Anda di halaman 1dari 18

AZIZAH RIDWAN

110.2009.050

Syok

Syok

merupakan hipoperfusi sistemik yang


disebabkan oleh penurunan baik curah jantung
maupun volume darah yang beredar secara efektif,
kemudian akan muncul hipotensi diikuti dengan
gangguan perfusi jaringan serta hipoksia sel
(Robbins. 2007)

kardiogenik

anafilaktik

hipovolemik

Klasifikasi
Syok

neurogenik

septik

Diagnosis

syok kardiogenik
Biasanya tanda yang khas yaitu hipotensi yang terusmenerus dengan tekanan darah sistolik <90 mmHg
selama 30 menit atau lebih, penurunan indeks jantung <
dari 2,2 l/menit/m2, peningkatan tekanan baji (< dari 15
mmHg), tanda perfusi jaringan yang buruk (meliputi
oliguria, kesadaran menurun, ekstremitas dingin dan
berbecak, cyanosis dan keluar keringat dingin)

cont.

ada ronkhi, distensi vena jugularis, gallop


S3, pada pasien dengan infark miokard
EKG menunjukkan ST elevasi di sadapan
V4R, rontgen dada menunjukkan
kardiomegali dan tanda-tanda kongesti
paru, dan ekokardiografi.

Syok hipovolemik
Pada syok hipovolemik biasanya terjadi

ketidakstabilan tanda-tanda vital meliputi


tekanan darah, nadi dan pernafasan serta
diikuti tanda-tanda hipoperfusi, pemeriksaan
peunjang laboratorium diperlukan untuk
penentuan derajat syok, sonografi abdominal
biasanya dilakukan untuk kasus trauma (FAST),
lavase peritoneal diagnostic, CT SCAN dan foto
polos

Syok septik
Beberapa tanda khas yang muncul

pada syok sepsis diantaranya suhu


tubuh >38C atau <36C, frekuensi
jantung >90 kali/menit, frekuensi
napas >20 kali/menit atau PaCO <32
mmHg, serta leukosit darah
>12000/mm,<4000/mm atau batang
>10%.

Syok anafilaktik
Diagnosis biasanya bersifat klinis.

Harus dipertimbangkan pada pasien


dengan riwayat terpajan allergen dan
tanda fisik yang menunjukkan tanda
anafilaksis

Lanjutan syok anafilaktik


Syok anafilaktik disebabkan oleh reaksi alergi ketika
pasien yg sebelumnya sudah membentuk antibodi
terhadap benda asing ( antigen ) mengalami reaksi
antigen antibodi sistemik.
Pengobatan
syok
anafilaktik
membutuhkan
pembuangan antigen penyebab ( seperti penghentian
pemberian antibiotik ), pemberian obat- obatan yg
akan memulihkan tonus vaskular, dan dukungan
kedaruratan fungsi hidup dasar. ( Smeltzer & Bare,
2002).

Syok neurogenik
Diagnosis biasanya dicurigai pada

pasien dengan cidera medulla spinalis,


kolaps kardiovaskuler, dan disfungsi
otonom. Biasanya penilaian fisik
ditemukan hipotensi, bradikardia
(90%), kulit hangat, kering serta tandatanda trauma awal yang menyebabkan
cidera medulla.

Management dan komplikasi nyeri


Syok kardiogenik
Dipusatkan pada terapi AMI (acute miocardic infarct)

meliputi pemberian aspirin, nitrat, beta bloker, dan terapi


reperfusi.
Resusitasi cairan kecuali jka terdapat edema paru yang
nyata.
Terapi nyeri dapat diberikan morfin.
Terapi inotropik yaitu dobutami jika tekanan darah sistolik
<80 mmHg atau dopamine untuk nilai yang lebih rendah.
Intubasi bila hipoksia terus meluas walaupun sudah diberi
oksigen.
Terapi trombolitik untuk membuka pembuluh darah yang
terobstruksi
PTCA dan CABG

Komplikasinya
Komplikasi terjadi jika tidak

ditentukan dan dikembalikan ke


kondisi semula secara cepat maka syok
kardiogenik biasanya berkembang
menjadi hipotensi refrakter dan
akhirnya kematian.

Syok hipovolemik
O2 suplemental
Terapi intravena kristaloid dan pemberian

produk darah.
Penetuan lokasi hilangnya darah secara akut
harus ditentukan untuk pengontrolan dini
perdarahan dan pencegahan renjatan syok
yang berat. Kontraindikasi pemberian
pressor dopamine/ dobutamin.

Komplikasinya
Komplikasi yang terjadi
diantaranya gagal ginjal akut,
sindrom gawat nafas akut,
koagulasi intravascular diseminata,
gagal organ multi system, sepsis
hingga kematian.

Syok septik
Terapi mencakup penyesuaian beban jantung

preload, afterload, dan kontraktilitas dengan


oxygen delivery dan demand. Selain itu, juga
meliputi pemberian cairan kristaloid dan
koloid, serta dilakukan evaluasi saturasi
oksigen vena sentral (Scv O2); Bila Scv O2
<70% dilakukan koreksi hematokrit hingga
diatas 30%. Pemberian antibiotik.

Syok anafilaktik
Mengamankan saluran nafas.
Intubasi biasanya sulit perlu disiapkan peralatan

krikotiroidotomi atau respirasi jet trantrakeal.


Epinefrin subkutan (1 : 1000) atau 0,3-0,5 mg di indikasikan
pada pasien dengan gejala-gejala saluran nafas atau tanda
vital tidak stabil.
Epinefrin IV (1 : 10000) untuk kasus syok berat.
O2 aliran tinggi dengan agonis beta melalui nebulizer untuk
membantu kesulitan bernafas.
Terapi intravena dengan cairan kristaloid.
Terapi pressor yaitu dopamine dan epinefrin.
Semua pasien dengan syok anafilaktik harus menerima
antihistamin (antagonis H1 dan H2) dan kortikosteroid.

Syok neurogenik
Terapi intravena kristaloid untuk

penanganan hipotensi.
Obat pressor dopamine/dobutamin.
Pemberian kortikosteroid
Evaluasi neurologic dan kolaborasi bedah
syaraf kedaruratan diperlukan pada semua
kasus.
Atropine untuk penanganan bradikardia.
Terapi oksigen dan intubasi endotrakeal

Daftar Pustaka
Aru W.Sudoyo et al. (2007). Kegawat Daruratan Medik di Bidang Ilmu

Penyakit Dalam. Jakarta:Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit


Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Greenberg. (2008). Teks-Atlas Kedokteran Kedaruratan.

Jakarta:Airlangga
Isselbacher,Kurt J.,alih bahasa,Ahmad H.Asdie.(1999). Harrison

prinsip- prinsip ilmu penyakit dalam. Jakarta:EGC.


Kumar,Vinay,et al.alih bahasa,dr.Awal Prasetyo,dkk.(2007). Buku Ajar

Patologi Robbins,Ed.7,Vol.1.Jakarta:EGC.
Arrynugrah, Muhammad Bima.(2009).Penanganan Shock.diunduh

dari:http://bimaary.blogspot.com/2009/08/penanganan shock.html.