Anda di halaman 1dari 8

R.

Hariyoko Junianto Panut


Angga Afrianza
Apin Septian
16.2011.1.00256 )
Yuangga Restaarie

( 16.2011.1.00266 )
( 16.2011.1.00236 )
(
( 16.2011.1.00260 )

Walaupun istilah kepribadian dan watak sering dipergunakan secara


bertukartukar, namun Allport memberi pengertian berikut: character is
personality evaluated and personality is character devaluated. Allport
beranggapan bahwa watak (character) dan kepribadian (personality)
adalah satu dan sama, akan tetapi, dipandang dari segi yang berlainan.
Kalau orang hendak mengadakan penilaian (jadi mengenakan norma),
maka lebih tepat dipakai istilah watak; tapi kalau bermaksud
menggambarkan bagaimana adanya (jadi tidak melakukan
penilaian) lebih tepat dipakai istilah kepribadian

Kepribadian adalah organisasi dinamis di dalam individu yang terdiri


dari sistem-sistem psikofisik yang menentukan tingkah-laku dan
pikirannya secara karakteristik dalam menyesuaikan diri terhadap
lingkungan. (G. Allport) Organisasi dinamis: maksudnya bahwa
kepribadian itu selalu berkembang dan berubah meskipun ada suatu
sistem organisasi yang mengikat dan menghubungkan berbagai
komponen dari kepribadian kita. Psikofisik: maksudnya organisasi
kepribadian melingkupi kerja tubuh dan jiwa (tak terpisahkan) dalam
satu kesatuan Menentukan: menunjukkan bahwa kepribadian
mengandung kecenderungan kecenderungan determinasi yang
memainkan peranan aktif dalam tingkah laku individu.

Pengaruh lingkungan cukup dominan dalam


proses pembentukan kepribadian. Pengertian
lingkungan di sini amat luas dan kompleks,
mencakup lingkungan keluarga, sekolah,
teman sebaya, tempat kerja, nilai-nilai, normanorma, serta lingkungan fisik, sosial, dan
budaya. Lingkungan yang begitu luas dan
kompleks itu mempengaruhi kehidupan
seseorang sejak ia dilahirkan hingga akhir
hayatnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi


kepribadian :
Warisan Biologis
Lingkungan Fisik
Lingkungan Budaya
Pengalaman Kelompok
Pengalaman Pribadi yang Unik

Orang sering kali menyamakan arti inteligensi


dengan IQ, padahal kedua istilah ini
mempunyai perbedaan arti yang sangat
mendasar. Menurut David Wechsler, inteligensi
adalah kemampuan untuk bertindak secara
terarah, berpikir secara rasional, dan
menghadapi lingkungannya secara efektif.
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa
inteligensi adalah suatu kemampuan mental
yang melibatkan proses berpikir secara
rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak
dapat diamati secara langsung, melainkan
harus disimpulkan dari berbagai tindakan
nyata yang merupakan manifestasi dari proses
berpikir rasional itu. sedangkan IQ atau
singkatan dari Intelligence Quotient, adalah
skor yang diperoleh dari sebuah alat tes
kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya
memberikan sedikit indikasi mengenai taraf
kecerdasan seseorang dan tidak
menggambarkan kecerdasan seseorang
secara keseluruhan.

Intelligence Quotient atau yang biasa


disebut dengan IQ merupakan istilah dari
pengelompokan kecerdasan manusia
yang pertama kali diperkenalkan oleh
Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis
pada awal abad ke-20. Kemudian Lewis
Ternman dari Universitas Stanford
berusaha membakukan test IQ yang
dikembangkan oleh Binet dengan
mengembangkan norma populasi,
sehingga selanjutnya test IQ tersebut
dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada
masanya kecerdasan intelektual (IQ)
merupakan kecerdasan tunggal dari setiap
individu yang pada dasarnya hanya
bertautan dengan aspek kognitif dari
setiap masing-masing individu tersebut.
Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan
untuk mengukur kecerdasan anak-anak
sampai usia 13 tahun.

Kepribadian adalah keseluruhan diri kita, termasuk di dalamnya watak


dan temperamen serta kebiasaan-kebiasaan lain yang ikut
mempengaruhi pembawaan diri kita. Kepribadian bisa saja
mencerminkan dengan baik temperamen atau watak kita, dan bisa juga
berbeda dengan itu. Kepribadian itu umumnya merupakan diri kita yang
ingin kita perlihatkan kepada orang lain. Bisa saja suatu saat kita
berusaha tampil dengan ramah,karena kita ingin orang memiliki kesan
seperti itu kepada kita.
Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh
IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya
anak dalam belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap
seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap
sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari
keluarga ayah dan ibu di samping faktor gizi makanan yang cukup.