Anda di halaman 1dari 47

Pokok Bahasan/Materi

1. Pendahuluan :

Fungsi dari Ventilasi Tambang

Prinsip Ventilasi Tambang

Lingkup Bahasan Ventilasi Tambang

Pengertian mengenai Udara Tambang


2. Pengendalian Kualitas Udara Tambang

Perhitungan Keperluan Udara Segar

Kandungan Oksigen dalam Udara

Gas-Gas Pengotor

Pengendalian Gas-Gas Tambang

Karakteristik Debu, Sumber, dan Cara Penanganannya


3. Psikrometri Udara Tambang

Penilaian Akhir
1.
2.

3.
4.
5.

Kehadiran
Quiz
Tugas
Ujian Tengah Semester
Ujian Akhir Semester

:
:
:
:
:

5%
10 %
15 %
35 %
35 %

Bahan Kuliah
Ventilasi Tambang

Fungsi Ventilasi Tambang


1.

2.

3.

4.

Menyediakan dan mengalirkan udara segar ke dalam


tambang untuk keperluan penyediakan udara segar
(oksigen) bagi pernapasan para pekerja dalam
tambang dan juga untuk proses yang terjadi dalam
tambang yang memerlukan oksigen.
Melarutkan dan membawa keluar dari tambang segala
pengotoran dari gas-gas yang ada dalam tambang
hingga tercapai keadaan kandungan gas dalam udara
tambang yang memenuhi syarat bagi pernapasan.
Menyingkirkan debu yang berada dalam aliran ventilasi
tambang bawah tanah hingga ambang batas yang
diperkenalkan.
Mengatur panas dan kelembaban udara ventilasi
tambang bawah tanah sehingga diperoleh suasana
atau lingungan kerja yang nyaman.

Prinsip Ventilasi Tambang

Udara akan mengalir dari kondisi bertemperatur


rendah ke temperatur panas
Udara akan lebih banyak mengalir melalui jalurjalur ventilasi yang memberikan tahanan yang
lebih kecil dibandingkan dengan jalur
bertahanan yang lebih besar
Hukum-hukum mekanika fluida akan selalu
diikuti dalam perhitungan dalam ventilasi
tambang

Lingkup Bahasan Ventilasi Tambang

1.

2.

3.

Dalam membahas ventilasi tambang akan mencakup tiga hal yang


saling berhubungan, yaitu :
Pengaturan/pengendalian kualitas udara tambang. Dalam hal ini
akan dibahas permasalahan persyaratan udara segar yang
diperlukan oleh para pekerja bagi pernafasan yang sehat dilihat
dari segi kualitas udara (Quality Control).
Pengaturan/pengendalian kuantitas udara tambang segar yang
diperlukan oleh pekerja tambang bawah tanah. Dalam hal ini
akan dibahas perhitungan untuk jumlah aliran udara yang
diperlukan dalam ventilasi dan pengaturan jaringan ventilasi
tambang sampai perhitungan kapasitas dari kipas angin.
Pengaturan suhu dan kelembaban udara tambang agar dapat
diperoleh lingkungan kerja yang nyaman. Dalam hal ini akan
dibahas mengenai pengguaan ilmu yang mempelajari sifat-sifat
udara atau psikrometri (Psychrometry).

Pengertian Mengenai Udara Tambang


Udara segar normal yang dialirkan pada ventilasi tambang terdiri dari
Nitrogen, Oksigen, Karbondioksida, Argon dan gas-gas lain, seperti
pada Tabel berikut :
Komposisi Udara Segar

Persen Volume
(%)

Persen Berat (%)

Nitogen (N2)

78,09

75,53

Oksigen (O2)

20,95

23,14

Karbondioksida
(CO2)

0,03

0,046

Argon (Ar), dll

0,93

1,284

Unsur

Pengendalian Kualitas Udara Tambang


1.

