Anda di halaman 1dari 33

Bacillus sp

Afandi Yuditia P
1211C10

Rahmi
1211C10
Siska Hidayat
1211C1052

S1 A & B Analis Medis & Analis Kimia Sekolah Tinggi Analis Bakti Asih
Bandung

Bacillus sp
Ciri umum kelompok Bacillus :
Bakteri berbentuk batang (basil)
Tergolong dalam bakteri Gram positif
Bersifat aerobik
Kebanyakan anggota genus Bacillus
dapat membentuk endospora
tergantung keadaan lingkungannya.
Hampir seluruh spesies Bacillus bersifat
motil, kecuali Bacillus anthracis

Penampang Bacillus sp

Sekilas mengenai Bacillus sp.


Bacillus sp. merupakan agen penyakit
dari beberapa penyakit seperti infeksi
kulit, paru, dan usus. Selain itu,
beberapa tipe Bacillus sp. dipastikan
sebagai penyebab suatu kasus
keracunan makanan.

Klasifikasi Bacillus sp
Kingdom

: Procaryotae
Divisi
: Bacteria
Kelas
: Schizomycetes
Ordo
: Eubacteriales
Family
: Bacillaceae
Genus
: Bacillus
Spesies
: Bacillus anthracis,
Bacillus cereus,
Bacillus subtilis

Bacillus anthracis
Morfologi

Patogenesis
Epidemiologi
Gejala Klinis
Pencegahan
Cara Pemeriksaan Laboratorium

Morfologi
Batang dengan ukuran 1 x 3-4 m,
dapat tersusun dengan seperti bamboo,
bentuk batangnya persegi atau cekung
ujungnya, sendiri-sendiri, berpasangan
atau membentuk rantai pendek, tidak
bergerak, berspora oval yang letaknya
sental, kadang-kadang berkapsul.

Patogenesis
Antraks terutama merupakan penyakit
pada biri-biri, sapi, kuda, dan hewan
lainnya; manusia jarang terserang.
Infeksi biasanya didapat dengan
masuknya spora melalui luka pada kulit
atau selaput lendir, jarang dengan
inhalasi spora ke dalam paru-paru. Pada
hewan, pintu masuknya adalah mulut
dan saluran pencernaan. Spora dari
tanah yang tercemar mudah masuk bila
termakan bersama tumbuhan berduri

Epidemiologi
Tanah tercemar oleh spora antraks dari
bangkai hewan. Spora-spora ini dapat
tetap hidup selama puluhan tahun.
Mungkin spora dapat tumbuh dalam
tanah pada pH 6,5 pada suhu yang
cocok. Hewan merumput yang terinfeksi
melalui luka pada selaput lendir menjadi
penyambung rantai infeksi terusmenerus.

Gejala Klinis
Pada manusia, antraks menimbulkan

infeksi kulit (pustula ganas). Mula-mula


timbul popula dalam 12-36 jam setelah
masuknya organisme atau spora melalui
goresan. Popula ini dengan cepat
berubah menjadi visikel, kemudian
pustula, dan akhirnya menjadi ulkus
nekrotik; lalu infeksi dapat menyebar,
menimbulkan septikemia.
Pada antraks pernapasan, gejala dini
dapat berupa mediastinitis, sepsis,

Kulit yang terinfeksi antrax

Pencegahan
Tindakan pencegahan antraks meliputi
(1) pembuangan bangkai hewan dengan
membakar atau mengubur pada sumur
yang dalam disertai kapur,
(2) dekontaminasi produk-produk hewan
(biasanya dengan autoklaf)
(3) baju dan sarung tangan pelindung
waktu mengenai bahan-bahan yang
mungkin tercemar
(4) imunisasi aktif hewan peliharaan

Cara Pemeriksaan Laboratorium


Bahan: Cairan atau nanah dari lesi lokal, darah, dahak.
Pewarnaan Sediaan: Dari lesi lokal atau darah hewan

yang mati; rantai bakteri terbentuk batang besar Grampositif sering terlihat. Antraks dapat diidentifikasi pada
sediaan kering dengan teknik pewarnaan
imunofluoresensi.
Biakan: Bila dibiakkan pada lempeng agar darah,
organisme ini membentuk koloni kelabu nonhemolitik
dengan morfologi mikroskopis yang khas. Pada
perbenihan setengah padat, basil antraks selalu tidak
bergerak, sedangkan organisme tidak patogen yang
sejenis (misal B cereus) menunjukkan pergerakkan
dengan menyebar. Biakan antraks virulen mematikan
mencit atau marmot bila disutikkan secara intraperitoneal.
Tes Serologi: Antibodi penyebab presipitasi atau

Bacillus cereus
Morfologi

Patogenesis
Epidemiologi
Gejala Klinis
Pencegahan
Cara Pemeriksaan Laboratorium

Morfologi
Gram positif dengan lebar sel 0,9 1,2
m dan panjang 3 5 m. motilitas
positif, spora elipsoidal, sentral atau
parasentral, spora jarang keluar dari
sporangia. Tidak membentuk kapsul,
biasanya muncul dalam bentuk rantai
panjang tipe R. Bentuk koloni irregular,
opague terkadang waxy. Pada medium
cair membentuk turbiditas moderate .

