Anda di halaman 1dari 34

Perdarahan pada kehamilan harus selalu dianggap sebagai kelainan

yang berbahaya. Perdarahan pada kehamilan muda disebut


keguguran atau abortus, sedangkan pada kehamilan tua disebut
perdarahan antepartum.

Perdarahan antepartum biasanya dibatasi pada perdarahan jalan lahir


setelah kehamilan 22 minggu, walaupun patologi yang sama dapat
pula terjadi pada kehamilan sebelum 22 minggu.

Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada


kelainan plasenta, sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada
kelainan plasenta seperti kelainan serviks biasanya tidak terlalu
berbahaya

Perdarahan antepartum tanpa rasa nyeri


tanda khas plasenta
previa, disertai tanda-tanda lainnya, seperti bagian terbawah janin
belum masuk ke dalam pintu atas panggul, atau kelainan letak janin

Plasenta berada pada lokasi yang tidak


seharusnya yaitu di segmen rahim bagian
bawah atau dekat dengan jalan lahir
meskipun perkembangan janin sudah
memasuki triwulan ketiga
klasifikasi klinis perdarahan antepartum
dibagi sebagai berikut:

plasenta previa
solusio plasenta
perdarahan antepartum

sumbernya

yang

belum

jelas

Plasenta previa adalah keadaan dimana


plasenta berimplantasi pada tempat
abnormal, yaitu pada segmen bawah
rahim sehingga menutupi sebagian atau
seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri
internal) dan oleh karenanya bagian
terendah sering kali terkendala memasuki
Pintu
Atas
Panggul
(PAP)
atau
menimbulkan kelainan janin dalam rahim.
Pada keadaan normal plasenta umumnya
terletak di korpus uteri bagian depan atau
belakang agak ke arah fundus uteri.

Plasenta previa lebih banyak terjadi pada kehamilan


dengan paritas tinggi, dan sering terjadi pada usia di atas
30 tahun.
Uterus yang cacat juga dapat meningkatkan angka
kejadian plasenta previa.
Pada beberapa Rumah Sakit Umum Pemerintah
dilaporkan angka kejadian plasenta previa berkisar 1,7 %
sampai dengan 2,9 %.
Sedangkan di negara maju angka kejadiannya lebih
rendah yaitu kurang dari 1 % yang mungkin disebabkan
oleh berkurangnya wanita yang hamil dengan paritas
tinggi.
1 dari 200 persalinan, insiden dapat meningkat
diantaranya sekitar 1 dari 20 persalinan pada ibu yang
paritas tinggi

Penyebab implantasinya blastokis pada segman


bawah rahim belum diketahui secara pasti
Paritas tinggi
Usia lanjut
Cacat rahim misalnya bekas bedah sesar
Kerokan (riwayat abortus)
Miomektomi
Perempuan merokok
Plasenta yang terlalu besar seperti pada kehamilan
ganda dan eristoblasis fetalis bisa menyebabkan
pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah
rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh
ostium uteri internum

Secara umum plasenta previa dapat dibagi menjadi


empat, yaitu :
Plasenta previa totalis

Apabila jaringan plasenta


ostium uteri internum.

Plasenta previa parsialis

menutupi

Yaitu apabila jaringan plasenta


sebagian ostium uteri
internum.

seluruh

menutupi

Plasenta previa marginalis

Yaitu plasenta yang tepinya terletak pada pinggir


ostium uteri internum.

Plasenta previa letak rendah

Apabila jaringan plasenta berada kira-kira 3-4 cm


di atas
ostium
uteri
internum,
pada
pemeriksaan dalam tidak teraba

Patofisiologi
TIDAK
DIKETAHUI

PLASENTA
PREVIA
APH

Vaskularisasi desidua
tidak
memadai/terganggu

Hipertrofi
Plasenta
DINDING SBR TIPIS
& KURANG OTOT

Radang & Atrofi

Hipoksemia

Paritas Tinggi
Usia lanjut
Cacat rahim

Perokok

Pemeriksaan Ultrasonografi
(USG)

Anamnesis

Inspeksi
Dapat dilihat melalui banyaknya darah yang keluar melalui vagina,
darah beku, dan sebagainya. Apabila dijumpai perdarahan yang
banyak maka ibu akan terlihat pucat

Palpasi abdomen
Sering dijumpai kelainan letak pada janin, tinggi fundus uteri yang
rendah karena belum cukup bulan. Juga sering dijumpai bahwa
bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala, biasanya
kepala masih bergoyang, terapung atau mengolak di atas pintu atas
panggul.

