Anda di halaman 1dari 23

Hemoroid

Tri hartanto
1210211135

Definisi
Hemoroid adalah kumpulan dari pelebaran
satu segmen atau lebih vena hemoroidalis di
daerah anorektal.
Hemoroid bukan sekedar pelebaran vena
hemoroidalis, tetapi bersifat lebih kompleks
yakni melibatkan beberapa unsur berupa
pembuluh darah, jaringan lunak dan otot di
sekitar anorektal

Etiologi
Etiologi hemoroid sampai saat ini belum diketahui secara pasti,
beberapa faktor pendukung yang terlibat diantaranya adalah:
Penuaan
Kehamilan
Hereditas
Konstipasi atau diare kronik
Penggunaan toilet yang berlama-lama
Posisi tubuh, misal duduk dalam waktu yang lama
Obesitas.
Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan kongesti vaskular dan
prolapsus mukosa .Selain itu dikatakan ada hubungan antara hemoroid
dengan penyakit hati maupun konsumsi alkohol

Anatomi
Anal canal adalah akhir dari usus besar dengan panjang 4 cm dari
rektum
hingga orifisium anal.
Setengah bagian ke bawah dari anal canal dilapisi oleh epitel
skuamosa dan setengah bagian ke atas oleh epitel kolumnar.
Pada bagian yang dilapisi oleh epitel kolumnar tersebut membentuk
lajur mukosa (lajur morgagni).
Suplai darah bagian atas anal canal berasal dari pembuluh rektal
superior sedangkan bagian bawahnya berasal dari pembuluh rektal
inferior.
Kedua pembuluh tersebut merupakan percabangan pembuluh
darah rektal yang berasal dari arteri pudendal interna. Arteri ini
adalah salah satu cabang arteri iliaka interna.
Arteri-arteri tersebut akan membentuk pleksus disekitar orifisium
anal.

Hemoroid adalah bantalan vaskular yang terdapat di anal


canal yang biasanya ditemukan di tiga daerah utama yaitu
kiri samping, kanan depan, dan bagian kanan belakang.
Hemoroid berada dibawah lapisan epitel anal canal dan
dari plexus arteriovenosus terutama antara cabang
terminal arteri rektal superior dan arteri hemoroid superior.
Selain itu hemoroid juga menghubungkan antara arteri
hemoroid dengan jaringan sekitar.
Persarafan pada bagian atas anal canal disuplai oleh plexus
otonom, bagian bawah dipersarafi oleh saraf somatik rektal
inferior yang merupakan akhir percabangan saraf pudendal

Patogenesis
Anal canal memiliki lumen triradiate yang dilapisi bantalan
(cushion) atau alas dari jaringan mukosa.
Bantalan ini tergantung di anal canal oleh jaringan ikat yang
berasal dari sfingter anal internal dan otot longitudinal.
Di dalam tiap bantalan terdapat plexus vena yang
diperdarahi oleh arteriovenosus.
Struktur vaskular tersebut membuat tiap bantalan
membesar untuk mencegah terjadinya inkontinensia .
Efek degenerasi akibat penuaan dapat memperlemah
jaringan penyokong dan bersamaan dengan usaha
pengeluaran feses yang keras secara berulang serta
mengedan akan meningkatkan tekanan terhadap bantalan
tersebut yang akan mengakibatkan prolapsus.

Bantalan yang mengalami prolapsus akan terganggu aliran


balik venanya.
Bantalan menjadi semakin membesar dikarenakan
mengedan, konsumsi serat yang tidak adekuat, berlamalama ketika buang air besar, serta kondisi seperti
kehamilan yang meningkatkan tekanan intra abdominal.
Perdarahan yang timbul dari pembesaran hemoroid
disebabkan oleh trauma mukosa lokal atau inflamasi yang
merusak pembuluh darah di bawahnya
Ilmuan menyimpulkan bahwa sel mast memiliki peran
multidimensional terhadap patogenesis hemoroid, melalui
mediator dan sitokin yang dikeluarkan oleh granul sel mast.
Pada tahap awal vasokonstriksi terjadi bersamaan dengan
peningkatan vasopermeabilitas dan kontraksi otot polos
yang diinduksi oleh histamin dan leukotrin.