Patogenesis
Bertanggung jawab untuk sebagian kecil
penyakit bawaan makanan (2-5%),
Terjadi karena kelangsungan hidup
endospora bakteri ketika makanan tidak
benar matang. Memasak suhu kurang
dari atau sama dengan 100 C (212 F)
memungkinkan beberapa spora Bacillus
cereus untuk bertahan hidup. Masalah
ini diperparah ketika makanan itu tidak
benar didinginkan, yang memungkinkan
endospores untuk berkecambah.

Epidemiologi
Bacillus sp termasuk kedalam family
Bacillaceae. Untuk bakteri Bacillus
cereus sendiri merupakan bakteri gram
positif, bersifat aerobik, dan mampu
membentuk spora yang dapat
ditemukan di tanah, pada sayuran
maupun produk pangan. Spora dari
jenis bakteri ini tahan terhadap panas
dan kondisi lingkungan yang tidak
menguntungkan dan mampu
membentuk kecambah dalam larutan

Gejala Klinis
Keracunan makanan karena B. cereus
merupakan penamaan secara umum,
walaupun ada dua tipe penyakit yang
disebabkan oleh dua metabolit yang
berbeda. Penyakit dengan gejala diare
(tipe diare) disebabkan oleh protein
dengan berat molekul besar, sementara
penyakit dengan gejala muntah (tipe
emetik) diyakini disebabkan oleh
peptida tahan panas dengan berat
molekul rendah.

Gejala Klinis (Tipe Diare)


Gejala-gejala keracunan makanan tipe
diare karena B. cereus mirip dengan
gejala keracunan makanan yang
disebabkan oleh Clostridium perfringens
. Diare berair, kram perut, dan rasa sakit
mulai terjadi 6-15 jam setelah konsumsi
makanan yang terkontaminasi. Rasa
mual mungkin menyertai diare, tetapi
jarang terjadi muntah (emesis). Pada
sebagian besar kasus, gejala-gejala ini
tetap berlangsung selama 24 jam.

Gejala Klinis (Tipe Emetik)


Ditandai dengan mual dan muntah
dalam waktu 0.5 sampai 6 jam setelah
mengkonsumsi makanan yang
terkontaminasi. Kadang-kadang kram
perut dan/atau diare dapat juga terjadi.
Umumnya gejala terjadi selama kurang
dari 24 jam. Gejala-gejala keracunan
makanan tipe ini mirip dengan gejala
keracunan makanan yang disebabkan
oleh Staphylococcus aureus . Beberapa
strain B. subtilis menghasilkan racun

Pencegahan
Pencegahan secara total mungkin tidak
dapat dilakukan. Namun demikian,
makanan yang dimasak, dipanaskan,
dan disimpan dengan benar umumnya
aman dari racun yang menyebabkan
muntah. Resiko paling besar yaitu
kontaminasi silang, yakni apabila
makanan yang sudah dimasak
bersentuhan dengan bahan mentah
atau peralatan yang terkontaminasi
(misalnya alas pemotong).

Cara Pemeriksaan Laboratorium


Bacillus cereus non pathogen
menunjukkan pergerakan pada media
kultur setengah padat. Sel vegetatif dari
Bacillus cereus dapat tumbuh pada
rentang temperatur 5 50 oC dengan
temperatur optimal antara 35 - 40 oC,
resisten di pH 4,59,3. Waktu generasi
relatif singkat, antara 20 30 menit.
Dalam medium GA, Bacillus cereus
telah mencapai fase eksponensial pada
6 jam inkubasi dan mencapai fase

Bacillus subtilis
Morfologi

Patogenesis
Epidemiologi

Morfologi
Bacillus subtilis diklasifikasikan sebagai
obligat anaerob walau penelitian
sekarang tidak benar. Bacillus subtilis
tidak dianggap sebagai patogen
walaupun kontaminasi makanan tetapi
jarang menyebabkan keracunan
makanan. Sporanya dapat tahan
terhadap panas tinggi
Bacillus subtilis selnya berbentuk basil,
ada yang tebal dan yang tipis. Biasanya
bentuk rantai atau terpisah. Sebagian

Morfologi..
Bacillus subtilis merupakan jenis
kelompok bakteri termofilik yang dapat
tumbuh pada kisaran suhu 45 C 55
C dan mempunyai pertumbuhan suhu
optimum pada suhu 60 C 80 .

Patogenesis
Bacillus subtilis tidak dianggap sebagai
pathogen oleh manusia meski
sebenarnya dapat mencemari makanan
tetapi jarang menyebabkan keracunan
makanan. Bacillus subtilis spores dapat
hidup yang ekstrim pemanasan yang
sering digunakan untuk memasak
makanan, dan bertanggung jawab untuk
menyebabkan kekentalan yang lengket,
membenang konsistensi yang
disebabkan oleh bakteri produksi

Epidemiologi
Bacillus subtilis biasanya digunakan
sebagai indikator biologi untuk test
strerilisasi etylen oxide (EtO) sebuah
sampel yang mengandung spora dalam
suspensi kultur ditempatkan dengan
beban gas yang akan disterilkan. jika
kondisi sterilisasi telah dipenuhi,
suspensi tetap warna merah, yang
berarti bakteri spora tewas, warna
kuning berarti spora hidup dan
berkembang biak

Isolasi & Identifikasi Bacillus sp.

Tabel penentuan
spesies Bacillus sp.

Caranya adalah :
1. Data-data yang
diperoleh dibandingkan
dengan data karakter
bakteri dari sumber
2. Ditentukan persen
homologinya dengan
rumus :