Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

Disusun Oleh:
IDRAL HAMIDI (09101027)

Pembimbing :
dr. RAHAYU SUHARMADJI, Sp.A
dr. ZULFIKRI, SP.A
dr. CHERLINA, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
FKIK UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU - RSUD
BANGKINANG
2013

Anamnesis
Identitas Pasien:
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Tanggal Masuk
No MR
Keluhan Utama

: An.A
: 3 Tahun
: Laki-laki
: Bangkinang
: 15 September 2013
: 039953
: Kejang dirumah 5 menit

Sensorium

: Compos Mentis kooperatif

Tanda-tanda vital
Tekanan Darah

: Tidak diperiksa

Nadi

: Tidak diperiksa

Pernapasan

: 32 x/menit

Suhu

: 39 0C

BB

: 11 Kg

BB/U

: Median dengan standar devisiasi (7,6-9,9 kg)

TB/U

: Tidak diperiksa dengan standar devisiasi (68,5-74,9 cm)

Lingkar kepala

: Tidak diperiksa dengan standar devisiasi (43-49 cm)

A. Kepala
Ubun-ubun besar Terbuka, tidak cekung
Rambut

Hitam, tidak mudah dicabut

Mata

Mata tidak cekung, Sklera tidak ikterik,


konjungtiva tidak anemis, pupil tidak isokor

Hidung

Pernapasan tidak cuping hidung, sekret tidak ada

Telinga

Serumen kiri dan kanan ada, Sekret kiri dan kanan


tidak ada

Mulut

Sianosis tidak ada, mukosa bibir basah, lidah kotor


tidak ada

B. Thorak
Paru-paru
Inspeksi

: Normochest, gerakan pernafasan simetris kanan


dan kiri, retraksi dinding dada (+)

Palpasi

: Stem fremitus suara +/+, ictus cordis tidak


teraba.

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara napas bronkial, Suara tambahan: Ronkhi


+/+, wheezing +/+.

Jantung
Inspeksi

: Iktus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus cordis tidak teraba

Perkusi

:Batas jantung dalam keadaan normal,


kardiomegali tidak ada

Auskultasi

: Bunyi jantung I dan II reguler

C. Abdomen
Inspeksi

: Abdomen datar, tidak ada benjolan dan bekas


luka

Auskultasi

: Bising usus normal

Perkusi

: Timpani pada semua kuadran

Palpasi

: Nyeri tekan-lepas tidak ada, hepar teraba 1/3-

1/3, lien tidak teraba , turgor < 2 detik

Laki-laki, tidak dilakukan pemeriksaan

D. Ekstrimitas
Superior

: Sianosis tidak ada, edema tidak ada, pucat

tidak ada
Inferior

: Sianosis tidak ada, edema tidak ada, pucat


tidak ada

E. Genitalia
Laki-laki, tidak dilakukan pemeriksaan

Motorik : Koordinasi baik, kekuatan 4 4


4 4
Sensorik : Belum dapat dinilai
Reflek Fisiologis :
R. Biseps
R. Triseps
R. Patella
R. Archilles
Reflek Patologis :
R. Babinsky
R. Chaddock
R. Oppeinheim
Meningeal Sign :
Kaku Kuduk
Brudzinsky I
Brudzinsky II
Kernig Sign

: +/+
: +/+
: +/+
: +/+
: -/: -/: -/::::-

Pemeriksaan Laboratorium (Tidak dilakukan pemeriksaan)

Diagnosis Kerja
Kejang Demam kompleks + bronchitis
Diagnosis Banding
a.Kejang Demam sederhana
b.Meningitis
c.Ensefalitis

Farmakologi
Pemberian infus
IVFD RL 28 tpm
Per suppositoria
Diazepam 0.5 mg/kgBB (Proris Supp)
Per oral
Diazepam 0,2 mg/kgBB (Diazepam puyer)
Paracetamol syrup 3 x 1 cth

SOAP

Definisi Kejang Demam

Kejang demam ialah bangkitan kejang yg terjadi


pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal >38C) yang
disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.1

