Anda di halaman 1dari 72

ODONTOLOGI FORENSIK

NAMA

: LONGUINOS DA CUNHA

NIM

:10612106

Pengertian Forensik
Dalam buku-buku ilmu forensik pada umumnya ilmu forensik
diartikan

sebagai

penerapan

dan

pemanfaatan

ilmu

pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan

keadilan. Dalam penyidikan suatu kasus kejahatan, observasi


terhadap bukti fisik dan interpretasi dari hasil analisis
(pengujian) barang bukti merupakan alat utama dalam
penyidikan tersebut.
(Sampurna 2000).

Macam-Macam Forensik
1. Kriminalistik
merupakan penerapan atau pemanfaatan ilmu-ilmu alam pada
pengenalan,pengumpulan / pengambilan, identifikasi, individualisasi, dan
evaluasi dari bukti fisik, dengan menggunakan metode / teknik ilmu alam
di dalam atau untuk kepentingan hukum atau peradilan (Sampurna 2000).

Pakar kriminalistik adalah tentunya seorang ilmuwan forensik yang


bertanggung jawab terhadap pengujian (analisis) berbagai jenis bukti fisik,
dia melakukan indentifikasi kuantifikasi dan dokumentasi dari bukti-bukti

fisik. Dari hasil analisisnya kemudian dievaluasi, diinterpretasi dan dibuat


sebagai laporan (keterangan ahli) dalam atau untuk kepentingan hukum
atau peradilan (Eckert 1980).

2. Kedokteran Forensik
adalah penerapan atau pemanfaatan ilmu kedokteran untuk
kepentingan penegakan hukum dan pengadilan. Kedokteran
forensik mempelajari hal ikhwal manusia atau organ manusia
dengan kaitannya peristiwa kejahatan.
Dalam prakteknya kedokteran forensik tidak dapat dipisahkan
dengan bidang ilmu yang lainnya seperti toksikologi forensik,

serologi / biologi molekuler forensik, odontologi forensik dan


juga dengan bidang ilmu lainnya

3. Toksikologi Forensik
Toksikologi adalah ilmu yang menelaah tentang kerja dan
efek berbahaya zat kimia (racun) terhadap mekanisme
biologi.

Racun

adalah

senyawa

yang

berpotensial

memberikan efek berbahaya terhadap organisme. Sifat


racun dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis, konsentrasi
racun di reseptor, sifat zat tersebut, kondisi bioorganisme

atau sistem bioorganisme, paparan terhadap organisme dan


bentuk efek yang ditimbulkan.

LOOMIS (1978) berdasarkan aplikasinya toksikologi


dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yakni:
toksikologi lingkungan, toksikologi ekonomi dan
toksikologi forensik. Tosikologi forensik menekunkan
diri pada aplikasi atau pemanfaatan ilmu toksikologi
untuk kepentingan peradilan. Kerja utama dari

toksikologi forensik adalah analisis racun baik kualitatif


maupun kuantitatif sebagai bukti dalam tindak kriminal

(forensik) di pengadilan.

4. Odontologi Forensik
Bidang ilmu ini berkembang berdasarkan pada kenyataannya bahwa: gigi,
perbaikan gigi (dental restoration), dental protese (penggantian gigi yang

rusak), struktur rongga rahang atas sinus maxillaris, rahang, struktur


tulang palatal (langit-langit keras di atas lidah), pola dari tulang trabekula,
pola penumpukan krak gigi, tengkuk, keriput pada bibir, bentuk anatomi

dari keseluruhan mulut dan penampilan Pengantar Menuju Ilmu Forensik


4n. morfologi muka adalah stabil atau konstan pada setiap individu.
Berdasarkan kharkteristik dari hal tersebut diatas dapat dijadikan sebagai
acuan dalam penelusuran identitas seseorang (mayat tak dikenal). Sehingga
bukit peta gigi dari korban, tanda / bekas gigitan, atau sidik bibir dapat
dijadikan sebagai bukti dalam penyidikan tindak kejahata

5. Psikiatri forensik
seorang spikiater berperan sangat besar dalam bebagai pemecahan masalah
tindak kriminal. Psikogram dapat digunakan untuk mendiagnose prilaku,
kepribadian, dan masalah psikis sehingga dapat memberi gambaran sikap
(profile) dari pelaku dan dapat menjadi petunjuk bagi penyidik. Pada kasus

pembunuhan mungkin juga diperlukan otopsi spikologi yang dilakukan


oleh spikiater, spikolog, dan patholog forensik, dengan tujuan penelaahan
ulang tingkah laku, kejadian seseorang sebelum melakukan tindak kriminal

atau sebelum melakukan bunuh diri. Masalah spikologi (jiwa) dapat


memberi berpengaruh atau dorongan bagi seseorang untuk melakukan
tindak ejahatan, atau perbuatan bunuh diri.

