Anda di halaman 1dari 74

Diagnosa dan Pemeriksaan

Prostodonsi

Pemeriksaan
1. Pemeriksaan subjektif. Yang diperiksa antara
lain:
Penyakit sistemik, misalnya: hipertensi, diabetes
mellitus. Kebiasaan jelek, misalnya: mengunyah di
satu sisi, bruxism, dsb. Apakah pernah memakai
gigitiruan, jika pernah bagaimana keluhankeluhan gigi tiruan yang lama.
2. Pemeriksaan objektif. Pemeriksaan objektif
terbagi dua:
a. Pemeriksaan ekstra oral.
b. Pemeriksaan intra oral.

Pemeriksaan ektra oral


meliputi pemeriksaan
terhadap:
1. Bentuk muka/wajah
a. Dilihat dari arah depan.
- oval/ovoid
- persegi/square
- lonjong/tapering
b. Dilihat dari arah samping.
- cembung
- lurus
- cekung

2. Bentuk bibir
- panjang, pendek
- normal
- tebal, tipis
- tegang, kendor (flabby)
Tebal tipis bibir akan mempengaruhi retensi
gigitiruan yang akan dibuat, dimana bibir yang tebal
akan memberi retensi yang lebih baik.
3. Sendi rahang
- mengeletuk
- kripitasi
- sakit

Pemeriksaan intra oral meliputi


pemeriksaan terhadap:
1. Pemeriksaan terhadap gigi, antara lain:
a. Gigi yang hilang
b. Keadaan gigi yang tinggal:
- gigi yang mudah terkena karies
- banyaknya tambalan pada gigi
- mobility gigi
- elongasi
- malposisi
- atrisi
Jika dijumpai ada kelainan gigi yang mengganggu
pada pembuatan gigitiruan, maka sebaiknya gigi
tersebut dicabut.

c. Oklusi : diperhatikan hubungan oklusi gigi atas


dengan gigi bawah yang ada. Angle klas I, II, dan
III.
d. Adanya ovrclosed occlusion pada gigi depan,
dapat disebabkan, antara lain karena :
- angular cheilosis
- disfungsi dari TMJ
- spasme otot-otot kunyah
Spasme otot-otot kunyah dapat diperbaiki
dengan menambah dimensi vertical pada
pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan.
Selain deep overbite, harus diketahui juga
ukuran over jet dari gigi depan. Dalam
keadaan normal, ukuran over bite dan over
jet ini berkisar antara 2 mm.

e. Warna gigi
Warna gigi pasien harus dicatat
sewaktu akan membuat gigitiruan sebagian
lepasan terutama pada pembuatan gigitiruan di
daerah anterior untuk kepentingan estetis.
f. Oral hygiene
- adanya karang gigi
- adanya akar gigi
- adanya gigi yang karies
- adanya peradangan pada jaringan
lunak, misalnya : gingivitis

g. Rontgen foto.
Dengan rontgen foto dapat diketahui adanya:
kualitas tulang pendukung dari gigi
penyangga
gigi-gigi yang terpendam, sisa-sisa akar
- kista
- kelainan periapikal
- resorbsi tulang
- sclerosis (penebalan tulang)
h. Resesi gingival
Terutama pada gigitiruan sebagian lepasan yang
dilihat untuk gigi penyangga dari gigitiruan tersebut.
i. Vitalitas gigi

2. Pemeriksaan terhadap mukosa / jaringan lunak


yang menutupi tulang alveolar, seperti:
- inflamasi, pada keadaan ini mukosa harus
disembuhkan terlebih dahulu sebelum dicetak.
- bergerak/tidak bergerak.
- keras/lunak
3. Pemeriksaan terhadap bentuk tulang
alveolar.
- bentuk U, V
- datar, sempit, luas, undercut
4. Ruang antar rahang
- besar, dapat disebabkan karena
pencabutan yang sudah terlalu lama
- kecil, dapat disebabkan karena elongasi
- cukup, minimal jaraknya 5 mm