Perhitungan Keperluan Udara Segar


Jenis kegiatan manusia dapat dibedakan atas :
Dalam Keadaan istirahat
Dalam melakukan kegiatan kerja yang
moderat, misalnya kerja kantor
Dalam melakukan kegiatan kerja keras,
misalnya olah raga atau kerja di lingkungan
tambang

Atas dasar jenis kegiatan kerja yang dilakukan ini akan diperlukan
juga udara segar yang berlainan jumlahnya. Dalam suatu
pernapasan terjadi kegiatan menghirup udara segar dan
menghembuskan udara hasil pernapasan. Laju pernapasan per
menit didefinisikan sebagai banyaknya udara dihirup dan
dihembuskan per satuan waktu satu menit. Laju pernapasan ini
akan berlainan bagi setiap kegiatan manusia yang berbeda, makin
kerja keras yang dilakukan makin besar angka laju pernapasannya.
Perlu juga dalam hal ini diartikan angka bagi atau nisbah
pernapasan (respiratori quotient) yang didefinisikan sebagai nisbah
antara jumlah karbondioksida yang dihembuskan terhadap jumlah
oksigen yang dihirup pada suatu proses pernapasan. Pada manusia
yang bekerja keras, angka bagi pernapasan ini sama dengan 1,
yang berarti bahwa jumlah CO2 yang dihembuskan sama dengan
jumlah O2 yang dihirup pada pernapasannya.

Ada dua cara perhitungan untuk menentukan jumlah


udara yang diperlukan perorang untuk pernafasan,
yaitu:
Atas dasar kebutuhan O2 minimum, yaitu 19,5 %.
Jumlah udara yang dibutuhkan = Q cfm
Pada pernafasan, jumlah oksigen akan berkurang
sebanyak 0,1 cfm ; sehingga akan dihasilkan persamaan
untuk jumlah oksigen sebagai berikut :
0,21 Q 0,1 = 0,195 Q
(kandungan O2) (jumlah O2 pada pernapasan) =
(kandungan O2 minimum untuk udara pernapaasan)
Q = (0,1/(0,21 0,195)) = 6,7 cfm

Atas dasar kandungan CO2 maksimum, yaitu 0,5 %.


Dengan harga angka bagi pernafasan = 0,1 ; maka
jumlah CO2 pada pernafasan akan bertambah sebanyak
1,0 x 0,1 = 0,1 cfm
Dengan demikian akan didapat persamaan :

0,0003 Q + 0,1 = 0,005 Q


(kandungan CO2 maks dalam udara normal) (jumlah
CO2 hasil pernafasan) = (kandungan CO2 dalam udara)
Q = (0,1/(0,005 0,0003)) = 21,3 cfm

Dari kedua cara perhitungan tadi, yaitu atas kandungan


oksigen minimum 19,5 % dalam udara pernafasan dan
kandungan karbondioksida sebesar 0,5 % dalam udara
untuk pernafasan, diperoleh angka kebutuhan udara
segar bagi pernafasan seseorang sebesar 6,7 cfm dan
21,3 cfm. Dalam hal ini tentunya yang digunakan
sebagai angka kebutuhan seseorang untuk pernafasan.
Dalam merancang kebutuhan udara untuk ventilasi
tambang digunakan angka kurang lebih sepuluh kali
lebih besar, yaitu 200 cfm per orang (= 0,1 m3/detik per
orang)

a. Kandungan Oksigen dalam Udara


Oksige merupakan unsur yang sangat diperlukan untuk
kehidupan manusia. Pada pernapasannya, manusia akan
menghirup oksigen, yang kemudian bereaksi dengan butir
darah (Haemoglobine) menjadi oksihaemoglobin yang akan
mendukung kehidupan. Dalam udara normal, kandungan
oksigen adalah 21% dan udara dianggap layak untuk suatu
pernapasan apabila kandungan oksigen tidak boleh kurang
dari 19,5%.
Banyak proses-proses dalam alam yang dapat
menyebabkan pengurangan kandungan oksigen dalam
udara, terutama untuk udara tambang bawah tanah.
Adanya oksidasi, pembakaran pada mesin bakar dan
pernapasan oleh manusia jg contoh dari pengurangan
kandungan oksigen