6. Entomologi forensik
Entomologi adalah ilmu tentang serangga. Ilmu ini
memperlajari jenis-jenis serangga yang hidup dalam
fase waktu tertentu pada suatu jenasah di tempat

terbuka. Berdasarkan jenis-jenis serangga yang ada


sekitar mayat tersebut, seorang entomolog forensik
dapat menduga sejak kapan mayat tersebut telah berada
di tempat kejadian perkara (TKP).

7. Antrofologi forensik
adalah ahli dalam meng-identifikasi sisa-sisa tulang,
tengkorak, dan mumi. Dari penyidikannya

apat

memberikan informasi tentang jenis elamin, ras,


perkiraan umur, dan waktu kematian. Antrofologi
forensik mungkin juga dapat mendukung dalam
penyidikan kasus orang hidup, seperti indentifiksi

bentuk tengkorak bayi pada kasus tertukarnya anak di


rumah bersalin.

8. Balistik forensik
bidang ilmu ini sangat berperan dalam melakukan penyidikan kasus tindak

kriminal dengan senjata api dan bahan peledak. Seorang balistik forensik
meneliti senjata apa yang telah digunakan dalam kejahatan tersebut, berapa
jarak dan dari arah mana penembakan tersebut dilakukan, meneliti apakah

senjata yang telah digunakan dalam tindak kejahatan masih dapat


beroperasi dengan baik, dan meneliti senjata mana yang telah digunakan
dalam tindak kriminal tersebut. Pengujian anak peluru yang ditemukan di
TKP dapat digunakan untuk merunut lebih spesifik jenis senjata api yang
telah digunakan dalam kejahatan tersebut.

9. Serologi dan Biologi molekuler


forensik,
Seiring dengan pesatnya perkembangan bidang ilmu biologi
molekuler

(imunologi

dan

genetik)

belakangan

ini,

pemanfaatan bidang ilmu ini dalam proses peradilan


meningkat dengan sangat pesat. Baik darah maupun cairan
tubuh lainnya paling sering digunakan / diterima sebagai bukti
fisik dalam tindak kejahatan. Seperti pada kasus keracunan,

dalam pembuktian.

Pengantar Menuju Ilmu Forensik 5 dugaan


tersebut,

seorang

dokter

kehakiman

bekerjasama dengan toksikolog forensik


untuk melakukan penyidikan. Dalam hal ini

barang bukti yang paling sahih adalah


darah dan/atau cairan tubuh lainnya.

10. Farmasi Forensik,


Bidang farmasi berada dalam lingkup dunia kesehatan yang berkaitan erat
dengan produk dan pelayanan produk untuk kesehatan. Farmasi

adalahmseni dan ilmu meracik dan menyediaan obat-obatan, serta


penyedian informasi yang berhubungan dengan obat kepada masyarakat.
Seperti disebutkan sebelumnya, forensik dapat dimengerti dengan
penerapan/aplikasi itu pada issu-issu legal, (berkaitan dengan hukum).
Penggabungan kedua pengertian tersebut, maka Forensik Farmasi dapat
diartikan sebagai penerapan ilmu farmasi pada issu-issu legal (hukum)
(Anderson, 2000).

METODE FORENSIK
Identitas seseorang dapat dipastikan apabila
paling sedikit 2 (dua) metode yang digunakan

memberikan

hasil

yang

positif

(tidak

meragukan), dari 9 (sembilan) metode yang

akan dijelaskan satu per satu berikut ini:

METODE IDENTIFIKASI
FORENSIK
1. Identifikasi komparatif, yaitu apabila tersedia data post-

mortem (pemeriksaan jenazah) dan ante-mortem (data


sebelum meninggal, mengenai ciri-ciri fisik, pakaian,
identitas khusus berupa tahi lalat, bekas luka/operasi, dll),

dalam suatu komunitas yang terbatas.


2. Identifikasi rekonstruktif, yaitu apabila tidak tersedia data
ante-mortem dan dalam komunitas yang tidak terbatas/plural.
(Idries, 2009)

1. Metode Identifikasi Visual


Metode ini dilakukan dengan cara memperlihatkan
jenazah pada orang-orang yang merasa kehilangan
anggota keluarga atau temannya. Cara ini hanya

efektif pada jenazah yang belum membusuk sehingga


masih memungkinkan untuk dikenali wajahnya dan

bentuk tubuhnya oleh lebih dari satu orang (Amir,


2003).

