Anda di halaman 1dari 22

PTERYGIUM

DISUSUN OLEH :
JAILANI
110.2006.135
PEMBIMBING
:
DR.SURTININGSIH SP. M

Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis
yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva
palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris).
Dibagi menjadi 3 antara lain :
Konjungtiva Palpebra
Konjungtiva Forniks
Konjungtiva Bulbi

PLIKA SEMILUNARIS DAN KARUNKULA

Histologi Konjungtiva
Secara histologis konjungtiva terdiri atas epitel dan stroma.
Lapisan epitel konjungtiva terdiri atas 2-5 lapisan sel epitel silindris bertingkat,
superfisial dan basal.
Lapisan stroma di bagi menjadi 2 lapisan yaitu lapisan adenoid dan lapisan fibrosa.

FISIOLOGI KONJUNGTIVA
Sel epitel
konjuntiva
sebagai
sumber tempat
sekresi air dan
elektrolit

Integritas
permukaan
okular

Sel goblet
konjungtiva
sebagai
tempat
sekresi musin

Imunitas Lokal

Pembersihan
mata

Respon inflamasi

Sistem pertahanan konjungtiva terhadap infeksi


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Epitel konjungtiva yang intak mencegah invasi dari mikroba


Konjungtiva mengandung banyak imunoglobulin
Adanya flora bakteri normal di konjungtiva
Sekresi musin oleh sel goblet konjungtiva dapat mengikat mikroba
untuk kemudian dikeluarkan melalui sistem ekskresi lakrimal
Aktivitas enzimatik konjungtiva memungkinkan jaringan ini dalam
melokalisir dan menetralisir partikel-partikel asing
Conjunctiva-Associated Lymphoid Tissue (CALT)
(Records, 2003).

Penyembuhan luka konjungtiva

Migrasi sel

Konjungtiva
Luka
Poliferasi
miotik

Bermigrasi menutupi defek


Epitel
Suprabasal

Selbasal
mendekat

Poliferasi
Ketebalan
normal epitel

PENYEMBUHAN LUKA PADA LAPISAN STROMA TERJADI


DALAM 4 TAHAPAN, YAITU:

PTERYGIUM
Pterygium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular
konjungtiva yang bersifat degenerative dan invasif.
Pterigium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral
atau di daerah kornea, pterygium mudah meradang dan bila
terjadi iritasi, maka bagian pterigium akan berwarna merah dan
pterygium dapat menenai kedua mata (Ilyas, 2009).

Etiologi dan Faktor Resiko


Tidak diketahui secara pasti
Seperti pada pinguekula, pterigium dapat terbentuk akibat rangsangan
asap rokok, lingkungan, dan sinar ultraviolet (sinar matahari),
kelembaban yang rendah dan debu
Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan dididuga merupakan
suatu neoplasia, radang dan degenerasi (IIyas, 2002).

KLASIFIKASI PTERYGIUM
Tipe I : Pterygium kecil, dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau

menginvasi kornea pada tepinya saja.


Tipe II : di sebut juga pterygium tipe primer advanced atau
ptrerigium rekuren tanpa keterlibatan zona optik.
Tipe III: Pterygium primer atau rekuren dengan keterlibatan zona
optik. Merupakan bentuk pterygium yang paling berat.

Berdasarkan stadium pterygium dibagi ke dalam 4 stadium yaitu:


Stadium I : Jika pterygium hanya terbatas pada limbus kornea
Stadium II : Jika pterygium sudah melewati limbus dan belum
mencapai pupil, tidak lebih dari 2 mm melewati kornea.
Stadium III : Jika pterygium sudah melebihi stadium II tetapi tidak
melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal
(diameter pupil sekitar 3-4 mm).
Stadium IV: Jika pertumbuhan pterygium sudah melewati pupil
sehingga mengganggu penglihatan.

GEJALA KLINIS PTERYGIUM


Kadang kala pterygium tidak menimbulkan gejala melaikan terlihat
pada penampilan luarnya.
Pterygyum yang membesar dapat menyebabkan perasaan gatal,
kemerahan, dan peradangan
astigmatisasi
Perasaan seperti dibakar
perasaan berpasir
Sensasi benda asing di mata
Penglihatan kabur

DIAGNOSIS PTERYGIUM

ANAMNESA

PEMERIKSAAN
FISIK

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
-Topografi Kornea
- Tes Sonde

DIAGNOSIS BANDING

Pseudopterygium

Pingekula

PENATALAKSANAAN PTERYGIUM
air mata buatan secara topikal.
kortikosteroid topikal topikal seperti fluorometholone 0,1% dibawah
pengawasan dokter.
Indikasi dalam melakukan operasi antara lain :
Iritasi ocular secara signifikan dan tidak dapat sembuh dalam pemberian
obat-obatan.
Gangguan ocular secara kosmetik
Mengurangi ketajaman visual akibat dari astigmatisme
Penglihatan ganda sekunder penarikan dari otot rektus medial