b. Gas-gas Pengotor
Ada beberapa macam gas pengotor dalam
udara tambang bawah tanah. Gas-gas ini berasal
baik dari proses-proses yang terjadi dalam
tambang maupun dari batuan ataupun bahan
galiannya.
Mesin-mesin yang digunakan dalam tambang,
misalnya merupakan salah satu sumber dari gas
pengotor, adanya peledakan. Dalam tambang
batubara, gas methan merupakn gas yang selalu
ada.
Gas-gas pengotor yang berada dalam tambang,
ada yang bersifat racun, berbahaya.

1. Karbonmonoksida (CO2)
Gas ini tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mendukung nyala api, dan bukan merupakan gas
beracun. Gas ini lebih berat dari udara.
Dalam udara normal, kandungan CO2 adalah
0,03 %.
Sumber dari CO2 berasal dari hasil pembakaran,
hasil peledakan atau dari lapisan batuan dan hasil
pernapasan.
Kombinasi CO2 dan udara biasa disebut dengan
blackdamp.

2. Methan (CH4)
Gas methan merupakan gas yang selalu ada
dalam tambang batubara dan sering merupakan
sumber dari suatu peledakan.
Kombinasi atau campuran gas methan dengan
udara disebut firedamp.
Gas ini mempunyai berat jenis yang lebih kecil dari
udara.
Merupakan gas yang tidak beracun, tidak
berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai
rasa.

3. Karbon Monoksida (CO)


Merupakan gas yang tidak berwarna, tidak
berbau dan tidak ada rasa, dapat terbakar dan
sangat beracun. Gas ini banyak dihasikan pada
saat terjadi kebakaran pada tambang bawah tanah
dan menyebabkan tingkat kematian yang tinggi.
Juga dihasilkan dari operasi motor bakar, proses
peledakan dan oksidasi lapisan batubara.
Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap
haemoglobin darah, sehingga sedikit saja
kandungan gas CO dalm udara akan segera
bersenyawa dengan butir-butir haemoglobin yang
akn meracuni tubuh lewat darah.

4. Hidrogen Sulfida (H2S)


Gas ini sering disebut juga stinkdamp (gas
busuk) karena baunya seperti bau telur busuk.
Gas ini tidak berwarna, merupakan gas racun dan
dapat meledak, merupakan hasil dekomposisi dari
senyawa belerang.
Gas ini mempunyai berat jenis yang sedikit lebih
berat dari udara.
Walaupuyn gas ini mempunyai bau yang sangat
jelas, namun kepekaan terhadap bau ini akan
dapat rusak akibat reaksi gas H2S terhadap syaraf
pemicu manusia.

Pengendalian Gas-gas Tambang


Beberapa cara pengendalian berikut ini dapat dilakukan terhadap
pengotor gas pada tambang bawah tanah :
1) Pencegahan (Prevention)
a) Menerapkan prosedur peledakan yang benar
b) Perawatan dari motor-motor bakar yang baik
c) Pencegahan terhadap adanya api
2) Pemindahan (Removal)
a) Penyaliran (drainage) gas sebelum penambangan
b) Penggunaan ventilasi isap lokal dengan kipas
3) Absorpsi (Absorption)
a) Penggunaan reaksi kimia terhadap gas yang keluar
dari mesin
b) Pelarutan dengan percikan air terhadap gas hasil
peledakan

4) Isolasi (Isolation)
a) Memberi batas sekat terhadap daerah kerja yang
terbakar
b) Penggunaan waktu-waktu peledakan pada saat
pergantian gilir atau waktu-waktu tertentu
5) Pelarutan
a) Pelarutan lokal dengan menggunakan ventilasi lokal
b) Pelarutan dengan aliran udara utama
Biasanya cara pelarutan akan memberikan hasil baik,
tetapi sering beberapa cara tersebut dilakukan bersamasama

Karakteristik Debu, Sumber dan Cara


Penanganannya
Pengertian Debu, yaitu kategori kedua dari pengotor udara
yang merupakan perhatian utama bagi insinyur-insinyur
tambang. Oleh sebab itu sifat-sifat debu mempunyai
banyak kesamaan dengan gas.

