Anda di halaman 1dari 13

GANGGUAN STRES PASCA

TRAUMA
Fitriana Rohmatunnisa
Ayodya Heristyorini
Muhammad Yusuf. P

GANGGUAN STRES PASCA TRAUMA


Dalam kehidupannya seorang individu minimal
akan mengalami satu peristiwa traumatik. 25%
dari mereka yang tetap bertahan hidup
dikatakan akan mengalami GSPT.
Dijumpai pada sekitar 10,3% untuk pria dan
18,3% untuk wanita.
Terjadinya GSPT didahului oleh adanya suatu
stresor berat yang melampaui kapasitas hidup
seseorang, serta menimbulkan penderitaan bagi
setiap orang.

Berdasarkan DSM IV, ada beberapa jenis kejadian yang


potensial meningkatkan angka kejadian GSPT:
Kekerasan personal (kekerasan seksual, penyerangan fisik
dan perampokan)
Penculikan
Penyanderaan
Serangan militer
Serangan teroris
Penyiksaan
Ditahan dalam penjara sebagai tahanan politik atau tahanan
perang
Bencana alam baik yang alamiah maupun yang dibuat oleh
manusia
Kecelakaan mobil yang berat
Didiagnosis mengalami penyakit berat yang mengancam
kehidupan

Kriteria diagnosis GSPT berdasarkan


DSM IV:
1. Individu pernah terpapar dengan peristiwa
traumatik berupa:
a. Individu mengalami, menjadi saksi mata atau
berhadapan langsung dengan kejadian yang
mengerikan atau mengancam kehidupan atau
kecelakaan yang serius, atau ancaman terhadap
integritas fisik diri sendiri atau orang lain
b. Respons dari individu yang terlibat dalam
peristiwa yang sangat mengerikan,
keputusasaan atau ketakutan yang luar biasa.

2. Pengalaman peristiwa traumatik selalu timbul


berulang dalam salah satu bentuk di bawah ini:
a. Adanya bayangan, pikiran atau persepsi yang
berkaitan dengan peristiwa traumatik yang timbul
secara berulang dan menimbulkan penderitaan
b. Adanya mimpi-mimpi buruk berulang yang
menimbulkan penderitaan bagi individu
c. Berperilaku atau berperasaan seolah-olah peristiwa
traumatik yang dialami itu terjadi kembali
d. Adanya distress psikologis jika berhadapan dengan
hal-hal atau simbol-simbol yang berkaitan dengan
peristiwa traumatik
e. Adanya reaksi fisiologis jika berhadapan dengan
hal-hal atau simbol-simbol yang berkaitan dengan
peristiwa traumatik

3.

a.
b.
c.
d.
e.

f.
g.

Adanya perilaku penghindaran yang menetap terhadap


stimulus-stimulus yang berkaitan dengan peristiwa
traumatik yang dialami yang ditunjukkan oleh 3 atau lebih
gejala di bawah ini:
Adanya usaha untuk menghindari pikiran-pikiran, perasaan,
atau pembicaraan yang berkaitan dengan peristiwa
traumatik yang dialaminya
Adanya usaha untuk menghindari aktifitas, tempat-tempat
atau orang-orang yang membangkitkan ingatan-ingatan
tentang peristiwa traumatik yang dialaminya
Kesulitan untuk mengingat kembali aspek-aspek penting
yang berkaitan dengan peristiwa traumatik yang dialaminya
Penurunan yang jelas akan ketertarikan atau partisipasi
dalam aktifitas-aktifitas
Merasa asing atau merasa terpisah dari lingkungan atau
orang-orang di sekitarnya
Adanya ekspresi afektif yang terbatas
Kehilangan motivasi untuk membina masa depannya

4. Adanya gejala yang menetap dari peningkatan


kewaspadaan yang ditandai oleh 2 atau lebih
gejala di bawah ini:
Kesulitan untuk tidur
Iritabilitas atau mudah mengalami ledakan
kemarahan
Kesulitan berkonsentrasi
Hypervigilance
Respons yang kacau dan tidak terkendali

5. Durasi dari gejala-gejala dalam kriteria 2, 3,


dan 4 berlangsung lebih dari 1 bulan
6. Gejala-gejala diatas jelas menimbulkan
penderitaan atau hendaya dalam fungsi sosial,
pekerjaan atau fungsi-fungsi penting lainnya

Spesifikasi
Akut: jika durasi gejala-gejala kurang dari 3
bulan
Kronik: jika durasi gejala-gejala berlangsung 3
bulan atau lebih
Dengan awitan lambat: jika awitan gejalagejala terjadi paling lambat 6 bulan setelah
mengalami peristiwa traumatik

Tatalaksana
Antidepresan golongan SSRI: Fluoxetin 10-60 mg/hr,
Sertralin 50-200 mg/hr, Fluvoxamine 50-300 mg/hr
Antidepresan lain: Amitriptilin 50-300 mg/hr, Imipramin
50-300 mg/hr
Edukasi
Dukungan psikososial
Teknik meredakan kecemasan: relaksasi, mengatur
nafas, mengontrol pikiran
Modifikasi pola hidup: diet sehat, olahraga teratur,
mengatur konsumsi kafein, alkohol, rokok, dsb
Psikoterapi: psikoterapi kognitif-perilaku, psikoterapi
kelompok, hypnotherapy

CASE 21
A 34-year-old woman comes to a psychiatrist with a chief
complaint of a depressed mood.
She states that she was raped 1 year previously by an
unknown assailant in the parking lot of a grocery store, and
since that time, things just [have not been] the same.
She notes that she becomes irritable and angry with her
spouse for no apparent reason and feels disconnected from
him emotionally.
Her sleep is restless, and she is having trouble concentrating
on her work as a laboratory technician.
She has nightmares about the rape in which the event is
replayed.

The patient states that she has told very few people about the
rape and tries not to think about it as much as possible.
She avoids going anywhere near the location where the event
occurred.
On a mental status examination, her appearance, behavior,
and speech are all observed to be normal.
Her mood is described as depressed, and her affect is
congruent and restricted.
Her thought process is linear and logical.
She denies any psychotic symptoms or suicidal or homicidal
ideation, although she says that she wishes her attacker would
die a horrible death.

Questions
What is the most likely diagnosis?
Post Traumatic Stress Disorder
Should this patient be hospitalized?
No, because the patient denied any suicidal or
homicidal thoughts