Anda di halaman 1dari 37

DASAR-DASAR

BERFIKIR ILMIAH

Dr. Azhari, SpOG(K)

11/26/2014

sty

Perkembangan Ilmu

Ilmu dapat berkembang karena dua hal


Metodologi berfikir
2. Metodologi pengamatan (observasi)
1.

Metodologi Penelitian sebgai ILMU;


kumpulan berbagai cara/metode berfikir
dan pengamatan

11/26/2014

sty

FILSAFAT ILMU
YUNANI KUNO
(3SM-6M)
FILSAFAT

MITOSLOGOS

ABAD TENGAH
(14-15M)
THEOLOGI

FILSAFAT
AGAMA

FILSAFAT

FILSAFAT
PENGETAHUAN:
*Logika
*Filsafat Bahasa
*Metodologi
*Matematika
*Statistika
11/26/2014

ABAD MODERN
1. Renaissance (15M)
Abad 19
2. Rasionalisme:
*Empirisme
*Kritisisme
*Positivisme

ILMU DASAR
*Astronomi
*Biologi
*Fisika
*Sosiologi
*Psikologi
*dll

ABAD CONTEMPORER
*FENOMENOLOGIS
*STRUKTURALISME

BERBAGAI
MACAM
DEFINISI
ILMU
KEDOKTERAN
FILSAFAT ILMU:
*ONTOLOGI
*EPISTEMOLOGI
*AKSIOLOGI

sty

KANTIANISME
(Imanuel Kant, 1724 1804)

MAZHAB MARBURG
(M Cohen, 1842-1918)
POSITIVISME
(August Comte, 1798-1857)
EMPIRISME
(J Locke, 1632-1704;
D Hume, 1711-1776)

MAZHAB BADEN
(F Breno, 1838-1917)
*Membangun Sistem Nilai

LOGICAL POSITIVISME

FENOMENOLOGIS

OPERASIONALISME
METODE KUALITATIF
PARADIGMA
11/26/2014
NATURALISTIK

METODE KUANTITATIF

? sty

PARADIGMA
ILMIAH

PENGETAHUAN DAN ILMU


Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu
dari manusia, yang sekedar menjawab
pertanyaan What, sedangkan
Ilmu (science), tidak hanya sekedar
menjawab what, tetapi lebih jauh yaitu why
dan how

Jadi pengetahuan dapat berkembang


menjadi ilmu, apabila memenuhi kriteria
sbb:
Mempunyai obyek kajian
2. Mempunyai metode pendekatan
3. Bersifat universal
1.

11/26/2014

sty

Metode
Deducto-Hipotetico-Verivikatif
(August Comte, 1798-1857)

DEDUKSI: berdasarkan pengalaman-2 atau


teori-2 atau dogma-2 yang bersifat umum
dilakukan dugaan-2 atau hipotesis
HIPOTESIS: adalah dugaan yang ditarik
berdasarkan teori, dogma, atau pengalaman-2
VERIVIKASI: adalah proses pembuktian untuk
hipotesis-2 yang telah disusun melalui kegiatan
INDUKSI: hasil penelitian tersebut disusun ke
dalam suatu teori yang umum.

11/26/2014

sty

LANDASAN ILMU
ONTOLOGI; adalah tentang obyek yang ditelaah
ilmu tertentu
EPISTEMOLOGI; adalah cara yang digunakan
untuk mengkaji atau menelaah sehingga
diperolehnya ilmu tersebut
AKSIOLOGI; adalah berhubungan dengan
penggunaan ilmu tersebut dalam rangka
memenuhi kebutuhan manusia

11/26/2014

sty

ILMU DAN SARANA BERFIKIR ILMIAH


LOGIKA
MATEMATIKA
Deduksi

Khasanah

Ilmu

Dunia Rasional

Dunia Empiris

Induksi

Ramalan

(Hipotesis)

Pengujian
Fakta
METODE
PENELITIAN

Statistika
11/26/2014

sty

FILOSOFI
RASIONALISME DAN EMPIRISME
Berfikir sistematis dan kritis, penalaran,
logika, argumen yang kuat dan benar,
aturan dan tertib tertentu, untuk
pemecahan masalah
Permainan dialektik untuk memperoleh
wawasan dan kebenaran telah dipraktekan
oleh Filsuf Yunani kuno (Socrates, Plato,
Arestoteles)
Pada 4 abad SM diteruskan oleh Decrates
dan Galileo sampai abad 16-17M, disebut
RASIONALISME