Ketika vena submukosal meregang akibat dinding


pembuluh darah pada hemoroid melemah, akan
terjadi ekstravasasi sel darah merah dan perdarahan.
Sel mast juga melepaskan platelet-activating factor
sehingga terjadi agregasi dan trombosis yang
merupakan komplikasi akut hemoroid.
Pada tahap selanjutnya hemoroid yang mengalami
trombosis akan mengalami rekanalisasi dan resolusi.
Proses ini dipengaruhi oleh kandungan granul sel mast.
Termasuk diantaranya tryptase dan chymase untuk
degradasi jaringan stroma, heparin untuk migrasi sel
endotel dan sitokin sebagai TNF- serta interleukin 4
untuk pertumbuhan fibroblas dan proliferasi.
Selanjutnya pembentukan jaringan parut akan dibantu
oleh basic fibroblast growth factor dari sel mast.

Klasifikasi
Hemoroid diklasifikasikan berdasarkan asalnya, dimana
dentate line menjadi batas histologis. Klasifikasi hemoroid
yaitu:
Hemoroid eksternal, berasal dari dari bagian distal
dentate line dan dilapisi oleh epitel skuamos yang telah
termodifikasi serta banyak persarafan serabut saraf
nyeri somatik
Hemoroid internal, berasal dari bagian proksimal
dentate line dan dilapisi mukosa.
Hemoroid internal-eksternal dilapisi oleh mukosa di
bagian superior dan kulit pada bagian inferior serta
memiliki serabut saraf nyeri

Derajat hemoroid
Menurut Person (2007), hemoroid internal
diklasifikasikan menjadi
beberapa tingkatan yakni:
Derajat I, hemoroid mencapai lumen anal canal.
Derajat II, hemoroid mencapai sfingter eksternal dan
tampak pada saat pemeriksaan tetapi dapat masuk
kembali secara spontan.
Derajat III, hemoroid telah keluar dari anal canal dan
hanya dapat masuk kembali secara manual oleh pasien.
Derajat IV, hemoroid selalu keluar dan tidak dapat
masuk ke anal canal meski dimasukkan secara manual

Gejala klinis
Gejala klinis hemoroid dapat dibagi berdasarkan jenis
hemoroid yaitu:
Hemoroid internal
1. Prolaps dan keluarnya mukus.
2. Perdarahan.
3. Rasa tak nyaman.
4. Gatal.
Hemoroid eksternal
1. Rasa terbakar.
2. Nyeri ( jika mengalami trombosis).
3. Gatal.

Diagnosis
Anamnesa
Pada anamnesis biasanya didapati bahwa pasien
menemukan adanya darah segar pada saat buang
air besar.
Selain itu pasien juga akan mengeluhkan adanya
gatal-gatal pada daerah anus.
Pada derajat II hemoroid internal pasien akan
merasakan adanya masa pada anus dan hal ini
membuatnya tak nyaman.
Pasien akan mengeluhkan nyeri pada hemoroid
derajat IV yang telah mengalami trombosis

Hemoroid internal biasanya timbul gejala


hanya ketika mengalami prolapsus sehingga
terjadi ulserasi, perdarahan, atau trombosis.
Hemoroid eksternal bisa jadi tanpa gejala atau
dapat ditandai dengan rasa tak nyaman, nyeri
akut, atau perdarahan akibat ulserasi dan
trombosis

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya
pembengkakan vena yang mengindikasikan hemoroid
eksternal atau hemoroid internal yang mengalami prolaps.
Hemoroid internal derajat I dan II biasanya tidak dapat
terlihat dari luar dan cukup sulit membedakannya dengan
lipatan mukosa melalui pemeriksaan rektal kecuali
hemoroid tersebut telah mengalami trombosis .
Daerah perianal juga diinspeksi untuk melihat ada atau
tidaknya fisura, fistula, polip, atau tumor.
Selain itu ukuran, perdarahan, dan tingkat keparahan
inflamasi juga harus dinilai

Hemoroid yang mengalami trombosis

Pemeriksaan penunjang
Anal canal dan rektum diperiksa dengan menggunakan
anoskopi dan sigmoidoskopi.
Anoskopi dilakukan untuk menilai mukosa rektal dan
mengevaluasi tingkat pembesaran hemoroid.
Side-viewing pada anoskopi merupakan instrumen
yang optimal dan tepat untuk mengevaluasi hemoroid.
Allonso-Coello dan Castillejo (2003) dalam KaidarPerson, Person, dan Wexner (2007) menyatakan bahwa
ketika dibandingkan dengan sigmodoskopi fleksibel,
anoskopi mendeteksi dengan presentasi lebih tinggi
terhadap lesi di daerah anorektal.

