Anda di halaman 1dari 22

HUKUM PERJANJIAN

Disajikan oleh Kelompok 2:


Diana Laurencia Sidauruk
Indah Tiara
Tri Juli Astuti Sihombing

Pengertian Perjanjian
Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana
satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap
satu orang lain atau lebih (Pasal 1313 KUH Perdata).
Menurut Prof. Subekti, suatu perjanjian adalah suatu
peristiwa di mana seseorang berjanji kepada seorang
yang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji
untuk melaksanakan sesuatu hal.
Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku
sebagai
undang-undang
bagi
mereka
yang
membuatnya (Pasal 1338 KUH Perdata)

Perjanjian dan Perikatan


Perikatan adalah suatu pengertian abstrak,
sedangkan perjanjian adalah suatu hal yang
konkrit atau suatu peristiwa.
Perjanjian menimbulkan suatu perikatan antara
dua orang yang membuatnya.
Perjanjian merupakan sumber perikatan yang
terpenting.

Syarat-syarat Sahnya
Perjanjian
Empat syarat menurut Pasal 1320 KUH Perdata:
1. Sepakat mereka yang mengikat dirinya
2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian

Syarat
Subjektif

3. Mengenai suatu hal tertentu


4. Suatu sebab yang halal/tidak terlarang

Syarat
Objektif

Sepakat mereka yang mengikat dirinya


(Pasal 1321-1328 KUHPer)

Tidak ada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan


karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan
atau penipuan (Pasal 1320 KUHPer)
Kekhilafan: mengenai hakikat barang yang menjadi pokok
perjanjian
Paksaan: dapat menakutkan seseorang, sehingga
diri/kekayaannya terancam dengan kerugian; termasuk
paksaan dari pihak ketiga, termasuk paksaan yang
dilakukan ke sanak keluarga dari pihak yang membuat
perjanjian
Penipuan: tipu muslihat bahwa pihak lain tidak melakukan
perikatan. Penipuan harus dibuktikan, tidak dipersangkakan

Cakap untuk membuat suatu perjanjian


(Pasal 1329-1330 KUHPer)

Setiap orang adalah cakap untuk membuat


perikatan-perikatan, kecuali jika ia oleh
undang-undang dinyatakan tak cakap.
Tak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah
1. orang-orang yang belum dewasa
2. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan
3. Orang-orang perempuan, dalam hal ditetapkan oleh
undang-undang
Dan pada umumnya semua orang kepada siapa undangundang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian
tertentu

Mengenai suatu hal tertentu


(Pasal 1332-1334 KUHPer)

Barang-barang yang dapat menjadi pokok


suatu perjanjian hanya barang yang dapat
diperdagangkan, termasuk barang-barang
yang baru akan ada di kemudian hari
Barang-barang yang dapat menjadi pokok suatu perjanjian
hanya barang yang dapat diperdagangkan, termasuk
barang-barang yang baru akan ada di kemudian hari
Di dalam suatu perjanjian harus ditentukan jenis barang
yang menjadi pokok suatu perjanjian. Mengenai jumlah
barang tidak harus ditentukan (boleh tidak tentu) asalkan
jumlah itu dapat ditentukan atau dihitung kemudian
Warisan yang belum terbuka tidak diperkenankan menjadi
pokok suatu perjanjian

Suatu sebab yang halal/tidak terlarang


(Pasal 1335-1337 KUHPer)

Suatu perjanjian tanpa sebab, atau yang


telah dibuat karena suatu sebab yang palsu
atau terlarang tidak mempunyai kekuatan
Jika tidak dinyatakan sesuatu sebab tetapi ada suatu
sebab yang halal, perjanjian sah
Suatu sebab adalah terlarang apabila dilarang oleh
undang-undang, atau apabila berlawanan dengan
kesusilaan baik atau ketertiban umum

Cont
Dalam hal syarat objektif tidak terpenuhi,
perjanjian itu batal demi hukum.
Perjanjian yang demikian disebut null and void.

Dalam hal suatu syarat subjektif tidak dipenuhi,


perjanjiannya bukan batal demi hukum, tetapi
salah satu pihak mempunyai hak untuk meminta
supaya perjanjian itu dibatalkan.
Perjanjian yang demikian dinamakan voidable (bahasa
Inggris) atau vernietigbaar (bahasa Belanda)
selalu diancam dengan bahaya pembatalan (canceling).

