Anda di halaman 1dari 62

ANESTESI UMUM

(GENERAL ANESTHESIA = GA)

dr.Bambang Suryono S, SpAn

PENDAHULUAN

Anestesi Umum :
- Menghilangkan nyeri
- Tidak sadar
- Amnesia
- Reversibel
- Dapat diprediksi
- Sinonim dengan narkose

Komponen ideal anestesi umum


1. Hipnotik
2. Analgesi
>Trias Anestesi
3. Relaksasi otot

4. Supresi refleks otonom


(4 pilar anestesi )

Sejarah

William TG Morton October 16, 1846;


Ether anaesthesia
Before whom in all time Surgery
was Agony
Gentlemen, this is no humbug

William E. Clark : ether January 1842


cabut gigi
Crawford Williamson Long: ether
Maret 1842 tumor leher
Horace Wells: nitrous oxide January
1845

John Snow: England December 1846


ether, chloroform inhaler
Charles Suckling 1953: halothane
Michael Johnstone 1956
mencoba di klinik
Ross Teller: 1963 Enflurane
1965 Isoflurane

Desflurane (1992), Sevoflurane


(1994)

TEORI ANESTESI UMUM

Meyer dan Overton (1889) : korelasi


kelarutan lipid dan potensi
Fergusson (1939) ; teori gas inert,
potensi analgesi gas berbanding terbalik
dengan tekanan gas, tergantung mol.
bebas aktif
Pauling (1961) ; teori kristal mikro
hidrat, interaksi dengan molekul diotak
Trudel (1963) ; interaksi dengan
membran lipid (mengganggu membran)

Vaskularisasi Jaringan
- Kaya pembuluh darah : otak, jantung,
ginjal hati dan paru
- Miskin pembuluh darah : jaringan lemak,
tulang dsb

METODE ANESTESI

1. Parenteral
2. Perinhalasi
3. Per-rektal dll jarang dipakai

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


1.

Respirasi
2. Sirkulasi
3. Jaringan
4. Sifat fisik
5. Lain lain

STADIUM ANESTESI
1. Stadium I ( analgesia sampai
kesadaran
hilang)
2. Stadium II ( sampai respirasi
teratur)
3. Stadium III
4. Stadium IV ( henti nafas dan henti
jantung

MACAM & TANDA REFLEK PADA


MATA

1. Reflek pupil
2. Reflek bulu mata
3. Reflek kelopak mata
4. Reflek cahaya

Refleks protektif jalan nafas

Refleks
Refleks
Refleks
Refleks

bersin
batuk
menelan
muntah

Indikasi Anestesi Umum

Tindakan medik invasif : bedah atau


diagnostik yang menimbulkan rasa
nyeri atau tidak nyaman atau
menghindari komplikasi akibat terapi
Tindakan medik non-invasif dimana
diperlukan posisi tertentu atau
ketenangan pasien (pasien tidak
kooperatif)

Kontra Indikasi
Secara mutlak tidak ada
Risiko anestesi yang
bertambah karena kondisi
pasien tergantung status fisik

Status Fisik Pasien

American Society of Anesthesiologists (ASA)


ASA I pasien normal
ASA II pasien ada kelainan sistemis ringan
ASA III kelainan sistemis berat + capacitance
ASA IV sistemis berat + incapacitance
ASA V diperkirakan meninggal dlm 24 jam
E Emergency
ASA VI - MBO untuk Donor Organ

Anestesi Umum

Persiapan : Evaluasi pasien


Optimalisasi
Persiapan anestesi
Premedikasi
Induksi
Maintenance
Pemulihan Pulih sadar
Manajemen peri-operatif

Persiapan
Kunjungan pre-operasi
-Perkenalan
-Anamnesis
-Pemeriksaan fisik, penunjang
Rencana anestesi
Informed consent
Pemberian obat : sedasi dan mengobati
penyakit
Instruksi Pre-operatif

Premedikasi

Sedasi/anti-anxiety: benzodiazepine
Analgesia : opioid , non-opioid
Parasympatholytic : sulfas atropin

Premedikasi tidak mutlak harus diberikan


Premedikasi berat (diberi ketiganya)

