Anda di halaman 1dari 33

SATUAN KERJA DEKONSENTRASI DINAS CIPTA KARYA DAN TATA RUANG PROVINSI JAWA TENGAH

DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG


KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

WORKSHOP

PENINGKATAN KAPASITAS KELEMBAGAAN


KSN PERKOTAAN KEDUNGSEPUR

Jakarta, 19 November 2014

Outline
1.

Latar Belakang

2.

Tujuan, Target, Strategi, dan Ruang Lingkup Kegiatan

3.

Dasar Hukum

4.

Tinjauan Literatur

5.

Tinjauan Kebijakan

6.

Tinjauan Kelembagaan pada RTR KSN Lainnya

7.

Kondisi Kelembagaan Kedungsepur

8.

Usulan Kelembagaan KSN Perkotaan Kedungsepur

LATAR BELAKANG

Kawasan strategis nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan
dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang
ditetapkan sebagai warisan dunia.
Amanah dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang:
Bab V : Penetapan Kawasan Strategis Nasional

Lampiran X dalam UU No. 26/ 2007

Wewenang Pemerintah dalam pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis


nasional meliputi:

a) penetapan kawasan strategis nasional;


b) perencanaan tata ruang kawasan strategis nasional;
c) pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional; dan
d) pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional.

KRITERIA KSN DG SUDUT


KEPENTINGAN EKONOMI:
memiliki potensi ekonomi cepat
tumbuh;
memiliki sektor unggulan yang dapat
menggerakkan pertumbuhan
ekonomi nasional;
memiliki potensi ekspor;
didukung jaringan prasarana dan
fasilitas penunjang kegiatan
ekonomi;
memiliki kegiatan ekonomi yang
memanfaatkan teknologi tinggi;
berfungsi untuk mempertahankan
tingkat produksi pangan nasional
dalam rangka mewujudkan
ketahanan pangan nasional;
berfungsi untuk mempertahankan
tingkat produksi sumber energi
dalam rangka mewujudkan
ketahanan energi nasional; atau
ditetapkan untuk mempercepat
pertumbuhan kawasan tertinggal.

Adanya peran & kewenangan pemerintah


pusat, provinsi, dan kabupaten/ kota

Adanya keterbatasan: kapasitas daerah,


potensi & sumber daya daerah,

pendanaan/ anggaran

Adanya persamaan kondisi dalam hal:


karakteristik wilayah, permasalahan yg
dihadapi

Adanya perbedaan/ kesenjangan:


ketersediaan fasilitas/ infrastruktur, kondisi
ekonomi antar daerah

Adanya kebutuhan yg sama: penyediaan &


pelayanan fasum, peningkatan daya saing
& ekonomi lokal, sinergi dlm
pembangunan daerah

Lembaga pengelola KSN yang ada kurang


berfungsi dengan baik, efektif, & efisien

TUJUAN, TARGET, STRATEGI


& RUANG LINGKUP KEGIATAN

Tujuan:
Percepatan

pembentukan

dan

legalisasi

lembaga pengelola KSN Perkotaan melalui


peningkatan

kapasitas

kelembagaan

pengelolaan KSN Perkotaan, dalam rangka


mendukung
pemanfaatan

pelaksanaan
ruang

melalui

perwujudan
forum-forum

koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah yang


tercakup dalam KSN Perkotaan.

Target:
Meningkatnya kapasitas kelembagaan pengelolaan
KSN

Perkotaan

penandatanganan

yang

diwujudkan

dengan

nota

kesepahaman

antara

gubernur dan bupati/ walikota.

Lanjutan...
Strategi:

Perumusan draft bentuk dan


mekanisme lembaga pengelola
KSN Perkotaan;
Penyusunan dan penetapan
mekanisme tata laksana
lembaga pengelola KSN
Perkotaan;

Ruang Lingkup Kegiatan:


Fasilitasi penetapan dan
penyepakatan bentuk

lembaga pengelola KSN


Perkotaan.
Penyusunan dan penetapan

Perancangan Operasionalisasi
Lembaga Pengelola KSN
Perkotaan

mekanisme tata laksana

Koordinasi intensif antar


wilayah dalam upaya mencapai
kesepakatan kepala daerah di
kabupaten/kota dalam
menetapkan bentuk lembaga
pengelola Kawasan Perkotaan;

Perkotaan.

