Anda di halaman 1dari 18

REFLEKS FISIOLOGIS DAN

PATOLOGIS

Oleh : dr. Laura O. Siagian, M.Ked(Neu), Sp.S

PENDAHULUAN
Pemeriksaan reflek fisiologik merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari pemeriksaan fisik
secara keseluruhan.
Pada kasus-kasus tertentu pemeriksaan reflek
fisiologik merupakan pemeriksaan yang sangat
penting sehingga harus dikerjakan dengan
secermat-cermatnya.

Kasus-kasus tertentu tadi berkaitan erat dengan


keluhan utama: mudah lelah, kesulitan berjalan,
kelemahan/kelumpuhann, kesemutan, nyeri otototot anggota gerak, gangguan trofi otot anggota
gerak, nyeri punggung, dan gangguan fungsi
autonom (ereksi, buang air besar, buang air kecil).

Yang dimaksud dengan reflek fisiologik adalah


muscle stretch reflexes, yang muncul sebagai
akibat rangsangan terhadap tendo atau periosteum
atau kadang-kadang terhadap tulang, sendi, fasia
atau aponeurosis.
Yang menimbulkan gerakan reflek sebenarnya
adalah muscle stretch, sedang tendo itu sendiri
hanya merupakan tempat di mana rangsangan
mudah diberikan.

DASAR PEMERIKSAAN REFLEKS

Alat yang dipergunakan biasa disebut palu refleks


(hammer reflex) yang pada umumnya dibuat dari
bahan karet, walaupun bahan lain dapat pula
dipergunakan. Namun demikian untuk mencapai
hasil yang baik, bahan karet yang lunak lebih
umum dipakai. Bahan tersebut tidak akan
menimbulkan rasa nyeri pada penderita. Rasa nyeri
pada pemeriksaan refleks memang harus dihindari
oleh karena akan mempengaruhi hasil
pemeriksaan.

Penderita harus dalam posisi yang seenak-enaknya


dan santai. Bagian tubuh yang akan diperiksa
harus dalam posisi sedemikian rupa sehingga
gerakan otot yang nantinya akan terjadi dapat
muncul secara optimal.
Rangsangan harus diberikan secara cepat dan
langsung; kerasnya pukulan harus dalam batas
nilai ambang, tidak perlu terlalu keras.

Oleh karena sifat reaksi bergantung pada tonus


otot, maka otot yang diperiksa harus dalam
keadaan sedikit kontraksi. Apabila akan
membandingkan refleks sisi kiri dan kanan maka
posisi ekstremitas harus simetris.

PENILAIAN HASIL REFLEKS


Refleks dapat dinilai sebagai negatif, menurun,
normal, meninggi dan hiperaktif.
Ada pula yang menggunakan kriteria kuantitatif
sebagai berikut:
O
= negatif
+1 = lemah (dari normal)
+2 = normal
+3 = meninggi, belum patologik
+4 = hiperaktif, sering disertai klonus, sering
merupakan indikator suatu penyakit

JENIS-JENIS PEMERIKSAAN REFLEKS


FISIOLOGIS

Pemeriksaan refleks pada lengan

Refleks biseps, triseps, brakhioradialis dan fleksor


jari merupakan sekelompok refeleks pada lengan/
tangan yang padahal penting. Untuk itu
pemeriksaan refleks pada lengan dibatasi pada
keempat jenis refleks tadi.

Pemeriksaan refleks biseps

Pasien duduk dengan santai


Lengan dalam keadaan lemas, lengan bawah dalam posisi antara
fleksi dan ekstensi serta sedikit pronasi
Siku penderita diletakkan pada lengan/tangan pemeriksa
Pemeriksa meletakkan ibu jarinya di atas tendo biseps, kemudian
pukullah ibu jari tadi dengan reflex hammer yang telah tersedia
Reaksi utama adalah kontraksi otot biseps dan kemudian fleksi
lengan bawah
Oleh karena biseps juga merupakan supinator untuk lengan bawah
maka sering kali muncul pula gerakan supinasi
Apabila refleks meninggi maka zona refleksogen akan meluas dan
refleks biseps ini dapat muncul dengan mengetuk daerah klavikula
Juga, apabila refleks ini meninggi maka akan disertai gerakan fleksi
pergelangan tangan serta jari-jari dan aduksi ibu jari
M. Biseps brakhii dipelihara oleh n. muskulokutaneus

Pemeriksaan refleks triseps

Pasien duduk dengan santai


Lengan pasien diletakkan di atas lengan/tangan pemeriksa
Posisi pasien sama dengan posisi pada pemeriksaan refleks
biseps
Lengan penderita dalam keadaan lemas, relaksasi sempurna
Apabila telah dipastikan bahwa lengan pasien sudah benarbenar relaksasi (dengan meraba triseps: tak teraba tegang),
pukulan tendo yang lewat di fossa olekrani
Maka triseps akan berkontraksi dengan sedikit menyentak,
gerakan ini dapat dilihat dan sekaligus dirasakan oleh lengan
pemeriksa yang menopang lengan pasien.
M. Triseps dipelihara oleh nervus radialis (C6-C8), proses
refleks melalui C7