5. Adanya torus
-pada palatum disebut torus palatinus
-pada mandibula disebut torus mandibula Torus ini
bila keadaan mengganggu pada pembuatan gigitiruan, harus
dibuang
6. Pemeriksaan jarngan pendukung gigi
7. Pemeriksaan terhadap frenulum Apakah perlekatannya
tinggi atau rendah sampai puncak alveolar, dimana jika
perlekatan yang rendah akan mengganggu gigitiruan
yang dibuat, sehingga perlu dilakukan pembebasan.
Setelah dilakukan pemeriksaan- pemeriksaan terhadap
pasien, dapat diketahui apakah masih perlu dilakukan
perawatan pendahuluan sebagai persiapan perawatan
prostodonti.

Akibat kehilangan gigi


1.Mastikasi / pengunyahan

2. Jaringan periodontal
3. Otot-otot dan syaraf-syaraf pengunyahan
4. TMJ / sendi temporo mandibula
5. Estetika
6. Fonetik / bicara

Pengertian Gigi Tiruan Tetap

Pembuatan Gigi Tiruan yang menggantikan


satu atau lebih gigi yang hilang dan tidak
dapat dilepas oleh pasiennya sendiri maupun
dokter gigi karena dipasangkan secara
permanen pada gigi asli yang merupakan
pendukung utama dari restorasi.

Tujuan Pembuatan Gigi Tiruan


1. Untuk mengembalikan fungsi-fungsi :
a. Kunyah / mastikasi
B. Estetika
C. Bicara
2. Untuk mengembalikan kesehatan :
a. Jaringan penyangga gigi
B. Atot & saraf pengunyahan
C. Sendi temporo mandibular (tmj).

BAGIAN-BAGIAN GTT

Bagian-bagian GTT :
1. Pemaut (Retainer)
Adalah bagian GTT yang melekatkan GTT tersebut pada
penyangga gigi. Macam-macam retainer :
- Intra Korona
- Ekstra Korona
2. Pontik
Bagian dari GTT yang mengganti kedudukan gigi yang hilang.
Macam-macam pontik :
- Pontik sanitari
- Pontik tumpang lingir
- Pontik pelana
- Pontik terpedo/kronis

3. Konektor/Penghubung
-

Bagian GTT yang menghubungkan pontik dan pemaut. Jenis konektor :


Konektor Tegar
Konektor setengah tegar

4. Gigi penyangga ( Abutment )


Gigi asli yang digunakan untuk menyangga gigi tiruan jembatan.

Indikasi dan Kontra Indikasi


Pemakaian GTT

Indikasi pemakaian GTT yaitu:


Menggantikan gigi yang hilang satu atau
beberapa gigi
Gigi yang dijadikan sebagai penyangga harus
sehat dan jaringan periodontal relatif baik
Pasien berumur 20 55 tahun
keadaan processus alveolar is baik
kesehatan dan kebersihan mulut pasien baik
pasien mau dibuatkan gigi tiruan tetap (Jubhari.
2007).

Kontraindikasi pemakaian GTT :

Pasien yang tidak kooperatif


Kondisi kejiwaan pasien kurang menunjang
Kelainan jaringan periodonsium
Prognosis yang jelek dari gigi penyangga
Diastema yang panjang
Kemungkinan kehilangan gigi pada lengkung gigi y
ang sama
Resorbsi lingir alveolus yang besar pada daerah a
nodonsia (Jubhari. 2007).

Derajat Kegoyangan Gigi

Kegoyangan gigi dibedakan menjadi


Derajat 1 : kegoyangan yang sedikit lebih besa
r daripada normal
Derajat 2 : kegoyangan gigi sekitar 1 mm
Derajat 3 : kegoyangan gigi lebih besar dari 1
mm pada segala arah dan atau gigi dapat ditek
an kearah apikal (Abu Bakar, 2010).