Melakukan koordinasi secara


regular dengan Ditjen Penataan
Ruang.

lembaga pengelola KSN

Perancangan operasionalisasi
lembaga pengelola KSN
Perkotaan
Melakukan koordinasi
dengan Ditjen Penataaan
Ruang

DASAR HUKUM

Regulasi terkait Pengelolaan Kawasan Perkotaan


UNDANG-UNDANG
UU No. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang
Peraturan pemerintah (PP) No. 38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan
antara pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten / kota
UU No. 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah

PERATURAN PEMERINTAH
PP No. 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah
PP No. 50 tahun 2007 tentang tatacara kerjasama antar daerah
PP No. 26 tahun 2008 tentang RTRWN
PP No. 34 tahun 2009 tentang pedoman pengelolaan kawasan perkotaan
PERATURAN MENTERI
Permendagri No. 69 tahun 2007 tentang kerjasama pembangunan perkotaan;
Permendagri No. 22 tahun 2009 tentang petunjuk teknis tata cara kerja sama daerah;
Permendagri No. 23 tahun 2009 tentang tata cara pembinaan dan pengawasan kerja
sama antardaerah

TINJAUAN LITERATUR

Pengertian Kelembagaan

Kelembagaan adalah suatu tatanan dan pola hubungan antara anggota masyarakat
atau organisasi yang saling mengikat yang dapat menentukan bentuk hubungan antar
manusia atau antar organisasi yang diwadahi dalam suatu organisasi atau jaringan dan
ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma, kode etik aturan
formal maupun informal untuk pengendalian perilaku sosial serta insentif untuk
bekerjasama dan mencapai tujuan bersama.
(Djogo, et al; 2003)

Kelembagaan berarti seperangkat peraturan yang mengatur tingkah laku masyarakat


untuk mendapatkan tujuan hidup mereka. Kelembagaan berisi sekelompok orang yang
bekerjasama dengan pembagian tugas tertentu untuk mencapai suatu tujuan yang
diinginkan.
Kelembagaan disamping dalam pengertian lembaga/organisasi atau perangkat keras, juga termasuk
perangkat lunak seperti: aturan main, norma, budaya-kognitif, serta besaran dan distribusi kewenangan
dan otoritas yang berjalan (Scott, 2008).

Komponen Kelembagaan
a.

Komponen person, yaitu orang-orang yang terlibat di dalam suatu kelembagaan dapat diidentifikasi dengan jelas.

b.

Komponen kepentingan yaitu orang-orang tersebut sedang diikat oleh satu kepentingan atau tujuan, sehingga
diantara mereka terpaksa harus saling berinteraksi.

c.

Komponen aturan dimana setiap kelembagaan mengembangkan seperangkat kesepakatan yang dipegang secara
bersama, sehingga seseorang dapat menduga apa perilaku orang lain dalam lembaga tersebut.

d.

Komponen struktur dimana setiap orang memiliki posisi dan peran yang harus dijalankannya secara benar. Orang
tidak bisa merubah-ubah posisinya dengan kemauan sendiri.

Sumber: Syahyuti, 2003

Menurut Pakpahan 1990 dalam Nasution, 2002 :


1.

Batas kewenangan ( jurisdictional boundary), merupakan batas wilayah kekuasaan atau batas otoritas yang
dimiliki oleh seseorang atau pihak tertentu terhadap sumberdaya, faktor produksi, barang dan jasa.

2.

Hak Kepemilikan (Property right), mengandung makna sosial yang berimpiklasi ekonomi. Konsep property right
atau hak kepemilikan muncul dari konsep hak (right) dan kewajiban (obligation) dari semua masyarakat perserta
yang diatur oleh suatu peraturan yang menjadi pegangan, adat dan tradisi atau consensus yang mengatur
hubungan antar anggota masyarakat.

3.

Aturan representasi (Rule of representation), mengatur siapa yang berhak berpartisipasi dalam proses
pengambilan keputusan. Keputusan

TINJAUAN KEBIJAKAN

UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang


PASAL 47
1) Penataan ruang kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah
kabupaten/ kota dilaksanakan melalui kerja sama antardaerah.
2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penataan ruang kawasan perkotaan diatur dengan
peraturan pemerintah.