Pemeriksaan refleks brakioradialis


Posisi pasien dan pemeriksa sama dengan
pemeriksaan refleks biseps
Pukullah tendo brakhioradialis pada radius bagian distal
dengan memakai reflekx hammer yang datar
Maka akan timbul gerakan menyentak pada tangan
M. Brakioradialis dipelihara oleh n. Radialis melewati C6

Pemeriksaan refleks pada tungkai

Pemeriksaan refleks patela / kuadriseps


Pasien dalam posisi duduk dengan tungkai menjuntai
Daerah kanan-kiri tendo patela terlebih dahulu diraba, untuk
menetapkan daerah yang tepat
Tangan pemeriksa yang satu memegang paha penderita bagian
distal, dan tangan yang lain memukul tendo patela tadi dengan reflex
hammer secara cepat (ayunan reflex hammer bertumpu pada sendi
pergelangan tangan)
Tangan yang memegang paha tadi akan merasakan kontraksi otot
kuadriseps, dan pemeriksa dapat melihat tungkai bawah yang
bergerak secara menyentak untuk kemudian berayun sejenak
Apabila ada kesulitan dengan pemeriksaan tadi maka pakailah cara
berikut:

Tangan pasien saling berpegangan


Kemudian penderita diminta untuk menarik kedua tangannya
Pukullah tendo patella ketika penderita menarik tangannya
Cara ini disebut reinforcement

Apabila pasien tidak mampu duduk, maka pemeriksaan refleks


patella dapat dilakukan dengan posisi berbaring

Pemeriksaan refleks Achilles


Pasien dapat duduk dengan tungkai menjuntai, atau
berbaring, atau dapat pula penderita berlutut di mana
sebagian tungkai bawah dan kakinya menjulur di luar
meja pemeriksa
Pada dasarnya pemeriksa sedikit meregangkan tendo
Achilles dengan cara menahan ujung kaki kea rah
dorsofleksi
Tendo Achilles dipukul dengan ringan tapi cepat
Akan muncul gerakan fleksi kaki yang menyentak
Bila perlu dapat dikerjakan reinforcement sebagaimana
dilakukan pada refleks patela

PEMERIKSAAN REFLEKS PATOLOGIS

Pada umumnya pemeriksaan reflek patologik


merupakan respon yang tidak umum dijumpai pada
individu normal.
Beberapa respon yang timbul adalah minimal, dan
dalam keadaan normal munculnya terbatas, namun aktif
pada munculnya penyakit.
Sebagian besar refleks patologik berhubungan dengan
traktus kortikospinal dan jaras-jarasnya, serta juga
terjadi pada penyakit-penyakit lobus frontal dan
gangguan sistem ekstrapiramidal.
Refleks patologik pada ekstremitas bawah lebih
konstan, lebih mudah muncul, lebih reliabel dan lebih
mempunyai korelasi secara klinis dibandingkan pada
ekstremitas atas.

DASAR PEMERIKSAAN REFLEKS


Selain dengan jari-jari tangan untuk pemeriksaan
refleks pada ekstremitas atas, adalah
menggunakan palu refleks yang pada umumnya
dibuat dari bahan karet, walaupun bahan lain dapat
pula dipergunakan. Namun pada refleks hammer,
menggunakan tangkai dengan ujung yang tidak
tumpul untuk memeriksa refleks pada ekstremitas
bawah.
Pasien harus dalam posisi yang seenak-enaknya
dan santai.
Rangsangan harus diberikan secara cepat dan
langsung.

JENIS-JENIS PEMERIKAAN REFLEKS PATOLOGIK

a. Babinskis sign
Cara: pemeriksa menggores bagian lateral telapak kaki
dengan ujung palu refleks
Reaksi: dorsofleksi ibujari kaki disertai plantarfleksi dan
gerakan melebar jari-jari lainnya

b. Chaddocks sign
Cara: pemerika menggores di bawah dan
sekitar maleolus eksterna ke arah lateral dengan
palu refleks ujung tumpul
Reaksi: sama dengan Babinskis sign
c. Gordons sign
Cara: pemeriksa menekan otot-otot betis
dengan kuat
Reaksi: sama dengan Babinskis sign

d. Schaeffers sign
Cara: pemeriksa menekan tendo Achilles dengan
kuat
Reaksi: sama dengan Babinskis sign
e. Oppenheims sign
Cara: pemeriksa memberi tekanan yang kuat
dengan ibu jari dan telunjuk pada permukaan
anterior tibia kemudian digeser ke arah distal
Reaksi: sama dengan Babinski sign