Klasifikasi kennedy

KLAS I
: AREA EDENTULOUS TERLETAK DI BAGIAN
POSTERIOR DARI GIGI YANG MASIH ADA DAN BERADA
PADA KEDUA SISI RAHANG.
KLAS II
: AREA EDENTULOUS TERLETAK DI BAGIAN
POSTERIOR DARI GIGI YANG MASIH ADA, TETAPI HANYA
BERADA PADA SALAH SATU SISI RAHANG SAJA.
KLAS III
: AREA EDENTULOUS TERLETAK DI BAGIAN
POSTERIOR MAUPUN ANTERIOR DARI GIGI-GIGI YANG
MASIH ADA DAN HANYA PADA SALAH SATU RAHANG
SAJA .

KLAS IV
: AREA EDENTULOUS MELEWATI GARIS
TENGAH RAHANG DAN TERLETAK PADA BAGIAN ANTERIOR
DARI GIGI-GIGI YANG MASIH ADA

Klas I
1. Area edentulous sama.
2. sering dijumpai pada pasien yang telah beberapa
tahun
kehilangan giginya dan pada rahang
bawah.
3. terdapat variasi pada derajat resorpsi dari residual
ridge
4. terjadi pengurangan jarak antar lengkung rahang
bagian posterior
5. stabilitas dari gigi tiruan yang akan dipasang
dipengaruhi oleh tenggang waktu pasien tak bergigi.

GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN DENGAN


DESAIN BILATERAL DAN PERLUASAN BASIS DISTAL
MENJADI PILIHAN PERAWATAN PROSTODONTIK
UNTUK KLAS INI.

Kelas 2
1. Area edentulous sama
2. terlihat resorpsi tulang alveolar yang lebih
banyak daripada klas I
3. gigi antagonis relatif lebih ekstrusi dan tidak
teratur daripada klas I,
4. terkadang diperlukan pencabutan 1 atau
lebih dari gigi antagonis yang ekstrusi, dan
gangguan TMJ karena pengunyahan satu sisi.

Gigi tiruan sebagian lepasan dengan desain


bilateral dan perluasan basis distal menjadi
pilihan perawatan prostodontik untuk klas ini.

Kelas 3
1. kedua gigi tetangganya tidak lagi mampu
member dukungan untuk protesa secara
keseluruhan (Edentolus sama)
2. area edentulous panjang, bentuk atau panjang
dari akar gigi tetangganya kurang memadai
3. resorspsi servikal pada tulang alveolar di
sekitarnya disertai goyangnya gigi tetangga
secara berlebihan dan adanya beban oklusal
yang belebihan

Gigi tiruan sebagian lepasan dengan desain


bilateral dan dukungan gigi (tooth borne)
menjadi pilihan perawatan prostodontik untuk
klas ini.

Kelas IV
Area edentulous sama
Gigi tiruan cekat diindikasikan untuk klas IV
bila gigi tetangga masih kuat
alternatif lain yaitu GTSL dengan desain
bilateral dan dukungan gigi atau jaringan atau
kombinasi. Gigi Tiruan sebagian lepasan lebih
dianjurkan bila kasus meragukan.

Kelas v
1. Area edentulous paredental dengan keadaan
gigi pada sisi anteriornya tak mampu
menjadi gigi penyangga
2. karena bentuk atau panjang dari akar gigi
kurang memadai sebagai gigi penjangkar
3. tulang alveolar yang lemah, daya oklusal
yang besar, dan area edentulous yang luas

GTSL dengan desain bilateral dan basis yang


berujung bebas di bagian anterior menjadi
pilihan perawatan prostodontik untuk klas ini.