Dispersi (sebaran) partikel-partikel cairan atau padatan

yang berukuran mikroskopik dalam media gas disebut


aerosol.

1) Perilaku Partikel Debu :


Debu yang dihasilkan dalam operasi tambang bawah tanah dapat
menimbulkan masalah kesehatan bagi para pekerjanya.
Partikel debu yang sering dijumpai di alam biasanya terdiri dari partikel-partikel
yang berukuran lebih besar dari 40 mikron. Sedangkan partikel terkecil
yang dapat dilihat melalui mikroskop adalah 0,25 mikron. Kurang dari 80 %
debu hasil dari operasi tambang mempunyai ukuran partikel sekitar
dibawah 1 mikron.
Partikel debu, baik yang dapat menimbulkan efek patologis atau terbakar,
umumnya berukuran lebih kecil dari 10 mikron. Sedangkan partikel debu
yang lebih kecil dari 5 mikron diklasifikasikan sebagai debu yang terhisap
(respirable dust). Partikel debu dengan ukuran lebih besar dari 10 mikron
sangat sulit untuk tersuspensi di udara dalam waktu yang lama, kecuali
kecepatan aliran udara yang sangat tinggi. Sedangkan partikel debu yang
sering dijumpai di tambang bawah tanah mempunyai ukuran rata-rata 0,5
3 mikron.

2 ) Klasifikasi Debu :
Klasifikasi debu pada dasarnya dapat dibedakan menurut tingkat bahaya
terhadap fisiologis dan kemampuledakannya. Berikut ini adalah klasifikasi
yang diurut berdasarkan menurunnya tingkat bahaya :
a) Debu Fibrogenik (berbahaya terhadap pernapasan) :
- Silika (kuarsa )
- Silikat
- Metal fume/asap logam
- Bijih timah
- Bijih besi
- Karborondum
- Batubara (Antrasit dan Bituminus)
B) Debu Karsinogenik
- Kelompok Randon
- Asbestos
- Arsenik

c) debu Racun (racun terhadap organ tubuh dan jaringan)


-

Bijih Berilium
Arsenik
Timah hitam
Uranium
Radium
Torium
Kromium
Vanadium

Air Raksa
Kadmium
Antimoni
Selenium
Mangan
Tungsten
Nikel
Perak (khusus oksida & karbonat)

d) Debu Radioaktif (membahayakn karena radiasi sinar alpha dan sinar betha
- Bijih uranium
- Radium
- Torium

e) Debu Ledak (terbakar di udara)


- Debu logam (magnesium, aluminium, seng, timah, dan besi)
- Batubara (bituminus dan lignit)
- Bijih sulfida
- Debu organik
f) debu pengganggu (sedikit mengganggu)
- Gypsum
- Kaolin
- Gamping
g) Debu inert (tidak membahayakan)
3) Efek Fisiologis dari Debu Fibrogenik
Pengaruh buruk dari debu fibrogenik dapat dipahami bila komponen dan
fungsi dari sistem pernafasan diketahui dengan baik.
Sistem pernafasan manusia dilengkapi dengan sistem perlindungan
terhadap debu. Rambut/bulu hidung akan menyaring partikel debu yang
besar (>5 10 m). Mucous membrance yang melapisi hidung dan
tenggorokan juga menangkap debu.