2. Metode Identifikasi Dokumen


Dokumen seperti kartu identitas/KITAS, baik berupa SIM,
KTP, paspor, dsb. yang kebetulan dijumpai dalam saku
pakaian yang dikenakan jenazah akan sangat membantu
mengenali jenazah tersebut. Dalam kasus-kasus bencana
massal, kita hendaknya mengikuti prosedur DVI (Disaster
Victim Identification) yang berlaku secara internasional,

yang mana hal ini diterapkan pada kasus Bom Bali I dan II
(Amir, 2003).

3. Metode Identifikasi Properti


Properti berupa pakaian dan perhiasan yang dikenakan

jenazah mungkin dapat diketahui merk atau nama pembuat,


ukuran, inisial nama pemilik, badge, ataupun hal lainnya,
yang dapat membantu identifikasi walaupun telah terjadi
pembusukan pada jenazah tersebut. Khusus anggota TNI,
masalah identifikasi dipermudah dengan adanya nama serta
NRP yang tertera pada kalung logam yang dipakainya
(Amir, 2003).

4. Metode Identifikasi Medik


Metode ini menggunakan parameter berupa tinggi badan, berat badan,
warna rambut, warna mata, cacat/kelainan khusus, tato/rajah, dll. Secara
singkat, bisa dikatakan bahwa ciri-ciri fisik korban yang diperhatikan.
Metode ini mempunyai nilai yang tinggi, karena selain dilakukan oleh
tenaga ahli dengan menggunakan berbagai cara atau modifikasi (termasuk
pemeriksaan dengan sinar X, USG, CT-scan, laparoskopi, dll. bila
diperlukan), sehingga ketepatannya cukup tinggi. Bahkan pada kasus
penemuan tengkorak/kerangka pun masih dapat dilakukan metode
identifikasi ini. Melalui metode ini, dapat diperoleh data tentang jenis
kelamin, ras, perkiraan umur, tinggi badan, kelainan pada tulang, dan datadata lainnya dari korban yang ditemukan (Amir, 2003).

8. Metode Identifikasi DNA


Metode ini merupakan salah satu dari 3 metode primer identifikasi forensik.
Metode ini menjadi semakin luas dikenal dan semakin banyak digunakan akhir-

akhir ini, khususnya pada beberapa kasus bencana alam dan kasus-kasus terorisme
di Indonesia, misalnya kasus Bom Bali I dan II, Bom JW Marriott, Bom Kuningan,
kasus tenggelamnya KMP Levina, dll. Kasus bom bunuh diri di GBIS Solo pun

menggunakan metode ini. Pemeriksaan sidik DNA diperkenalkan pertama kali oleh
Jeffreys pada tahun 1985. Metode ini umumnya membutuhkan sampel darah dari
korban yang hendak diperiksa, namun demikian dalam keadaan tertentu di mana
sampel darah tidak dapat diambil, maka dapat pula diambil dari tulang, kuku, dan
rambut meskipun jumlah DNA-nya tidak sebanyak jumlah DNA dari sampel darah.
DNA dapat ditemukan pada inti sel tubuh (DNA inti) ataupun pada

mitokondria (organ dalam sel yang berperan untuk pernafasan sel-sel


tubuh) yang biasa disebut DNA mitokondria. Untuk penentuan identitas
seseorang berdasarkan DNA inti, dibutuhkan sampel dari keluarga
terdekatnya. Misalnya, pada kasus Bom GBIS Solo baru-baru ini,
sampel DNA yang didapat dari korban tersangka pelaku bom bunuh

diri akan dicocokkan dengan sampel DNA yang didapat dari istri dan
anaknya. DNA inti anak pasti berasal setengah dari ayah dan setengah
dari ibunya. Namun demikian, pada kasus-kasus tertentu, bila tidak

dijumpai anak-istri korban, maka dicari sampel dari orang tua korban.
Bila tidak ada juga, dicari saudara kandung seibu, dan diperiksakan
DNA mitokondrialnya karena DNA mitokondrial diturunkan secara

maternalistik (garis ibu) (Amir,2003).

9. Metode Eksklusi
Metode ini digunakan pada kasus kecelakaan
massal yang melibatkan sejumlah orang yang
dapat diketahui identitasnya, misalnya
penumpang pesawat udara, kapal laut, kereta
api, dll. Bila sebagian besar korban telah dapat
dipastikan identitasnya dengan menggunakan
metode-metode tersebut di atas, sedangkan
identitas sisa korban tidak dapat ditentukan,
maka sisa korban diidentifikasi menurut daftar
penumpang (Amir, 2003).

