukan dengan deterjen dan air yang cukup
Untuk poin c : sarung tangan harus dipakai selama pembersihan; alat-alat
harus dicuci dan digosok untuk mengangkat semua kontaminasi yang
tampak, harus hati-hati selama pembersihan untuk menghindari percikan;
pelindung mata harus dipakai bila percikan mungkin terjadi.
Pembersihan tumpahan darah
Tumpahan darah harus dinilai dan ditangani segera.
Menggunakan sarung tangan, bahan penyerap
seperti kain atau serbuk, bahan disimpan dalam
kantong sampah antibocor, daerah tersebut
didesinfektan, untuk tumpahan besar disiram air,
dan melaporkan kejadian pajanan.
Binatu (Laundry)
Handuk, kain, baju Op dll dicuci dengan deterjen.
Untuk yang terkontaminasi harus dicuci dengan
deterjen menggunakan air panas dengan mesin cuci
rumah tangga, dan air panas dengan suhu paling
kurang 80C, atau cuci kering diikuti penyeterikaan.

Bila mencuci dengan tangan tidak bisa dihindari,
memakai sarung tangan karet rumah tangga.
Pengelolaan limbah
Limbah pelayanan kesehatan mempunyai potensi
lebih besar menyebabkan infeksi dan kesakitan
daripada jenis limbah lainnya.

Penanganan limbah pelayanan kesehatan yang
buruk dapat menimbulkan konsekuensi yang serius
terhadap kesehatan masayarakat dan lingkungan.
Prosedur khusus pada limbah infeksious dan benda
tajam dan harus mencakup:
(a) pengemasan dan penandaan limbah per kategori;
(b) pembuangan awal dari limbah di daerah dimana
tidak dihasilkan limbah;
(c) pengumpulan dan transportasi limbah keluar dari
daerah;
(d) penyimpanan, pengolahan dan pembuangan akhir
limbah sebagimana dituntut oleh peraturan dan
pedoman teknis yang relevan.
1. A. Prss, E. Giroult and P. Rushbrook (eds.): Safe managemen t of wastes from health-care activities
(Geneva, WHO, 1999), http://www.who.int/water_sanitation_health /medicalwaste/wastemanag/e/.
2. WHO/World Bank: health-care waste management at a glance, June 2003,
http://www.healthcarewaste. org/linked/onlinedocs/WW08383.pdf.
3. 3. ILO: Technical and ethical guidelines for workers health surveillance (Geneva,1998),
http://www.ilo.org/ public/english/protection/safework/cops/english/index.htm.
Keputusan Menkes RI. No. 432/Menkes/SK/2007. Pedoman Manajemen Kesehatan
dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit.
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 2052/MENKES/PER/X/2011 BAB III PENYELENGGARAAN
PRAKTIK
Pasal 20
(1) Dokter dan Dokter Gigi yang telah memiliki SIP berwenang untuk
menyelenggarakan praktik kedokteran, yang meliputi antara lain:

a. mewawancarai pasien;
b. memeriksa fisik dan mental pasien;
c. menentukan pemeriksaan penunjang;
d. menegakkan diagnosis;
e. menentukan penatalaksanaan dan pengobatan pasien;
f. melakukan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi;
g. menulis resep obat dan alat kesehatan;
h. menerbitkan surat keterangan dokter atau dokter gigi;
i. menyimpan dan memberikan obat dalam jumlah dan jenis yang sesuai
dengan standar; dan
j. meracik dan menyerahkan obat kepada pasien, bagi yang praktik
di daerah terpencil yang tidak ada apotek.