Pemeriksaan inspekulo
Dengan menggunakan spekulum secara hati-hati dilihat dari mana
sumber perdarahan, apakah dari uterus, ataupun terdapat kelainan
pada serviks, vagina, varises pecah

USG ( Ultrasonografi )
Pemeriksaan radio-isotop
Plasentografi jaringan lunak
Sitografi
Plasentografi indirek
Arteriografi
Amniografi
Radio isotop plasentografi

Ekspektatif
dilakukan apabila janin masih kecil. Sikap ekspektasi
tertentu hanya dapat dibenarkan jika keadaan ibu
baik dan perdarahannya sudah berhenti atau sedikit
sekali. Dahulu ada anggapan bahwa kehamilan
dengan plasenta previa harus segera diakhiri untuk
menghindari perdarahan yang fatal.
Menurut Scearce, (2007) syarat terapi ekspektatif
yaitu:
Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang

kemudian berhenti.
Belum ada tanda-tanda in partu.
Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin
dalam batas normal).
Janin masih hidup.

Terminasi,
dilakukan dengan segera mengakhiri
kehamilan sebelum terjadi perdarahan
yang dapat menimbulkan kematian,
misalnya: kehamilan telah cukup bulan,
perdarahan banyak, dan anak telah
meninggal. Terminasi ini dapat dilakukan
dengan 2 cara yaitu:
- Persalinan Pervaginal
- Persalinan Perabdominal

1.

2.

Amniotomi ( pemecahan selaput ketuban)


Cara ini merupakan cara yang dipilih untuk melancarkan
persalinan pervaginam. Cara ini dilakukan apabila plasenta
previa lateralis, plasenta previa marginalis, atau plasenta letak
rendah, namun bila ada pembukaan. Pada primigravida telah
terjadi pembukaan 4 cm atau lebih. Juga dapat dilakukan
pada plasenta previa lateralis/ marginalis dengan janin yang
sudah meninggal
Memasang cunam Willet Gausz
Dilakukan dengan mengklem kulit kepala janin dengan cunam
Willet Gausz. Kemudian cunam diikat dengan menggunakan
kain kasa atau tali yang diikatkan dengan beban kira-kira 50100 gr atau sebuah batu bata seperti katrol. Tindakan ini
biasanya hanya dilakukan pada janin yang telah meninggal
dan perdarahan yang tidak aktif karena seringkali
menimbulkan perdarahan pada kulit kepala janin.

3. Metreurynter
Cara
ini
dapat
dilakukan
dengan
memasukkan kantong karet yang diisi
udara dan air sebagai tampon, namun
cara ini sudah tidak dipakai lagi.
4. Versi Braxton-Hicks
Cara ini dapat dilakukan pada janin letak
kepala, untuk mencari kakinya sehingga
dapat ditarik keluar. Cara ini dilakukan
dengan mengikatkan kaki dengan kain
kasa, dikatrol, dan juga diberikan beban
seberat 50-100 gr.

Indikasi dilakukannya
persalinan seksio sesarea
pada plasenta previa
adalah:

a. Dilakukan pada semua

plasenta previa sentralis, janin


hidup atau meninggal, serta
semua plasenta previa
lateralis, posterior, karena
perdarahan yang sulit
dikontrol.
b. Semua plasenta pevia
dengan perdarahan yang
banyak, berulang dan tidak
berhenti dengan tindakan
yang ada.
c. Plasenta previa yang disertai
dengan panggul sempit, letak
lintang.

Komplikasi pada ibu

Dapat terjadi perdarahan bahkan syok


Dapat terjadi robekan pada serviks dan segmen bawah rahim
yang rapuh
Infeksi

Komplikasi pada janin

Kelainan letak janin.


Prematuritas dengan morbiditas dan mortalitas tinggi
Asfiksia intra uterin sampai dengan kematian

Asfiksia intra uterin sampai dengan kematian


(Manuaba, 2008)
Plasenta abruptio. Pemisahan plasenta dari dinding
rahim
Laserasi serviks
Prolaps tali pusar
Prolaps plasenta

Tidak ada cara untuk mencegah


plasenta previa karena penyebab pasti
dari plasenta previa belum ditemukan.
Yang harus dilakukan adalah mencoba
menghindari faktor faktor risiko salah
satunya seperti merokok.