5. Metode Identifikasi Serologik


Pemeriksaan serologik bertujuan untuk
menentukan golongan darah jenazah.
Penentuan golongan darah pada jenazah yang

telah membusuk dapat dilakukan dengan


memeriksa rambut, kuku, dan tulang

(Amir, 2003).

6. Metode Identifikasi Gigi


Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan
rahang yang dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan
secara manual, sinar X, dan pencetakan gigi serta rahang.
Odontogram tersebut memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan,
tambalan, protesa (gigi palsu), dan lain sebagainya. Seperti halnya
dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki susunan gigi yang
khas. Dengan demikian, dapat dilakukan identifikasi komparatif
dengan cara membandingkan data temuan post-mortem dengan data
ante-mortem korban (Amir, 2003).

7. Metode Identifikasi Sidik Jari


Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan
data sidik jari ante-mortem orang tersebut. Penanganan terhadap
jari-jari tangan jenazah harus dilakukan sebaik dan sehati-hati
mungkin, misalnya dengan melakukan pembungkusan kedua tangan
jenazah dengan kantong plastik. Sistim sidik jari yang sekarang
dipakai dikenal dengan sistim Henry. Menurut Henry, pada tiap jari
terdapat suatu gambar sentral yang terbagi menjadi 4 (empat)

macam, yaitu busur (arc), tented arc, gelung (loop), ikal (whorl),
serta bisa pula merupakan

campuran/majemuk (composite). Selanjutnya, garisgaris tersebut dapat membentuk berbagai maxam


konfigurasi (ciri), seperti delta, tripod, kait, anastomose,
dll. Identifikasi sidik jari dinyatakan positif bila terdapat
minimal 16 (enam belas) ciri yang sama, di mana secara
matematis untuk memperoleh sidik jari yang persis

sama (dengan 16 ciri yang sama tersebut)


kemungkinannya adalah 1:64.000.000.000 (satu
berbanding enam puluh empat milyar) (Amir,2003).

Dasar Hukum
Berdasarkan pasal 179 KUH Pidana (Moeljatno, 1996), setiap orang
yang dimintai pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman
(forensik) atau dokter, berkewajiban memberikan keterangan ahli
demi keadilan.
Demikian juga pasal 53 ayat (2) Undang-undang No.23 Tahun 1992
tentang kesehatan ditegaskan bahwa tenaga kesehatan dapat
dilibatkan dalam upaya pembuktian dengan melakukan tindakan

medis tertentu, baik dalam perkara pidana maupun perkara lainnya


melalui permintaan tertulis oleh pejabat yang berwenang yang
menangani kasus tersebut

Perngertian umum keterangan ahli, sesuai

dengan pasal 1 butir 28 KUHAP adalah


keterangan yang diberikan oleh seorang
yang memiliki keahlian khusus tentang hal
yang diperlakukan untuk membuat terang
suatu

perkara

kepentinganpemeriksaan

pidana

guna

Pengertian Kedokteran Gigi forensik


Kedokteran gigi forensik merupakan bagian dari ilmu kedokteran

forensik. Dalam perkembangannya ilmu kedokteran gigi forensik


berkembang lebih jauh dan lebih spesifik, sehingga dapat
dianggap merupakan bidang ilmu tersendiri (Ardan, 1999).

Kedokteran forensik menurut Sir Sidney Smith adalah ilmu


pengetahuan medis dan paramedis yang mempelajari mengenai

mayat, yang dapat berguna untuk memberikan pelayanan secara


administrasi hukum (Tjondroputranto, 1988).

MORFOLOGI GIGI
Mortologi gigi adalah ilmu mengenai bentuk
dan struktur organisme, organ, atau bagian
tertentu.
Ridge atau edge
Ridge atau edge adalah suatu tonjolan kecil
dan panjang pada permukaan suatu gigi dan
dinamakan menurut letak dan bentuknya.
Macam-macam ridge antara lain :

Marginal ridge ialah tepi bulat dari enamel yang


membentuk tepi-tepi mesial dan distal dari
permukaan oklusal dari gigi premolar dan molar
dan tepi-tepi mesial dan distal permukaan palatal
atau lingual dari gigi insisivus dan kaninus.
Triangular ridge ialah ridge yang berjalan turun
dari puncak cusp gigi molar dan premolar menuju
kebagian sentral dari permukaan oklusal, disebut
demikisn karena lereng-lereng sisi kiri dan kanan
dari ridge tersebut merupakan 2 sisi dari suatu
segitiga dan dinamakan menurut letaknya cusp.