Kelas VI
Area edentulous paredental dengan gigi
tetangga asli pada sisi anterior dan
posteriornya dapat menjadi gigi penyangga
laon area edentulous tidak luas, bentuk atau
panjang akar gigi tetanga mamdai sebagai gigi
penyangga
sisa tulang alveolar memadai, dan daya
kunyah pasien tidak besar

Gigi tiruan cekat dan GTSL tooth borne dengan


desain unilateral (protesa sadel) menjadi plihan
perawatan prostodontik untuk klas ini.

Klasifikasi Applegate Kennedy juga mengenal modifikasi untuk


area edentulous tambahan selain keenam klas di atas. Berikut
aturan penulisan untuk modifikasi:

Klasmodifikasi A apabila ada


tambahan area edentulous yang
terletak di area anterior.
Klasmodifikasi P apabila ada
tambahan area edentulous yang
terletak di area posterior.

Penambahan ruang lebih dari satu di muka


huruf petunjuk modifikasi diberi tambahan
angka Arab sesuai dengan jumlah area
edentulous tambahan. Misalnya Klas V
modifikasi 2A berarti klas V klasifikasi
Applegate Kennedy dengan tambahan area
pada bagian anterior.
Khusus klas IV Applegate Kennedy tidak ada
tambahan modifikasi.

Prinsip Biomekanis Preparasi Gigi


Tiruan

1.
2.
3.
4.
5.

Pemeliharaan struktur gigi


Bentuk retensi dan resistensi
Daya tahan struktur restorasi
Integritas marginal
Pemeliharaan jaringan periodontial

Desain Gigi Tiruan Tetap

Adapun 6 macam desain dari GTC yang


perbedaannya terletak pada dukungan yang
ada pada masing-masing ujung pontik. Kelima
desain ini adalah:

1. Fixed-fixed bridge
Suatu gigitiruan yang pontiknya didukung secara kaku
pada kedua sisi oleh satu atau lebih gigi penyangga. Pada
bagian gigi yang hilang yang terhubung dengan gigi
penyangga, harus mampu mendukung fungsional dari gigi
yang hilang.

Indikasi Penggantian 1 3 gigi yang saling bersebelahan; Pasien


yang punya tekanan kunyah normal kuat; Gigi penyangga tidak
terlalu besar.; Gigi penyangga derajat goyangnya 1 (normal).
Kontra-Indikasi Pontics/span yang terlalu panjang; Gigi
penyangga memiliki kelainan periodontal atau karies esktensif;
Pasien yang masih muda dengan ruang pulpa besar.
Keuntungan Memiliki indikasi terluas dari semua jenis GTJ; Punya
efek splinting terbaik dan karenanya sering digunakan sebagai
perawatan penunjang periodontal.
Kerugian Jika span terlalu panjang terjadi resiko adanya gaya
ungkit/bent/efek flexural. Hal ini terjadi pada saat makan, bolus
makanan berada baik di gigi penyangga atau berada di tengah
span/pontics.

Semi fixed bridge


Suatu gigitiruan yang didukung secara kaku pada satu
sisi, biasanya pada akhir distal dengan satu atau lebih gigi
penyangga. Satu gigi penyangga akan menahan perlekatan
intracoronal yang memungkinkan derajat kecil pergerakan
antara komponen rigid dan penyangga gigi lainnya atau gigi.

Syarat
abutment normal.

:Tekanan kunyah normal/ringan dan ukuran

Konstruksi :Non-rigid Connector di mesial diastema untuk


mencegah tertariknya key karna gaya ACF.
Indikasi Salah satu abutment miring >20 atau intermediate
abutment; Kehilangan 1 atau 2 gigi dengan salah satu gigi
penyangga vital; Kehilangan 2 gigi dengan gigi penyangga
intermediate.