Sekarang

lebih baik jika dibandingkan


dengan masa lalu

Hal ini dikarenakan diagnosa yang lebih dini,


ketersediaan transfusi darah, dan infus cairan yang
telah ada hampir semua rumah sakit kabupaten.

Demikian juga dengan kematian anak mengalami


penurunan, namun masih belum terlepas dari
komplikasi kelahiran prematur baik yang lahir
spontan maupun karena intervensi seksio cesarea
Karenanya kelahiran prematur belum sepenuhnya
bisa dihindari sekalipun tindakan konservatif
diberlakukan (Prawirohardjo, 2008)

Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta


berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada
segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian
atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri
internal) dan oleh karenanya bagian terendah sering
kali terkendala memasuki Pintu Atas Panggul (PAP)
atau menimbulkan kelainan janin dalam rahim.

Plasenta previa lebih banyak terjadi pada kehamilan


dengan paritas tinggi, dan sering terjadi pada usia di
atas 30 tahun. Kejadian plasenta previa terjadi kirakira 1 dari 200 persalinan, insiden dapat meningkat
diantaranya sekitar 1 dari 20 persalinan pada ibu
yang paritas tinggi.

Penyebabnya, vaskularisasi desidua yang tidak


memadai, mungkin sebagai akibat dari proses
radang atau atrofi Paritas tinggi, usia lanjut,
cacat rahim misalnya bekas bedah sesar,
kerokankarena abortus, miomektomi, dan
sebagainya
berperan
dalam
proses
peradangan
dan
kejadian
atrofi
di
endometrium
Pada perempuan perokok dijummpai insidensi
plasenta previa lebih tinggi 2 kali lipat,
hipoksemia akibat karbon monoksida hasil
pembakaran rokok menyebabkan plasenta
menjadi hipertrofi sebagai upaya kompensasi.

Resiko plasenta previa pada wanita


dengan umur 35 tahun 2 kali lebih besar
dibandingkan dengan umur < 35. Risiko
plasenta previa pada multigravida 1,3 kali
lebih besar dibandingkan primigravida.
Risiko plasenta previa pada wanita dengan
riwayat abortus 4 kali lebih besar
dibandingkan dengan tanpa riwayat
abortus. Riwayat seksio sesaria tidak
ditemukan sebagai faktor risiko terjadinya
plasenta previa.

Secara umum plasenta previa dapat dibagi menjadi empat,


yaitu, plasenta previa totalis, . plasenta previa parsialis, plasenta
previa marginalis, plasenta previa letak rendah.

Gejala paling khas dari plasenta previa adalah perdarahan


pervaginam (yang keluar melalui vagina) tanpa nyeri yang
pada umumnya terjadi pada akhir triwulan kedua. Ibu dengan
plasenta previa pada umumnya asimptomatik (tidak memiliki
gejala) sampai terjadi perdarahan pervaginam. Biasanya
perdarahan awal plasenta previa, pada umumnya hanya
berupa perdarahan bercak atau ringan tidak terlalu banyak
dan berwarna merah segar dan pada umumnya berhenti
secara spontan.

Gejala tersebut, kadang-kadang terjadi pada waktu bangun


tidur. Tidak jarang, perdarahan pervaginam baru terjadi pada
saat inpartu. Jumlah perdarahan yang terjadi, sangat
tergantung dari jenis plasenta previa.

Diagnosis ditegakan memlaui pemeriksaan penunjang


yakni dengan menggunakan USG.
Terapinya adalah Menurut Mose (2004) penatalaksanaan
pada plasenta previa dapat dibagi dalam 2
golongan,tindakan Eskpektatif yaitu dilakukan apabila
janin masih kecil sehingga kemungkinan hidup di dunia
masih kecil baginya. dilakukan dengan segera mengakhiri
kehamilan sebelum terjadi perdarahan yang dapat
menimbulkan kematian, misalnya: kehamilan telah cukup
bulan, perdarahan banyak, dan anak telah meninggal.
Cara ini dapat dilakukan pada janin letak kepala, untuk
mencari kakinya sehingga dapat ditarik keluar. Cara ini
dilakukan dengan mengikatkan kaki dengan kain kasa,
dikatrol, dan juga diberikan beban seberat 50-100 gr
(Mochtar, 1998).

Komplikasi terdapat 2 yaitu komplikasi


pada ibu dan komplikasi pada janin.
Prognosis : Dubia et Bonam