11/26/2014

sty

Pada penghujung abad 17 muncul Revolusi


Ilmiah yang dipelopori oleh Ilmuwan dan
Filsuf EMPIRIS
Ilmu pengetahuan (IP) tidak lagi se matamata mengandalkan AKAL dan PENALARAN
murni (reasoning) yang tidak bergantung
pada PENGALAMAN DAN EKSPERIMEN
IP menggunakan metode ilmiah yaitu proses
bertahap yang bergerak maju dari teori
menuju konklusi

11/26/2014

sty

10

Kebenaran yang dihasilkan melalui


PENALARAN, LOGIKA, TRADISI, DAN
OTORITAS ILMU diterima jika telah dilakukan
CEK dan RICEK dengan:
Observasi

sistematis
Pengukuran atau
Eksperimentasi

Ilmu empiris ditandai oleh metode induktif


(bertolak dari pengamatan particular/
tunggal, yaitu hasil observasi dan eksperimen, untuk dibuat kesimpulan yang bersifat
umum seperti hipotesis dan atau teori.

11/26/2014

sty

11

Bagi penganut EMPIRIS-POSITIVIS,


metode induksi merupakan kriterium
demarkasi antara ILMIAH dan NONILMIAH
Rasionalisme menyatakan tidak akan
ditemukan pengetahuan yang pasti secara
mutlak dalam pengalaman inderawi,
melainkan harus dicari dalam alam
pikiran(DEDUKSI)
INDUKSI: dari hal-2 KHUSUS ke UMUM
DEDUKSI: dari UMUM ke KHUSUS

11/26/2014

sty

12

INDUKSI dan DEDUKSI


dapat dijembatani dengan 4 hal :
1.

Fakta empiris perlu dibedakan dengan


logika. Banyak ilmuwan terjebak dalam
sikap praktis, yaitu: lebih memperhatikan
karya ilmiah yang mendatangkan hasil
drpd berpusing-pusing tentang problem
logika dalam membentuk pengetahuan,
meskipun hasil yang diperoleh adalah
suatu pengetahuan yang secara rasional
tidak mempunyai dasar yang kokoh

11/26/2014

sty

13

2. Teori apapun tidak memiliki dan tidak


akan pernah memiliki kebenaran mutlak.
Pengetahuan bersifat NISBI dan DINAMIS,
bukannya MUTLAK dan STATIS.
3. Teori untuk dikatakan ILMIAH tidak
hanya harus siap diuji (testable), tetapi
juga siap disalahkan (falsiable), artinya
hipotesis hrs dikemukakan dan dinyatakan
dengan JELAS, TERBUKA untuk dilakukan
KRITIK secara TAJAM. Teori itu makin
kuat jika berkali-kali diuji dengan keras
dan mampu lulus dari falsifikasi..
11/26/2014

sty

14

Teori adalah hipotesis empiris dan selamanya


harus terus menerus dicari kesalahannya
(falsifikasi) dan disingkirkan kesalahannya itu
(error elimination), sehingga menghasilkan
hipotesis baru, dan hipotesis baru diuji
kebenarannya melalui riset empiris berikutnya.????
4. Replikasi penelitian hendaknya tidak terjerumus
kepada redundansi verifikasi atau konfirmasi
teori yang tidak menumbuhkan pengetahuan
baru, melainkan lebih ditujukan untuk
menyanggah atau falsifikasi sehingga diperoleh
teori yang lebih kuat
11/26/2014

sty

15

ILMU
????? Manusia Mulai BERFIKIR ?????
(Pendekatannya melalui Metode Ilmiah produknya ILMU

ILMU adalah pengetahuan yang diperoleh dengan Metode Ilmiah


ILMU termasuk pengetahuan (Knowledge)
PENGETAHUAN diperoleh tidak dengan Metode tertentu

Hakekat Kegiatan Ilmu :


Menyusun
Teori, Hukum, Dalil, Kaidah yang relatif benar dan berlaku umum
untuk suatu Kemanfaatan atau penyelesaian masalah tertentu
11/26/2014

sty

16

Pendapat EINSTEIN
Ilmu dimulai dengan FAKTA*, diakhiri
dengan FAKTA pula, apapun yang disusun di
antara kedua FAKTA tersebut.
*)Fakta: empiris, normatif

Kaidah Ilmu
SEBAB
1 Sebab
1 sebab
Banyak sebab
Banyak sebab
11/26/2014

AKIBAT
1 akibat
banyak akibat
1 akibat
banyak akibat
sty

17

BERFIKIR ILMIAH
(Metode ilmiah)
RASIONALISME
(Deduksi)
EMPIRISME/FAKTA
(Induktif)
(Kualitatif, Kuantitatif)
11/26/2014

sty

18

POSTULAT ILMU
1.
2.