Induksi anestesi

Barbiturat Pentothal 4-6 mg/kg iv


Benzodiazepine: Diazepam, midazolam
Ketamin: 1-2 mg/kg iv atau 2-4 mg/kg im
Propofol: 2 mg/kg iv
Etomidate : 0.2-0.4 mg/kg iv
Titrasi sampai tidur (refleks bulu mata :
negatif)
Ko-induksi: memberi sedasi untuk
mengurangi dosis induksi

Pelumpuh Otot

Depolarizing muscle relaxant


Suxamethonium
Non-depolarizing muscle relaxant
D-tubocurarine
Pancuronium
Atracurium
Vecuronium
Rocuronium

Pemeliharaan

TIVA total intravena anesthesia


Inhalasi diethyl ether
halothane
enflurane
isoflurane
N2O- nitrous oxide
Dosis: MAC (minimum alveolar concentration)
Anesthesia balans: kombinasi berbagai obat
untuk effek spesifik

Jenis Anestesi Umum

TIVA
Intra Muskular
IV Inhalasi
Regional Analgesi + Anestesi Umum
Balance anesthesia

Pemulihan

Reversal : pengakhiran anestesi


obat-obat antagonis
ekstubasi
kembalinya fungsi fisiologis
Early recovery
pulih sadar
analgetika
terapi oksigen
monitor hemodinamik
terapi komplikasi mis. PONV

Penilaian keluar dari RR/PACU

Kondisi umum:
Kesadaran (mengikuti instruksi)
Kekuatan otot adekuat
Tanpa komplikasi akut anestesi/bedah
Pernafasan dan oksigenasi:
Hemodinamik = preop 30 menit
Cairan tubuh cukup

Jalan nafas:
Refleks protektif : positif
Tanpa obstruksi
Tanpa bantuan jalan nafas
Nyeri terkendali
Fungsi renal: urine > 30 ml/jam

Metabolik/ laboratorium
Hematokrit, elektrolit, glukose,
gas darah: batas aman
EKG/ rontgen: baik
Pasien ambulatori:
Pulang tanpa pusing / hipotensi
PONV terkontrol
Nyeri terkontrol

Late recovery
di ruang rawat tetap di monitor
pulih sadar sempurna
keluhan: hangover:
headache
dizziness
inability to concentrate

Perioperative care:
terapi cairan
manajemen nyeri
mulai nutrisi
manajemen komplikasi: PONV
komplikasi bedah
Perawatan ICU bila ada life
threathening

Masalah Dalam Operasi + GA

PASIEN
+ penyakit

ANESTESI
Effek farmakologi
Stress
M/M

OPERASI
Perdarahan
Stress /nyeri
Morbiditi/Mortaliti

TEHNIK ANESTESI UMUM


I. SUNGKUP MUKA (face mask) nafas
spontan
Indikasi
> Tindakan singkat ( - 1 jam )
> Keadaan umum baik ( ASA I II )
> Lambung harus kosong

Prosedur
1. Siapkan peralatan dan kelengkapan
obat anestetik
-Periksa informed consent
2. Pasang infus
3. Premedikasi + / 4. Induksi
5. Pemeliharaan

II. INTUBASI ENDOTRAKEA DG NAFAS


SPONTAN
Intubasi endotrakea adalah memasukkan pipa (tube)
endotrakea (ET= endotrakheal tube) kedalam trakea
via oral atau nasal

Indikasi ; operasi lama, sulit mempertahankan airway


Prosedur :
1. Sama dengan diatas, hanya ada tambahan obat
2. Intubasi setelah induksi dan suksinil-cholin
3. Pemeliharaan

III. INTUBASI DENGAN NAFAS KENDALI


(KONTROL) Balance Anesthesia

1. Tehnik sama dengan diatas


2. Obat pelumpuh otot non
depolarizing
3. Pemeliharaan, obat pelumpuh otot
dapat diulang pemberiannya

Paska Pembedahan
> Periode sangat penting
> Observasi dan monitor tanda vital
> Pengendalian nyeri
> Mencegah Hipoksia
> Pengembalian keruangan

