Anda di halaman 1dari 19

ANEMIA PASCA PERDARAHAN

Divisi Hemato-onkologi

Identitas
Nama

: N.A.B
Jenis kelamin
: Laki-laki
Tgl lahir
: 26 Agustus 2013
Umur
: 1 tahun 2 bulan
Alamat
: Rumbia Jeneponto
No.Rekam medik : 689448
Tanggal masuk : 18 November 2014

Anamnesis
Keluhan utama : Pucat

Anamnesis terpimpin : Pucat sejak 1 hari sebelum

masuk rumah sakit.


Demam dan kejang tidak ada.
Batuk, lendir dan sesak tidak ada.
Muntah tidak ada.
Buang air kecil warna kemerahan sejak 1 hari yang
lalu.
Buang air besar biasa warna kuning.
Riwayat demam tidak ada. Riwayat trauma tidak
ada. Riwayat perdarahan hidung, bintik-bintik dan
lebam di kulit tidak ada. Riwayat buang air besar

Pemeriksaan Fisis
BB/TB : Terletak diantara -1 sampai median (gizi baik)
KU : Sakit berat/ gizi baik/ gcs 14
TD: 100/60Nadi :156 Pernapasan:52 Suhu:36,8 C
Pucat : ada, Sianosis : tidak ada, Tonus : normal
Ikterus : tidak ada
Turgor : baik

Hematologi
Ada pucat, ada

perdarahan, hematuri,
tidak ada
limfadenopati. Hb=
2,5. Indeks eritrosit
normositik normokrom.
PT= 11,5 . APTT= 21,9
Waktu perdarahan 4
menit. Rumple leede
tes negatif

Periksa darah
rutin, urin rutin,
feses rutin,
apusan darah
tepi, retikulosit,
PT, APTT,
albumin darah,
SGOT/SGPT,
GDS, Elektrolit,
Ureum/kreatinin

Hematologi
Planning :

Atasi anemia dan


anoksia jaringan

Infus asering 42cc/ jam via


infus pump
Oksigen via sungkup 5
liter/menit
Transfusi PRC
Target Hb 5 gr/dL
(5x2,5) x 10 x 4= 100cc
bertahap tahap 1 =100cc
tahap 2 = 150cc
Target Hb 8 gr/dL
Stop intake oral sementara

Hematologi
Pucat. Hb= 5,2 gr/dL.
Planning :

Atasi anemia
Atasi leukositosis

Periksa apusan
darah tepi,
retikulosit, feritin
serum
Transfusi PRC
190cc target Hb 10
Ceftazidime
500mg/
12jam/intravena

Pemeriksaan penunjang

PT : 11.5 (10-14 detik)


APTT : 21.9 (22-30 detik)
GDS : 162 (140 mg/dl)
Ureum : 42 (10-50mg/dl)
Kreatinin : 0.20 (<1.3mg/dl)
Bilirubin total : 6.86 (<1.1mg/dl)
Bilirubin direct : 0.52 (<0,30 mg/dl)
SGOT : 106 (<38 U/L)
SGPT : 22 (<41 )U/L)
Elektrolit :
Natrium : 138 ( 136-145)
Kalium : 4,9 (3,5 5,1)
Klorida : 108 (97-111)

RBC 0.91 L (4.10- 5.50)


HGB 2.5 L (12.0- 14.0)
HCT 7.7 L (36.0- 44.0)
MCV 84 (73-89)
MCH 27.0 (24.0- 30.0)
MCHC 32.1 (32.0- 36.0)
RDW 18.6 (11.0- 16.0)
PLT 304 (200-400)
MPV 9.0 (6.0- 11.0)
PCT 0.273 (0.150- 0.500)
PDW 17.0 (11.0- 18.0)
WBC 33.4 (5.0- 15.0)

DISKUSI

Definisi
Anemia pasca perdarahan adalah penurunan
jumlah massa eritrosit (red cell mass) sehingga
tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa
oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan
perifer yang disebabkan oleh karena perdarahan.
Secara praktis, anemia ditunjukkan oleh
penurunan kadar hemoglobin, hematokrit atau
hitung eritrosit (red cell count).