4) Penyakit Pernafasan
Debu dapat menyebabkan penyakit pernafasan fibrous dan non fibrous atau
disebut juga pneumoconiosis. Nama-nama jenis penyakit sejenis ini dan
jenis debu penyebabnya antara lain sbb:
a) Silicosis akibat silika bebas
b) Silicotuberculosis komplikasi tuberkolosis oleh silika
c) Asbestosis akibat asbestos
d) Silicatosis akibat silika lain
e) Siderosis akibat bijih besi
f) Pekerja tambang batubara bawah tanah pneumoconiosis atau
anthracosilosis akibat batubara baik bituminus maupun antrasit
Yang paling serius dari kesemua jenis penyakit itu adalah silicosis. Sedangkan
debu yang dianggap sangat berbahaya dan dapat menimbulkan penyakit
kanker adalah :
- Crocidolite (asbestos)
- Kanker paru-paru
- Chrysolite (asbestos)
- Arsenic

5) Faktor-faktor yang menentukan kebahayaan debu kepada manusia


Tingkat bahaya debu pada kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain ; komposisi debu, konsentrasi, ukuran partikel, lamanya waktu
kontak, dan kemampuan individual.
a) Komposisi debu
Ditinjau dari tingkat bahaya yang dapat ditimbulkan komposisi mineralogi
debu lebih penting dibandingkan komposisi kimiawi atau sifat fisiknya.
Sebagai contoh silika bebas memiliki aktivitas kimia lebih besar di dalam
paru-paru dibandingkan silika campuran.
b) Konsentrasi
Konsentrasi debu di udara dapat dinyatakan dengan dua cara, yaitu :
- atas dasar jumlah : satuan = mppcf dan ppcc
- atas dasar berat : satuan = mg/m3

Faktor konsentrasi merupakan faktor terpenting kedua setelah komposisi.


Secara umum debu dapat membahayakan paru-paru jika konsentrasinya
lebih besar dari 0,5 mg/m3.
Untuk debu-debu beracun radioaktif konsentrasi yang lebih kecil pun dapat
membahayakan.
c) Ukuran partikel
Debu berukuran halus (< 5 m) merupakan debu yang paling berbahaya,
karena luas permukaannya besar, dengan demikian aktivitas kimianya pun
besar. Selain itu debu halus tergolong debu yang dapat dihirup (respirable
dust) karena mungkin tersuspensi di udara.
d) Lamanya waktu terdedah (exposure time)
Penyakit akibat debu umumnya timbul setelah seseorang bekerja di
lingkungan yang berdebu untuk suatu jangka waktu yang cukup lama.
Waktu rata-rata perkembangan penyakit silicosis antara 20 30 tahun.

e) Kempuan individual
Faktor kemampuan individual terhadap bahaya debu sampai saat
ini merupakan faktor yang belum dapat dikuantifikasi.
Dapat disimpulkan bahwa penyakit akibat debu atau
pneumoconiosis dipengaruhi oleh kombinasi dari kelima faktor
diatas.

TLV = Theshold Limit Value = Nilai Ambang Batas


yaitu konsentrasi rata-rata dari suatu uap, gas, debu atau asap dalam udara
dimana seseorang dapat berhubungan/kontak tanpa merugikan terhadap
kesehatannya selama 40 jam/minggu. Nilai ini dapat diberikan sesuai
dengan reaksi-reaksi, seperti : mengantuk (selama tidak berbahaya pada
kulit, mata, organ tubuh apabila dihirup berulang-ulang).
Jumlah udara ventilasi (Q) yang diperlukan untuk melarutkan bahaya airborne
dust ditentukan oleh persamaan dibawah ini :
Q = {Qg (1 TLV)} / (TLV Bg)
dimana :
Qg = Jumlah aliran pengotor/ contaminant
Bg = Konsentrasi/kadar pengotor dalam intake air normal

Psikrometri Udara Tambang


Udara segar yang dialirkan kedalam tambang bawah tanah akan mengalami
beberapa proses seperti penekanan atau pengembangan, pemanasan atau
pendinginan, pelembaban. Maka volume, tekanan, kandungan energi panas
dan kandungan airnya juga akan sudah mengalami perubahan.
Ilmu yang mempelajari proses perubahan sifat-sifat udara seperti temperatur
dan kelembaban disebut psikrometri.

