Anda di halaman 1dari 21

Atresia esofagus

By
Tri hartanto

Definisi
Atresia berarti buntu, atresia esophagus
adalah suatu keadaan tidak adanya lubang
atau muara (buntu) pada esophagus
Pada sebagian besar kasus atresia esophagus
ujung esophagus buntu, sedangkan pada 1/4
1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah
berhubungan dengan trakea setinggi karina
(disebut sebagai atresia esophagus dengan
fistula).

Etiologi
Etiologi atresia esophagus merupakan
multifaktorial dan masih belum diketahui
dengan jelas.
Atresia esophagus merupakan suatu kelainan
bawaan pada saluran pencernaan.
Terdapat beberapa jenis atresia, tetapi yang
sering ditemukan adalah kerongkongan yang
buntu dan tidak tersambung dengan
kerongkongan bagian bawah serta lambung.

Hingga saat ini, penyebab kelainan ini masih


belum diketahui.
Kelainan ini juga dihubungkan dengan trisomi
21, 13, 18. Angka kejadian pada anak kembar
dinyatakan 6x lebih banyak dibanding bukan
kembar.

Manifestasi klinis
Biasanya timbul setelah bayi berumur 2-3
minggu, yaitu berupa muntah yang proyektil
beberapa saat setelah minum susu ( yang
dimuntahkan hanya susu )
bayi tampak selalu haus dan berat badan
sukar naik.
Biasanya disertai dengan hidramnion (60%)

Jika dari anamnesis didapatkan keterangan

bahwa kehamilan ibu disertai hidrmnion


hendaknya dilakukan kateterisasi esophagus .
bila kateter berhenti pada jarak < 10 cm, maka
diduga artesia esophagus.
Bila pada bayi baru lahir timbul sesak yang
disertai dengan air liur yang meleleh keluar,
dicurigai terdapat atresia esophagus.
Segera setelah diberi minum, bayi akan
berbangkis, batuk dan sianosis karena aspirasi
cairan kedalam jalan napas.

Pada fistula trakeaesofagus, cairan lambung


juga dapat masuk kedalam paru, oleh karena
itu bayi sering sianosis.
Gejalanya bisa berupa :
Mengeluarkan ludah yang sangat banyak
Terbatuk atau tersedak setelah berusaha
untuk menelan
Tidak mau menyusu
Sianosis (kulitnya kebiruan)
Adanya fistula menyebabkan ludah bisa
masuk kedalam paru-paru sehingga terjadi
resiko terjadinya pneumonia aspirasi.

Klasifikasi
Kalasia
Akalasia
Klasifikasi sistem gross

Kalasia
Chalasia ialah keadaan bagian bawah
esophagus (pada persambungan dengan
lambung) yang tidak dapat menutup secara
baik, sehingga menyebabkan regurgitasi,
terutama kalau bayi dibaringkan.
Pertolongan : memberi makanan dalam posisi
tegak, yaitu duduk dalam kursi khusus.

Akalasia
Ialah kebalikan chalasia yaitu bagian akhir
esophagus tidak membuka secara baik,
sehingga keadaan seperti stenosis atau atresia.
Disebut pula spasmus cardio-oesophagus.
Sebabnya : karena terdapat cartilage trachea
yang tumbuh ektopik dalam esophagus bagian
bawah, berbentuk tulang rawan yang ditemukan
secara mikroskopik dalam lapisan otot

Classification System Gross


Atresia esophagus
disertai dengan fistula
trakeoesofageal distal
adalah tipe yang paling
sering terjadi.
Varisi anatomi dari
atresia esophagus
menggunakan system
klasifikasi gross of
bostom yang sudah
popular digunakan.

System ini berisi antara lain.