JALAN NAFAS PADA ANESTESI UMUM


> Airway bebas dan nafas lancar
> Guedel atau ET
> Hati-hati obstruksi

Tanda-tanda obstruksi parsial :

1. Stridor
2. Retraksi otot-otot dada
3. Nafas paradoksal
4. Kembang kempis balon lemah
5. Nafas makin berat
6.Sianosis

Tanda-tanda obstruksi total

1. Retraksi lebih jelas


2. Gerak paradoksal lebih jelas
3. Kerja otot meningkat
4. Sianosis lebih cepat timbul

Sebab-sebab obstruksi

1. Lidah jatuh
2. Lendir jalan nafas
3. Spasme laring

Langkah-langkah Penanggulangan
Langkah 1
a. Kepala ekstensi
b. Triple airway manouver
Langkah 2
a. Pengisapan lendir
b. Cegah aspirasi
c. Trendelenburg
Langkah 3
a. Pasang infus
b. Posisi tetap ekstensi

Bila langkah 1,2 dan 3 obstruksi (+)


Kemungkinan ada spasme laring.
Pada anestesi umum anestesi dangkal

Tindakan selanjutnya :

a. Ventilasi dibantu dan dalamkan anestesi


b. Berikan obat pelemas otot
Bila cara diatas gagal dipertimbangkan
Langkah 4, 5 dan 6

Langkah 4

Intubasi trakea ; sulit dan traumatis,


pakai pelemas otot, nafas harus
dikendalikan

Langkah 5

Krikotirotomi ; bila alat intubasi (-) atau


intubasi tak mungkin dilakukan
Caranya : tusukan jarum besar misalnya
No.14 diantara tulang rawan krikoid tiroid
cegah asfiksia

Langkah 6

Trakeostomi bukan tindakan sangat


darurat
Indikasi : pasien yang membutuhkan
bantuan nafas jangka panjang ; obstruksi
jalan nafas karena tumor, stenosis ;
operasi tumor dekat jalan nafas

INTUBASI TRAKEA
Indikasi :
1. Mempermudah anestesi umum
2. Mempertahankan jalan nafas dan kelancaran
pernafasan
3. Cegah aspirasi
4. Pengisapan sekret
5. Ventilasi mekanik jangka lama
6. Mengatasi obstruksi laring
7. Anestesi umum pada operasi dengan nafas
kontrol, operasi posis miring, tengkurap dll

INTUBASI TRAKEA

Persiapan
1. Persiapan alat-alat yang dibutuhkan
seperti laringoskop ET, stilet dll
2. Masih siap pakai / atau alat bantu nafas
3. Obat-obat induksi seperti: pentotal,
ketalar, propofol dll
4. Obat-obat pelumpuh otot seperti suksinil
kolin, atrakurium, pavulon dll
5. Obat darurat seperti ; adrenalin
(efinefrin ), SA & meylon dll

Tehnik Intubasi
1. Pastikan semua persiapan dan alat sudah
lengkap
2. Induksi sampai tidur, berikan suksinil kolin
fasikulasi (+)
3. Bila fasikulasi (-) ventilasi dengan O2 100% selama
kira- kira 1 mnt
4. Batang laringoskopi pegang dengan tangan kiri,
tangan kanan
mendorong kepala sedikit
ekstensi mulut membuka
5. Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah
kanan,
sedikit demi sedikit, menyelusuri
kanan lidah, menggeser lidah kekiri

6. Cari epiglotis tempatkan bilah didepan epiglotis


/vallecula (pada bilah bengkok) atau angkat epiglotis (
pada bilah lurus )
7. Cari rima glotis ( dapat dengan bantuan asisten
menekan trakea dar luar )
8. Temukan pita suara warnanya putih dan sekitarnya
merah
9. Masukan ET melalui rima glotis
10. Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan
atau alat bantu nafas ( alat resusitasi )

Airway Anatomy

Cause of Airway Obstruction

Recognition of Airway Obstruction

Emergency Airway Control

Backward tilt of head & chin lift

Suspect neck trauma

No cervical spine injury

Oropharyngeal airway

Oropharyngeal tube

Breathing Support

Mallampati classification

Anda mungkin juga menyukai