Etiologi
Perdarahan hebat merupakan salah satu penyebab

dari anemia. Jika kehilangan darah, tubuh dengan


segera akan menarik cairan dari jaringan luar
pembuluh darah sebagai usaha untuk menjaga agar
pembuluh darah tetap terisi. Akibatnya, darah
menjadi lebih encer dan persentase sel darah merah
berkurang.
Pada akhirnya, peningkatan pembentukan sel darah
merah akan memperbaiki anemia tersebut secara
fisiologis. Tetapi pada awalnya anemia bisa sangat
berat, terutama jika timbul dengan segera karena
kehilangan darah yang tiba-tiba dan masif, seperti
yang terjadi pada kecelakaan atau proses

Proses Hematopoiesis
Hematopoiesis:
1. Masa prenatal
Hematopoiesis masa prenatal terjadi ketika masih di
dalam kandungan. Terdapat 3 fase:
a. Fase mesoblastik
Di sebut juga fase prahepar
Janin usia minggu ke-2
Terjadi di yolk sack
Terbentuk eritrosit primitif (sel yang masih
berinti)

b. Fase hepatik
Janin usia minggu ke-6
Terbentuk pada hepar , lien dan timus
Terbentuk eritrosit yang sesungguhnya (sudah
tidak berinti). Juga terbentuk semigranulosit dan
trombosit. Selain itu juga limfosit (dari timus)
c. Fase Myeloid
Janin bulan ke-4
Terjadi di sumsum tulang, karena sudah ada
proses pembentukan tulang (osifikasi)
Darah sudah terbentuk lengkap

2. Masa post natal


Pembentukan utama terjadi di sumsum tulang. Pada

keadaan patologis (sumsum tulang sudah tidak


berfungsi atau kebutuhan meningkat), pembentukan
dapat terjadi di nodus limfatikus, lien, timus dan
hepar. Pembentukan darah di luar sumsum tulang ini
disebut hematopoiesis ekstra meduler.
Nodus limfatikus, lien dan timus dalam keadaan
normal juga berfungsi dalam maturasi dan aktivasi
limfosit.

Gejala Klinis
1.
2.
3.

4.
5.
6.

7.
8.
9.

Pucat
Takipneu
Denyut nadi cepat dan lemah
Sesak napas
Tekanan darah menurun
Sinkop
Sianosis
Nyeri perut
Nyeri dada

Terdapat dua keadaan yang dapat timbul akibat


anemia pasca perdarahan:
1. Pengaruh yang timbul segera
Kehilangan darah sebanyak 12-15% akan
memperlihatkan gejala pucat, takikardi, tekanan
darah dapat normal atau menurun. Kehilangan
15-20% akan memperlihatkan gejala tekanan
darah menurun, takikardi, kelemahan, gelisah,
pingsan dan dapat terjadi syok reversible. Pada
kehilangan lebih dari 20% akan mengakibatkan
syok irreversible sampai kematian.
2. Pengaruh lambat
Gejala yang ditemukan ialah leukositosis, nilai
Hb, eritrosit rendah akibat hemodilusi dan dapat

Penatalaksanaan
- Pengobatan tergantung kepada kecepatan hilangnya
darah dan beratnya anemia yang terjadi. Satu-satunya
pengobatan untuk kehilangan darah dalam waktu yang
singkat atau anemia yang berat adalah transfusi sel
darah merah. Selain itu, sumber perdarahan harus
ditemukan dan perdarahan harus dihentikan.
- Jika darah hilang dalam waktu yang lebih lama atau
anemia tidak terlalu berat, tubuh dapat menghasilkan
sejumlah sel darah merah yang cukup dengan proses
fisiologis untuk memperbaiki anemia tanpa harus
menjalani transfusi.
- Zat besi yang diperlukan untuk pembentukan sel
darah merah juga hilang selama perdarahan. Karena
itu sebagian besar penderita anemia juga mendapatkan

Terima kasih