Termodinamika : Ilmu yang mempelajari transformasi energi

Hk. Termodinamika I : Hk. Transformasi energi yang berhubungan


dengan kuantitas udara

Hk. Teremodinamika II : Hk. Transformasi energi yg berhubungan


dengan kualitas udara

Udara bebas : udara yang mempunyai bobot isi sebenarnya 1,0 kg.m3

Tekanan dan temperatur normal : Temperatur normal adalah 0OC dan


tekanan normal adalah 14,7 psi
(101.325 kPa = 1 Bar)

Tekanan ukur (p) : adalah tekanan yang dibaca pada alat ukur tekanan dan
menunjukkan besarnya tekanan sebenarnya berbeda
dari tekanan atmosfir pada suatu kondisi (kPa)

Tekanan absolut : adalah tekanan ukur + tekanan atmosfir barometer (Pb)

Tekanan uap : adalah tekanan yang dapat diberikan oleh uap air

Tekanan uap jenuh : adalah tekanan maksimum yang dapat diberikan oleh
uap air di dalam suatu campuran udara dan uap air dan
besarnya merupakan fungsi dari temperatur

Temperatur cembung kering (td) :


adalah temperatur udara yang ditunjukkan oleh termometer yang cembung air raksanya
dilindungi oleh suatui tabung agar tidak menyerap radiasi berlebihan
Temperatur cembung basah (tw)
temperatur udara yang ditunjukkan oleh termometer yang cembung air raksanya diselimuti oleh
kain tipis basah berada pada aliran udara dengan kecepatan paling tidak 10 ft/detik (3 m/detik)
Temperatur titik embun :
adalah temperatur dimana atmosfir tidak jenuh harus didinginkan pada tekanan tetap agar bisa
menjadi jenuh atau agar kondensasi bisa mulai.

Contaminant :
Bahan-bahan pengotor (impurities, gangue) atau zat yang
merupakan bahan pengotor dalam ventilasi tambang, bahan yang
tidak diinginkan yang biasanya berada dalam udara tambang
dalam jumlah yang berlebihan.

Jenis-jenis Pengotor :
1.
2.

Non Particular (tidak berbutir), misalnya gas dan uap air


Particular (berbutir)
- liquid (cairan) : mists (embun), fogs (kabut)
- solid (padatan) : dust (debu), fumes (uap), smoke (asap),
organism (bakteri, serbuksari)

Prinsip Pengaliran Udara serta Kebutuhan


Udara Tambang
a. Head Loss
Aliran udara terjadi karena adanya perbedaan tekanan yang
ditimbulkan antar dua titik dalam sistem. Energi yang diberikan
untuk mendapatkan aliran yang tunak (steady), digunakan untuk
menimbulkan perbedaan tekanan dan mengatasi kehilangan aliran
(HL).
Head loss dalam aliran udara fluida dibagi atas dua komponen,
yaitu : friction loss (Hf) dan shock loss (HX). Dengan demikian
head loss adalah :
HL = Hf + HX

Friction loss menggambarkan head loss pada aliran yang linier melalui
saluran dengan luas penampang yang tetap.
Sedangkan shock loss adalah kehilangan head yang dihasilkan dari
perubahan aliran atau luas penampang dari saluran, juga dapat
terjadi pada inlet atau titik keluaran dari sistem, belokan atau
percabangan, dan halanga-halangan yang terdapat pada saluran.
b. Mine Head
Untuk menentukan jumlah aliran udara yang harus disediakan
untuk mengatasi kehilanagn head (head losses) dan
menghasilkan aliran yang diinginkan, diperlukan penjumlahan dari
semua kehilangan energi aliran.
Pada suatu sistem ventilasi tambang dengan satu mesin angin
dan satu saluran keluar, kumulatif pemakaian energi disebut
dengan mine head, yaitu perbedaan tekanan yang harus
ditimbulkan untuk menyediakan sejumlah tertentu udara ke
dalam tambang.

