Anda di halaman 1dari 16

HERPES ZOSTER

dr. Qonita Wachidah


PKM 1 Cilongok, 31 Oktober 2014

Definisi
ICD X: B 02.9 Zoster without complication
Herpes Zoster adalah infeksi kulit dan mukosa
yang disebabkan oleh virus varisela-zoster.
Infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang
terjadi setelah infeksi primer.

Anamnesis (subjective)
Keluhan:
Nyeri radikular dan gatal terjadi sebelum
erupsi. Keluhan dapat disertai dengan gejala
prodromal sistemik berupa demam, pusing,
dan malaise. Setelah itu timbul gejala kulit
kemerahan yang dalam waktu singkat menjadi
vesikel berkelompok dengan dasar eritem dan
edema.

Anamnesis (subjective)
Faktor risiko:
Umumnya terjadi pada orang dewasa,
terutama orang tua.
Imunodefisiensi

Pemeriksaan Fisik & Penunjang


Sederhana (Objective)
PF:
Sekelompok vesikel dengan dasar eritem yang
terletak unilateral sepanjang distribusi saraf
spinal atau kranial
Lesi bilateral jarang ditemui, namun seringkali,
erupsi juga terjadi pada dermatom di
dekatnya.

Pemeriksaan Fisik & Penunjang


Sederhana (Objective)
1. Herpes zoster hemoragik: vesikel mengandung darah.
2. Herpes zoster generalisata: kelainan kulit unilateral dan segmental
ditambah kelainan kulit generalisata berupa vesikel soliter yang
berumbilikasi.
Keduanya merupakan tanda bahwa pasien mengalami
imunokompromais.
3. Herpes zoster oftalmikus: infeksi cabang pertama nervus trigeminus
sehingga menimbulkan kelainan pada mata, di samping itu juga
cabang kedua dan ketiga menyebabkan kelainan kulit pada daerah
persarafannya.
4. Herpes zoster abortif: penyakit yang hanya berlangsung dalam
waktu singkat dan kelainan kulit hanya berupa beberapa vesikel dan
eritem.

Pemeriksaan Fisik & Penunjang


Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Penunjang:
Pemeriksaan mikroskopis dengan menemukan
sel Tzanck yaitu sel datia berinti banyak,
meskipun pemeriksaan ini tidak spesifik.

Penegakan Diagnosis (Assessment)


Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik

Diagnosis Banding
1. Herpes simpleks
2. Dermatitis venenata
3. Pada saat nyeri prodromal: diagnosis dapat
menyerupai migrain, nyeri pleuritik, infark
miokard, atau apendisitis.

Komplikasi
Neuralgia pasca-herpetik
Ramsay Hunt Syndrome: herpes pada ganglion
genikulatum, ditandai dengan gangguan pendengaran,
keseimbangan dan paralisis parsial.
Pada penderita dengan imunodefisiensi (HIV,
keganasan, atau usia lanjut), vesikel sering menjadi
ulkus dengan jaringan nekrotik dapat terjadi infeksi
sistemik.
Pada herpes zoster oftalmikus, dapat terjadi ptosis
paralitik, keratitis, skleritis, uveitis, korioretinitis, serta
neuritis optik.
Paralisis motorik.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


Penatalaksanaan:
Terapi suportif dilakukan:
menghindari gesekan kulit yang mengakibatkan
pecahnya vesikel
pemberian nutrisi TKTP
mencegah kontak dengan orang lain
istirahat
Gejala prodromal diatasi sesuai dengan indikasi.
Aspirin dihindari oleh karena dapat menyebabkan
Reyes syndrome.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


Topikal:
Stadium vesikel : bedak salisil 2% atau bedak kocok kalamin
agar vesikel tidak pecah. Apabila erosif, diberikan kompres
terbuka, apabila terjadi ulserasi, dapat dipertimbangkan
pemberian salep antibiotik.
Krim asiklovir memiliki efficacy yang terbatas dalam terapi
herpes zoster.
Pengobatan antivirus oral, antara lain dengan:
- Asiklovir: dewasa 5 x 800 mg/hari, anak-anak 4 x 20
mg/kgBB (dosis maksimal 800 mg), atau
- Valasiklovir: dewasa 3 x 1000 mg/hari.
Pemberian obat tersebut selama 7-10 hari dan efektif
diberikan pada 24 jam pertama setelah timbul lesi.

Konseling dan Edukasi


Edukasi tentang perjalanan penyakit Herpes
Zoster.
Edukasi bahwa lesi biasanya membaik dalam
2-3 minggu pada individu imunokompeten.
Edukasi mengenai seringnya komplikasi
neuralgia pasca-herpetik

Kriteria rujukan
1. Penyakit tidak sembuh pada 7-10 hari
setelah terapi.
2. Terjadi pada pasien bayi, anak dan geriatri
(imunokompromais).
3. Terjadi komplikasi.
4. Terdapat penyakit penyerta yang
menggunakan multifarmaka

Prognosis
Pasien dengan imunokompeten, prognosis
umumnya adalah bonam, sedangkan pasien
dengan imunokompromais, prognosis menjadi
dubia ad bonam

Referensi
James, W.D. Berger, T.G. Elston, D.M. Andrews Diseases of
the Skin: Clinical Dermatology. 10th Ed. Saunders Elsevier.
Canada. 2000.
Djuanda, A. Hamzah, M. Aisah, S. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin, 5th Ed. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
2007.
Pedoman Pengobatan Dasar Puskesmas. Depkes RI. 2007.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Pedoman
Pelayanan Medik. 2011.
Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer. Ikatan Dokter Indonesia. 2013.