TEKNIK OPRASI

KOMPLIKASI
Pra opratif

Astigmat
Kemerahan
Iritasi
Bekas luka yang
kronis pada
konjungtiva dan
kornea
Keterlibatan yang
luas otot ekstraokular
dapat membatasi
penglihatan
dan menyebabkan
diplopia

Intra operatif
Nyeri, iritasi,
kemerahan, graft
oedema,
corneoscleral dellen
(thinning)
perdarahan
subkonjungtival

Pasca operatif
Infeksi, reaksi bahan
jahitan, diplopia,
jaringan parut, parut
kornea, graft
konjungtiva longgar,
perforasi mata,
perdarahan vitreus
dan ablasi retina.
Penggunaan
mitomycin C post
operasi dapat
menyebabkan ektasia
atau nekrosis sklera
dan kornea
Pterygium rekuren.

PROGNOSIS

Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik.


Kebanyakan pasien dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post
operasi. Pasien dengan pterygium rekuren dapat dilakukan eksisi
ulang dan graft dengan konjungtiva autograft atau transplantasi
membran amnion.

KESIMPULAN
Pterygium merupakan suatu jaringan firbrovaskular yang berbentuk
segitiga baik secara degenerative maupun invasive. Hal ini dapat
terjadi dengan adanya paparan dari sinar matahari dan debu.
Pterygium diduga merupakan suatu neoplasia, radang dan
degenerative.
Pterygium dapat menimbulkan gejala seperti perasaan
mengganjal pada mata, rasa terbakar, gatal, pengelihatan kabur serta
astigmat. Serta untuk menegakkan diagnosis pterygium dapat
dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik seperti, inspeksi dan
pemeriksaan penunjang yaitu menggunakan topografi kornea.
Penyakit ini tersebar di daerah atau tempat yang beriklim panas
dan kering. Serta tempat yang menimbulkan banyak debu. Terapi
yang telah digunakan tidak menutup kemungkinan akan timbul
kembali. Oleh karena itu penting bagi kita menjaga mata dari sinar
matahari dan debu yang ada di sekitar kita.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Pterygium. [online] 2007. [cited 2013 april 21]. Available from : http://bestpractice.bmj.com/bestpractice/monograph/963/follow-up/complications.html
Bradley JC, McCartney DL, Therapy pterygium [online]. 2005 [cited 2013 april 21]. Available from :
http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/963/treatment/step-by-step.html
Caldwell, M. Pterygium. [online]. 2013 [cited 2013 april 23]. Available from : www.eyewiki.aao.org/Pterygium
Chui J, Coroneo MT, Tat LT, et al. 2011. Ophthalmic Pterygium A Stem Cell Disorder with Premalignant Features.
The American Journal of Pathology Vol. 178. No. 2
Ilyas S 2009. Ilmu Penyakit Mata, ed.3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Ilyas S, Mailangkay B, Taim H 2002. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, Ed. 2,
Sagung Seto, Jakarta
Jerome P Fisher, Pterygium. [online]. 2011 [cited 2013 april 21] http://emedicine.medscape.com/article/1192527overview
Lang, Gerhad K. Conjungtiva. In : Ophtalmology A Pocket Textbook Atlas. New York : Thieme Stutgart. 2000
Laszuarni. Prevalensi Pterygium di Kabupaten Langkat. Tesis Dokter Spesialis Mata. Departemen Ilmu Kesehatan
Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2009.
Moses RA. Ophthalmic Facial Anatomy ang Physiology in: Adlers Physiology of the Eye. 8th Edition. The C.V.
Mosby Co. St. Louis Toronto. 1987 : 23-4.
Pepperl JE, et al. Conjungtiva in : Duanes Clinical Ophalmologi (CD-ROM). Philadelphia Lippincot William and
Wilkins Publisher. 2003.
Records RE. The Conjungtiva and Lacrimal System in : Duanes Clinical Opthalmology (CD-Rom), Philadelphia
Lippincot William and Wilkins Publisher. 2003.
Skuta, Gregory L. Cantor, Louis B. Weiss, Jayne S. Clinical Approach to Depositions and Degenerations of the
Conjungtiva, Cornea, and Sclera. In: External Disease and Cornea. San Fransisco : American Academy of
Ophtalmology. 2008. P.8-13, 366
Snell RS, Lemp MA. The Ocular Appendages in: Clinical Anatomy of The Eye. 2nd Edition. Blackwell Science.
1998 : 108-114
Vaughan D.G, Asbury T, Riordan P 2000. Oftalmologi umum, ed. 14, Widya Medika, Jakarta