Keuntungan Adanya konektor non-rigid mencegah


terjadinya gaya ungkit sebagaimana yang terjadi pada GTJ
rigid-fixed; Preparasi tidak terlalu ekstensif sehingga pasien
yang ruang pulpanya besar tidak menjadi masalah; Prosedur
sementasi bertahap sehingga jika terjadi kesalahan tidak
semua unit harus diulang.
Kerugian Pembuatan relatif sulit, terutama keakuratan
keduaunit retainer; Harganya relatif lebih mahal; Efek splinting
kurang;Risiko fraktur pada kunci tinggi.

Cantilever bridge
Suatu gigi tiruan yang didukung hanya pada satu sisi
oleh satu atau lebih abutment. Pada cantilever bridge ini, gigi
penyangga dapat mengatasi beban oklusal dari gigitiruan.

Syarat: tekanan kunyah ringan, abutment sehat, dukungan tulang


baik.
Indikasi Regio anterior, khususnya gigi I2 yang beban oklusal
kecil.
Kontra-Indikasi Regio posterior, kecuali pada P2 bawah yang
beban oklusalnya tidak terlalu besar.
Keuntungan Desain sederhana, pembuatannya mudah namun
hasil maksimal; Jaringan yang rusak tidak banyak; Estetika paling
baik karena kesederhanaan desainnya serta menggunakan fullporcelain crown.
Kerugian Punya daya mengungkit yang dapat merusak jaringan
periodonsium (baik tulang maupun mukosa); Terjadi rotasi palatolabial, namun hal ini jarang terjadi karena adanya keseimbangan
jaringan mukosa bibir, pipi, dan lidah; Indikasi sangat terbatas.

Spring Cantilevar Bridge


Suatu gigitiruan yang didukung oleh sebuah bar yang dihubungkan
ke gigi atau penyangga gigi. Lengan dari bar yang berfungsi sebagai
penghubung ini dapat dari berbagai panjang, tergantung pada posisi dari
lengkung gigi penyangga dalam kaitannya dengan gigi yang hilang. Lengan
dari bar mengikuti kontur dari palatum untuk memungkinkan adaptasi
pasien. Jenis gigitiriruan ini digunakan pada pasien yang kehilangan gigi
anterior dengan satu gigi yang hilang atau terdapat diastema di sekitar
anterior gigi yang hilang.

Indikasi Dimana estetika merupakan hal utama, GTJ jenis ini


menjadi pilihan terbaik karena letak gigi penyangga tidak tepat
disebelah pontics sehingga tidak terlalu terlihat jika menggunakan
logam; Gigi dalam 1 regio tidak memungkinkan untuk digunakan
sebagai gigi penyangga, baik karena faktor anatomis (akar &
periodontal) maupun karena faktor fisik retainernya; Jika diperlukan
adanya diastema (umumnya faktor estetik).
Kontra-Indikasi Pasien muda yang mahkota klinisnya terlalu
pendek sehingga kurang retentif untuk dijadikan penyangga; Pada
gigi di mandibula; Bentuk palatal tidak memungkinkan, entah
karena adanya torus atau bentuknya yang terlalu dangkal/dalam.
Selain alasan fungsional, faktor estetik juga menjadi masalah; Gigi
penyangga tidak memiliki kontak proksimal, menyebabkan gigi
berisiko bergerak.

Keuntungan Mendapat hasil estetika yang sangat


baik; Waktu kunjungan relatif lebih singkat; Desain
umumnya disambut baik oleh pasien karena faktor
estetika dan kekuatan yang tahan lama; Tingkat
kegagalan rendah selama preparasi dan pembuatannya
benar.
Kerugian Palatal bar dapat membengkok/patah
suatu saat jika ada gaya yang cukup besar seperti
trauma atau sering bergerak atau bahkan secara alami;
Meskipun waktu kunjungan singkat, waktu pembuatan
cukup lama dan kompleks serta butuh keahlian.