Transversal ridge ialah ridge yang terbentuk


oleh persatuan antara suatu triangular ridge
bukal dengan suatu triangular ridge palatal
atau lingual yang berjalan transversal pada
permukaan oklusal dari gigi belakang.
Oblique ridge ialah ridge yang terbentuk oleh
persatuan antara suatu triangular ridge
mesiopalatal yang berjalan miring pada
permukaan oklusal dari gigi molar atas.

Cusp ridge ialah ridge yang membentuk tepitepi labial atau bukal dan tepi-tepi palatal atau
lingual dari cusp pada permukaan oklusal dari
gigi geligi belakang dan kaninus
Insisal ridge ialah insisal edge ( Harshanur,
1991 ).

Fosa
Fosa adalah suatu lekukan/konkafiteta/depresi
yang bundar, lebar, dangkal dan tidak rata yang
terdapat pada permukan gigi.
Macam-macam fosa antara lain :
Fosa palatal/ lingual ialah fosa yang terdapat
pada permukaan palatal/ lingual dari gigi insisivus
dan caninus.
Fosa sentral ialah fosa yang terdapat pada
permukaan oklusal dari gigi molar di mana
terdapat pertemuan antara beberapa
developmental groove yang merupakan suatu
depresi sentral.

Triangular fosa ialah fosa yang merupakan

suatu segitiga terdapat pada permukaan


oklusal dari gigi molar dan premolar dan
letaknya mesial/ distal dari marginal
ridge dan fosa yang merupakan suatu
segitiga, terdapat pada permukaan
palatal/ lingual dari gigi insisivus letaknya
pada ujung dari fosa palatal di mana
marginal ridge dan singulum bertemu,
yang merupakan suatu segitiga (
Harshanur, 1991 ).

Groove
Groove ialah suatu lekukan/depresi yang
dangkal, sempit dan panjang yang terdapat
pada suatu permukaan gigi.
Macam-macam grove antara lain :
Developmental groove ialah groove yang
dangkal di mana bagian-bagian utama dari
korona dan akar bertemu.
Supplemental groove ialah cabang dari
developmental groove dan biasanya tidak
menunjukan suatu pertemuan utama.

Groove bukal/lingual ialah developmental


groove yang terdapat pada permukaan bukal/
lingual dari gigi-gigi belakang ( Harshanur,
1991 ).

Pit
Pit ialah depresi yang kecil, besarnya seujung
jarum yang tedapat pada permukaan oklusal
dari gigi molar, di mana developmental groove
bertemu atau saling melintang.
Pit sentral ialah pit yang letaknya di sentral
permukaan oklusal dari gigi molar, terdapat di
dalam fosa sentral, merupakan tanda penting
dimana developmental groove bertemu atau
saling melintang ( Harshanur, 1991 ).

Fissure
Fissure ialah suatu celah yang dalam dan
memanjang pada permukaan gigi, biasanya
terdapat pada permukaan oklusal atau fasial/
proksimal dan merupakan dasar dari
developmental groove.
Tuberkel ialah evelasi/ tonjolan kecil pada
beberapa bagian dari korona gigi yang dihasilkan
dari pembentukan enamel yang berlebihan (
Harshanur, 1991 ).

Lobe
Lobe ialah bagian yang meninjol merupakan
bagian permulaan dari pembentukan gigi pada
pertumbuhan korona gigi. Yang termasuk lobe
ialah : Mamelon ialah tonjolan yang terdapat
pada edge insisisal dari gigi insisivus yang baru
tumbuh/erupsi atau pada edge insisal dari gigi
yang belum pernah digunakan untuk mengunyah.
Cusp, Hawk bill insisal edge/edge beak incisor
ialah gigi insisivus atas dengan insisal edge yang
terletak disebelah palatal dari poros gigi dilihat
dari pandangan proksimal ( Harshanur, 1991 ).

Gigi molar
Gigi molar mempunyai permukaan oklusal terbesar
dari semua gigi dan mempunyai fungsi mengunyah
yang penting untuk mengelilingi dan menghancurkan
makanan, ia mempunyai 3-5 cusp utama dan
merupakan satu-satunya gigi dengan cusp bukal lebih
dari satu. Adanya akar yang kuat dan divergen
menyebabkan molar mempunyai penjangkaran yang
kuat yang dilakukan pada rahang.
Pada umumnya, outline dan contour molar atas mirip.
Biasanya terdapat 4 cusp, dengan cusp disto-lingual
mesio-distal bila dibandingkan dengan molar atas yang
mempunyai ukuran buko-palatal yang lebih besar (
Beek, 1996 ).