Tipe A Atresia esophagus tanpa
fistula ; atresia esophagus murni
(10%)
Tipe B Atresia esophagus
dengan TEF proximal (<1%)
Tipe C Atresia esophagus
dengan TEF distal (85%)
Tipe D Atresia esophagus
dengan TEF proximal dan distal
(<1%)
Tipe E TEF tanpa atresia
esophagus ; fistula tipe H (4%)
Tipe F Stenosis esophagus
congenital tanpa atresia (<1%)

Diagnosis
Anamnesis :
1. Biasanya disertai dengan hidramnion (60%) dan hal ini pula yang
menyebabkan kenaikan frkuensii bayi bayi yang lahir premature.
Sebaiknya bila dari anamnesis didapatkan keterangan bahwa
kehamilan ibu disertai hidramnion, hendaknya dilakukan katerisasi
esophagus dengan kateter no 6-10F. Bila kateter terhenti pada jarak
kurang dari 10 cm, maka harus diduga terdapat atresia esophagus.
2. Bila pada bayi baru lahir timbul sesak napas yang disertai dengan air
liur yang meleleh ke luar, harus dicurigai terdapat atresia esophagus.
3. Segera setelah diberi minum, bayi akan berbangkis, batuk dan
sianosis karena aspirasi cairan kedalam jalan napas.
4. Perlu dibedakan pada pemeriksaan fisis apakah lambung terisi atau
kosong untuk menunjang atau menyingkirkan terdapatnya fistula
trakeo-esofagus.hal ini dapat dilihat pada foto abdomen.

Pemeriksaan fisis :
Ditemukan gerakan peristaltic lambung dalam usaha
melewatkan makanan melalui daerah yang sempit di
pylorus. Teraba tumor pada saat gerakan peristaltic
tersebut. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sesaat
setelah anak diberi minum.
Pemeriksaan penunjang :
Dengan memberikan barium peroral didapatkan
gambaran radiologis yang patognomonik barupa
penyempitan pylorus yang relative lebih panjang
Gambaran Radiologik :
Pada barium per os, yang patognomonik pada kelainan
ini ialah penyampitan pylorus yang relative lebih
panjang.

P. Lab
Darah Rutin
Terutama untuk mengetahui apabila terjadi suatu infeksi pada saluran
pernapasan akibat aspirasi makanan ataupun cairan.
Elektrolit
Untuk mengetahui keadaan abnormal bawaaan lain yang menyertai.
Analisa Gas Darah Arteri
Untuk mengetahui apabila ada gangguan respiratorik terutama pada
bayi.
BUM dan Serum Creatinin
Untuk mengetahui keadaan abnormal bawaan lain yang menyertai.
Kadar Gula Darah
Untuk mengetahui keadaan abnormal bawaan lain yang menyertai

Diagnosis banding
Pilorospasme, yang gejalanya akan hilang
setelah anak diberi spasmolitikum.
Prolaps mukosa lambung.

Komplikasi
Komplikasi dini, mencak
Kebocoran anastomosis
Terjadi 15-20% dari kasus. Penanganan dengan cara
dilakukan thoracostomy sambil suction terus menerus dan
menunggu penyembuhan dan penutupan anastomisis
secara spontan, atau dengan melakukan tindakan bedah
darurat untuk menutup kebocoran.
Striktur anastomisis
Terjadi pada 30-40% kasus. Penanganannya ialah dengan
melebarkan striktur yang ada secara endoskopi.
Fistula rekuren
Terjadi pada 5-14% kasus.

Komplikasi lanjut, mencakup:


Reflux gastroesofageal
Terjadi 40% kasus. Penanganannya mencakup
medikamentosa dan fundoplication, yaitu tindakan bedah
dimana bagian atas lambung dibungkus ke sekitar bagian
bawah esophagus.
Trakeomalasia
Terjadi pada 10% kasus. Penanganannya ialah dengan
melakukan manipulasi terhadap aorta untuk memberika
ruangan bagi trakea agar dapat mengembang.a
Dismotility Esofagus
Terjadi akibat kontraksi esophagus yang terganggu. Pasien
disarankan untuk makan diselingin dengan minum.