Compound Bridge
Merupakan kombinasi dari 2 jenis GTJ atau lebih
dengan tujuan untuk membuat suatu unit yang
dapat saling membagi/mendistribusi tekanan
kunyah diantara pontik ke retainernya. Beberapa
jenisnya antara lain: rigid-fixed & semi-rigid, rigidfixed & spring, rigid-fixed & cantilever. GTJ ini
digunakan karena tidak mungkin hanya
menggunakan 1 jenis/unit GTJ saja pada satu
kasus disebabkan oleh banyaknya gigi yang hilang
(flexural effect).

Keuntungan utama dari GTJ ini adalah mamp


memecah 1 unit GTJ yang kompleks menjadi
beberapa unit fungsional dan mencegah
kegagalan restorasi seperti contoh diatas.

Adhesive bridge/resin-bonded fixed partial


denture/maryland bridge
Merupakan GTC yang sangat konservatif
karena preparasi yang sangat minimal.
Dilakukan preparasi gigi penyangga hanya
sebatas email. GTC tipe ini terdiri dari satu
atau dua beberapa pontik yang didukung
retainer tipis yang direkatkan dengan semen
dengan sistem etcing bonding ke email gigi
penyangga di bagian lingual dan proksimal.

Tahap Pembuatan
Gigi Tiruan Tetap

PRINSIP PREPARASI
1.
2.
3.
4.

Memelihara struktur gigi penyangga dan jaringan sekitarnya


Menghasilkan retensi dan resistensi yang optimal
Menghasilkan struktur yang kuat dan tahan lama bagi restorasi
Menghasilkan integrasi marginal antara tepi preparasi dan tepi
restorasi

1. PREPARASI ABUTMENT
Chamfer Finishing Line

1.

2.
3.

4.
5.

Pengurangan permukaan mesial dan distal menggunakan bur intan untuk membuat
chamfer, dimulai pada marginal ridge dan akan menghasilkan suatu permukaan dinding
yang lurus rata sampai ke permukaan gusi. Permukaan sebaiknya memiliki kemiringan 5
derajat ke arah permukaan oklusal untuk mendapat retensi gesekan (trictional retention)
yang cukup.
Pengurangan 0,5 sampai 1 mm. permukaan bukal, menggunakan bur turpedo untuk
menghilangkan kecembungan permukaan bukal dan diperoleh bentuk chamfer.
Pengurangan permukaan lingual , gunakan bur turpedo sampai diperoleh bentuk
chamfer. Bagian 2/3 gingiva dngan kemiringan 5 derajat, bagian 1/3 oklusal sebaiknya
melengkung ke dalam untuk menyesuaikannya dengan permukaan lingual.
Pengurangan permukaan oklusal dengan bur intan bentuk buah pir pada airotor dan
membuang 0,5 mm struktur gigi dari permukaan oklusal.
Pengecekan hasil preparasi dan paralisme dinding aksial.

2. RETRAKSI GINGIVA &


PENCETAKAN GIGI

3. PEMBUATAN MAHKOTA
SEMENTARA
a.
b.
c.
d.

Cetak gigi yang akan dipreparasi dengan bahan alginate.


Preparasi gigi penyangga atau gigi yang akan dipasangkan GTC.
Lalu olesi gigi yang telah dipreparasi dengan vaselin.
Isi cetakan alginate dengan self curing akrilik di bagian gigi yang
dipreparasi.
e. Cetakan dikembalikan ke mulut pasien pada posisi semula.
f. Kelebihan akrilik diambil dengan bur hingga mahkota sementara sesuai
dengan bentuk gigi sebelum dipreparasi.
g. Lalu lekatkan atau pasang mahkota atau jembatan sementara tersebut ke
gigi yang telah dipreparasi dengan semen atau fletcher.

4. PROSES LABORATORIUM
a. Pembuatan die
b. Pembuatan model / pola malam mahkota/ bridge & pembuatan
pontik
c. Prossesing mahkota dan bridge
d. Pemasangan / insersi dan penyemenan
e. Kontrol dilakukan jika terjadi kesalahan atau kegagalan dalam
pembuatan bridge

Kegagalan perawatan gigi tiruan


tetap

Roberts, 1998

1. Kegagalan penyemenan
Biasanya terjadi karena retener tidak memenuhi
syarat dan teknik penyemenan yang buruk,
karena itu harus diperhatikan mahkota klinis
gigi penyangga, pemilihan bahan dan cara
pemasangan.