Etiologi Kejang Demam


Penyebab kejang demam hingga kini belum diketahui
dengan pasti, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
etiologi kejang demam ialah umur, faktor genetik dan
kenaikan suhu tubuh biasanya kenaikan suhu tubuh
berhubungan dengan penyakit saluran nafas bagian atas,
radang telinga tengah, gastroenteritis dan infeksi saluran
kencing. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi,
terkadang demam yang tidak begitu tinggi juga dapat
menyebabkan kejang

Klasifikasi
1. Kejang demam sederhana
2. Kejang demam kompleks

Diagnosis
1. Anamnesis

2.Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Peninjang

Penatalaksanaan Kejang
A. Fase Akut
Kejang
Diazepam rektal 0,5 mg/kgBB
Boleh diulang setelah 5 menit
Kejang (Ke RS)
Diazepam IV 0,3-0,5 mg/kgBB

Kejang
Fenitoin IV 10-20 mg/kgBB dengan kecepatan 1mg/kg/menit

Kejang berhenti
Lanjutkan dengan dosis 4-8 mg/kg/hari
dimulai 12 jam setelah dosis awal

Kejang tidak berhenti


Rawat ICU

B. Profilaksis
1. Profilaksis Intermiten
2.Profilaksis Rumatan

Komplikasi
Komplikasi yg paling umum dari kejang demam, adalah adanya kejang
demam berulang. Sekitar 33% anak akan mengalami kejang berulang jika
mereka demam kembali. 5
Faktor resiko berulangnya kejang pada kejang demam adalah:5
a. Riwayat kejang demam dalam keluarga.
b. Usia di bawah 12 bulan.
c. Suhu tubuh saat kejang yang rendah.
d. Cepatnya kejang setelah demam
Namun begitu, faktor terbesar adanya kejang demam berulang ini
adalah usia. Semakin muda usia anak saat mengalami kejang demam,
akan semakin besar kemungkinan mengalami kejang berulang.

Prognosis
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah
dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal
pada pasien yang awalnya normal. Kejang demam dapat berulang di
kemudian hari atau dapat berkembang menjadi epilepsi di kemudian
hari.4
Faktor resiko terjadinya epilepsi di kemudian hari adalah:4
kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang
demam pertama.
Kejang demam kompleks.
Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung.

Analisa Status
Anamnesa ditemukan Pasien datang karena kejang tadi dirumah 5
menit. Kejang berlangsung 2 x, dirumah dan sesampainya di RSUD
Bangkinang, kejang berupa kelojotan diseluruh tubuh, setelah kejang
anak menangis. Demam (+), batuk (+), sesak (+), sesak nafas sejak tadi
pagi, sudah berobat di IGD tadi pagi dan sudah di asap. Hal ini sesuai
dengan gejala Kejang Demam Komplek, Kejang demam > 15 menit,
kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial, berulang atau lebih 1 kali dalam 24 jam.
Pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran composmentis kooperatif, suhu
meningkat, pemeriksaan neorologis tidak ada kelainan, tidak ada tanda
rangsang meningeal, dan tidak ada tanda peningkatan tekanan
intrakranial, tanda infeksi di luar susunan saraf pusat ini sesuai dengan
teori pemeriksaan kejang demam komplek, namun pada pemeriksaan
status generalisata ditemukan adanya Suara napas bronkial, Suara
tambahan : Ronkhi +/+, wheezing +/+.

Hasil laboratorium darah rutin tidak dilakukan. Dalam teori


pemeriksaan laboratorium tidak hanya pemeriksaan tersebut
dilakukan, adapun pemeriksaan yang harus dilakukan seperti
darah perifer rutin, urin rutin, feses rutin, elektrolit dan gula
darah berguna untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab
demam. Pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan
pungsi lumbal dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan
kemungkinan
Menengitis
dan
elektroensefalografi dilakukan pada keadaan kejang demam
yang tidak khas.

Anda mungkin juga menyukai