Bidang yang terdapat pada gigi, antara lain: Labial adalah


bidang gigi yang menghadap ke bibir.
Bukal adalah bidang gigi yang menghadap ke pipi.
Lingual adalah bidang gigi yang menghadap ke lidah.
Palatum adalah langit-langit rongga mulut.
Insisal adalah permukaan atas pada gigi anterior.
Oklusal adalah permukaan atas pada gigi posterior.
Mesial adalah sisi gigi yang mendekati garis median.
Distal adalah sisi gigi yang menjauhi garis median (
Harshanur, 1991

NOMENKLATUR
Nomenklatur ialah
cara menulis gigi
geligi. Ada beberapa
cara nomenklatur,
yaitu (Harshanur,
1991).

Sistem 2 angka dari FDI (Federation Dental


International) / WHO Gigi Tetap
Keuntungan cara ini
ialah mudah
dimengerti, diajarkan,
dicetak, ditulis dan
dipindahkan ke
computer

3. Universal

PERBEDAAN POST-MORTEM DAN


ANTE-MORTEM
Post-Mortem atau otopsi adalah prosedur bedah yang sangat khusus
yang terdiri dari pemeriksaan menyeluruh terhadap mayat untuk
menentukan penyebab dan cara kematian dan untuk mengevaluasi
setiap penyakit atau cedera yang mungkin ada.
Misalnya sidik jari, pemeriksaan terhadap gigi, seluruh tubuh, dan
barang bawaan yang melekat pada mayat dan dilakukan pula
pengembilan sampel jaringan untuk pemeriksaan DNA (Amir,
2003).

data gigi post-mortem yang perlu dicatat pada pemeriksaan antara lain :
1. Gigi yang ada dan tidak ada, bekas gigi yang tidak

ada apakah

masih baru atau sudah lama.


2. Gigi yang ditambal, jenis dan klasifikasi bahan

tambal.

3. Anomali bentuk dan posisi.


4. Karies atau kerusakan yang ada.
5. Jenis dan bahan restorasi.

6. Atrisi dataran kunyah gigi merupakan proses fisiologs untuk fungsi


mengunyah.
7. Derajat atrisi ini sebanding dengan umur.

8. Gigi molar kketiga sudah tumbuh atau belum.


9. Ciri-ciri populasi ras dan geografis.

Ante-mortem
Ante-Mortem

adalah

data-data

pribadi

dari

korban seperti cirri-ciri fisik, pakaian, identitas


khusus (tanda lahir), bekas luka/operasi, dan
sebagainya sebelum korban meninggal, data
rekam medi dari dokter keluaraga dan dokter gigi
korban, data sidik jari dari pihak berwenang

(kelurahan atau kepolisian), serta sidik DNA


apabila keluarga memilikinya (Amir, 2003).

Untuk data gigi data ante-mortem tersebut berupa dental


record, yaitu keterangan tertulis berupa odontogram atau
catatan keadaan gigi pada waktu pemeriksaan, pengobatan

dan perawatan gigi.


1. Foto rontgen gigi.
2. Cetakan gigi.
3. Prosthesis gigi atau orthodonsi
4. Foto close up muka atau profil daerah

dan gigi.
5. Keterangan dari orang-orang terdekat di
bawah sumpah.

mulut

Definisi Visum Et Repertum


Visum et repertum berasal dari kata latin yang
diterjemahkan kedalam bahasa Inggris,yaitu something seen
(visum) dan invention satauf indout(repertum).

visum et repertum berarti laporan tertulis yang dibuat oleh


dokter berdasarkan sumpah jabatannya terhadap apa yang

dokter lihat dan periksa berdasarkan keilmuannya.

1. Pembuat visum et repertum adalah dokter,baik

umum,dokter spesialis,dokter gigi,

dokter

dokter hewan.

2. Baik statusnya sebagai dokter negeri maupun

dokter

swasta.Khusus dokter hewan, hanya berhak membuatnya pada

kasus yang berhubungan dengan hewan.


3. Pihak berwenang yang berhak meminta
et repertum kepada

pembuatan visum

adalah polisi,jaksa dan hakim. Jaksa dan

hakim meminta pembuatannya


melalui polisi.(Purwadianto Agus,1996).