2. Kerusakan mekanis
Kerrusakan yang dapat terjadi adalah tuangan
logam emas retak, patah dan berubah
bentuk, kegagalan penyolderan, kegagalan
pontik.

3. Iritasi gingival
Penyebab yang paling umum adalah kebersihan
rongga mulut penderita yang buruk.faktor lain
adalah batas retainer yang jelek, anatomi
oklusi yang tidak baik, adanya over contur
pada cups atau lingual, embrasur
interproksimal yang tidak cukup, serta seluruh
kesalahan desain pontik.

4. Plak
Akumulasi plak pada gtt dapat mengakibatkan
karies yang dapat mempengaruhi gtt baik
secara langsung pada tepi retainer maupun
secara tidak langsung yang dimulai pada
daerah manapun pada gigi dan kemudian
menyebar pada permukaan yang fit dengan
tuangan logam atau kegagalan penyemenan

5. Nekrosis pulpa
Jika gigi penyangga anterior yang nekrosis diterapi
dengan apikoektomi dan menempatkan amalgam
secara retrograde, jika gigi posterior yang
nekrosis maka dibuatkan akses ke ruang pulpa
melalui retainer selanjutnya dilakukan perawatan
saluran akar dan dapat diperkuat dengan pasak
tuangan logam atau bahan lain. Bila terjadi
fraktur maka pembuatan ulang gtt harus
dilakukan dan biasanya dilakukan ekstraksi gigi
penyangga.

Perawatan Gigi Tiruan Tetap

1. Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan


cara gosok gigi rutin 3x sehari, terutama
sehabis makan dan sebelum tidur
2. Dilakukan pengontrolan secara rutin ke
dokter gigi, yang bertujuan untuk mengecek
keadaan gigi tiruan apakah terjadi kerusakan
atau tidak
3. Pembersihan karang gigi diupayakan secara
rutin, minimal dilakukan 6 bulan sekali ke
dokter gigi

Pada dasarnya pemakaian gigi tiruan jembatan


memerlukan komitmen upaya perawatan yang
intensif untuk menghidari terjadinya
kerusakan pada gigi penyangga gigi tiruan
jembatan tersebut (Anastasia, 2000).

Penatalaksanaan pada skenario


tersebut

Pemeriksaan subjektive
Keluhan utama :
gigi 15 (premolar atas kanan) fraktur yang
menyisakan 1/3 mahkota dibagian servikal
dan berdarah, terasa ngilu saat jika terkena
rangsangan.
Data medik umum
menunjukkan tidak memiliki kelainan sistemik

Pemeriksaan objektive
Pemeriksaan ekstra oral (EO)
menunjukkan tidak ada kelainan
Pemerikasaan Intra Oral (IO)
gigi 15 goyang derajat 3 dan tidak ditemukan
kalkulus
Pemeriksaan penunjang
dilakukan Foto Rontgen

Perawatan
1. Pencabutan pada gigi 15 yang mengalami
fraktur dengan tidak dilakukan perawatan
saluran akar. Karena indikasi perawatan
saluran akar sebagai berikut :
- pulpa terinfeksi (ex: pulpa terbuka karena
karies, mekanis, fraktur mahkota melibatkan
pulpa)
- resorbsi interna
- gigi non vital

2. Pembuatan desain gigi tiruan tetap (GTT)


-menggunakan Gigi tiruan fixed- fixed Bridge.
- desain retainner menggunakan ekstra
corona
- desain pintic menggunakan sadlle pontic
3. Perawatan GTT selama pemakaian agar tetap
terjaga dan tahan lama