Asas-asas Hukum Perjanjian


1. Asas Konsensualitas/
Konsensualisme (Psl 1320 KUH
Perdata)
2. Asas Kebebasan berkontrak
(freedom of contract)
3. Dilaksanakan dengan itikad baik
(good faith)
4. Keterikatan/komitmen
5. Syarat batal berlaku surut
6. Bersifat pribadi/ berlaku diantara
pihak-pihak yang membuatnya

Macam-macam
Perikatan
Adapun macam-macam perikatan adalah sebagai barikut:
1. Perikatan sipil (Civiele verbintenissen). Cth: sewa
enyewa
2. Perikatan wajar (Natuurlijke verbintenissen). Cth:
hutang karena pertaruhan
3. Perikatan pokok (Principale atau hoofdverbintenissen). Cth: jual beli
4. Perikatan tambahan (Accessoire atau
neverbintenissen). Cth: Perjanjian gadai
5. Perikatan murni (Zuivere verbintenis).
6. Perikatan sederhana (Eenvoudige verbintenissen)

Menurut Prof. Subekti, S.H dalam bukunya Pokok-Pokok Hukum Perdata, beberapa
perjanjian khusus yang penting adalah sebagai berikut:

Perjanjian jual beli


Perjanjian sewa menyewa

Pemberian atau
hibah (schenking)
Penanggungan
hutang/borgtocht

Persekutuan
(maatschap)
Penyuruhan
(lastgejring)
Perjanjian pinjam

Perjanjian
perdamaian
(dading atau
compromis)
Perjanjian kerja
(perburuhan)

Beberapa macam jenis perjanjian


lainnnya adalah:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Perjanjian pertanggungan (asuransi)


Perjanjian gadai
Perjanjian Fidusia
Perjanjian perkawinan
Perjanjian anjak piutang (factoring)
Perjanjian lisensi (waralaba/frinchise)
Perjanjian bagi hasil
Perjanjian tukar guling

BERAKHIRNYA SUATU PERJANJIAN/PERIKATAN


Pembayaran

Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan


atau penitipan
Pembaharuan hutang
Perjumpaan hutang atau kompensasi
Percampuran hutang

Pembebasan hutangnya
Musnahnya barang yang terhutang
Kebatalan atau pembatalan
Berlakunya suatu syarat batal
Lewatnya waktu

WANPRESTASI
Tidak melakukan apa yang disanggupi
akan dilakukan;
Melaksanakan apa yang dijanjikannya
tetapi tidak sebagaimana dijanjikannya;
Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi
terlambat;
Melakukan sesuatu yang menurut
perjanjian tidak boleh dilakukan

Tuntutan Kreditur terhadap debitur


Kreditur dapat meminta pemenuhan prestasi saja
dari debitur;
Kreditur dapat menuntut prestasi disertai ganti
rugi kepada debitur (Pasal 1267 KUH Perdata);
Kreditur dapat menuntut dan meminta ganti rugi,
hanya mungkin kerugian karena keterlambatan
(HR 1 November 1918);
Kreditur dapat menuntut pembatalan perjanjian;
Kreditur dapat menuntut pembatalan disertai
ganti rugi kepada debitur. Ganti rugi itu berupa
pembayaran uang denda.

Ganti Rugi
Menurut pasal 1244, 1245 dan 1246 BW,ganti rugi
menggunakan istilah biaya, rugi dan bunga
Biaya adalah segala pengeluaran atau perongkosan
yang nyata-nyata sudah dikeluarkan oleh salah satu
pihak
Rugi adalah kerugian nyata yang dapat diduga atau
dapat diperkirakan pada saat perikatan itu diadakan,
yang timbul akibat wanprestasi
Kerugian yang berupa kehilangan keuntungan yang
sudah dibayangkan atau dihitung oleh kreditor

Pembelaan Debitur

Karena adanya keadaan memaksa (overmacht


atau force majeur)
Mengajukan bahwa kreditur sendiri juga telah
lalai (Exceptio non adimpleti contractus)
Mengajukan bahwa kreditur telah melepaskan
haknya untuk menuntut ganti rugi
(rechtvenverking)

Overmacht atau force majeur

Keadaan
memaksa
ialah
keadaan tidak dipenuhinya
prestasi oleh debitur karena
terjadi peristiwa yang tidak
dapat diketahui atau tidak
dapat diduga akan terjadi
ketika membuat perikatan.

Unsur-unsur keadaan
memaksa :
1.

2.
3.

Tidak dipenuhi prestasi


karena terjadi peristiwa
yang
membinasakan/memusn
ahkan objek perikatan
Tidak dipenuhi prestasi
karena terjadi peristiwa
yang menghalangi
debitur u/ berprestasi
Peristiwa itu tidak dapat
diketahui atau diduga
akan terjadi pada waktu
membuat perikatan

Ruang Lingkup Wanprestasi Lainnya


Tata cara menyatakan debitur
wanprestasi:
Sommatie: Peringatan tertulis
dari kreditur kepada debitur
secara
resmi melalui Pengadilan
Negeri.
Ingebreke Stelling: Peringatan
kreditur kepada debitur tidak
melalui Pengadilan Negeri.

Isi Peringatan:
Teguran kreditur
supaya debitur segera
melaksanakan prestasi
Dasar teguran

Wanprestasi Bentuk Khusus


Bentuk Khusus Wanprestasi:
Dalam suatu perjanjian jual beli,
salah satu kewajiban Penjual
menanggung adanya cacat
tersembunyi, jika ini tidak
terpenuhi berarti prestasi tidak
terlaksana.
Cacat tersembunyi merupakan
bentuk wanprestasi khusus karena
akibat wanprestasi ini berbeda
dengan wanprestasi biasa.

Akibat Wanprestasi bentuk khusus


Actio redhibitoria : Barang dan
uang kembali
Actio quantiminoris : Barang
tetap dibeli, tetapi
ada pengurangan harga