PERAN DOKTER GIGI DALAM


IDENTIFIKASI
Tugas utama dari dokter gigi dalam identifikasi adalah

melakukan identifikasi jasad individu yang sudah rusak,


mengalami dekomposisi, atau sudah tidak dalam keadaan utuh.
Adapun informasi yang bisa menjadi catatan pada pemeriksaan
jasad individu adalah :
perkiraan usia (misalnya dari panjang akar gigi pada

gigi

anak)
perkiraan jenis ras (dari bentuk dan karakteristk
dapat ditentukan ras Kaukasiod,

tengkorak

Mongoloid, dan Negroid)

jenis kelamin (dari bentuk tengkorak, dari tidak adanya kromatin


Y pada pemeriksaan mikroskopik, atau dari pemeriksaan DNA)

Informasi tambahan lainnya yang mungkin bisa diambil adalah


jenis pekerjaan (jejas jepit rambut pada capster), konsumsi
makanan (dari erosi gigi karena alkohol ataupun stain rokok) atau

kebiasaan lainnya ( seperti menggunakan pipa rokok), serta


penyakit gigi atau penyakit sistemik lainnya (misalnya gangguan
makan,

stain

akibat

pemakaian

Apabila

data

post-mortem

tidak

antibiotik

tetraskilin).

memungkinkan

suatu

identifikasi, maka dapat dilakukan reproduksi wajah semasa

hidup

berdasarkan

profil

tengkorak

dan

gigi.

Peran Dokter Gigi dalam


Kedokteran Gigi Forensik
1.

Identifikasi

korban

meninggal

massal

melalui

gigi-geligi

mempunyai kontribusi yang tinggi dalam menentukan identitas


seseorang
2.

Dokter gigi berperan penting dalam melakukan identifikasi korban


bencana karena korban yang hangus terbakar dan mengalami
pembusukan tingkat lanjut sulit untuk dikenali dan sudah tidak
dapat dilakukan identifikasi melalui pemeriksaan visual (Unair,
2008).

Beberapa macam identifikasi yang


bisa dilakukan dokter gigi
Identifikasi ras korban dari gigi geligi dan antropologi
ragawi.
Identifikasi jenis kelamin korban melalui gigi geligi dan
tulang rahang.
Identifikasi umur korban melalui gigi susu, gigi campuran
atau gigi tetap.
Identifikasi korban melalui kebiasaan/pekerjaan
menggunakan gigi.
Identifikasi DNA korban dari jaringan sel dalam rongga
mulut.
Identifikasi korban dari gigi palsu yang dipakai.
Identifikasi wajah korban dari rekonstruksi tulang rahang.

metode identifikasi pemeriksaan gigi


memiliki keunggulan sbb:
1. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap
pembusukan dan pengaruh lingkungan yang ekstrim.
2. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi
geligi dan restorasi gigi menyebabkan identifikasi dengan
ketepatan yang tinggi.
3. Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam

bentuk catatan medis gigi (dental record) dan data


radiologis.

4. Gigi geligi merupakan lengkungan anatomis, antropologis,

dan morfologis, yang mempunyai letak yang terlindung dari


otot-otot bibir dan pipi, sehingga apabila terjadi trauma akan
mengenai

otot-otot

tersebut

terlebih

dahulu.

5. Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400oC.


6. Gigi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada
peristiwa Haigh yang terbunuh dan direndam dalam asam
pekat, jaringan ikatnya hancur, sedangkan giginya masih utuh
(Lukman,2006).

Kekurangan penggunaan gigi dalam


odontologi forensik
1. Untuk memperoleh gigi antemortem, dental
record, kesulitan yang dijumpai, pertama adalah
adanya kenyataan bahwa sebelum semua orang

terarsipkan data gigi dengan baik.


2. Keadaan gigi setiap orang dapat berubah karena

pertumbuhan, kerusakan, perkembangan serta


perawatannya (Lukman, 2006).

IDENTIFIKASI GIGI GELIGI


Ciri spesifik yang dpat didapat dari gigi geligi :

jumlah gigi
berbagai jenis tambalan
berbagai jenis protesa
berbagai jenis kehilangan gigi
berbagai karies dari 160 permukaan gigi
perawatan sal. akar - bentuk anatomi gigi
jaringan periodontalnya - oklusi gigi geligi
anomali, dsb.