3.

Benda empiris mempunyai


kesamaan/perbedaan timbul klasifikasi
Benda empiris relatif tidak berubah
dalam waktu tertentu, dan dapat
dihitung; timbul matematika/statistika
Fenomena/gejala bukan kejadian
kebetulan, tetapi merupakan SEBABAKIBAT; timbul
probabilitas/kemungkinan/peluang

11/26/2014

sty

19

KETERBATASAN ILMU
1.

2.
3.

Ilmu terbatas pada obyek/kejadian yang


bersifat empiris (dapat ditangkap oleh
pancaindera)
Jadi; Tuhan, surga, neraka dst, adalah
gaib (harus diyakini)
Filsafat : cinta kearifan dan kebenaran

11/26/2014

sty

20

SIFAT ILMU

TERBUKA (open):
Siapa
Waktu
tempat

BENAR (valid):
Instrumen

DIPERCAYA (reliable)
Teknik

11/26/2014

pengukuran
sty

21

ILMU
TUNTUTLAH ILMU, SESUNGGUHNYA MENUNTUT ILMU ADALAH UPAYA
MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH, DAN MENGAJARKANNYA
KEPADA ORANG LAIN YANG TIDAK MENGETAHUINYA ADALAH
SODAQOH, SESUNGGUHNYA ILMU PENGETAHUAN MENEMPATKAN
ORANGNYA DALAM KEDUDUKAN TERHORMAT DAN MULIA.
ILMU PENGETAHUAN ADALAH KEINDAHAN BAGI AHLINYA
DUNIA DAN AKHERAT
(Alhadits-Qudsi)

ETIKA ILMUWAN
JANGANLAH KALIAN MENUNTUT ILMU UNTUK
MEMBANGGAKANNYA TERHADAP PARA ULAMA (Orang
berilmu), DAN UNTUK DIPERDEBATKAN DI KALANGAN
ORANG-ORANG BODOH, JANGAN PULA MENUNTUT
ILMU UNTUK PENAMPILAN DALAM MAJELIS DAN UNTUK
MENARIK PERHATIAN ORANG-ORANG KEPADAMU.
BARANG SIAPA SEPERTI ITU MAKA BAGINYA
NERAKA.NERAKA
(Alhadist-Qudsi)
22
11/26/2014
sty

PENELITIAN
Adalah mencari hal-hal yang belum
diketahui (research is the repeated
search to the unknown)
Kebergantungan hubungan sebab-akibat
disebut HIPOTESIS (bila belum diuji
kebenarannya) atau TESIS (bila telah diuji
kebenarannya)
SEBAB merupakan variabel BEBAS
(independent); AKIBAT merupakan
variabel bergantung (dependent)

11/26/2014

sty

23

SIFAT KHAS PENELITIAN


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

BERKISAR PADA MASALAH


DASAR INGIN TAHU
ADANYA UNSUR ORISINALITAS
ADANYA ASUMSI BAHWA FENOMENA
MEMPUNYAI Hukum dan Keteraturan
UNTUK TUJUAN GENERALISASI
STUDI TENTANG SEBAB AKIBAT
DENGAN PENGUKURAN YANG AKURAT
TEKNIKNYA SECARA SADAR HARUS
DIKETAHUI

11/26/2014

sty

24

PROSEDUR PENELITIAN

MEMILIH MASALAH PENELITIAN

Studi Pendahuluan
TEORI, HUKUM, DALIL

Merumuskan masalah dan tujuan

MERUMUSKAN HIPOTESIS

Merumuskan Topik
Atau JUDUL

MEMILIH PENDEKATAN
(METODE PENELITIAN)
MENENTUKAN VARIABEL

MENENTUKAN SUMBER DATA

MENENTUKAN DAN MENYUSUN INSTRUMEN


MENGUMPULKAN DAN ANALISIS DATA
11/26/2014

MEMBUAT KESIMPULAN
dan LAPORAN
sty

25

METODE ILMIAH

KRITERIA METODE ILMIAH


1.
2.
3.
4.
5.
6.

