Anda di halaman 1dari 33

Oleh:

I Wayan Merdiyana Eka Putra


Made Moniaga Prawira
DM UWKS GRESIK Kelp.C

Pembimbing:
dr. Budi Setyawan, Sp.B

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Pekerjaan
Agama
Status
Suku
Bangsa
Tanggal MRS

: Tn. M
: 56 Tahun
: Laki-laki
: Dusun Krajan, Bungah
: Pegawai Swasta
: Islam
: Sudah menikah
: Jawa
: Indonesia
: 12 November 2014, Pukul. 09.45

Anamnesis
Keluhan Utama : nyeri perut
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluh nyeri perut sejak 2 hari yang
lalu. Nyeri dirasakan pada perut sebelah kiri dan
bagian tengah. Nyeri mulai dirasakan saat malam
hari terus-menerus, hingga pasien tidak bisa
tidur. Pasien hanya bisa makan dan minum
sedikit-sedikit. Nyeri tidak dirasakan sampai ke
bahu atau tungkai. Mual muntah(-) batuk (-)
sesak (-)

Anamnesis
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien mengatakan tidak pernah mengeluh
seperti ini. HT(-), DM (-), riw maag (+)
Riwayat kebiasaan:
sering minum jamu pegal linu 3 tahun
Riwayat keluarga:
tidak ada anggota keluarga yang mengalami
sakit seperti ini.

Anamnesis
Riwayat pengobatan:
sebelumnya berobat di RS Bungah, lalu dirujuk
ke RSUD Ibnu Sina.
Riwayat kebiasaan:
Pasien sering mengkonsumsi jamu 2-3x
seminggu dan memiliki kebiasaan merokok
hingga 1 pack/hari.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum
Tekanan darah
Nadi
Respiration rate
Temperatur
Berat badan

: Lemah
: 110 / 70 mmHg
: 80 x/menit
: 21 x/menit
: 36oC
: 70 kg

Pemeriksaan Fisik
Kepala / Leher :
Mata
: Konjungtiva Anemis (-),
Sklera Icterus (-),
Hidung : Cyanosis (-),Dypneu (-)
Telinga : perdarahan (-)
penurunan pendengaran (-)
Leher
: Pembesaran KGB (-)

Pemeriksaan Fisik
Thorax :

I : pergerakan dinding dada


simetris
P : fremitus raba simetris
P : sonor
A : Vesikuler, Wheezing -/Ronchi -/-

Pemeriksaan Fisik
Abdomen :
I : perut buncit (Distended)
A : bising usus menurun
P : nyeri tekan regio epigastrium dan
hipokondrium sinistra
P : timpani
Extremitas
Akral hangat + +
+ +

Pemeriksaan Laboratorium
DARAH LENGKAP
HB
10,8
LEUKOSIT
22.800
LAJU ENDAP
15 - 30
DARAH
BERAT JENIS
1/0/0/78/
21/0
PCV
33
TROMBOSIT
310.000
MCV
95
MCH
31
MCHC
33
GDA
133
FAAL GINJAL LAKI-LAKI
BUN
20,5
SERUM
1,89

13,0 17 g%
4.500 11.000
0 15
1-2/0-1/3-5/40-50/2040/4-8
40 50%
150.000 450.000 L
80 94
26 32
32 36
< 200 mg/dL
4,8 23 g/dl
Dewasa 0,7 1,2 mg/dl

Pemeriksaan Laboratorium
FAAL HATI LAKI-LAKI
SGOT

28,6

0 31 u/L

SGPT

31,8

0 32 u/L

HBS Ag

Negatip

Negatip

ELEKTROLIT
NATRIUM

140

135 145 (mmol/Liter)

KALIUM

4,9

3,5 5,5(mmol/Liter)

KLORIDA

107

98 108 (mmol/Liter)

Pemeriksaan Radiologis
Foto thorax
(Ap/lat)

Foto BOF + LLD

Foto Diafragma

Diagnosis
Peritonitis Generalisata e.c perforasi Gaster

Terapi
Puasakan
Rehidrasi + balance cairan dengan Infus PZ
1000cc
Konsul : Sp.An, Sp.P, Sp.JP
Inj. Ceftriaxon 2 x 1g
Inf. Metronidazole 3 x 500ml
Check Lab lengkap
Rencana op besok
Levofloxacin 1 fl/hari
Nebul 3 x 1, bila sesak

PERFORASI GASTER

Anatomi Lambung
Lambung
merupakan
bagian
sistem
gastrointestinal yang terletak di antara
esofagus dan duodenum.
Secara anatomis lambung terbagi atas fundus,
korpus, dan antrum pilorikum atau pilorus.

Anatomi

Tiga perempat proksimal


yang terdiri dari fundus dan
korpus, berfungsi sebagai
penampung makanan yang
ditelan serta tempat
produksi asam lambung
dan pepsin.
Lapisan dinding gaster,
mulai dari mukosa,
submukosa, muskularis dan
serosa

Peredaran darah sangat kaya dan berasal dari empat jurusan dengan
pembuluh darah besar di pinggir kurvatura mayor dan minor serta dalam
dinding lambung.

Di belakang dan tepi madial duodenumditemukan arteri besar


(a.gastroduodenalis)Perdarahan hebat bisa terjadi karena erosi dinding
arteri itu pada tukak peptik lambung atau duodenum.

Vena dari lambung duodenum bermuara ke vena porta.