PP No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang


PASAL 142
Pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah
kabupaten/kota pada satu atau lebih wilayah provinsi dapat dilakukan melalui kerja sama
antar wilayah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah


BAB XV DALAM PASAL 355 : PERKOTAAN

Ayat (4)
Penyelenggaraan pemerintahan pada kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) menjadi kewenangan Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah sesuai dengan
kewenangannya.

TINJAUAN KELEMBAGAAN
PADA KAWASAN LAINNYA

Badan Pengelolaan KAPET


(Keppres No. 150 Th. 2000)

Lingkup Pengaturan:
-

Diketuai oleh Gubernur di KAPET


Tugas Badan diatur dlm keppres
Ada Tim Teknis (dalam menjalankan tugas)
Pembiayaan : APBN, APBD Prov, APBD Kab., & Sumber-sumber dana lain yg sah

KSN Yang Telah Memiliki Perpres...


PENETAPAN KSN

PERENCANAAN TATA RUANG KSN

1. Perpres No. 45/2011 tentang RTR Gubernur dapat membentuk suatu badan dan/atau lembaga
Kawasan Perkotaan Denpasar, pengelola, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
Badung, Gianyar, Dan Tabanan

2. Perpres No.55/ 2011 tentang RTR Gubernur dapat membentuk suatu badan dan/atau lembaga
Kawasan Perkotaan Makassar, pengelola, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
Maros, Sungguminasa, Dan Takalar
3. Perpres No.62/ 2011 Tentang RTR Gubernur dapat membentuk suatu badan dan/atau lembaga
Kawasan Perkotaan Medan, Binjai, pengelola, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
Deli Serdang, Dan Karo
4. Perpres No. 86/ 2011 Tentang dibentuk Badan Pengembangan Kawasan Strategis dan
Pengembangan Kawasan Strategis Infrastruktur Selat Sunda, yang selanjutnya disebut Badan
Dan Infrastruktur Selat Sunda
Pengembangan. Lembaga Pemerintah yang berada di bawah
dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden
5. Perpres No. 87/ 2011 Tentang Pengelolaan Kawasan BBK dilaksanakan oleh Menteri,
Rencana Tata Ruang Kawasan Gubernur, Bupati/Walikota, serta Badan Pengusahaan KPBPB
Batam, Bintan, Dan Karimun
Batam, Badan Pengusahaan KPBPB Bintan dan Badan
Pengusahaan KPBPB Karimun sesuai dengan kewenangannya
6. Perpres No. 58/ 2014 tentang RTR Pengelolaan dilaksanakan Menteri urusan pemerintahan di
Kawasan Borobudur dan Sekitarnya bidang kebudayaan, menteri/pimpinan lembaga terkait, dan
badan/lembaga berdasarkan ketentuan perundang-undangan

BKSPMM (Badan Kerjasama Pembangunan Metropolitan Mamminasata)


(KSN Metropolitan Mamminasata: Perpres 55/2011)

Kota Metropolitan MAMMINASATA yang mencakup Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar di Sulawesi
Selatan

BKSPMM diketuai oleh Gubernur

Terdapat lembaga SNVT (Satker Non Vertikal Tertentu) di Kementerian untuk peningkatan pelaksanaan
program-program prioritas

Pola pengelolaan kawasan : struktural (hirarkis-koordinatif)

Memiliki UPT. Sebagai pelaksana teknis yg membantu BKSPMM

KONDISI
KELEMBAGAAN KEDUNGSEPUR

Kawasan
Perkotaan
Kedungsepur :

OVERVIEW

Wilayah mencakup
perkotaan 4

kabupaten dan 2
kota.

KAB. DEMAK

KAB. KENDAL
KAB. KENDAL

KOTA
SEMARANG
KAB.
GROBOGAN

KAB.
SEMARANG

KOTA
SALATIGA

Isu Strategis Pengembangan KSN Kedungsepur

Perkembangan jumlah penduduk perkotaan yg


semakin meningkat

Aktivitas perkotaan yang semakin berkembang pesat


vs keterbatasan lahan

Pengembangan pertanian sebagai ketahanan pangan

Pengembangan permukiman perkotaan yang


berkelanjutan

Pertumbuhan kegiatan industri

Kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana


dasar (persampahan, air minum, pengolahan limbah,
dll)