11/26/2014

Berdasarkan pada fakta


Bebas dari prasangka
Menggunakan prinsip-2 analisa
Menggunakan ukuran obyektif
Menggunakan hipotesis
Menggunakan teknik-2 kuantitatif

sty

26

LANGKAH-2 METODE ILMIAH


1.

2.
3.
4.

5.
6.

7.
8.
11/26/2014

Memilih dan mendefinisikan/merumuskan


masalah
Survei terhadap data yang tersedia
Memformulasikan hipotesis
Membangun kerangka analisa
Mengumpulkan data primer
Mengolah dan menganalisa data serta
membuat interpretasi
Membuat kesimpulan dan generalisasi
Membuat/menulis laporan
sty

27

MASALAH PENELITIAN
Masalah yang dipilih haruslah:
A. MEMPUNYAI NILAI PENELITIAN
Keaslian (orisinalitas)
2. Menunjukan suatu hubungan
3. Dapat diuji dan dinyatakan dalam bentuk
pertanyaan
1.

B. MEMPUNYUAI FISIBILITAS
Data/informasi harus tersedia
2. Biaya dan waktu, cukup
3. Alat, bahan, dan metode harus tersedia
1.

11/26/2014

sty

28

C. SESUAI KUALIFIKASI PENELITI


Menarik
2. Sesuai bidang ilmunya, dan derajat
keilmuwannya
1.

PERUMUSAN MASALAH YANG BAIK AKAN


Membimbing dalam menyusun hipotesis
2. Memperkirakan prognosis penelitian
(kendala,waktu, biayadst)
3. Mudah membuat judul penelitian
4. Menentukan bobot penelitian
1.

11/26/2014

sty

29

SUMBER MASALAH
1.
2.
3.
4.
5.

6.

Kepekaan peneliti menangkap fenomena


problematik
Kesiapan peneliti
Ketekunan peneliti
KEPUSTAKAAN
FORUM ILMIAH
Pengalaman pralitik

11/26/2014

sty

30

KRITERIA PERUMUSAN MASALAH


YANG BAIK:

SUBSTANSI (ISI) HARUS BERBOBOT


Kegunaan teoritik
2. Kegunaan metodologik
3. Nilai aplikasi (manfaat)
1.

METODE PEMECAHAN MASALAH HARUS


DIKUASAI

11/26/2014

sty

31

CARA MERUMUSKAN MASALAH


1.
2.

3.
4.
5.

Berupa pertanyaan dan harus jelas


Berimplikasi adanya data
Dasar membuat tujuan penelitian
Dasar membuat judul penelitian
Dasar membuat hipotesis penelitan

11/26/2014

sty

32

JENIS PERUMUSAN MASALAH


1.
2.
3.

Masalah untuk mengetahui status dan


mendiskripsikan fenomena
Masalah untuk membandingkan dua atau
lebih fenomena
Masalah untuk mencari hubungan antara
dua fenomena:
Korelasi
Sebab akibat

11/26/2014

sty

33

Studi Pendahuluan

MANFAAT
Memperjelas masalah
2. Menjajagi kemungkinan dilanjutkannya
penelitian
3. Mengetahui informasi peta permasalahan
1.

CARA MELAKSANAKAN STUDI PENDAHULUAN


1. Membaca literatur
2. Berkonsultasi dengan nara sumber (expert)
3. Meninjau ke tempat peneltian

11/26/2014

sty

34

MERUMUSKAN TOPIK/JUDUL
SINGKAT, SPESIFIK DAN JELAS;
MENGGAMBARKAN POKOK BAHASAN DAN
BERSIFAT INDIKATIF
MENCAKUP SIFAT/JENIS PENELITIAN,
OBYEK DAN SUBYEK PENELITIAN

11/26/2014

sty

35

MERUMUSKAN TUJUAN
TUJUAN PENELITIAN DINYATAKAN
DALAM/DENGAN KALIMAT PERNYATAAN
(BENTUK DEKLARATIF)
TUJUAN LEBIH SPESIFIK ATAU KONGKRIT
DIBANDINGKAN DENGAN PERUMUSAN
MASALAH YANG MASIH BERSIFAT
ABSTRAK

11/26/2014

sty

36

HUBUNGAN MASALAH, TUJUAN DAN


KESIMPULAN

MASALAH:
Hal yang dipertanyakan

TUJUAN:
Jawaban yang ingin dicari

KESIMPULAN:
Jawaban yang diperoleh
11/26/2014

sty

37