Gejala hemoroid biasanya bersamaan dengan inflamasi


pada anal canal dengan derajat berbeda.
Dengan menggunakan sigmoidoskopi, anus dan rektum
dapat dievaluasi untuk kondisi lain sebagai diagnosa
banding untuk perdarahan rektal dan rasa tak nyaman
seperti pada fisura anal dan fistula, kolitis, polip rektal,
dan kanker.
Pemeriksaan dengan menggunakan barium enema Xray atau kolonoskopi harus dilakukan pada pasien
dengan umur di atas 50 tahun dan pada pasien dengan
perdarahan menetap setelah dilakukan pengobatan
terhadap hemoroid

Diagnosis banding
selama evaluasi awal pasien, kemungkinan penyebab lain dari gejalagejala seperti perdarahan rektal, gatal pada anus, rasa tak nyaman, massa
serta nyeri dapat disingkirkan.
Kanker kolorektal dan anal, dan melanoma anorektal merupakan contoh
penyebab gejala tersebut.
Dibawah ini adalah diagnosa banding untuk gejala-gejala diatas:
a. Nyeri
1. Fisura anal
2. Herpes anal
3. Proktitis ulseratif
4. Proctalgia fugax
b. Massa
1. Karsinoma anal
2. Perianal warts
3. Skin tags

c. Nyeri dan massa


1. Hematom perianal
2. Abses
3. Pilonidal sinus
d. Nyeri dan perdarahan
1. Fisura anal
2. proktitis
e. Nyeri, massa, dan perdarahan
Hematom perianal ulseratif
f. Massa dan perdarahan
Karsinoma anal
g. Perdarahan
1. Polips kolorektal
2. Karsinoma kolorektal
3. Karsinoma anal

Tatalaksana
Penatalaksanaan konservatif
Sebagian besar kasus hemoroid derajat I dapat ditatalaksana
dengan pengobatan konservatif.
Tatalaksana tersebut antara lain koreksi konstipasi jika ada,
meningkatkan konsumsi serat, laksatif, dan menghindari obatobatan yang dapat menyebabkan kostipasi seperti kodein
Penelitian meta-analisis akhir-akhir ini membuktikan bahwa
suplemen serat dapat memperbaiki gejala dan perdarahan serta
dapat direkomendasikan pada derajat awal hemoroid
Perubahan gaya hidup lainnya seperti meningkatkan konsumsi
cairan, menghindari konstipasi dan mengurangi mengejan saat
buang air besar dilakukan pada penatalaksanaan awal dan dapat
membantu pengobatan serta pencegahan hemoroid, meski belum
banyak penelitian yang mendukung hal tersebut.

Pembedahan
HIST (Hemorrhoid Institute of South Texas) menetapkan
indikasi tatalaksana pembedahan hemoroid antara lain:
Hemoroid internal derajat II berulang.
Hemoroid derajat III dan IV dengan gejala.
Mukosa rektum menonjol keluar anus.
Hemoroid derajat I dan II dengan penyakit penyerta
seperti fisura.
Kegagalan penatalaksanaan konservatif.
Permintaan pasien

Pencegahan
Pencegahan hemoroid dapat dilakukan dengan:
1. Konsumsi serat 25-30 gram sehari. Makanan tinggi
serat seperti buahbuahan, sayur-mayur, dan kacangkacangan menyebabkan feses menyerap air di kolon.
Hal ini membuat feses lebih lembek dan besar,
sehingga mengurangi proses mengedan dan tekanan
pada vena anus.
2. Minum air sebanyak 6-8 gelas sehari
3. Mengubah kebiasaan buang air besar. Segera ke
kamar mandi saat merasa akan buang air besar,
jangan ditahan karena akan memperkeras feses.
Hindari mengedan.