Optimalisasi budidaya perkotaan sesuai kapasitas


ruang

Kebutuhan pengembangan transportasi dan prasarana


regional

Bentuk Kelembagaan Saat Ini


KSN Kedungsepur (Kota Semarang, Kota Salatiga, Kab. Semarang, Kab.
Kendal, Kab. Demak & Kab. Purwodadi)
Bentuk Kelembagaan saat ini di KSN Kedungsepur adalah:
Sekretariat Bersama (Sekber)

Pada Hari Rabu tanggal 28 Mei 2014, diselenggarakan Rapat Koordinasi


Pelaksanaan Serah Terima Sekretariat Bersama ( Sekber ) Kedungsepur
Dari Pemerintah Kabupaten Kendal kepada Pemerintah Kabupaten Demak
Periode 2014 2017.
Beberapa bidang yang mendesak dan perlu dikerjasamakan meliputi :
Transportasi
Air minum
Persampahan
Pariwisata
Pengelolaan Lingkungan
Ketahanan pangan

Kondisi saat ini...

Ketua Sekber dijabat secara bergilir oleh Bupati/ Walikota

Masih lemahnya koordinasi antar sektor dan antardaerah

Belum ada dukungan dana dari APBN untuk operasional, sehingga menjadi beban

APBD Kabupaten / kota.

Kerjasama antardaerah masih kurang bentuk kerjasama tiap sektor/ bidang


pembangunan masih rendah

Kepemimpinan secara bergantian/ bergulir oleh kepala daerah mengakibatkan


kecenderungan pembangunan pada daerahnya sendiri (sesuai masa kepemimpinan)

Masih cenderung sebatas koordinatif, belum sampai pelaksanaan program


pembangunan/ implementatif

Belum di-Perpres-kannya RTR Perkotaan Kedungsepur, sehingga mempersulit


implementasi program khususnya yg bersifat regional

USULAN KELEMBAGAAN
KSN PERKOTAAN KEDUNGSEPUR

Dasar Pembentukan Kelembagaan dalam Raperpres KSN Kedungsepur

Lampiran surat Gubernur Jawa Tengah No. 650/009669 tentang Penyampaian Naskah
Kesepakatan dan Dukungan Prooses Penetapan Raperpres RTR Perkotaan Kedungsepur,
terutama

pada

lampiran

surat:

Bahan

Pertimbangan

Kembali

Dalam

Rangka

Penyempurnaan Raperpres RTR Kawasan Perkotaan Kedungsepur ada angka 8.

Salinan surat Gubernur:


Pasal 118
Badan / Lembaga Pengelolaan
Ayat (2) agar dihapus, Karena dapat menimbulkan kerancuan-kerancuan, (terutama pada huruf a).
Pembentukan dan pengaturan agar dilaksanakan oleh pemerintah (pusat). Hal ini untuk memastikan agar
kepentingan pemerintah terhadap kedungsepur dapat terwujud.

Hasil Kegiatan Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Kelembagaan KSN Kedungsepur


Tahun 2014
Pengkajian/ Telaah Terhadap Peraturan Perundang-undangan, Literatur, & Bentukbentuk Kelembagaan yg Telah Ada

KSN KEDUNGSEPUR...
(Usulan Pengembangan Kelembagaan)
Usulan Bentuk
Usulan Ideal
Instansi Vertikal

Instansi VERTIKAL

Vs
Otonom

Alternatif
Kelembagaan

Lembaga Struktural

Lembaga STRUKTURAL

Vs
Lembaga Fungsional

Lembaga bersifat ad hoc


Vs
Lembaga bersifat permanen

Lembaga bersifat
PERMANEN

Pembentukan:

Badan Pengelola Kawasan Perkotaan


Kedungsepur (BPKPK)

Lanjutan...

TUPOKSI:

Pembentukan Badan Pengelola dilaksanakan


oleh

Menteri

Perekonomian

Koordinator
atau

Bidang

Menteri

yang

a. Melaksanakan fasilitasi dalam usulan


perencanaan, sinkronisasi, dan
keterpaduan program;
b. Melakukan fasilitasi, koordinasi dan

Membidangi, dan/ atau dapat dilaksanakan

pelaksanaan program guna mewujudkan

oleh

Kawasan perkotaan kedungsepur

Gubernur

dan/atau

tugas

melalui

dekonsentrasi

pembantuan,

dengan

sebagaimana tujuan penataan ruang;


c. Menjaga konsistensi RTR Kedungsepur

personil dapat berasal dari pemerintah /

dengan RTR Provinsi, Kabupaten/ Kota

kementerian, dan/atau dari SKPD di Provinsi

dan RRTR Provinsi, Kabupaten / kota

Jawa Tengah, dan/ atau SKPD Kabupaten/

pada kawasan perkotaan kedungsepur;


d. Melaksanakan kegiatan pengendalian

Kota.