1) Mine statik head (mine HS)


Merupakan energi yang dipakai dalam sistem ventilasi untuk
mengatasi seluruh kehilangan head aliran. Hal ini sudah termasuk
semua kehilangan dalam head loss yang terjadi antara titik masuk
dan keluaran sistem dan diberikan dalam bentuk persaman :
Mine HS = HL = (Hf + HX)
2) Mine Velocity Head (Mine (HV)
Dinyatakan sebagai velocity head pada titik keluaran sistem.
Velocity head akan berubah dengan adanya luas penampang dan
jumlah saluran dan hanya merupakan fungsi dari bobot isi udara
dan kecepatan aliran udara.
3) Mine total head (Mine HT)
Merupakan jumlah keseluruhan kehilangan energi dalam sistem
ventilasi. Secara matematis, merupakan jumlah dari mine statik
(HS) dan velocity head (HV), yaitu :
Mine HT = Mine HS + Mine HV

Keadaan Aliran Udara di Dalam Lubang Bukaan


Dalam sistem aliran fluida akan selalu ditemui keadaan aliran : laminer,
intermediate, dan turbulent.
Kriteria yang dipakai untuk menentukan keadaan aliran adalah Bilangan
Reynold (NRe). Bilangan Reynold untuk aliran laminer adalah 2000, dan
untuk turbulent di atas 4000.
NRe = ( D V) / ( ) = (D V) / ( )
dimana :
= rapat massa fluida (lb.det2/ft4 atau kg/m3)
= viskositas kinematik (ft2/detik atau m3/detik)
= viskositas absolut (= ; lb detik/ft2)
D = diameter saluran fluida (ft atau m)
V = kecepatan aliran fluida (ft/detik)
Untuk udara pada temperatur normal = 1.6 x 10-4ft2/detik atau
14.8 x 10-6 m2/detik
Maka : NRe = 6.250 DV atau
NRe = 67.280 DV untuk SI

Dengan menganggap bahwa batas bawah aliran turbulent dinyatakan


dengan NRe = 4000, maka kecepatan kritis dari suatu dimensi
saluran fluida dapat ditentukan dengan :
Vc = (60 NRe)/6.250 D = (60)(4000)/ (6.250 D) = 38.4 / D (fpm)
atau dikira-kira adalah VC 40 / D
Aliran turbulent hampir selalu terjadi pada lubang bukaan tambang
bawah tanah.

Perhitungan Head Loss


Head loss terjadi karena adanya aliran udara akibat kecepatan (HV), gesekan
(HF) dan tikungan saluran atau perubahan ukuran saluran (HX).
Jadi dalam suatu sistem ventilasi distribusi head loss dapat disederhanakan
sebagai berikut :
HS =
HL
=
(HF + HX)
HV = HV pada keluaran, dan
Ht = HS + HV
a. Velocty head
Walaupun bukan merupakan suatu head loss, secara teknis dapat dianggap
suatu kehilangan. Velocity head merupakan fungsi dari kecepatan fungsi
dari kecepatan aliran udara , yaitu :
HV = (2g V2)/(2g)
dimana :
HV = velocity head
V = kecepatan aliran (fps)
G = percepatan gravitasi (ft/dt2)

