Anda di halaman 1dari 7

Identifikasi Bite Mark

Nabila Shery Larasati


160110110069

Bitemark : pola yang dibuat oleh gigi pada


kulit, makanan atau substrat yang lembut
tetapi dapat tertekan
analisis memperlihatkan keunikan gigi yang
tercatat secara akurat pada kulit

Kejelasan dan bentuk dari bitemark dapat


berubah dalam waktu yang sangat singkat baik
pada korban yang masih hidup maupun korban
mati.
Fotografi dapat dilakukan untuk
mendokumentasikan bitemark karena fotografi
menghasilkan informasi yang dapat dipercaya,
tetapi fotografi memiliki kekurangan karena
menggambarkan objek tiga dimensi dalam film
dua dimensi.

American Board of Forensik Odontology (ABFO)


merekomendasikan untuk membuat cetakan pada
daerah yang tergigit
Bahan cetak yang biasa digunakan adalah hidrokoloid
dan light-body vinyl polysiloxane (VPS).
Polieter, dilaporkan memiliki keakuratan yang sangat
baik, stabilitas jangka panjangnya baik, good elastic
recovery, dan resisten terhadap basah. Hydrophilicity
yang baik menjamin hasil cetakannya memiliki detail
reproduksi yang baik pada permukaan basah, termasuk
daerah yang sulit diakses.

Prosedur
1. Kumpulkan bukti
Misalkan terdapat 20 buah bitemark dan
kemudian difoto dengan satu orang operator
dengan menggunakan kamera digital (coolpix
2100 nikon) menggunakan skala ABFO No.2
dengan resolusi 300 dpi.

2. Pilih bahan cetak yang akan digunakan


Umum : Polieter denngan konsistensi light-bodied
dan heavy-bodied.
Hanya satu cetakan dari bitemark yang diambil,
untuk mencegah manipulasi, distorsi atau
kehilangan barang bukti. Prosedur ini dilakukan
untuk mempertahankan bekas gigitan karena
bitemark memiliki kecenderungan untuk
menghilang secara alami dikarenakan oleh
regenerasi jaringan (pada korban yang masih hidup)
atau membusuk (pada korban meninggal).

teknik monophase dilakukan berdasarkan


rekomendasi pabrik dan sendok cetaknya dapat
bertahan dalam air panas (60C) dengan lilin
pink extra-hard. Dikarenakan ini adalah desain
eksperimental, tidak dilakukan apusan DNA.