Anggota Badan / lembaga adalah unsur


unsur

dari

pemerintah

kabupaten/ kota yang

provinsi
terkait

dan

dengan

pengelolaan KSN Perkotaan Kedungsepur

pemanfaatan ruang bersama-sama


dengan pemerintah, pemerintah provinsi
dan pemerintah kabupaten / kota sesuai
dengan kewenangan dan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Susunan Organisasi
Penanggung Jawab
Kepala Badan
Sekretariat
Anggota
Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah

Pemkab. Kendal
Pemkab. Demak

Pemkab. Semarang
Pemkab. Grobogan
Pemkot. Semarang
Pemkot. Salatiga

Penanggung Jawab :
Presiden

Kepala Badan :
Pejabat Pemerintah/ Pemerintah Daerah
Yg Ditunjuk oleh Pemerintah
Sekretariat :

Pejabat Pemerintah/ Pejabat Dinas Teknis


di Pemprov. Jawa Tengah yg Ditunjuk
Anggota :
Unsur Pemprov. Jateng & Unsur Pemkab./

kota di lingkup KSN Kedungsepur

Lanjutan... (Keanggotaan)
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah

Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air

Biro Tata Pemerintahan, Bidang OTDA

Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Dinas Perindustrian & Perdagangan

Dinas Cipta Karya & Tata Ruang

Dinas Kelautan & Perikanan

Dinas Perhubungan, Komunikasi &

Dinas Pertanian, Tanaman Pangan &


Hortikultura

Informatika
Dinas Bina Marga
Kab. Kendal

Kab. Demak

Kab. Semarang

Kab. Grobogan

Kota Semarang

Kota Salatiga

BUPATI

BUPATI

BUPATI

BUPATI

WALIKOTA

WALIKOTA

BAPPEDA

BAPPEDA

BAPPEDA

BAPPEDA

BAPPEDA

BAPPEDA

Dinas Bina Marga,

Dinas Pekerjaan

Dinas Pekerjaan

Dinas Cipta Karya

Dinas PSDA &

Dinas Cipta Karya

Sumber Daya Air,

Umum

Energi dan SDM

Permukiman

Dinas Cipta Karya


dan Tata Ruang
Dinas
Perhubungan
Biro Tata
Pemerintahan

Umum
Dinas

Tata Ruang &


Kebersihan
Dinas

ESDM
Dinas

Pertambangan &

Perhubungan,

Energi

Komunikasi, &

Perhubungan

Komunikasi, &

Informatika

Informasi &

Informasi

Komunikasi

Biro Tata

Dinas
Perhubungan,
Komunikasi, &
Informatika
Biro Tata
Pemerintahan

Biro Tata
Pemerintahan

Biro Tata
Pemerintahan

Perhubungan,

Pemerintahan

dan Tata Ruang


Dinas Bina Marga
& PSDA
Biro Tata
Pemerintahan

Tata Kerja & Alternatif Pembiayaan


Mekanisme Pelaksanaan/ Tata Kerja Badan Pengelola Kawasan Perkotaan Kedungsepur:
a. Badan pengelola Bertanggungjawab kepada Presiden melalui menteri yang membidangi
b. Melaksanakan tugas kesekretariatan/ harian

c. Fasilitasi dan Rapat Koordinasi dilaksanakan secara rutin dan/ atau dapat dilakukan sesuai
dengan kebutuhan

SUMBER PEMBIAYAAN:
Pembiayaan untuk pengelolaan dan pembangunan di KSN Kedungsepur:
APBN;
APBD Provinsi Jawa Tengah;
APBD Kab./ kota di lingkup KSN Perkotaan; dan
Sumber-sumber dana lain yg sah.
Pembiayaan untuk penyelenggaraan badan pengelola dibebankan kepada APBN.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH