Anda di halaman 1dari 11

STEREOKIMIA DAN

AKTIVITAS BIOLOGIS
Aspek stereokimia :
1. Isosterisme
2. Isomer

ISOSTERISME
Isosterisme digunakan untuk menggambarkan seleksi dari
bagian struktur yang karena karakteristik sterik, elektronik,
dan sifat kelarutannya memungkinkan untuk saling
dipergantikan pada modifikasi struktur molekul obat.

Kegunaan prinsip isosterisme antara lain :


a. Mengubah struktur senyawa sehingga didapatkan senyawa
dengan aktivitas yg dikehendaki
b. Mengembangkan analogdg efek biologis yg lebih selektif
c. Mengubah struktur senyawa sehingga bersifat antagonis

Langmuir

Isosterisme

Secara
umum

Senyawa-senyawa,
kelompok
atom-atom, radikal atau molekul
yang mepunyai jumlah dan
pengaturan elektron
sama,
bersifat
isoelektrik
dan
mempunyai kemiripan sifat-sifat
fisik.
Kelompok atom-atom dalam
molekul, yang mempunyai sifat
kimia atau sifat fisika mirip,
karena mempunyai persamaan
ukuran, keelektronegatifan atau
stereokimia.

Pada modifikasi isosterisme tidak ada hukum yang secara umum dapat
memperkirakan apakah akan terjadi peningkatan atau penurunan aktivitas
biologi sehingga masih layak dipertimbangkan sebagai dasar rancangan
obat dan modifikasi molekul dalam penemuan obat baru.
CONTOH MODIFIKASI ISOSTERISME

1. Gugus S pada promazin dan klorprotizen diganti dengan gugus etilen.


Menghasilkan imipramin dan amitriptilin
S

Promazin
(cincin fenotiazin

Imipramin
(cincin dihidrodibenzazepin)

HC

Klorprotizen
(cincin tioxanten)

HC

Amitriptilin
(cincin dibenzosikloheptadien)

ISOMER DAN AKTIVITAS BIOLOGIS OBAT


1. Isomer Geometrik (cis-trans)
Isomer yg disebabkan adanya atom-atom atau gugus-gugus
yg terikat langsung pada ikatan rangkap atau pada sistem
alisiklik.
Isomer cis-trans menahan gugus-gugus dalam molekul pada
ruang berbeda. Perbedaan sifat kimia fisika distribusi isomer
berbeda pula jumlah isomer yg berinteraksi dg reseptor .

Contoh : dietilstilbestrol hormon estrogen non steroid

trans-Dietilstilbestrol

cis-Dietilstilbestrol

Trans-estradiol : pengaruh resonansi dan efek sterik minimal isomer


trans lebih stabil dibanding isomer cis.
Isomer trans jarak identitas antara kedua gugus OH fenol 14,5 Ao,
hampir sama dengan jarak identitas dua gugus OH pada struktur
stradiol (hormon estrogen) sehingga dapat berinteraksi secara serasi
dengan reseptor estrogen.
Isomer cis jarak identitas lebih pendek sehingga interaksi kurang
serasi.
Perbedaan stabilitas dan jarak identitas menyebabkan isomer trans
empunyai aktivitas estrogenik 14x> dibanding isomer cis

ISOMER KONFORMASI DAN


AKTIVITAS BIOLOGIS
Isomer konformasi (konformer) terjadi karena perbedaan
pengaturan ruang dari atom-atom atau gugus-gugus dalam
struktur molekul obat.
Pengaruh onformer terhadap aktivitas biologis (+) atau (-)
Contoh :

DIASTEREOISOMER DAN AKTIVITAS BIOLOGIS


Diastereoisomer : isomer yg disebabkan oleh senyawa dengan dua atau
lebih pusat atom asimetrik. Gugus fungsional dan tipe reaksi sama.
Kedudukan gugus-gugus terletak pada ruang berbeda sehingga sifat fisik
dan kecepatan reaksi berbeda. Distribusi, metabolisme, dan interaksi
isomer dg reseptor juga berbeda aktivitas tidak sama.

CONTOH

ISOMER OPTIK DAN AKTIVITAS BIOLOGIS


Isomer optik (Enantiomorph, Optical antipode) : dua senyawa
yg mempunyai satu atom C asimetrik dg sifat kimia fisika
sama, hanya berbeda pada kemampuan memutar bidang
cahaya terpolarisasi atau berbeda rotasi optiknya dengan sudut
pemutaran sama.

Contoh obat yg membentuk isomer optik dg aktivitas


biologis berbeda :
1. (-) Hiosiamin, aktivitas mediatrik 15-20X > dibanding isomer
(+).
2. (-)--metildopa mempunyai efek antihipertensi, sedangkan
isomer (+) efek negatif.
3. D-(-)-treo-kloramfenikol efek antibakteri positif, isomer L(+)
eritro efek negatif.
4. (+)--propoksifen mempunyai efek analgesik, sedangkan
isomer (-) mempunyai efek antibatuk.
5. L-(+)-asam askorbat mempunyai efek antiskorbut, sedangkan
isomer (-) efek negatif.
6. S-(+)-indometasin mempunyai efek antiradang, sedangkan
isomer (-) efek negatif.

PERBEDAAN AKTIVITAS ISOMERISOMER OPTIK


Ada perbedaan distribusi isomer-isomer dalam tubuh tanpa
memandang perbedaan aksi pada tempat reseptor karena isomer optik
diseleksi terlebih dahulu oleh sistem biologis sebelum mencapai
reseptor spesifik.
1. Isomer optik berinteraksi dg senyawa aktif optik dlm cairan tubuh.
Misalnya protein plasma membentuk diastereoisomer shg terjadi
perbedaan absorpsi, distribusi dan metabolisme isomer terjadi
perbedaan interaksi dg reseptor spesifik (Teori Cushny).
2. Salah satu isomer optik dimetabolisis oleh enzim stereospesifik.
3. Salah satu isomer diadsorpsi secara selektif pada site of less yg
stereospesifik. Misalnya pengikatan oleh protein plasma tertentu.