Talak
Tindakan Sebelum Operasi
Atresia esophagus ditangani dengan tindakan bedah. Persiapan operasi untuk bayi
baru lahir mulai umur 1 hari antara lain :
1. Cairan intravena mengandung glukosa untuk kebutuhan nutrisi bayi.
2. Pemberian antibiotic broad-spectrum secara intra vena.
3. Suhu bayi dijaga agar selalu hangat dengan menggunakan incubator, spine
dengan posisi fowler, kepala diangkat sekitar 45o.
4. NGT dimasukkan secara oral dan dilakukan suction rutin.
5. Monitor vital signs.
Pada bayi premature dengan kesulitan benapas, diperlukan perhatian khusus. Jelas
diperlukan pemasangan endotracheal tube dan ventilator mekanik. Sebagai
tambahan, ada resiko terjadinya distensi berlebihan ataupun rupture lambung
apabila udara respirasi masuk kedalam lambung melalui fistula karena adanya
resistensi pulmonal. Keadaan ini dapat diminimalisasi dengan memasukkan ujung
endotracheal tube sampai kepintu masuk fistula dan dengan memberikan ventilasi
dengan tekanan rendah.
Echochardiography atau pemerikksaan EKG pada bayi dengan atresia esophagus
penting untuk dilakukan agar segera dapat mengetahui apabila terdapat adanya
kelainan kardiovaskular yang memerlukan penanganan segera.

Tindakan selama oprasi


Operasi dilaksanakan dalam general endotracheal anesthesia dengan akses
vaskuler yang baik dan menggunakan ventilator dengan tekanan yang cukup
sehingga tidak menybabkan distensi lambung

Bronkoskopi pra-operatif berguuna untuk mengidentifikasi dan mengetahui


lokasi fistula.

Posisi bayi ditidurkan pada sisi kiri dengan tangan kanan diangkat di depan
dada untuk dilaksanakan right posterolateral thoracotomy. Pada H-fistula, operasi
dilakukan melalui leher karena hanya memisahkan fistula tanpa memperbaiiki
esophagus. esophagus.

Operasi dilaksanakan thoracotomy, dimana fistula ditutup dengan cara diikat


dan dijahit kemudian dibuat anastomisis esophageal antara kedua ujung proximal
dan distal dan esophagus.

Pada atresia esofagus dengan fistula trakeoesofageal, hamppir selalu jarak


antara esofagus proksimal dan distal dapat disambung langsung ini disebut dengan
primary repairyaitu apabila jarak kedua ujung esofagus dibawah 2 ruas vertebra.
Bila jaraknya 3,6 ruas vertebra, dilakukan delaved primary repair. Operasi ditunda
paling lama 12 minggu, sambil dilakukan cuction rutin dan pemberian makanan
melalui gstrostomy, maka jarak kedua ujung esofagus akan menyempit kemudian
dilakukan primary repair. Apabiila jarak kedua ujung esofagus lebih dari 6 ruas
vertebra, maka dijoba dilakukan tindakan diatas, apabila tidak bisa juga
makaesofagus disambung dengan menggunakan sebagai kolon

Setelah operasi
Tindakan Setelah Operasi
Pasca Operasi pasien diventilasi selama 5 hari.
Suction harus dilakukan secara rutin. Selang
kateter untuk suction harus ditandai agar
tidak masuk terlalu dalam dan mengenai
bekas operasi tempat anastomisis agar tidak
menimbulkan kerusakan. Setelah hari ke-3
bisa dimasukkan NGT untuk pemberian
makanan.

Prognosis
Prognosis bergantung pada jenis kelainan
anatomi dari atresia dan adanya komplikasi.
Saat ini tingkat keberhasilan operasi atresia
esophagus mencapai 90%,
Adanya defek kardioffaskular dan berat badan
lahir rendah mempengaruhi ketahanan hidup.