Saluran limf dari lambung semuanya akan berakhir di kelenjar paraaorta
Impuls nyeri dihantarkan melalui serabut eferen saraf simpatis.
Serabut parasimpatis berasal dari n.vagus dan mengurus sel parietal di
fundus dan korpus lambung

FISIOLOGI
Fungsi motorik lambung
- Penerima makanan dan minuman
fundus dan korpus
- Penghancur & mencampur makanan
dikerjakan oleh antrum
- Pengosongan lambung sfingter pilorus,
saraf, & hormonal
Motilitas Fungsi ini diatur oleh n.vagus

FISIOLOGI
Fungsi pencernaan & sekresi
Pencernaan protein oleh pepsin dan HCl : Pepsin berfungsi memecah
putih telur menjadi asam amino (albumin dan pepton). Asam garam
(HCL) berfungsi mengasamkan makanan, sebagai antiseptik dan
desinfektan, dan membuat suasana asam pada pepsinogen sehingga
menjadi pepsin.
Sintesis dan pelepasan gastrin dipengaruhi oleh protein yang dimakan,
peregangan antrum, alkalinisasi antrum, dan rangsangan vagus.
Sekresi faktor intrinsik memungkinkan absorpsi vitamin B12 dari usus
halus bagian distal.
Sekresi mukus membentuk selubung yang melindungi lambung serta
berfungsi sebagai pelumas sehingga makanan lebih mudah diangkut.
Sekresi bikarbonat, bersama dengan sekresi gel mukus, tampaknya
berperan sebagai barier dari asam lumen dan pepsin.

PERFORASI GASTER
Pada orang dewasa, perforasi ulkus peptik
adalah penyebab umum dari morbiditas dan
mortalitas akut abdomen.

Ulkus duodenum 2-3 kali lebih sering dari


perforasi ulkus gaster.
Satu pertiga perforasi gaster berkaitan dengan
karsinoma gaster

ETIOLOGI
Cedera tembus yang mengenai dada bagian bawah atau perut
(contoh: trauma tertusuk pisau)
Trauma tumpul perut yang mengenai lambung. Lebih sering
ditemukan pada anak-anak dibandingkan orang dewasa.
Obat aspirin, NSAID (misalnya fenilbutazon, antalgin,dan natrium
diclofenac) serta golongan obat anti inflamasi steroid diantaranya
deksametason dan prednisone. Sering ditemukan pada orang
dewasa.
Kondisi yang mempredisposisi : ulkus peptikum, appendicitis akut,
divertikulosis akut, dan divertikulum Meckel yang terinflamasi.
Benda asing ( misalnya tusuk gigi atau jarum pentul) dapat
menyebabkan perforasi oesophagus, gaster, atau usus kecil dengan
infeksi intra abdomen, peritonitis, dan sepsis. (Mansjoer, Arif et al.,
2000)

PATOFISIOLOGI
Dalam keadaan normal, lambung relatif bersih
dari bakteri dan mikroorganisme lain karena
kadar asam intraluminalnya yang tinggi.

Kebanyakan orang yang mengalami trauma


abdominal memiliki fungsi gaster normal dan
tidak berada dalam resiko kontaminasi bakteri
setelah perforasi gaster.

Sebelumnya sudah memiliki masalah gaster


beresiko terhadap kontaminasi peritoneal
dengan perforasi gaster.
Kebocoran cairan asam lambung ke rongga
peritoneal sering berakibat peritonitis kimia
yang berat.

Jika kebocoran tidak ditutup dan partikel


makanan mencapai rongga peritoneal
peritonitis kimia peritonitis bakterial.
Pasien mungkin bebas gejala untuk beberapa
jam antara peritonitis kimia awal sampai
peritonitis bakterial kemudian.

Adanya bakteri di rongga peritoneal


merangsang influks sel-sel inflamasi akut.
Omentum dan organ dalam cenderung untuk
melokalisasi tempat inflamasi, membentuk
flegmon (ini biasanya terjadi pada perforasi
usus besar).

Hipoksia memfasilitasi pertumbuhan


bakteri anaerob dan menyebabkan
pelemahan aktivitas bakterisid dari granulosit
peningkatan aktivitas fagosit granulosit,
degradasi sel, hipertonisitas cairan
membentuk abses.

Jika tidak diterapi bakteremia, sepsis ,


kegagalan multi organ, dan syok.

TANDA DAN GEJALA


Nyeri perut hebat yang makin meningkat
dengan adanya pergerakan disertai nausea,
vomitus, pada keadaan lanjut disertai demam
dan mengigil.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pada area perut: periksa apakah ada
tanda-tanda eksternal seperti luka, abrasi, dan atau
ekimosis. Amati pasien: lihat pola pernafasan dan
pergerakan perut saat bernafas, periksa adanya distensi
dan perubahan warna kulit abdomen. Pada perforasi
ulkus peptikum pasien tidak mau bergerak, biasanya
dengan posisi flexi pada lutut, dan abdomen seperti
papan.
Palpasi dengan halus, perhatikan ada tidaknya massa
atau nyeri tekan. Bila ditemukan tachycardi, febris, dan
nyeri tekan seluruh abdomen mengindikasikan suatu
peritonitis. rasa kembung dan konsistensi sperti
adonan roti mengindikasikan perdarahan intra
abdominal.

Nyeri perkusi mengindikasikan adanya


peradangan peritoneum
Pada auskultasi : bila tidak ditemukan bising usus
mengindikasikan suatu peritonitis difusa.
Pemeriksaan rektal dan bimanual vagina dan
pelvis : pemeriksaan ini dapat membantu menilai
kondisi seperti appendicitis acuta, abscess tuba
ovarian yang ruptur dan divertikulitis acuta yang
perforasi. (Mansjoer, Arif et al., 2000)