Anda di halaman 1dari 9

TEKNIK PENYANGGAAN DAN

PERKUATAN PADA
TEROWONGAN

Tujuan membantu masa batuan menyangga


dirinya sendiri

- Tahap I, tunnel belum mencapai x-x.


Massa batuan berada dalam keadaan
seimbang dengan massa batuan
sekelilingnya. Tekanan penyangga P0 = insitu stress Pi
- Tahap 2, tunnel melewati x-x, Pi turun
menjadi 0. Tunnel tidak akan runtuh,
karena deformasi menunjukkan
perkembangan perpindahan radial pada
jarak tertentu pada batas penggalian.

- Tahap 3, tunnel sudah selesai dimucking dan


steel set sudah selesai dipasang sampai
face.Saat ini penyangga belum terbebani (titik
D) karena belum terjadi deformasi pada tunnel.
Perilaku tegangan-tegangan batuan tidak
dipengaruhi waktu (titik B dan C).
- Tahap 4, tunnel face maju 1 kali diameter.
Deformasi radial mencapai kurva CEG dan BFH,
sehingga menyebabkan penyangga terbebani.
Tekanan penyangga Pi bertambah karena
deformasi radial (DEF)

- Tahap 5, kemajuan tunnel face sudah cukup


jauh, jika tidak ada penyangga-penyangga yang
dipasang, maka deformasi radial akan
berkembang sepanjang EG dan FH. Pada
dinding keseimbangan turun menjadi 0, dan
akan tetap stabil jika tidak ada lagi deformasi.
Tekanan penyanggaan yang diperlukan untuk
membatasi perpindahan atap akan turun sampai
minimum dan akan naik lagi. Hal ini terjadi
karena displacement kebawah atap dari daerah
batuan lepas di atap menyebabkan
bertambahnya berat. Sehingga tunnel akan
runtuh bila penyangga tidak dipasang.

Asumsi analisis interaksi penyangga-massa


batuan :
1. Geometri terowongan bentuk lingkaran
dengan radius awal , pajang terowongan dianggap
sebagai problem dua dimensi.
2. Tegangan in-situ, tegangan horisontal vertikal
dianggap = besarnya p0.
3. Penyangga yang dipasang dianggap menerima
tekanan penyangga radial (pi) secara seragam pada
dinding terowongan
4. Massa batuan dianggap elastik linier, dicirikan oleh
E dan .
1 3 m. c . 3 s. 2 2

5. Sifat massa batuan setelah penggalian


berperilaku plastik sempurna.
1 3 m f . c . 3 s f . 2 2

6. Regangan volumetrik,ppada saat runtuh batuan


akan mengembang (dilatasi) dan regangan
dihitung berdasarkan hkm aliran pada teori
plastisitas.
7. Massa batuan alami maupun setelah digali tidak
menunjukkan perilaku bergantung waktu
8. Zona plastis dianggap sampai radius e dan
tergantung pada tegangan in-situ P0, tekanan
penyangga (Pi) serta karakteristik massa
batuan elastik maupun pecah.
9. Masalah yang dianalisis simetri terhadap sumbu
terowongan.

Penyangga Pada Pembuatan Tunnel cara


Klasik
1. Pemasangan penyangga sementar perlu
waktu lama
2. Konrak antara penyangga sementara dengan
batuan tiak kontinu
3. Penyangga sementara memerlukan tempat
dan dapat mengurangi penampang
terowongan sampai 30%
4. Karena pemasangan penyangga tetap lama,
maka batuan disekitar tunnel kehilangan
tegangan dan mengalami deformasi yang
besar bisa terjadi overbreak

Penyangga Pada Pembuatan Tunnel cara


NATM
1. Cara penggalian tidak full face
2. Penyangga sementara dengan shotcreat
dilakukan secepatnya.
3. Keuntungannya, crack dan bagian kosong
dinding cepat terisi oleh semen. Lapisan
semen juga menimbulkan tekanan confining
yang bekerja bergerak menjadi kurva intrinsic.
Tekanan confining Pi aksi bersama antara rock
bolt dengan deformasi batuan yang ditahan oleh
semen.