Alasan mengapa gigi dipilih sebagai bahan identifikasi


:

gigi melekat erat pada tulang rahang


gigi terlindungi oleh pipi dan jaringan sekitarnya

gigi bisa tahan pemasana hingga 900 derajat C, tahan


kimawi, tahan abrasi dan atrisi karena kandungan non

organik didalam gigi tinggi, bahkan lebih tinggi dari


tulang

bentuk jelas sehingga mudah di kenali

Kendala identifikasi :
pada data ante mortem : banyak masyarakat
indonesia yang tidak melakukan perwatan gigi
dan mempunyai data radiogram gigi nya
sebagai RM
Sebagian besar masyarakat indonesia yang
melakukan perawatan berpindahpindah
pencatatan tidak cukup dna tidak baku
memerlukan waktu yg lama

CaraMengidentifikasi Usia
Menggunakan gigi
. Metode Schour dan Massler
Pertumbuhan gigi gelilgi dimulai dari lahir sampai
dengan umur 21 tahun, yang banyak digunakan dalam
ilmu kedokteran gigi klinis untuk merencanakan atau
mengevaluasi perawatan gigi. Tabel ini biasa digunakan
untuk mempelajari gigi geligi dimana yang sudah
seharusnya tanggal atau seharusnya sudah tumbuh pada
umur tertentu. Untuk penentuan umur penggunaannya
justru melihat gigi yang sudah ada didalam mulut dan
menentukan umurnya dengan bantuan table Schour dan
Massler (Stimson, 1997).

2. Tabel Gustaffson dan Koch


Pada prinsipnya sama dengan sChour dan Massler, hanya
pada
table Gustaffson untuk setiap gigi ini diberikan perkiraan
jadwal yang lebih lengkap, mulai dari pembentukan,
mineralisasi, pertumbuhan ke dalam mulut sapai pada
penutupan foramen apicalis, sejak dalam kandungan hingga
umur 16 tahun (Stimson, 1997).
Metode Gustaffson
Untuk memperkirakan umur seseorang setelah masa itu
digunakan 6 metode dari Gustaffson adalah sebagai
berikut:
Atrisi
Penggunaan gigi setiap hari membuat gigi mengalami
keausan yang
sesuai dengan bertambahnya usia.

Sekunder dentin
Sejalan dengan adanya atrisi, maka di dalam ruang pulpa akan dibentuk
sekunder dentin untuk melindungi gigi, sehingga semakin bertambah usia
maka sekunder dentin akan semakin tebal.
Ginggiva attachment
Pertambahan usia juga ditandai dengan besarnya jarak antara
perlekatan gusi dan gigi.
Pembentukan foramen apikalis
Semakin lanjut usia, semakin kecil juga foramen apikalis.
Transparansi akar gigi
Semakin tua usia seseorang maka akar giginya semakin bening, hal
ini dipengaruhi oleh mineralisasi yang terjadi selama kehidupan.

Sekunder sement
Ketebalan semen sangat berhubungan dengan
usia. Dengan
bertambahnya usia ketebalan sement pada
ujung akar gigi juga semakin bertambah
(Stimson, 1997).

3. Neonatal dan Von Ebner Lines


Garis-garis incremental Von Ebner dan Neonatal,
dapat dilihat pada gigi yang telah disiapkan dalam
bentuk sediaan asahan dengan ketebalan 30-40
mikron. Pada gigi susu Molar 1 (yaitu gigi-gigi
yang ada pada waktu kelahiran), akan ditemukan
neonatal line berupa garis demarkasi yang
memisahkan bagian dalam email (yang terbentuk
sebelum kelahiran) dengan bagian luar enamel
(yang terbentuk setelah lahir). Selanjutnya juga
akan ditemukan garis-garis incremental Von
Ebner yang merupakan transisi antara periode
pertumbuhan cepat dan pertumbuhan lambat
yang berselang-seling (Stimson, 1997).

Jarak rata-rata antara garis ini adalah 4 mikron


yang merupakan kecepatan deposisi dentin
dalam 24 jam. Apabila pembentukan gigi
belum selesai, perhitungan garis Von Ebner
dari neonatal line dapat membantu penentuan
umur (Clark, 1992). Jarak rata-rata antara garis
ini adalah 4 mikron yang merupakan kecepatan
deposisi dentin dalam 24 jam. Apabila
pembentukan gigi belum selesai, perhitungan
garis Von Ebner dari neonatal line dapat
membantu penentuan umur (Clark, 1992).

4. Metode Asam Aspartat


Hapusan asam aspartat telah digunakan untuk menentukan
usia berdasarkan pada terdapatnya bahan tersebut pada

dentin manusia. Komponen protein terbanyak pada tubuh


manusia berbentuk L-amino Acid, D-amino acid yang
ditemukan pada tulang, gigi, otak dan lensa mata. D-amino

acid dipercaya mempunyai proses metabolisme yang lambat


dan tiap bagiannya mempunyai laju pemecahan yang lebih
lambat dan mempunyai ratio dekomposisi yang lebih lambat

juga. Asam aspartat mempunyai kemampuan penghapusan


paling tinggi dari semua asam amino (Clark, 1992).