a. Friction loss
Besarnya head loss akibat gesekan dalam aliran udara melalui
lubang bukaan di tambang bawah tanah sekitar 70% hingga 90%
dari total kehilangan (head loss).
Friction loss merupakan fungsi dari kecepatan aliran udara,
kekasaran muka lubang bukaan, konfigurasi yang ada di dalam
lubang bukaan, karakteristik lubang bukaan dan dimensi lubang
bukaan.
Persamaan mekanika fluida untuk friction loss pada saluran
berbentuk lingkaran adalah :
HL = f (L/D) (V2/2g)
dimana :
L = panjang saluran
D = diameter saluran
V = kecepatan
f = koefisien gesekan

c. Shock loss
Shock loss terjadi sebagai akibat dari adanya perubahan arah aliran
dalam saluran atau luas penampang saluran udara dan
merupakan tambahan terhadap friction losses.
Walaupun besarnya hanya sekitar 10% - 30% dari head loss di
dalam ventilasi tambang, tetapi tetap harus diperhatikan.
Berdasarkan sumber yang menimbulkan shock loss, pada dasarnya
berkurangnya tekanan sebanding dengan kuadrat kecepatan atau
berbanding lurus dengan velocity head.
Perhitungan shock loss dapat dilakukan secara langsung sbb :
HX = X HV
dimana :
HX = shock loss
X = faktor shock loss

d) Kombinasi friction loss dan Shock loss


Head loss merupakan jumlah dari friction loss dan shock loss,
maka:
HL = HF + HX
= (KP (L + Le)Q2) / 5,2 A3
dimana :
HL = head loss
Le = panjang ekivalen (ft)
KP = faktor gesekan untuk density udara standar
Q = debit udara (cfm)
A = luas penampang (ft2)
L = panjang saluran (ft)

Methan Drainage adalah Proses penghilangan

gas metan (CH4) yang dikandung dalam


endapan lapisan batubara dan lapisan batuan
sampingnya (surrounding strata) melalui saluran
pipa (pipe lines).
Jumlah gas yang tertahan per ton batubara,
disebut Seam Gas Content (Kadar gas lapisan
batubara).
Satu indeks seam gas content dalam tambang
disebut : Emisi Metan spesifik ( Specific Methane
Emision) yang dinyatakan sebagai volume gas
metan yang dipancarkan per ton batubara.

Soal :
Diketahui kadar gas methan (CH4) dalam aliran udara kotor (return
airway) adalah 0,1 %. Jumlah aliran volume udara kotor (Q) =
6.000 m3/menit. Produksi tambang adalah 375.000 ton/tahun.
Ditanyakan :
Hitung gas emisi spesifik dalam produksi batubara bersih, apabila
diketahui faktor reduksi batubara kotor ke batubara bersih dalam
lapisan batubara sebesar 75 % ,
dan hitung juga jumlah gas emisi spesifik pada batubara kotor?
Jawab :
a) Banyaknya Gas Methan = Q x kadar CH4
= (6.000 m3/menit x 60 menit/jam x 24 jam/hari x 365
hari/tahun) x 0,1 %
= 3.153.600 m3/tahun

b) Gas emisi spesifik dalam produksi batubara kotor :

3,153 x 106 m3/tahun


= ------------------------------ = 8,408 m3/ton
375.000 m3/tahun

c)

Gas emisi spesifik dalam produksi batubara bersih :


8,408 m3/ton
= --------------------- = 11,21 m3/ton
75 %

Soal :
1) Produk dari suatu peledakan debu batubara
yang diambil contoh udara tambangnya pada
return airway (jalan udara kotor) dalam
tambang bawah tanah mempunyai komposisi
kimia sebagai berikut :
O2 = 0,72 %
CH4 = 7,47 %

CO2 = 11,03 %
N2 = 80,78 %

Hitung bagian-bagian dari udara, black damp,


dan fire damp ?

2) Hitung Q (jumlah udara) yang diperlukan


untuk melarutkan gas CH4 (methan) dalam
suatu tambang batubara untuk mencapai
TLV.nya bila kecepatan aliran Qg adalah 2,4
gram/menit dan konsentrasi pengotor dalam
intake air 0,1 mg/m3..?